Falsafah Kramadangsa dalam PIAS

Tags

, , , ,

Pias.

Pias.

Catatan: Ulasan ini adalah versi panjang (naskah asli) dari ulasan untuk buku saya PIAS yang ditulis oleh musikolog Erie Setiawan. Versi pendek (naskah tersunting) telah dimuat di ruang.gramedia.com.

Aris adalah semata tubuh yang terbentuk karena niat kedua orang-tuanya, direstui Sang Khalik, maka ia menjadi ada, menjadi “aku”. “Aku” kemudian berkembang dengan ikutan-ikutan dan ikatan-ikatan lain. Manusia dalam sifatnya, dalam identitasnya. Kegelisahan adalah bagian dari “aku” yang diikuti perasaan khawatir sekaligus optimis. Bukan “aku” yang mengalir bebas apa adanya, melainkan “aku” yang menjadi penuh tekanan. Ikutan dan ikatan yang menghantui “aku” itulah yang disebut kramadangsa, falsafah hidup versi Ki Ageng Suryomentaram, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Lewat Kawruh Begja (Ilmu Bahagia) warisan Ki Ageng Suryomentaram kita diajak berpikir hingga ke batin supaya hidup dalam ketenangan dan ketentraman.

Maka Aris bisa kita baca dalam berbagai gejolaknya, antara lain sebagai musisi indie dalam ikatan-ikatan dengan lingkungannya; bisa juga kita meletakkan Aris dalam batas “nalar atau pikirannya” (dumadi), maka lahirlah tulisan (adonan) dalam kapasitas Aris sebagai Etnomusikolog, Pemerhati Seni Budaya, atau yang lain-lain; dan pada tingkatan yang mendasar adalah Aris sebagai manusia, sebagai subyek, yang bisa kita lihat secara holistik-komprehensif seperti dalam sistem tata suara ambisonic (berbagai arah: atas bawah kiri kanan depan belakang), tidak hanya stereo yang mutlak kiri-kanan, atau mono yang terpusat satu sumber.

Terlebih dahulu harus diyakinkan secara seksama, kita akan membaca bumbu PIAS atau hasil masakannya? Bumbu akan bersifat otonom, memiliki tafsir tunggal, tidak terikat pada hasil akhir, sementara hasil masakannya akan mengaburkan fitrah segala sumber, bisa menimbulkan kecamuk. Maka jika orang memperdebatkan agama tanpa melihat dimensi kemanusiaan, hasilnya bisa celaka. Bisa jadi, Aris yang mengaku lahir dalam lingkungan di sekitar lereng Gunung Lawu ini menjadi sama sekali tidak penting, toh pada kenyataannya, tulisan-tulisannya lebih bercorak “urban”. Sisi apa dari “Jawa” yang tersemat pada tubuh (dan pikiran) Aris itu? Kita makin galau dengan identitas.

Menarik apa yang dikatakan Taufiq Rahman dalam epilog buku ini. Ia menyebut dengan istilah “perselingkuhan” dan “incest” untuk menggambarkan “peran ganda” dalam scene musik lokal atau ranah independen (contoh: ya musisi ya penulis, ya musisi ya desainer grafis, dan seterusnya). Apakah kita menjadi sedemikian “malu” dengan segala stigma yang berakibat pada tidak terjaminnya obyektifitas dalam jagad “kemerdekaan berekspresi” abad ini? Apakah dengan menyebut Aris sebagai Etnomusikolog sekaligus Drummer akan mengurangi bobotnya sebagai manusia dan obyektifitasnya untuk mengamati peristiwa (musik)? Agaknya tidak. Ini hanya masalah kecermatan epistemologis yang harus diperjuangkan sedemikian rupa.

Maka, Aris yang mengatakan PIAS hanyalah kumpulan dokumentatif belaka, adalah sebuah pengakuan yang jujur, mengajarkan mengenai bumbu-bumbu yang tidak terikat identitas, selain hanya karena kecintaan Aris pada pikiran dan aksara sebagai pengejewantahan laku gagasannya. Inilah yang menarik.

