Asap dimana-mana, kegelapan, kelam, hitam, ini bukan akhir dunia. tapi selimut asap memeluk daerah ini. Aku dan kekasih hati megap-megap mengejar oksigen yang semakin langka. Asap dimana-mana, dimana tukang balon gas? Biar aku bisa pinjam tabung oksigennya untuk pertahankan jiwaku dan kekasih hatiku…

Akhir tahun ini agak sedikit berbeda dari tahun-tahun silam. Dulu aku selalu bahagia diakhir tahun. Selalu banyak hal yang bisa membuatku tersenyum di bulan-bulan menjelang pergantian masehi. Agustus yang penuh kegembiraan dan tawa ketika nonton panjat pinang di perayaan tujuh belasan dikampungku. Antara september sampai oktober yang penuh kekhusyukan karena datangnya bulan suci Ramadhan, dan disambung datangnya kemenangan di hari raya idul fitri. Sampai riuhnya terompet mengiringi pergantian tahun di bulan desember. Pokoknya di akhir tahun selalu ada momen yang bisa membahagiakan dan mampu menyihirku agar terus mengenangnya. Dan memang benar, efek magisnya nyaris mustahil dimusnahkan. Aku selalu mengenang masa-masa itu. Yang kadang menghilangkan rasa malu karena aku tahu-tahu menangis walau sedang di keramaian pasar. Yang membuat orang lain menyangka aku depresi berat plus gila sinting karena aku tertawa-tertiwi sendiri tanpa sebab. Masa dimana aku masih bersamanya. Tiara, perempuan nyaris tanpa cela. Seperti yang kutegaskan tadi, akhir tahun ini memang berbeda. Penghujung masehi yang kujumpa sekarang penuh luka dan kepedihan. Barah dalam jiwa yang sulit tersembuhkan. Kronologisnya juga masih segar dalam ingatan. Meski aku berusaha mengenyahkannya namun malah makin kokoh menancap dalam otak. Akhir tahun ini berbeda, tak sama.

Januari.

Aku tinggal di sebuah kota. Tak etis rasanya kalau aku menyebut nama kota itu. Yang jelas kota ini terletak di pulau yang terbelah garis kasat mata, yang pada akhirnya menyebabkan negeri ini dapat julukan zamrud khatulistiwa. Kehidupanku biasa saja, aku seorang pria normal; kerja di perusahaan swasta; umur kepala dua; fans berat Juventus walau mereka turun tahta ke serie B; amat benci penindasan; dan tidak suka sayur terong. Aku tinggal di sebuah daerah yang indah, itu menurutku. Karena orang selalu menilai keindahan dengan sudut pandang masing-masing. Ada yang menganggap keindahan itu adalah sesuatu yang sedap dipandang. Lantas apa yang dimaksud dengan yang sedap dipandang itu? Seorang pelukis akan mengatakan Monalisa itu indah karena ia memang mencintai seni lukis. Seorang Ibu menyatakan keindahan yang tak bisa tertandingi adalah saat buah hatinya melangkahkan kaki untuk pertama kalinya. Sementara seluruh kaum Adam menganggap betis itu indah. Dan kenapa pula aku jadi membicarakan betis. Daerahku dikelilingi alam yang mempesona tiap-tiap mata. Julukan yang paling membanggakan: daerah kami~sebenarnya pulau kami~adalah paru-paru dunia. karena luas hutan yang kami miliki. Keindahan-keindahan lain masih banyak, tapi takkan kuceritakan karena inti dari kisah ini bukannya tentang hutan yang penuh monyet. Melainkan tentang monyet yang tengah jatuh cinta.

Februari.

Masih biasa saja. Bulan ini adalah waktu-waktu MOS atau masa orientasi. Masa perkenalan kita dengan tahun baru yang tak terduga apa yang bakal terjadi. Bulan ini bulan kemenangan para pecinta, karena di bulan ini ada satu hari yang dikatakan sebagai hari kasih sayang. Para pecinta baik yang ABG, remaja, muda, tua , kakek, nenek, bapak, ibu semua yang ada disini akan mencurahkan segenap rasa kasih sayangnya pada orang terdekat. Para produsen coklat juga kebanjiran order di bulan ini.

Maret.

