Tags

“,…Kenapa Kau terus menunggunya? Bukankah Ia belum tentu menunggumu juga”?

“…Aku tahu Ia sedang memikirkanku seperti ketika Sekarang Aku memikirkannya, karena Ia adalah pangeran lebah yang selalu ingat jalan pulang ke sarang, dan Aku lah Sarangnya….”

Sebuah percakapan Biasa antara Aku dan Dewi, percakapan yang tak pernah mengalami eskalasi seperti yang kuharapkan. Percakapan yang semenjak setahun kita berteman hanya berkutat di seputaran bagaimana Ia sangat menantikan kepulangan Pangeran Lebahnya, bagaimana Ia sangat merindukan sengatan Cintanya, dan lain sebagainya. Padahal Aku tentu Saja sangat ingin percakapan ini beranjak saja kesesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dari percakapan biasa dua teman disore hari di taman kota kala matahari mulai memerah, Aku ingin percakapan ini jadi obrolan dua insan yang,,….Ah Kau tahulah maksudnya. Aku dan Dewi memang pribadi yang benar-benar berbeda, Aku cenderung menggebu-gebu akan beberapa hal, sementara Ia sering menganggap sesuatu biasa Saja. Ia bisa saja habis tersengat lebah (secara harfiah alias kesengat lebah beneran) namun ia hanya Akan menganggapnya biasa saja, hal yang bila terjadi pada orang lain sudah membuat mereka menangis. Tapi mungkin karena perbedaan itulah kami bersatu, sejak pertemuan kita setahun yang lalu hingga sekarang, kami jadi tak terpisahkan. Sebagai Sahabat. Dan bercakap-cakap disore hari dibangku taman adalah kebiasaan kami berdua yang sering kami lakukan. Setelah bosan bercakap-cakap hingga mulut berbusa maka biasanya kami akan berjalan bersama untuk pulang kerumah, Aku pastikan melihatnya masuk rumah dulu, baru Aku pulang kerumahku sendiri. Esok harinya terulang lagi seperti itu, dan begitu, dan begitu.

“,….Setahun yang lalu ketika kita baru berteman Kau bilang padaku Ia pergi setahun yang lalu, berarti sudah 2 tahun Ia pergi, 2 tahun Dewi. Waktu yang cukup lama untuk membuat seorang pria sudah melupakanmu. Apalagi yang Kau harapkan darinya,,…:”?

“,……Probabilitas sahabatku, Segala yang tidak mungkin didunia ini bisa jadi mungkin. Maka Aku mungkinkan Pangeran lebahku akan kembali…”

lagi dan lagi, stagnasi terulang lagi. Percakapan soreku dengan Dewi yang tak kunjung meningkat jadi percakapan sepasang kekasih, Dewi menunggu seorang Pria yang dijulukinya ‘Pangeran Lebah’ Ia sudah menunggunya bertahun-tahun, Ia bilang Pangeran lebahnya sedang menuju negeri yang jauh, yang saking jauhnya sampai tak ada di peta dunia atau di Google Earth. Ilmu yang dicarinya katanya akan bisa bisa membuat perubahan besar pada Dunia. Ilmu yang katanya Akan membuat lebah Amat bermanfaat bagi Dunia. Cinta Dewi kepada Pria itu tentu saja cinta biasa seperti cinta manusia lainnya, biasa bagi mereka, tidak biasa bagiku. Sumpah. Aku mencintaimu lebih baik darinya wi, Aku yang mendengar keluh kesahmu ketika Kau sedang sedih. Aku pula yang mengelap Air matamu dengan tisu basah saat Kau meneteskan Air mata kerinduan mendalam pada Sang Pangeran, Aku Antar Kau kemana Kau suka, Aku pula yang selalu bercakap denganmu dibangku taman Kota yang banyak nyamuknya kalau sudah malam. Dan kenapa Kau harus kompulsif dengan segala yang berbau Lebah? Demi Kau Aku rela jadi lebahmu, apa Kau mau Aku jadi Tawon Ndas yang akan melindungimu dengan ganasnya ketika Kau sebagai sarang dalam bahaya? Oh, mungkin jadi Tawon Madu Saja biar Kau bisa minum madu tiap hari, apa saja demi Meningkatnya hubungan kita….kumohon lupakan saja pangeran lebahmu dan berpalinglah padaku, Aaarrggghhhh Aku dikerubungi imajinasi tentang ribuan lebah mengeroyokku. Aku jadi Apiphobia. Aku benci lebah bukan bermaksud mendiskriminasikan makhluk Tuhan, cuma karena Kau sangat mencinta Pangeran Lebah, sementara Aku mencintaimu, dan Pangeran lebah hilang entah kemana.

“,,…Dewi, Kenapa dari siang tadi wajahmu murung terus begitu…”?

“…Kau tahu tidak kemarin ada seseorang yang menulis sesuatu di Wall Facebook ku. Dan Kau tahu siapa Dia? Pangeran Lebahku, Aku senang setengah mati sampai melompat-lompat. Kau Tahu apa yang dituliskannya: HI APA KABAR. Dengan huruf kapital, HI APA KABAR..”