Maka jangan heran jika Anda akan menemukan banyak sekali percabangan pemikiran di buku ini, seperti susunan syaraf yang kompleks. Aris berusaha melihat fenomena seni, musik, budaya, film, dan lain-lain yang melintasi kesehariannya, dan ia telah membantu kita untuk “peka diri” pada tingkatan rohani sekaligus rasional. Ini juga bukan soal kualitas atau salah-benar.

Kalau mau jujur, lebih banyak kelirunya daripada benarnya. Menganggap Denny Sakrie kritikus musik (hal. 2) adalah pernyataan yang sangat terburu-buru. Aris tidak mengikutinya dengan informasi mengenai kaidah-kaidah menjadi kritikus musik berdasarkan fakta dan referensi sejarah. Pada artikel “Orksetra Diam John Cage” (hal. 262) juga sama saja. Aris agaknya belum mengetahui apa itu in-audible sound vibration dalam konteks metafisika bunyi—untuk mengaitkannya dengan karya fenomenal John Cage 4’33” itu. Agaknya Aris juga belum membaca buku Silence: Lectures and Writings buah pikiran John Cage. Dalam artikel “Waspada Kebisingan Kota” (hal. 46) kelihatannya juga sama. Masalah utamanya bukan soundscape akan tetapi psiko-akustik, yaitu hubungan antara manusia, bunyi yang didengarnya, dan intensitas bunyi (kadar desibel, frekuensi, durasi, karakter, struktur) dalam hubungannya dengan dampak psikologis manusia. Contoh-contoh “kekeliruan” ini tidak penting. Yang penting adalah Aris telah melemparkan wacana-wacana yang jarang dicermati orang.

Dua garis besar

Setidaknya ada dua garis besar dominasi yang menarik untuk dilihat lebih jauh dalam PIAS, buku setebal 323 halaman ini, yaitu kemampuan Aris dalam mengkaji seni-budaya dengan titik-berangkat pengalaman personal dengan berbagai fakta, contoh dalam artikel “Seni untuk Apa” (hal. 144), juga “Angkringan dan Hiperealitas” (hal. 199), dan di sisi lain adalah tulisan dengan gaya bahasa sangat subyektif seperti (terutama) tampak dalam “Surat untuk Sam” (hal. 60) dan “Surat untuk Ikun” (hal. 190). Tampak Aris sedang melakukan dialog imajiner yang intensif dalam perenungan (reflektif) kepada dominasi dua garis besar itu.

Selebihnya, ada sebuah saran yang mungkin penting bagi Anda ketika nantinya Anda mungkin tertarik membeli (membaca) buku ini. Yaitu ikutilah dengan pengalaman empirik, mendengar karya-karya yang dicontohkan (Sisir Tanah, Navicula, Homicide, dan yang lain-lain). Ini saya kira penting untuk mencapai sisi kenikmatan rohani (sensasi emosional) beserta kontekstualisasinya. Informasi yang disampaikan di buku ini akan menjadi percuma apabila kita hanya sebatas membayangkannya saja.

Satu diri

Aris pada kondisi yang sekarang, saat ini, detik ini, adalah Aris yang sedang berkonflik melawan dirinya sendiri, berperang dengan ke”aku”annya, dengan ikatan-ikatan dan ikutan-ikutannya, dengan kramadangsa-nya itu. Maka lebih substansial lagi adalah, bahwa judul buku ini memang tepat adanya. PIAS, yang artinya Pikiran Aris Setyawan, adalah ajakan untuk kita tidak “menghakimi” Aris dengan stempel-stempel khusus, juga untuk menguji apakah kita juga bisa golong-gilig dalam kapasitas sebagai manusia yang berpikir nir-identitas, selain hanya istiqomah dalam laku, terus-menerus, hingga kramadangsa menjadi “satu diri” (manunggal).

Aris sangat beruntung, pikirannya tersalurkan sesuai dengan apa yang menjadi minatnya, tidak memaksakan diri, tidak berorientasi tenar, tidak memihak pada kebenaran tunggal, suku, atau golongan, dan teman-temannya dengan ikhlas membantu mewujudkan mimpinya.

Pada akhirnya, saya harus menutup dengan satu paragraf yang mungkin tidak penting artinya bagi Anda. Saya ingin mengaku, bahwa sejujurnya saya pribadi tak punya kapasitas apapun secara intelektual untuk “ikut menanggung nasib” yang tengah menimpa Aris. Dari mulai menulis kata pengantar untuk buku ini, membahasnya secara lisan pada saat peluncuran, berbicara empat mata dalam kadar personal di berbagai kesempatan, dan harus menulis ulasan sepanjang 700-900 kata ini.