Aku masih pria biasa saja dan belum pindah-pindah dari bagian produksi ditempatku bekerja meskipun sudah tiga tahun mengabdi. Dan beruntungnya lagi, aku masih karyawan kontrak dan entah kapan jadi pegawai tetap. Tapi betapa beruntungnya aku. Aku jadi bisa pakai sandal jepit ditempat kerja sementara para pegawai tetap harus pakai sepatu. Aku enggak perlu diperiksa dokter tiap tanggal 20 karena aku enggak dapat tunjangan kesehatan. Aku bisa bebas naik angkot yang nyetel My lecon kenceng-kenceng karena enggak harus ikut bus karyawan yang Cuma berapa biji dan Cuma berani nyetel Dinda bestari. pokoknya di bulan maret ini aku puas walaupun masih jadi pegawai kontrak.

April.

Aku bisa beli sebuah skuter tua dari hasil mengumpulkan gajiku sejak masuk kerja dulu. Biarpun tua tapi masih mentereng, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. wah, tiap sore aku bisa slalom dan nyore bareng temen-temen. Aku punya tunggangan, jadi sekarang aku udah berani godain cewek-cewek bertanktop yang sering berseliweran di kotaku. Eh iya, di bulan ini Udin anak mang ma’ruf tetangga sebelah udah berani sunat.

Mei.

Aku jalan dengan skuter tua di sore hari. Ufuk barat mulai memerah. Saat itulah yang terus kuingat. Aku kenal dia. Aku jalankan skuter pelan-pelan menyusuri jalan seraya menghindari lubang-lubang. Eh tiba-tiba dari arah kanan muncul sosoknya. Mataku jadi terus meleng ke kanan. Wah, cantik loh. Enggak tinggi-tinggi amat sih. Rambut ikal sebahu, pake hot pant dan atasan kaos surfing. Sendal jepit merah dikaki. Dia lagi berdiri didepan rumahnya. Mungkin sedang menunggu tukang bakso lewat. Ah kecantikan seperti itu. Aku terus terpukau menatapnya dan memutuskan untuk kenalan dengan…….Guuuuubbbrrraaakkkk….dengan tong sampah.

Sungguh sial nasibku bulan ini. Gara-gara keterusan ngeliat cewek, aku jalanin skuter enggak ngeliat kedepan. Akhirnya tong sampah jadi hadiah. Tapi seperti pepatah tiada gading yang tak retak. Maka keberuntungan berpihak. Cewek itu mungkin merasa iba melihat nasib naasku. Ia lari-lari kecil menghampiriku. Menawarkan bantuan berdiri, mengelap keringat, nempelin plester di jidat. Tambah kenalan. Namanya singkat namun padat: Tiara. Itulah waktu aku kenal dia. Gadis yang kuanggap tanpa cela. Hah, siapa sangka kalau sengsara membawa nikmat.

Juni-juli.

Aku dan Tiara makin dekat. Kemana-mana kita berdua. Segala cerita hidup masing-masing kami ceritakan. Dia butuh aku sebagai pendengar, aku butuh dia sebagai pencerita. Dia cewek yang terbuka, semua borok atau kurap dalam hidupnya diceritakan tak ada yang ditutupi. Dan ternyata kami punya banyak kesamaan. Kita berdua punya hobi yang sama: membaca. Dia suka baca Teenlit aku suka baca koran. Dan masih banyak kesamaan antara kami berdua. Tidak suka makanan pedas; benci dengan penindasan; sering lupa tiap bikin janji; sering menyatakan benci orang yang merokok. Dan lain sebagainya. Tapi satu hal yang paling mengejutkan diantara semua kesamaan yang kami miliki: kami sama-sama menderita sakit pernapasan. Walau beda dikit. Tiara sakit asma sejak lahir sementara aku menderita bronchitis sejak kelas 3 SMP. Memang suatu kebetulan yang mengejutkan. Namun yang terakhir ini meyakinkan kami bahwa kami banyak kecocokan dan akhirnya memutuskan untuk jadi sepasang kekasih.

Agustus.

Satu bulan sudah aku dan Tiara mengikrarkan janji. Segala kekurangan atau kelebihan kami mulai muncul ke permukaan. Dan tak salah bila kusebut dia gadis nyaris tanpa cela. Kepribadiannya yang menyenangkan. Tak pernah marah walau aku telat jemput ia dari tempat kuliah. Sebaik-baiknya cewek adalah Tiara, camkan itu. Bulan ini kami masih bisa nonton lomba balap karung di lapangan. Kami masih bercengkerama dan bercanda bersenda gurau. Kami masih bisa bermalam mingguan naik skuter tua. Dan kami masih bertahan dengan ikrar No sex until married. Bulan ini aku masih bisa terus mengantar Tiara check up kesehatan dua kali sebulan. Sebuah rutinitas yang mau tidak mau harus dan kudu dijalaninya untuk memantau kondisi kesehatannya. Sementara aku sendiri, agak sedikit tenang. Aku patut bersyukur karena sudah bertahun-tahun bronchitisku tak pernah kambuh lagi. Jadi aku tunjukkan perhatianku padanya. Sebisa mungkin kubahagiakan Tiara.

