Saya tiba-tiba teringat perkataan dari seorang kawan bernama Musallamah Hasan. Dulu Saya seing ngobrol sama Dia tentang berbagai Hal. Dan Satu ketika Dia ngomong begini: “Gw sering liat orang-orang pada nempel stiker ‘Sex Pistols’ di Motor atau Helm Mereka. Yang membuat Gw bertanya-tanya gitu, mereka nempel stiker itu emang ngefans Sex Pistols beneran atau Cuma asal nempel aja? Menurut Gw ketika kita udah berani nempel stiker tuh kita harus sudah tahu dong alasan kenapa kita nempelnya. Kayak temen-teen Gw yang nempel stiker ‘Revolution Fighter’ itu karena mereka ikut dalam perjuangan revolusi ketika menggulingkan kekuasaan orde baru dulu, mereka ikut turun kejalan dan membuat perubahan. Sebenarnya Cuma obrolan ringan tentang stiker tapi kalau ditelusuri lebih dalam jadi penting juga. Apa sebuah Kultus atau Aliran yang kita ikuti itu memang sudah Kita pelajari dari akarnya? Satu hari Saya bertemu dengan Mamat, mamat ini bersama kawan-kawannya mengaku sebagai ‘Anak Punk’ Saya bertemu dengannya di Lampu Merah dekat Tol Bekasi Barat. Lalu Saya iseng bertanya padanya: “Punk itu Apa? Yang dijawabnya dengan simple “Punk itu ya kayak Gw ini, hidup dijalan dengan dandanan keren, ngamen, mabuk bareng kawan-kawan, malakin anak sekolah ama Sopir Koasi, ngejar-ngejar Bencong di Gor bekasi buat dapet Seks gratis, dll, dst, dsb. Itulah Punk dimata Mamat. Lain lagi dengan Radji, Dia Saya jumpai beberapa tahun yang lalu, dan entah dimana dia sekarang karena semenjak pertemuan pertama saya dengannya Dia sudah pergi begitu Saja tanpa bisa Saya hubungi lagi. Radji ini Saya anggap sebagai ‘Punk yang sebenarnya’ karena Dia mau mempelajari Akar dan ujung pangkal kenapa Dia memilih untuk jadi Punk, Dia mau membaca darimana asal muasal Punk dibentuk, kenapa Punk harus ada, apa saja yang harus diberi resistensi oleh Punk. Jadi Dia tahu alasan kenapa memilih jadi Anak Punk, enggak Cuma ikut-ikutan Kawan biar bisa mabuk bareng-bareng dan ikutan saja. Sementara itu Dewi”dee”Lestari dalam bukunya Supernova: Akar menceritakan seorang tokoh bernama ‘Bong’ yang menurut Saya juga seandainya Bong ini benar-benar ada, maka Dialah Punk yang sebenarnya. Yang Tahu alasan kenapa Ideologi Punk dipilihnya, Sayangnya di negeri yang suka ikut-ikutan ini mungkin lebih banyak Anak Punk yang seperti Mamat ketimbang Bong atau Radji.

Lalu entah kenapa tiba tiba memori Saya tercelat ke perkataan Bobby Setenk. Vokalis dan gitaris berkharisma dari The Patient, sebuah band Grunge asal bekasi. “Ris, Gw sih lebih respect ke anak Grunge kayak Elo. Kalo orang-orang yang ngaku-ngaku anak grunge di Internet itu Gw ga percaya, soalnya kebanyakan mereka Cuma ngomong doang, ngakunya anak Grunge tapi hidup teratur, makan, bera, tidur dirumah Ortu. Kalo elo Ris, Lo jalanin kehidupan yang keras bener-bener. Elo kerja sendiri, hidup nyari makan. Sampai kerja apa juga dari jadi Buruh bangunan sampai Buruh Pabrik Elo pernah kerjain. Itu Grunge yang sebenarnya” hal mana yang kemudian juga membuat Saya teringat tulisan seorang yang aduh maaf Saya lupa namanya, yang jelas tulisan ini ada di Draft Buku ‘Grunge Indonesia, Subkultur para Pecundang’ karangan MasYoyon gitaris Ballerina’s Killer. Tulisannya kira-kira begini intinya “ketika dalam grunge itu sudah tidak ada ‘Pain’ didalamnya, apa Ia pantas lagi disebut Grunge? Bukankah genre grunge terbentuk dari Pain? Ketika orang-orang pelakunya mempunyai masalah dengan hidupnya yang berantakan dan kacau balau. Dalam hidup mereka selalu ada Pain, maka Mereka lari ke Grunge. Sementara tipikal anak Grunge Indonesia, oke ortu kalian tajir, kuliah di perguruan tinggi terbaik atau Sma unggulan, makan kenyang, tagihan internet bulanan tinggi, pacar cakep, dugem sering, alat musik kualitas terbaik. Dengan gaya hidup