Apakah ini adill?

Merangkul Mereka yang Kesepian

Tags

, , , , , , , ,

Screenshot from 2017-04-26 21-22-14
“Uraikan simpul kacaunya!!!… Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah!!!”
(Festivalist – Menantang Rasi Bintang)

Saya jarang menonton film Korea, atau serial televisi Korea yang digandrungi beberapa teman. Tetapi, ketika saya menonton Castaway on the Moon (2009) karya sutradara Hae-jun Lee untuk pertama kalinya, saya langsung suka dengan film ini. Bahkan saya berulang kali menontonnya hingga mungkin kelima kalinya.

Premis film ini—tampak—sederhana. Kim (diperankan Jae-yeong Jeong) adalah seorang laki-laki putus asa yang memutuskan mengakhiri hidup dengan melompat dari sebuah jembatan. Ternyata lompatan dari atas jembatan ke Sungai Han tidak mengantarnya ke kematian. Alih-alih, arus mendamparkannya ke sebuah pulau kecil di tengah sungai. Singkat cerita, Kim memutuskan untuk menetap di pulau tersebut, bertahan hidup. Upaya survival Kim ternyata ditonton oleh seorang perempuan yang tinggal di apartemen bertingkat. Nama perempuan itu sama, Kim (diperankan Rye-won Jung). Ia punya hobi mengamati sekeliling dengan teleskop.

Suatu ketika, sebuah kebetulan—atau takdir—menggiring teleskop Kim nyasar memergoki Kim sedang berada di pulau. Jadilah ini jalinan cerita yang berjalan sepanjang film berdurasi lebih kurang dua jam tersebut: bagaimana Kim perempuan yang tinggal di apartemen bertingkat mengawasi Kim laki-laki yang tinggal di pulau kecil tengah sungai.

Dalam amatan dan pemahaman saya, di tengah premis yang—tampak—sederhana, alur yang mudah ditebak, serta penampakan visual yang sangat-sangat tipikal film Korea (i), Castaway on the Moon (selanjutnya disebut COTM) menjabarkan sesuatu yang lebih rumit dan tidak bisa dipandang sederhana: kelindan karut marut antara modernitas dan manusia yang hidup pada zaman tersebut.

Menjadi manusia yang hidup di zaman modern adalah sebuah tantangan yang berat, bikin capek, terasing, dan kebingungan. COTM menggambarkan bagaimana keterasingan dan alienasi yang harus dihadapi manusia yang hidup pada zaman modern. Zaman saat keberlangsungan sirkulasi modal adalah panglima, saat percepatan di segala bidang adalah sebuah kebenaran absolut. Pada suatu titik jenuh, seorang manusia akan mulai mempertanyakan alasan hakiki: what’s the purpose? It’s seems pointless. Apa lagi tujuan hidup di tengah keterasingan ini?

Dalam konteks Korea Selatan, negara yang konon sedang digadang-gadang sebagai the rise of new economic power dengan pertumbuhan ekonomi yang kian pesat, perusahaan-perusahaan multinasional yang menggurita ke pasar global (ii), hingga serbuan produk kultural yang tak terbendung bikin seorang gadis berjilbab di pojok Nganjuk memuja putihnya artis Korea (iii), tentu harus ada yang dikorbankan. Kim laki-laki adalah salah satu korbannya.

