“…Ini kenapa rame-rame begini ada banyak kamera segala…???

Mungkin kalimat diatas sering kita dengar belakangan ini di stasiun2 teve negeri kita tercinta ini. Ya, kalimat favorit yang sering diucapkan seseorang yang muncul di program Reality Show. Sodara-sodara, ditengah masyarakat yang semakin bergantung pada televisi sekarang ini. Maka stasiun teve harus makin pintar dalam meraih simpati pemirsanya, dengan cara membuat program2 yang sekiranya bakal laris manis tanjung kimpul. Dan celakanya belakangan tv kita semakin ga kreatif, mengeluarkan jurus aman ‘Ikut-ikutan’ membuat program tv lain yang laris. Budaya plagiat dengan tanpa malu mereka terapkan di negeri ini. Setelah beberapa waktu dulu trendnya adalah membuat sinetron Religi, Kuis, Ajang pencarian bakat, Acara Tangga lagu dengan pengisi acaranya Artis2 dan Band2 Top Ibukota yang bahkan performance mereka Lypsync serta Minus One. Membuat sinetron dengan judulnya nama-nama orang keren seperti Melati, Mawar, Marvel, Spiderman, Intan, Permata, Maia, Ahmad, Bunga, Desa, Indah, Sekali, Dll, Dst, Dsb. (Dan kenapa harus pake nama2 keren? Kenapa ga pake nama Bejo, Mimin, Maman, Momon, Dll, Dst, Dsb)

Sekarang yang lagi Up2date untuk ditiru adalah: Ladies and gentlement, let me introduce nowadays Indonesian people Fav Tv Programme; Reality Show.

Entah buat Anda yang sering menyimak atau bahkan ga mau tahu sama sekali. Tv kita dipenuhi Reality show. Dan tema dari acara2 ini sangat beragam. Mulai dari yang isinya nyari orang hilang, menjebak Playboy kesrimpet kabel, Memata-matai (Wah Spionase di tv. Kereeeeennnn), ‘Balikan’ dengan mantan pacar, Backstreet2an, ketemu temen Chatting, menjebak selingkuhan. Dan banyaaaaakkkk lagi.

Terjemahan harfiah “Reality Show” dalam bahasa Indonesia berarti “Acara yang berdasarkan Realita atau Kenyataan” heeeemmm berarti kita bisa dengan kuat berasumsi inilah kondisi realita Negeri ini: banyak orang hilang, banyak Playboy berkeliaran, Banyak Mata-mata dan spionase baik yang benar2 dari pihak Intelijen suatu negara atau Cuma Mata2 Bohongan, banyak Orang Rujuk, banyak Penggemar Backstreet Boys (Nah Loh…?? Ralat. Banyak yang punya hubungan cinta tanpa disetujui), banyak orang yang tadinya Cuma chatting lalu kopi darat, dan inilah yang paling hebat. Di negeri ini banyak orang Selingkuh.

Lalu kenapa hanya semua problema itu saja yang diangkat kepermukaan? Kan masih banyak realita lain yang bisa dijadikan tema? Kisah Cinta Kaum Kusam, kehidupan para termarjinalkan, uang makan kuli bangunan, Pencopet patah hati, Korupsi berjamaah. Apalah. Mungkin ya itu tadi ya, namanya juga Reality Show, jadi yang diangkat ya Realita2 yang paling Penting Saja. Ok, beberapa Reality show memang mempunyai tema yang bagus. Yang isinya mencari orang hilang, cewek cakep tinggal bareng orang miskin, renovasi rumah. Tapi beberapa Reality show yang ada sekarang terasa sangat mengganggu. Ada yang menganggu privasi orang lain, bahkan semuanya nyaris sama, terutama yang temanya perebutan pacar atau kisah tentang seorang yang disakiti kekasihnya. Pada akhir acara2 itu kini harus diakhiri dengan berantem, jotos, tonjok, pukul, hantam, ngumpat, nama2 binatang disebut. Oh My God, apakah memperebutkan lawan jenis itu begitu penting sampai harus dibuktikan secara konfrontasi dengan kekerasan didepan publik seperti itu? Seolah-olah mereka tengah membela ideologi negara atau sebuah kepercayaan religius. Kalaupun memang penting kenapa juga harus dipublikasikan di tv. Sementara para pembuat acara ketika ditanya kenapa harus menampilkan adegan saat subyek berantem dengan enteng menjawab: namanya juga Reality Show. Semua mengalir apa adanya, direkam, editing minim, tanpa Naskah. Would You Believe it? Apa benar sebuah reality Show tanpa naskah? Apa benar orang2 didalamnya mengalami kejadian sebenarnya tanpa Akting? Lalu kenapa semua terasa seperti sadar kamera? Sadar bahwa mereka tengah disorot?

Beberapa acara juga sudah melenceng dari tema awalnya dan mencampuri urusan para client atau pelaku acaranya terlalu jauh. Acara yang isinya menjebak Playboy. Mereka bertugas menjebak seorang playboy agar ketahuan ke-playboy-annya didepan sang pelapor. Dan harusnya urusan mereka hanyalah menjebak sang playboy, ketika tugasnya sudah selesai dan playboy sudah ketahuan maka mereka harus lepas tangan, karena masalah berikutnya adalah privasi antara sang pelapor dan playboy. Biarlah mereka menyelesaikan sendiri perkara mereka. Namun kenyataannya para host Reality show tersebut kebablasan dengan ikut menghajar playboy, menghakiminya seolah-olah mereka mempunyai kepentingan didalamnya.

Apapun isi acara tersebut, Saya hanya bisa menyimpulkan bahwa negeri ini sedang senang bermimpi. Maka wajar jika para produsen reality show ogah membuat acara tentang realita yang sebenarnya di masyarakat. Dan angkatlah ke permukaan realita yang mereka anggap penting. Sesuatu yang menurut Saya terkadang Absurd, diluar nalar, terlalu berlebihan dan ga penting. Untuk apa membahas cinta monyet atau cinta lokasi dan selingkuh ketika perut sedang lapar karena tak mampu menebus sekilo beras yang harganya sudah terlampau mahal? Untuk apa meributkan perebutan kekasih atau menegaskan status sebuah hubungan ketika kepala sedang pening memikirkan, bagaimana biar bisa bayar tunggakan kontrakan yang 3 bulan tak terbayar?

“….Woi, An*i*g Lo, Ngen**t, awas lo ye tunggu pembalasan Gue…besok2 ye gue hajar balik Lo…”

Sebuah kalimat yang lagi2 ada di sebuah reality show, nampaknya sang tokoh didalamnya sedang merencanakan sebuah Vendetta. Balas dendam karena tidak terima, bisa jadi ga terima diperlakukan layaknya seorang koruptor dengan disorot kamera. Atau bisa jadi yang lain. Selamat datang di Negeri Reality Show.

ARIS SETYAWAN

Karanganyar 111208

(For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Advertisements