September-November.

Sinetron-sinetron televisi selalu mempunyai alur yang sama. Di awal kisah kebahagiaan ditonjolkan dan membuat para penonton ikut berbahagia atas sesuatu yang kurang jelas maknanya. Di pertengahan episode tragedi dan intrik mulai berperan. Kebahagiaan mulai direnggut dari kehidupan tokoh utama. Berganti jadi kesedihan, penderitaan, makian, cacian, cucian, dan lain sebagainya. Dan hebatnya di akhir cerita nanti pasti kebahagiaan akan datang menghampiri pemeran utama. Skenario ala sinetron ini juga terjadi pada diriku dan Tiara. Dan nampaknya kami telah sampai di pertengahan episode. Entah siapa yang harus disalahkan atas tragedi ini. Bukan Cuma kami berdua yang merasakan. Tapi semua. Semua yang tinggal di daerah ini, yang tinggal di kota kecil ini, juga yang tinggal di propinsi, pulau ini, bahkan negara tetangga pun ikut kebagian sampai-sampai kepala negara harus menelponi satu persatu para pemimpin negara tetangga untuk meminta maaf. Entah makhluk jahat macam apa yang tega membakar berjuta-juta hektar hutan hijau yang dulu jadi andalan kita untuk memproduksi oksigen dan air. Masalah yang tiap tahun ada. Pembakaran hutan demi membuka lahan baru seperti sudah jadi satu hal yang biasa saja. Demi mengirit biaya produksi mungkin. Dan celakanya yang melakukan bukanlah orang-orang dusun yang tak pernah merasakan empuknya kasur. Tapi orang-orang berdasi yang punya perusahaan-perusahaan perkebunan yang merekrut orang-orang dusun untuk membakar. Dan tengoklah kini. Kota kami berselimut kabut asap. Putih, dan juga mematikan. Anak-anak sekolah bisa bebas main PS2 karena sekolah diliburkan sampai asap menghilang. Banyak kegiatan terganggu, jarak pandang Cuma beberapa meter. Banyak turis batal kedaerah kami karena maskapai-maskapai penerbangan membatalkan seluruh penerbangan ke bandara yang tertutup putih tebal. Aku kurang peduli dengan semua masalah itu. Di bulan ini tragedi pertengahan episode mulai tiba. Orang-orang yang sehat walafiat saja takkan bisa bertahan apabila menghirup asap setebal ini selama berhari-hari. Apalagi yang telah mengidap penyakit pernafasan sebelumnya. Dan kami berdua mulai merasakan dampak dari tebalnya asap yang berkeliaran. Aku mulai terasa berat untuk bernafas, dan kali pertama aku sesak nafas lagi setelah bronchitisku tak pernah kambuh selama bertahun-tahun. Tapi aku masih bisa bertahan. Hanya satu yang kukhawatirkan, Tiara. Kekhawatiranku beralasan. Tiara masih sering kambuh sesak nafasnya jika kelelahan. Sungguh, kini rasanya aku ingin menyumpal saluran pernapasan para pembakar hutan itu dengan tisu toilet. Biar mereka rasakan derita yang Tiara rasakan. Sudah seminggu Tiara terbaring di rumah sakit. Selang oksigen untuk membantu pernapasannya belum juga bisa dilepaskan. Berawal seminggu yang lalu. Meskipun asap diluar amat tebal. Tiara memaksaku minta diantarkan ke perpustakaan umum untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Takut kena denda katanya. Tapi keputusanku mengantarkannya berakibat fatal. Tiara megap-megap dan nafasnya tersengal-sengal. Ia pun pingsan, tak sadarkan diri. Oh Tuhan, demi cintaku padanya. Biarlah semua beban ini aku saja yang menanggungnya. Aku larikan ia ke rumah sakit. Ruang I.C.U penuh dengan balita yang terserang ISPA. Dan kini seminggu sudah. Tiara masih tergolek tak berdaya di ruang perawatan intensif. Aku dan kedua orang tuanya bergantian menjaga. Ah, kalau sampai terjadi sesuatu dengannya. Aku takkan memaafkan diriku sendiri. Harusnya waktu itu kutolak permintaannya untuk mengantarnya keluar. Tiara, gadis yang kupikir tanpa cela. Yang tak pernah marah walaupun Cuma kuajak makan di warung siomay pinggir jalan, yang terus mengatakan kalau Buffon itu kiper yang hebat meskipun ia tak suka bola. pujaanku yang amat kukasihi, kembalilah padaku. Jika kau terbangun dari mati surimu. Aku akan memberikan kasih sayang yang lebih buatmu. Kembalilah, lawanlah asap yang mencekik ini. Oh ya, tentu saja. Aku mulai merasakan adanya harapan. Kami berdua baru saja melewati pertengahan episode. Setelah ini berarti kami akan tiba di ending yang membahagiakan. Jika hal itu terjadi, jika akhir bahagia menutup kisah hidup ala sinetron ini, Maka seharusnya sekarang Tiara sudah sadarkan diri, kemudian membuka mata, menatap sekeliling dengan muka ragu-ragu dan bingung kemudian berkata “ada dimana aku?” kemudian aku menjawab “kamu di rumah sakit sayang, selama seminggu kamu terbaring disini dengan alat bantu pernapasan yang terus menempel dirongga hidungmu. Dan selama itu pula aku terus disampingmu. Kini engkau telah kembali sayang.” Kemudian Tiara bakalan meneteskan air mata seraya sesenggukan dan memelukku sembari berkata “Aku sayang kamu.” Lanjut lagi…”Maukah kamu menikah denganku sayang?” dan gayung bersambut “Iya aku mau.” Akhirnya kami berdua hidup bahagia selama-lamanya di istana terindah dengan anak cucu kami. Tapi kenapa skenario ala sinetron itu tak kunjung terjadi? Apa demikian mahalnya bayaran si penulis Script ? kumohon wahai penulis naskah, tuliskan cerita dimana Tiara terbangun, kumohon, kumohon, kumohon…

