Saya sering menonton teve bersama seorang teman, sebut saja namanya Johnny. Jadi acara teve yg kami tonton adalah acara-acara konser musik band-band papan atas Indonesia, yang sedang In belakangan ini. Ketika channel tevenya Saya ganti ke saluran teve yang sedang menayangkan videoklip Lintang dari Netral. Johnny dengan garangnya berkata: apaan ini? Band ga bermutu gitu disetel, mutunya dimana coba band ini? Bagusan ini bos…dan direbutlah remote teve dari tangan saya kemudian bergantilah gambar di teve dari Hingar Bingar Netral menuju Konser panggung besar band-band papan atas yang lagunya sedang In. heeeemmmm, cukup pelik dan klise, sebenarnya musik seperti apa sih yang bermutu itu? Dengan mengatasnamakan subyektivitas maka jawaban dari pertanyaan diatas tentu akan berbeda, bagi Saya kriteria bermutu adalah ketika sebuah musik yang diciptakan benar-benar mewakili isi hati kita, mengatakan dengan gamblang apa yang dimaksudkan dan hendak dijelaskan sang artis, tidak membohongi diri sendiri dengan membuat musik yang pasaran asal laku namun enggak sesuai nurani, komposisi yang boleh ribet boleh juga easy listening asal kena di feel dan pas. Dll, dst, dsb. Banyaklah kriteria dan standarisasi yang Saya terapkan untuk memfatwa bahwa sebuah musik bermutu, intinya Saya anggap sebuah musik bermutu ketika Musik itu enggak membohongi kita dengan kepalsuan yang penting laku lupakan mutu. dan kebetulan Netral adalah salah satu band yang bisa Saya masukkan dalam kategori bermutu ini. Sementara bagi Johnny dan mungkin juga bagi sebagian besar penikmat musik negeri ini, sebuah musik yang bermutu adalah ketika musik itu laris manis di teve atau Radio, yang bisa mewakili kisah hidup mereka. Maksudnya gini, Johnny bilang ke Saya kalo lagu-lagu dari band-band papan atas konser besar itu sebagian besar ceritanya sama dengan kisah hidupnya, mulai dari selingkuh, putus cinta, patah hati, bintang, hati, dan cinta-cinta lainnya. Dan filosofi ini pastinya dianut oleh banyak orang di negeri ini.

Penikmat musik di negeri ini memang sebagian besar belum teredukasi, jadi yang dicekoki musik model gimana juga asal ada hubungannya dengan kisah cinta mereka pasti diterima. Diluaran sana (kita bisa memaknai luaran sana itu sebagai Inggris atau Amerika) para penikmat musiknya lebih apresiatif. Ketika menonton sebuah konser dari artis yang mereka sukai, maka mereka akan rela membayar tiket, berapapun itu, dan mereka ngerti mana musik yang bagus, dan mana yang enggak. Karena diluaran sana itu tentu saja iklim bermusiknya lebih kondusif dan lebih maju. Jadi masyarakatnya pasti juga lebih terdidik dalam memilih musik yang bermutu. Sementara tengoklah di Indonesia, tiap berita di teve menayangkan konser satu band rusuh, band lain juga rusuh, apa yang salah dengan musik Indonesia? Bukankah Musik Indonesia juga memakai ‘Doremi fa sol la si do’ yang sama dengan yang dipakai Musik Amerika?

Dengan adanya berbagai masalah Industri musik Indonesia rasanya untuk bisa mempunyai masyarakat penikmat musik yang lebih cerdas kita harus menunggu lebih lama, masalah terbesar Industri musik negeri? Dari dulu sampai sekarang tentu saja pembajakan, inilah negeri sarang pembajak. Produk-produk musik bajakan beredar secara luas dan terang-terangan dari pasar tradisional, emperan toko, lapak kaki lima, sampai mall-mall mewah. Dan semuanya laris manis. Dengan kondisi daya beli masyarakat yang rendah maka beli kaset original adalah sebuah kemewahan. Maka produk bajakan adalah alternative murah dan yang penting tetap bisa karaokean. Statistik sudah menunjukkan angka penjualan fisik produk musik menurun drastis dari tahun ke tahun. Sementara pihak produsen mencari jalan pintas penyelamat dengan menjual RBT yang belum bisa dibajak. Sebenarnya kita tahu kan kualitas bajakan itu seperti apa? Paling-paling VCD bajakan isinya yah video klip band papan atas yang direkam dari teve menggunakan Teve Recorder, pake Teve Tuner di PC. Lalu di burning pake Nero. Tapi pembelinya tetap menganggapnya bermutu, asal bisa disetel keras-keras aja. Jadi masyarakat tahunya ya asal bass dan treble nya muncul aja itu sudah bermutu, mereka jadi ga tahu bagaimana rasanya mendengarkan musik dari sebuah CD/Kaset original.