“Lalu kenapa Kau malah murung? Bukankah harusnya Kau senang mendapat kabar darinya?”

“Karena ketika Kubaca Info Facebook nya ternyata ada tulisan ‘Bee Prince is in relationship with Nadia Natalie Sovia’.

Pak Djamil tukang sapu taman sudah tentu heran melihat Kami sore ini, kami yang biasanya cuma bercakap-cakap di bangku itu kali ini terlihat lain. Aku duduk biasa menatap kejauhan, sementara Dewi menyandarkan Kepalanya dibahuku, menangis sesenggukan. Lalu apa mau dikata? Ia mengharapkan kemungkinan berpihak padanya dan mengembalikan seorang Pria yang amat dicintainya yang sudah pergi bertahun yang lalu. Ia berfilosofi lebah selalu bisa pulang kesarangnya meski sudah terbang berkilo-kilo meter mencari sari bunga, maka Pangerannya juga akan kembali. Namun pada akhirnya Dewi mendapat pelajaran bahwa dalam hidup ini terkadang kita tak harus mendapatkan apa yang kita inginkan, kadang kita harus dibuat kecewa karena menunggu sebuah ketidakpastian. Ia mengamini ucapan Albert Einstein “Sesuatu yang tidak pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri” ketidakpastian hubungannya dengan pangeran lebah yang selama bertahun-tahun dipertanyakannya ternyata terjawab lewat sebuah tulisan di sebuah Situs jejaring pertemanan buatan Mark Zuckenberg, yang sedang digandrungi didunia dan membuat segala kalangan kecanduan. Bukannya bermaksud memanfaatkan momen ketika Dewi sedang sedih, tapi ya seperti kuceritakan tadi Kawan. Aku ingin percakapan soreku dengannya meningkat dari cuma percakapan antar Dua sahabat yang sama-sama suka baca, menjadi percakapan Dua kekasih yang juga suka Baca. Optimismeku memuncak dan bla bla bla…

“…Dewi, Pangeran Lebahmu sudah benar-benar tak akan kembali karena Ia telah menemukan sarang lain untuk pulang. Jadi apakah kini Kau mengijinkan Aku menjadi Pangeran Lebahmu…?”

“…Hey, Kau mempertanyakan sesuatu yang sudah pasti jawabannya. Kau tahu, lebah itu binatang yang setia. Konon pejantannya akan terus menjadi pasangan Ratu lebah hingga ajal datang menjemput. Nah kenapa ilmu percintaan lebah itu tak kuterapkan saja dikehidupanku. Aku akan terus menunggu kedatangan Pangeran lebah”

“Sekalipun Ia sudah pasti pergi dengan Wanita lain dan takkan kembali?”

“Tentu saja, kenapa tidak…”

Facebook Mobile Home.

Home * Profile * Friends * Inbox (69)

You Have 2 New Notifications

You Have 69 New Messages

You Have 79 Event Invitations

Status Updates

Dewi Bee Lover Tahu ga, gw kayaknya bakal terima cinta sahabat dkt gw deh. Setelah gw pikir2 Kayaknya Dia pas bgt gitu buat jd pangeran lebah gw. Nanti sore pas qta ngbrol di taman kyk biasana gw bakal terima cintanya. (2 hours Ago) – 50 Comments – Like

Dewi Bee Lover

Update Status

Clear

Azkiya putri BT bgt kul ngebosenin (2 hours Ago) – 8 Comments – Like

Arid Prasaja mendengarkan Tak gendong….. (5 hours Ago) – Comments – Like

Taufik Hidayat Like This

A Man That Love His Best Friend Wanna take a suicide, cinta ditolak, bunuh diri bertindak. Bye cruel world.

(2 hours Ago) – 235 Comments – Like

SELESAI

Bekasi 6 Agustus 2009

Tambahan: Cerpen ini bukan bermaksud mengajarkan agar membenci lebah, atau salah satu bentuk diskriminasi akan lebah. Justru cerpen ini ditulis ketika Sekarang ini Saya sedang tertarik dengan makhluk itu, tidak ada satu lebahpun terluka selama pembuatan cerpen ini, cerpen ini juga tidak mengajarkan tentang kita harus bunuh diri ketika Cinta ditolak. Sama sekali tidak. Saya hanya berusaha mengatakan bahwa segala probabilitas bisa saja terjadi didunia ini. Tokoh Dewi yang menunggu seseorang dan ternyata Ia sudah punya kekasih lain, Dewi yang pada Akhirnya memang cinta tokoh pria dan siangnya hendak menerima cintanya, namun sang pria sudah memutuskan bunuh diri diketahui dari status Facebook. Moral dari cerita ini tentu saja bahwa segala kemungkinan itu bisa saja terjadi dlm hidup, jadi jangan terlalu fanatis menanti sesuatu, atau terburu-buru melakukan hal konyol. Karena kedepannya sebuah kemungkinan akan bisa merubah segalanya, dan ketika kita terlanjur bertindak konyol maka hanya ada penyesalan semata.

REGARDS

-Aris Setyawan-

Advertisements