Photobucket

WARNING: Cerita atau review ini sepenuhnya Subyektif sesuai dengan perasaan Saya yang saat menulis Cerita ini sedang tergila-gila mendengarkan Tha Nekrophone Dayz nya Homicide. Jadi buat yang enggak suka sama mereka, menganggap Homicide itu Komunis, Atheis, Agnostik, atau apalah. Lebih baik berhentilah membaca sampai disini. Karena cerita ini adalah sebuah tanda salut dan respect Saya untuk Group asal Bandung ini.

Yah, belakangan Saya tengah tergila-gila dengan group Hiphop asal Bandung ini. Sebuah Group Hiphop? Kenapa Saya bisa Suka dengan group hiphop ini, padahal dari Dulu Saya bersumpah Sangat enggak Suka dengan Aliran ini, Saya Anggap Hiphop itu hanya sebuah Aliran berengsek-berengsek yang kebanyakan duit lalu menghamburkannya dengan membeli bling-bling sebanyak mungkin, memodifikasi shockbreaker mobil hingga bisa melompat seraya hendak terbang, bernyanyi (atau hanya mengoceh…???) membacot cepat dengan lirik tentang gangster atau kehidupan Niggaz atau narkoba atau memble, atau So What Gitu Loh….??? Itulah Opini Saya tentang Hiphop Dulu. Saya Anggap hiphop Hanyalah musik untuk orang-orang yang kurang kerjaan atau kebanyakan duit dan hendak memvisualisasikan bahwa mereka berbeda dengan orang-orang lain yang miskin.

Tapi opini Saya tentang Hiphop berubah setelah tahu Homicide. Sebuah Anomali yang lebih Aneh dari musik yang mereka bawakan. Hiphop sejenis Public Enemy atau the Last Poet sebagai Influence mereka, Political Rap yang ngomongin politik secara Sadis. 8-Ball Cuma berani teriak-teriak Ngajak ngentot Kangen Band tapi lempar batu sembunyi tangan. The Law apalagi Cuma berani ngumpatin band-band se Indonesia tapi enggak berani Berkonfrontasi secara langsung. Tapi Homicide berbeda, mereka berani menuduh Sana sini tapi dengan kecerdasan, dan mereka berani menampakkan diri secara langsung. Lalu apa yang membuat Saya langsung Suka dengan group ini? Mereka bisa Saya bilang group Hiphop terbaik Negeri ini, mereka tidak bicara tentang memble, atau bling bling, atau So What Gitu loh, atau Ngentot, atau tipikal lirik-lirik band Hiphop Kacangan. Mereka lebih suka bicara neoliberalisme dan bahayanya untuk negeri ini, tentang kapitalisme busuk korporasi multinasional yang menjadikan Negara kita ini sebagai lubang senggama. Tentang bagaimana busuknya pemerintahan negeri, atau tentang para Fasis yang bertopeng Agama dan Konstitusi yang dengan seenaknya membacok leher orang. Mungkin tema yang mereka bawakan akan terlalu berat buat beberapa orang, tapi amat menyenangkan.