yang teratur seperti itu mana ada Pain didalamnya? Pantaskah mereka ini masih disebut grunge?” ada lagi contoh lain. Satu ketika Saya menonton Festival band Band di Bekasi. Semua band yang main ya kebanyakan membawakan lagu-lagu pop gitu lah. Lalu dipertengahan acara ada satu band yang penampilannya nge Grunge banget dengan flannel, celana bolong dan attitude slenge’an. Dengan sesumbar Vokalisnya berteriak-teriak “Woiii band lain yang main disini goblok semua, kayak Band Gw dong keren. Grunge not dead…” dan tahu apa yang dimainkannya? About A Girl dan Smells Like Teen Spirit dengan vocal fals, Drum out of tempo, chord yang salah, serta bass yang bahkan kayak enggak dimainkan. Ketika Dia turun panggung Saya sempatkan bertanya padanya ‘Apa itu Grunge bro?” dan dijawabnya dengan Simple “Grunge itu yah kayak Gw, mabuk, Nirvana, Flanel, jeans Bolong, keren kan?’

Lalu Saya juga membaca sebuah Review tentang Event grunge disini:

http://www.jurnallica.com/report-2009_05_grunge-gods2.htm

Yang cukup menarik dari review itu adalah kata-kata ini:

Ya, memang acara ini hanya untuk mengenang musik-musik grunge mainstream yang ada di TV & radio era 90-an. Audiens di malam itu mengenal & memainkan grunge hanya dari band-band mainstreamnya. Mereka hanya mendengarkan album-album grunge major label saja, tidak notice dengan grunge lainnya (ket: band indie-rock/post-punk/hard-rock/heavy-metal dengan sound khas Northwest, USA akhir 80-an) seperti rilisan SST Records, Touch n’ Go Records, Neutral Records & K Records. Jadi kalian tidak akan mendengarkan lagu-lagu dari Bikini Kill ataupun Blood Circus dimainkan di sini. Oh well, mungkin sayanya aja yang terlalu underground puritan.

Karena bagi saya pribadi, “grunge gods” bukanlah Pearl Jam, Alice In Chains atau Nirvana sekalipun. Yang benar-benar “gods” adalah mereka para pelopor yang underatted dan hanya dikenal dalam skala kecil saja, seperti: The Melvins, (late) Black Flag, Flipper, Skin Yard, Screaming Trees, Soundgarden, Mudhoney, dll. Mungkin hal inilah mengapa scene grunge di Indonesia tidak bisa standout dan benar-benar maju. Tidak seperti scene indie-rock lainnya di Indonesia (shoegazing, indiepop, noise, garage-rock, nu-wave) yang bisa maju dan berkembang. Karena mereka mendekatkan diri ke root underground dari mana musik mereka berasal. Berbeda dengan scene grunge yang hanya mendengarkan grunge-grunge mainstream saja. Jadinya, scene grunge di Indonesia hanya menjadi scene yang penuh dengan imitator artis-artis grunge mainstream. Menyedihkan!

Lalu sebuah pujian untuk Navicula, Grunge Heroes from Bali:

Oke, mari lewatkan tulisan omong-kosong saya di atas. Saatnya band terakhir yang ditunggu-tunggu yaitu grunge legendaris asal Bali, Navicula! Saya memang tidak mengikuti diskografi mereka. Tapi berdasarkan research saya, refrensi musik mereka luas juga taste musiknya yang bagus. Unsur itu merupakan salah satu modal untuk membentuk sebuah band yang bagus! Ternyata benar ekspektasi saya, Navicula benar-benar band yang bagus!