Itu dari segi penjualan album original, sementara dari konser-konser yang diadakan di Indonesia juga belum mendidik pendengarnya untuk menghargai musik. Masyarakat kita sudah terlalu dimanjakan konser-konser gratis promosi produk perusahaan raksasa atau konser mega buatan stasiun-stasiun teve. Akibatnya orang-orang kita ini jadi berpandangan ah kalau ada yang gratis buat apa nonton yang bayar? Padahal beberapa tahun yang lalu untuk menonton sebuah konser musik band ternama, kita harus merogoh kocek untuk bayar tiket, sesuatu hal yang menurut Saya malah enggak ada salahnya, bagi Saya untuk menikmati sebuah musik harus ada usaha dong, salah satu usaha itu dengan membayar. jadi kita benar-benar menghargai dan mendengarkan musik itu sepenuh hati (karena udah bayar gitu, Sayang dong kalo ga bener-bener menikmati) dan jangan gunakan pembelaan masyarakat kita kan daya belinya rendah, gimana bisa bayar nonton konser? Kalau kita omongin konser artis nagri yang diundang ke Jakarta dengan tiket festival 400 ribu sih iyalah masyarakat kalangan bawah ga bisa bayar. Karena yang menonton konser dengan nominal sebanyak itu orangnya pasti benar-benar mengerti resiko kenapa Ia harus bayar sebanyak itu, merelakan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit demi menonton artis itu, karena Ia tahu untuk bahwa yang akan dilihatnya memang bagus jadi wajar harus merogoh kocek dalam. Kalau yang kita omongin konser artis Lokal, apa pernah ada artis lokal bikin konser tiketnya 500 ribu? Terakhir Saya nonton konser bayar harga tiketnya 20 ribu, artis papan atas tuh. Dengan bayar uang 20ribu saya rasa masih cukup terjangkau masyarakat. Jadi mereka akan mikir-mikir kalau sudah bayar 20 ribu cuman buat mabok-mabokan, sayang ah, mending buat beli campuran Oli lagi. Akhirnya yang ada di konser itu ya orang-orang yang memang benar-benar niat nonton konser dan rela bayar biar bisa nonton. ingat pepatah “Ada Duit ada barang, Ada uang lebih, ada kualitas” We have to pay to watch good entertainment. We have to pay it. Dan ketika pihak perusahaan produk besar yang mensponsori konser itu berdalih “Kami ingin memberikan hiburan secara gratis untuk masyarakat Indonesia’ apakah kita akan percaya kata-kata itu? Mereka tentu saja tak berkepentingan untuk menghibur masyarakat, kepentingan mereka ya tentu saja promosi produk mereka menggunakan berbagai mediasi yang mereka anggap sekiranya tepat guna dan efisien digunakan, mensponsori konser besar salah satunya, mereka tahu dengan sebuah konser besar, mendatangkan artis-artis papan atas Indonesia yang sedang in akan menyedot banyak audience. Dan terbukti kan? Tiap konser-konser gratis macam ini pasti ramai hingga beribu orang datang. Apa mereka yang datang benar-benar karena suka atau fans berat artis yang manggung? Tidak, bagi kebanyakan mereka yang penting gratis, bisa buat goyang, bernyanyi bersama sembari mabok. Itulah bermutu. Kenapa konser-konser itu sering mendatangkan keributan dan kerusuhan? Karena banyak penonton didalamnya yang berada dalam pengaruh alkohol. Kesenggol sedikit aja marah, lalu berantem. Yang bener-bener niat nonton konser ga seberapa, yang kurang kerjaan, dapet tempat untuk mabok dan bersenang-senang bejibun. Jadinya yah Konser band rusuh selalu jadi headline berita teve atau Surat kabar. Tidak pernah Saya jumpai penonton membawa banner ST twelve, miss band atau Purple, atau King di kala mereka konser. Yang ada tetap aja banner Slank atau OI. Sepertinya bisnis pertunjukkan di Indonesia ga akan maju deh, kalau adanya gratisan melulu dan tidak adanya regulasi dari pemerintah yang mengatur bisnis pertunjukkan secara lebih baik.