Homicide sebenarnya sudah lama berdiri, mereka adalah legenda hidup hiphop Indonesia, namun mereka sangat miskin rilisan. Dari awal Homicide berdiri sampai memutuskan bubar beberapa waktu lalu, Lagu-lagu mereka berserakan sebagai EP atau Single. Hingga Akhirnya seluruh serakan lagu-lagu itu dikumpulkan dalam sebuah Album (atau lebih tepatnya Kumpulan EP) ini yakni Tha Nekrophone Dayz. Dirilis tahun 2006 (dan Saya baru beli sekarang) sementara Album terakhir mereka sebelum Homicide memutuskan bubar “IllSurrekshun” baru dirilis kemarin. Saya menemukan Homicide dari MySpace mereka, setelah mendengarkan lagunya ternyata bagus banget, Akhirnya Saya putuskan memesan CD Tha NEkrophone Dayz mereka. Ketika CD itu Sampai Ia tiada henti Saya putar untuk mempelajari semua yang ada didalamnya. Tha NEkrophone Dayz berisi 18 Track termasuk Intro, dalam paket CDnya ada Booklet kecil dengan eksplanasi singkat sejarah berdirinya Homicide, gambar-gambar Kuburan. Lalu ada Lyrics Sheet yang super duper panjang (wajib baca Liriknya biar tahu apa sih yang mereka omongin di lagunya) beberapa Ekplanasi tentang lagu-lagu dalam Tha Nekrophone Dayz. “Boombox Monger” adalah memori Lama Ucok a.k.a Morgue Vanguard yang mengkisahkan ingatannya tentang Hiphop 70-an; “Puritan (Godblessed Fascists) lagu kontroversial yang berbicara tentang sekelompok fasis bertopengkan Agama dan Ideologi yang seenaknya menebas leher orang lain yang menganggap moral mereka paling baik lalu seenaknya menghilangkan Nyawa orang (kalian tahu maksudnya kan? Siapa kelompok ini); “Semiotika Rajatega” lagu sadis berupa tikaman untuk group Hiphop lain yang membenci Homicide; “Barisan Nisan” track sepanjang tujuh menit lebih yang berisi Sampling-an aneh serta Spoken Word dari Ucok, Ia tidak bernyanyi disini. Cuma berpidato lintas tema, berkarakter sangat kuat; “Senjakala Berhala” Track favorit Saya. Coba dengarkan ditengah malam kalau berani. Flow serta kecepatan nge-rap yang sangat luar biasa, membuat Saykoji tertinggal jauh dibelakang tak bisa mengikuti kecepatannya; “Belati Kalam Profan” Saya suka beatnya; “Rima Ababil” dengan cara nge-rap yang Radio Friendly sebenarnya track ini bisa diputar diradio, namun demi mendengar sampling Orasi pejuang Ham Almarhum Munir di awal lagu, sudah pasti Radio-Radio tak berani memutarnya; “Sajak Suara. Ucok membacakan Puisi Karya Widji Thukul, penyair era Orde Baru yang dihilangkan paksa pemerintah; “Nekropolis” lagu yang amat berisik, ditambah Teriakan Addy Gembel vokalis band Death Metal Forgotten.

Ah susah kalau hanya diterangkan dengan kata-kata, dengarkan Saja Tha Nekrophone Dayz. Pesan segera CD ini. Lihat cara pemesanannya dengan kirim imel ke Remains@nekrophone.com Saya juga sedang berpikir untuk membeli Album terakhir mereka IllSurrekshun.

Ada yang bilang Homicide adalah Atheis, Komunisme bentuk baru, Agnostik dan lain sebagainya. bagi Saya mereka yang bilang seperti itulah yang berpikiran picik, ber IQ rendah. Cuma bisa melihat permasalahan dari satu sudut kemungkinan saja tanpa tahu esensi sebenarnya. Ucok dan kawan kawan bukan Atheis, mereka hanya benci orang-orang yang mengaku Agamis tapi menerapkan Gaya hidup fasis dan suka membunuhi orang lain yang tak satu faham dengan mereka. Homicide bukan Komunis, mereka hanya benci dengan pemerintahan negeri ini yang semakin menumbalkan rakyatnya sendiri demi kelanggengan kedudukan. Homicide hanya memperingatkan kita tentang bagaimana sih keadaan sebenarnya negeri Kita tercinta ini, yang jadi bulan-bulanan Negara barat, jadi mangsa senjata utang dan kapitalisme. Kita diperingatkan apa sih Bahaya Neoliberalisme yang pelan-pelan tengah menjajah Kita. Jadi Homicide tak hanya omong besar tentang hal-hal hedonis enggak penting itu. Karenanya Saya putuskan bisa Suka dengan Hiphop jenis ini.

Last Word, Homicide memang sudah bubar. Sudah berganti jadi Karbala Bukan Fatamorgana. Lupakan kata orang tentang ideologi yang dianut Homicide. Coba dengarkan Saja lagu mereka untuk tahu apa sebenarnya Homicide itu.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 06 Maret 2009

Advertisements