Perkenalkan Kothong. Seorang anak yang berusia kurang lebih 9 tahun yang sedikit mengalami keterbelakangan mental, tetangga Desa Saya di Candi Sukuh, Karanganyar. Entah siapa nama Aslinya karena dia tak pernah menjawab ketika ditanya nama. Jadi warga desa memanggilnya dengan sebutan ‘Kothong’ yang dari bahasa jawa, jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti ‘Kosong’. Ya kosong, karena hidup Kothong kebanyakan hanya dipenuhi kekosongan, apa yang dilihat didengar dirasanya menurut kami hanyalah kekosongan. Karena apapun yang terjadi didunia sekitar kothong seolah tak peduli, ketika dia diledek anak-anak sebayanya karena dianggap abnormal, ia hanya tersenyum. Kadang menangis setelah dipukuli sedikit-sedikit, lalu tersenyum lagi. Apapun yang terjadi ia hanya tersenyum, kosong. Ironisnya saudara-saudara Kothong yang banyak itu pun kebanyakan mengalami keterbelakangan mental atau IQ nya agak rendah. Sementara Bapaknya sering kena damprat warga karena kepergok mencuri pisang setandan, atau barang lainnya. Namun Kothong seolah tak peduli dengan semua realita yang terjadi itu. Yang penting baginya mungkin hanyalah tetap eksis dengan keistimewaannya, memandang kosong, tersenyum, cukup.

Mungkin dengan paradigma kosong seperti itu terhadap kehidupannya sendiri, seperti itulah juga Kothong tak peduli dengan Kondisi carut marut negeri ini. Ia tak sempat peduli dengan konfrontasi antara KPK dengan Institusi Kepolisian yang tak kunjung usai itu. Ia mungkin tak tahu bahwa Ksatria Pemburu Korupsi negeri sedang bentrok dengan Para penegak hukum. Dan Ia bahkan tak lebih peduli lagi dengan realita bahwa Perusahaan Listrik Negara sedang sekarat meminta revitalisasi Infrastruktur yang sudah berumur banyak, dengan infrastruktur yang usianya sudah lebih tua dari Kita-kita ini tentu tak mampu menghasilkan energi listrik secara optimal, pasokan energy listrik selalu defisit. Lalu PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir yang mengakibatkan gelap gulita berkala di seluruh negeri. Kothong tak tahu apa bedanya ada listrik atau tidak karena rumahnya memang belum menikmati Listrik sejak lama. Oh, Kothong tak tahu konsep Global Village. Ia tak paham bahwa sekarang ternyata Dunia ini sudah menjadi sebuah Desa Global yang dihubungkan jejaring-jejaring pertemanan macam Facebook atau Twitter hingga kejadian diujung belahan dunia Sana bisa dengan cepat diketahui penduduk dunia sini, secepat sebuah berita menyebar disebuah desa kecil, Global Village. Ia tak seperti para pemuda-pemudi negeri yang ternyata adalah ‘trend follower’, mengikuti trend Social Networking mana yang paling terbaru dan ketika bosan segera meninggalkannya secepat mereka mengikutinya. Andai Kothong bisa tahu bahwa anak-anak gaul ini menambah teman sebanyak mungkin sampai lupa siapa-siapa saja yang dijadikan teman itu, Facebook mereka tanpa esensi karena mereka tak memanfaatkan media menjadi sesuatu yang bermanfaat, tetapi media yang memanfaatkan mereka sebagai pion. Pion dalam papan catur ketidakadilan global yang mengatasnamakan dirinya sebagai Neoliberalisme. Facebook, MySpace dan banyak Korporasi Multinasional lain adalah entitas bisnis milik beberapa pihak yang memeluk dunia dengan korporasi dan institusi-institusi pengagung Neoliberalisme. Yang menjadikan Negara hanya sebagai Simbol yang tak mampu berbuat apa-apa melindungi rakyatnya. Neoliberalisme itulah Negara baru itu. Tapi bagaimana mungkin Kothong mau tahu tentang konsep Global Village atau Neoliberalisme ketika Pikirannya kosong dan hanya bisa tersenyum sendiri sembari perutnya lapar karena keluarganya memang agak jarang punya makanan, sementara ketika tetangga memberi makan walau Cuma sepiring nasi maka Ayahnya akan membuang makanan itu dan mengamuk menghajar anaknya? Sang Ayah lebih menghalalkan Mencuri Pisang daripada menerima belas Kasihan tetangga.

Hal yang mana membuat Saya berkontemplasi singkat berpikir tentang Kothong, KPK, Polri, PLN, Global Village, Facebook, Mark Zuckenberg, Twitter, Negara, Neoliberalisme, Kabinet Indonesia Bersatu 2. Loh memang apa korelasi antara anak 9 tahun terbelakang mental dengan semua institusi dan entitas bisnis serta hal ekonomi itu? Yang Saya pikirkan tadinya adalah “apa mungkin anak terbelakang mental berumur 9 tahun yang sering memandang kosong itu suatu saat akan punya kesempatan mencoba Konsep Global Village dengan cara membuat sebuah Akun Facebook atau Twitter. Lalu tahu perkembangan kasus KPK vs Polri, lalu paham bahwa Negeri ini punya Kabinet Indonesia Bersatu 2 dalam pemerintahan, serta tahukah Ia bahwa Indonesia agaknya tercengkeram Neoliberalisme Korporasi Multinasional dan tak bisa lepas?” setelah Saya pikir panjang lebar Saya simpulkan Kothong mungkin lebih bahagia jika tak tahu Semua itu, Ia lebih bahagia tetap menjadi Kothong yang sekarang: Autis terhadap keadaan sekitar, yang penting baginya adalah tetap berlari, bermain, berkeliling desa dengan pikiran kosong namun tetap tersenyum. Yang lebih pantas Saya pikirkan mungkin adalah “adakah konsep Global Village bisa memberi tahu orang-orang dijauh belahan dunia Sana bahwa disebuah negeri bernama Indonesia tinggal seorang anak berusia 9 tahun bernama Kothong yang terbelakang mentalnya dan kurang beruntung hingga tak mampu sekolah dan hanya bermain-main. Adakah Ditengah kesibukan mempertahankan siapa paling benar KPK atau Polri tahu seorang anak bernama Kothong yang terbelakang mentalnya sedang berlari-lari didesa kecil lereng gunung lawu? Apa mungkin Korporasi-Korporasi Multinasional yang berslogan ‘Dari Rakyat, Untuk Rakyat’ itu sudi menyumbangkan sedikit saja dari dividen tahunan jutaan Dollar yang mereka bagikan pada para pemegang saham pada Kothong agar Ia punya kesempatan lebih baik mengenyam pendidikan. Mungkinkah Kothong menjadi Trending Topics di Twitter ?” ah pertanyaan Saya yang tak ada habisnya. Dan Kothong masih memandang kosong, tersenyum dengan pikiran kosong walau habis dikerjain anak tetangga yang menendanginya, tak peduli pada hal seperti itu, Saya tahu bahwa Kothong lebih tidak peduli lagi pada isu-isu yang lebih runyam di negeri Ini, sama seperti tidak pedulinya Negara pada Kothong: Anak Berpikiran Kosong dari lereng Gunung Lawu.

Aris Setyawan
Karanganyar, 16 November 2009

( For more Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Advertisements