Mereka membuka set dengan lagu barunya “Menghitung Mundur”, komposisi psychedelia yang menghanyutkan dan penonton langsung dikejutkan dengan riff-riff heavy ala Gruntruck di lagu-lagu berikutnya! Moshing, headbanging & stage-diving tidak bisa dibendung lagi. Seisi venue terbakar oleh adrenalin. Nampaknya di materi-materi terbaru Navicula semakin heavy-rock/alternative-metal, bergeser dari style grungy hard-rock di rilisan-rilisan awal mereka.

Yang membuat saya salut dari Navicula adalah, mereka bisa menelusuri root dari musik grunge yang mereka mainkan (70’s psychedelic, 70’s hard-rock/blues/ heavy metal). Jadinya musik mereka betul-betul terasa root-nya! Tidak seperti kloning-kloning Nirvana, Pearl Jam, Silverchair & Creed yang sudah sering saya dengar di scene grunge lokal. Karena mereka (band-band kloningan) mendengarkan musik tanpa mempelajari sejarah dari musik itu sendiri.

Ya, klimaks acara malam itu memang dipegang oleh Navicula. Mereka bisa menjadi “god” tanpa harus memainkan lagu-lagu dari artis-artis grunge luar. Saya juga berani bilang kalau Navicula adalah penyelamat scene grunge di Indonesia!

Kasus-kasus yang Saya ceritakan diatas Cuma sebuah contoh dari banyak kasus lain, betapa orang-orang kita ini sering fanatis terhadap hal namun enggak berusaha mempelajari dasar kenapa ia bisa fanatis dengan hal itu. Kebanyakan ikut-ikutan atau biar terlihat keren, kenapa mamat harus ikut-ikutan jadi anak Punk tanpa mau mempelajari pergerakan Sex Pistols, Ramones, atau The Clash pada awal genre ini terbentuk? Kenapa Anak Grunge Indonesia harus berfilosofi bahwa Grunge itu Nirvana, mabuk, fals, banting gitar, dan enggak mau mempelajari akar terbentuknya grunge itu darimana? Kenapa mereka enggak mau terima Bahwa mereka setengah mati fanatis hanya memuja Cobain, padahal Cobain sendiri begitu tergila-gila pada begitu banyak artis dengan beragam Aliran macam The Beatles, Led Zeppelin, The Vaselines, Pixies, Melvins, dan buanyaaaaaakkk lagi. Saya sendiri enggak pernah menganggap diri sebagai ‘Anak grunge’  sekalipun Bobby Setenk menyebut Saya “Grunge”

Saya suka genre itu, Saya mendengarkan band-band yang termasuk dalamnya. Namun dengan mentasbihkan diri sebagai ‘anak grunge’ maka Saya hanya akan mengkotak-kotak kan musik dan alangkah bosannya menjadi Anak Grunge. Saya lebih suka disebut ‘Rocker’ karena dengan kata “Rock’ maka artinya menjadi luas sekali termasuk dalamnya subgenre-sugbenre yang ada dalam rock itu. Ini bukan sangggahan atau resistensi kalau Saya disebut ‘anak Grunge’ Cuma sebuah Advice atau ajakan kepada semua: Jadi saya memang mengamini ucapan Musallamah Hasan, Bobby Setenk, atau Radji. “Ketika kita mengaku sebuah ideology, Kultus, atau apapun sebuah aliran musik itu. Mbok ya ayo dipelajari dasarnya dulu kenapa Kita suka dan memilihnya. Jangan Cuma ikut-ikutan, biar terlihat keren, atau Cuma karena kurang kerjaan aja begitu. Jadinya nanti kayak Mamat lagi, ikut-ikutan jadi Punk tapi malah tersesat jadi tukang palak Sopir Koasi di jalan. Atau Kayak band apa namanya itu yang ngaku grunge, Nyaris ngebanting gitar panitia Festival tapi taunya Cuma lagu About A Girl Mari belajar dari root nya. Biar enggak tersesat.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 27 Agustus 2009

(For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Advertisements