Desember.

Akhir dari tahun ini tiba. Aku hendak bernyanyi sesuka hati. Tapi kenapa harus dengan lagu Desember kelabu. Entah apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang mengatur semua ini. Sepertinya sang penulis skenario memilih tuk bungkam dan diam seribu-basa. Atau mungkin ia tengah mogok kerja sehingga enggan menuliskan terusan dari episode ini. Aku sendiri terus-menerus memikirkannya. Tapi tak juga menemu jawaban. Andai aku bisa jadi sang penulis skenario maka akan kutulis Tiara benar-benar terbebas dari rasa sakit, terbangun dari ketidakberdayaan, kemudian kami mulai meniti jalan setapak kami demi meraih masa depan. Sebuah Ending yang bahagia. Tapi jika kutulis demikian, berarti aku hanya akan mengikuti gaya penulisan sinetron-sinetron murahan yang sering kukecam itu. Bisa juga aku tuliskan akhir yang mencekam, diluar dugaan, dan mengaburkan ego. Tiara selamanya terpejam dalam lelap dan terus menerus tercekik mengejar udara murni. Sementara diafragmanya berhenti naik-turun. Atau istilah mudahnya ia berpulang ke Rahmatullah. Tapi bukankah itu akan menyalahi aturan. Aku akan dikritisi oleh ribuan penggemar sinema yang menginginkan akhir yang bahagia dan bukan akhir yang terlalu didramatisir. Semula aku terus menerus ragu. Tapi sekarang aku percaya, diriku yakin kalau aku tak usah terlalu memikirkannya. Biarlah sang penulis yang menentukan apa yang harus dijalani sang kekasih hatiku itu. Apa ia harus meregang nyawa, atau bertabur bahagia bersamaku. Bila kalian penasaran dengan akhir cerita ini, jika kalian ingin tahu apa yang terjadi di penghujung tahun ini. Maka mulailah melenyapkan rasa penasaran itu, karena aku sendiri juga penasaran tapi tak jua mendapatkan penjelasan dan kepastian apa sebenarnya kepedihan di akhir tahun yang kuceritakan di awal tadi. Karena sebuah kebahagiaan terkadang tersamar rasa kepedihan sementara kepedihan terselubung tipis kebahagiaan. Sudahlah, buang rasa ingin tahu kalian. Jika kalian masih ngotot ingin tahu apa yang terjadi di bulan desember ini, maka bersama-sama coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang[1]

Baradatu, Way kanan 04 november 2006



[1] Lagu : Ebiet G ade – Berita kepada kawan.

Aris setyawan, kelahiran 14 april 1987. Berasal dari Solo dengan alamat Pabongan Rt: 03/05 Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah. Ia menulis puisi, sajak, cerpen, plus beberapa lirik lagu yang kurang puitis semenjak di-bangku SLTA hingga sekarang. Kini berdomisili di Baradatu Way Kanan.

Advertisements