Sementara di televisi sedang menjamur acara-acara tangga lagu dari 1 sampai 20 yang patut dipertanyakan darimana referensi mereka dalam menentukan atis ini ada diurutan berapa? Did they do the survey or polling to put that band into chart number twenty or eleven? Apa mereka mengecek jumlah permintaan akan lagu itu di radio-radio untuk tahu lagu itu memang patut berada diposisi satu? Atau jangan-jangan mereka dengan seenak udel-nya sendiri mengacak letak chart? Dan nampaknya keadaan semakin diperparah dengan penampilan artis-artis diacara itu yang kebanyakan lipsinc dan minus one. Lipsinc atau berpura-pura bernyanyi dan bermain musik mengikuti lagu yang sedang diputar didepan banyak audience. Damn, our people are cheated by fake performance, dan edannya meski penampilan mereka Cuma akting dan palsu para penontonnya juga tetap tepok tangan dan berteriak-teriak menyoraki mengelukan artis yang baru tampil. Padahal diluaran sana ( kita tetap bisa memaknai Luaran sana itu sebagai Inggris atau Amerika) kalau artis berani Lypsinc maka karier bermusiknya akan langsung anjlok. Itu karena masyarakatnya tahu apa bedanya nyanyi beneran dan nyanyi akting. Masih inget dong kasus yang menimpa Ashlee Simpson beberapa tahun lalu? Adik kandung Jessica Simpson itu kariernya sedang dipuncak ketika sebuah tragedi terjadi, Ashlee kepergok sedang Lipsinc ketika sedang tampil di Saturday Night Live, kontan setelah itu para fans Ashlee marah-marah dan publik musik Amrik meledak. Ashlee jadi menghilang beberapa lama. Kalau di Indonesia boro-boro kayak gitu, lipsinc aja tetap disoraki dan ditepuki tangan. Nah, Kalau yang belakangan lipsinc udah ga model (cuman dipakai diacara teve yang namanya hura hip-hop dan juga di Spot) kalau acara lawan katanya Outbox dan satu lagi yang hostnya ada The Hot And Sexy Luna Maya itu kini pakainya Minus One. Jadi kalau minus One ini beda sama Lipsinc. Bedanya yang akting pemain musiknya doang. Bass, drum, gitar, keyboard semuanya akting. Sementara vokalisnya tetap nyanyi. Terus yang musiknya nyang main sapa dong? komputer dong, sebelum berangkat ke stage tempat manggung tuh si artis tinggal otak atik aja master rekaman mereka pake software buatan luar negeri, bagian vokalnya diilangin terus hasilnya di mixdown ulang, di save. Jadilah musik yang akan diputar di panggung mengiringi sang vokalis bernyanyi. Ketika si Johnny saya ceritakan masalah ini Ia masih mungkir: “masak sih Ris itu cuman akting? Ga percaya ah, tuh bagus gitu suaranya. Tuh drummernya juga nabuh drumnya beneran” karena Saya sudah habis akal menerangkan secara gamblang kepadanya maka Saya jelaskan saja secara simple:” john….tuh perhatiin dong suara drumnya, bagus kan? Ada suara bass drum, cymbal dan set drum komplit yang bagus banget. Tapi kok di panggung itu drummernya Cuma punya set drum snare ama hi hat doang? Terus sisanya dimana? Apa dimainin dibelakang panggung ama asisten drummernya?” dan cengar-cengirlah si Johnny.

Selama para pelaku Industrinya masih seperti yang diatas, maka jangan mimpi deh kita punya masyarakat penikmat musik yang lebih apresiatif dan terdidik. Masyarakat kita ya masih akan tetap mengganggap musik yang bermutu yang seperti itu, bukan yang berdasar komposisi bagus, materi yang bagus dan lain sebagainya. Tujuan para pelaku Industri memang Uang, semua memang bertujuan demi uang. Kita butuh uang, tapi tak adil rasanya uang itu didapat dari memperbodoh masyarakat? Money is everything coz without money we are nothing. Tapi ga selamanya uang bisa mendatangkan kebahagiaan. ( dan kenapa ini adalah sebuah kalimat penutup yang ga nyambung dengan bahasan diatasnya?)

-Aris Setyawan-

09 Feb 2009

(For More Sh*t Please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Advertisements