Tags

, , , ,

Wanita memakai jilbab diangggap sudah bermoral paling benar, jauh dari cela, sopan, dan cantik. Itulah stigma yang sudah terlanjur melekat di Masyarakat. Jilbab dianggap mewakili semua semua yang bagus dan rapi, maka dari itu kalau ada Wanita berjilbab akan dicap sebagai ‘Wanita terhormat’ sementara kalau ada Wanita bertanktop langsung dibilang ‘Wanita Binal’ tapi apa benar dengan berjilbab seorang Wanita sudah bisa dikategorikan sebagai Wanita Terhormat? Sebenarnya tergantung apa niat dari Wanita itu sendiri dalam memakai jilbab, asumsi Saya sendiri Tak semua yang berjilbab itu terhormat. Jilbab tak terhormat ditasbihkan kepada mereka-mereka yang memakai jilbab hanya sebagai formalitas atau karena paksaan orang lain, atau Cuma memakai Jilbab sebagai kedok karena kenyataannya Ia berjilbab namun rajin senggama 3 hari sekali. Kelihatan sekali jilbab formalitas dengan ciri-ciri diantaranya jilbab namun rambut berponi, jilbab mini, berjilbab namun rabut ekor kuda nongol dibelakang, jilbab bermotif Lingerie, memakai jilbab ketika di kantor atau Sekolah namun begitu pulang ganti hot pant dan tank top. dan lain sebagainya.

Jilbab memang sudah menjadi tradisi di Negeri ini, Saya bilang tradisi karena dari sekian banyak Perempuan berjilbab di Negeri ini, Saya berani memberi pernyataan bahwa sebagian besar sebenarnya memakai jilbab karena terpaksa, ya terpaksa karena Jilbab sudah jadi tradisi di Keluarganya, tuntutan Institusi tempatnya Bekerja atau Sekolah, atau tuntutan Estrogen biar bisa dibilang Wanita terhormat oleh Pujaan hati. Padahal bukankah harusnya berjilbab itu dari hati? Berjilbab harusnya benar-benar diniati untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang Perempuan Muslim. Dia yang berjilbab harusnya sudah menyadari bahwa berjilbab itu adalah prestasi tertinggi bagi Seorang perempuan Muslim dalam menjaga Kehormatannya, jadi enggak berjilbab karena terpaksa.

Di Negeri Indonesia ini kewajiban Wanita dalam berjilbab memang selalu menjadi kontroversi dan pertentangan. Mungkin inilah yang membuat Para Perempuan Indonesia juga bingung. Jadi sebenarnya Berjilbab itu wajib atau enggak sih? Ada yang bilang bahwa Jilbab Wajib dikenakan (maaf Saya lupa di Al-Qur’an surat mana. Ada yg ingat?) namun ada ulama yang bilang Jilbab Saja masih tidak cukup dan harus ditambah memakai Cadar menutupi Muka, sementara Alwi Shihab mengatakan bahwa lebih baik tidak berjilbab kalau tidak dari hati dan kenakan Saja “pakaian yang terhormat” sebagai ganti. Kita tidak usah berdebat pakaian seperti apa Saja yang masuk kriteria terhormat itu, pakaian yang menjaga diri pemakainya dari hal-hal negatif itulah kira-kira maksud dari pakaian terhormat.

Jilbab mulai ramai dikenakan Perempuan Indonesia sekitar 20 tahunan ini. Dulu Jilbab tidak begitu eksis dikenakan, bahkan Istri Buya Hamka saja dulu enggak berjilbab, namun mengenakan Pakaian Terhormat dalam kesehariannya. 20 tahun belakangan ini para Perempuannya berjilbab untuk meneruskan tradisi dan biar dianggap Wanita terhormat, bukan karena ingin menjaga kehormatannya. Lalu apakah ini pantas dibenarkan kalau berjilbab hanya untuk meneruskan tradisi dan dianggap sebagai Wanita terhormat? Dan bukan karena untuk menjaga kehormatannya? Kalau hanya untuk agar terlihat terhormat maka itu salah, karena diluarnya terlihat terhormat namun didalamnya sering dipegang-pegang. Kalau untuk menjaga kehormatan diluar dalam terjaga. Jadi wahai Para perempuan Indonesia yang berjilbab silakan Tanya pada diri anda sendiri: Anda berjilbab untuk apa, benar-benar Ikhlas dan untuk menjaga kehormatan? Atau terpaksa atas tuntutan norma-norma yang ada di Masyarakat dan biar terlihat terhormat? Daripada berjilbab namun bete terus karena kepanasanlah, risihlah namun terpaksa memakai karena berbagai hal. Lebih baik sekalian enggak usah mengenakan jilbab namun memakai Pakaian terhormat. Karena janggal rasanya kalau perempuan mengenakan Jilbab formalitas.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 21 September 2009

( For more Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Advertisements