Saya paham benar ketakutan yang tengah dihadapi Kim. Pria di usia 30an, menatap nanar pada nasibnya di masa depan. Kim terbelit hutang dengan bunga besar, kehilangan pekerjaan karena perusahaan lamanya bangkrut, ditolak mentah-mentah saat melamar pekerjaan baru dengan alasan dirinya sudah terlalu tua dan kompetensinya kalah jauh dari para pelamar muda (score TOEIC Kim sangat rendah). Ia juga baru saja putus cinta dengan seorang perempuan. Lengkap sudah. Kim berada di titik nadir pemikiran: apa guna hidup di tengah semua nestapa ini? Ia jelas terseok-seok berusaha mengikuti ritme percepatan modernitas yang menggenjot pertumbuhan ekonomi Korea Selatan. Ritme yang bikin semua orang harus bergerak cepat, cepat, dan cepat, mengabaikan segala yang tidak ada hubungannya dengan perkara pertumbuhan ini.
Screenshot from 2017-06-17 07-50-44
Pengabaian ini dapat terlihat di adegan awal film saat Kim memutuskan melompat dari jembatan. Tampak begitu banyak mobil seliweran di jalan. Agak janggal jika di antara ramainya arus lalu lintas, tidak ada seorang pengendara pun yang melihat seorang laki-laki tengah berdiri di pinggir jembatan, dan berpikir bahwa laki-laki itu berjas, jelas bukan petugas perawatan perbaikan jembatan, maka, ia pasti mau bunuh diri, maka aku harus berhenti dan menolongnya.

Atau, inilah buah modernitas. Pengabaian adalah sebuah kewajaran. Menolong seorang laki-laki yang tak dikenal dari upaya bunuh diri tentu mengganggu arus lalu lintas, memaksa banyak kendaraan berhenti. Tidak bisa tidak. Roda harus terus berputar, sirkulasi modal harus terus berjalan. Maka, biarkan laki-laki itu menjadi sebuah angka di tengah statistik tingginya jumlah kematian karena bunuh diri di Korea Selatan. (iv)

Lain lagi Kim perempuan. Ia memutuskan tinggal di dalam kamarnya 24 jam sehari 7 hari seminggu tanpa keluar ke mana pun. Bagi Kim, kamar itu adalah benteng terakhirnya. Ia cantik, setidaknya dengan penilaian a la gelombang hallyu seperti yang saya sebutkan tadi. Namun, ia sangat tidak percaya dengan dirinya sendiri, ia kehilangan jatidiri. Maka, ia memutuskan hidup di dunia virtual: sosial media. Hari-hari Kim adalah memoles halaman sosial medianya menjadi rupawan: mengunggah foto orang lain yang menurutnya lebih cantik dan mendakunya sebagai diri sendiri, ia juga rajin update foto barang-barang belanjaan yang fancy dengan teks penjelasan seperti “sepatu baru, beli di Mall. Bagus nggak?”

Bagi Kim perempuan, inilah interaksi sosial yang nyata: bagaimana komentar, jumlah jempol, dan berapa banyak tiap postingan—palsu—nya dibagikan. Ia pada akhirnya memutuskan meninggalkan interaksi yang sebenarnya di dunia nyata. Mengunci rapat pintu kamar, menghayati keterasingan di kamar gelap dengan pendar layar 14 inci sebagai jendela. Pertanyaannya: lalu apa itu dunia nyata? Mana yang sebenarnya lebih nyata bagi Kim perempuan? Kamar gelapnya? Atau dunia tanpa batasnya di internet?
Screenshot from 2017-06-17 07-39-41
Setelah gagal mengakhiri hidup dan terdampar di pulau tengah sungai. Kim memutuskan untuk tinggal menetap di sana. Mulailah ia belajar survival. Bayangkan film Castaway (2000) karya sutradara Robert Zemeckis saat Chuck Noland (diperankan Tom Hanks) terdampar di sebuah pulau dan harus belajar bertahan hidup. Kim mengalami hal yang sama. Bedanya, Chuck Noland terdampar di pulau tengah samudera, sementara Kim di pulau tengah sungai di pusat kota, di mana jembatan jalan bebas hambatan merintang di atasnya dan salah satu tiang penyangganya berdiri kokoh di atas tanah.

Kim belajar berburu ikan, burung, dan bercocok tanam. Tiba-tiba ia menemukan sebuah pencerahan: ternyata hidup di wilderness ini lebih penuh kepastian daripada harus berjibaku dengan ketidakpastian di luar pulau: ketidakpastian bagaimana nasibnya di pekerjaan, ketidakpastian bagaimana cara membayar hutang dan bunganya, ketidakpastian bagaimana hubungan asmara. Di luar pulau, modernitas menjadikan Kim kehilangan tujuan hidup, rutinitas percepatan jadikan ia terasing, tersingkir di kejamnya persaingan pencarian kerja. Di dalam pulau, ia menemukan kembali satu tujuan hidup, satu alasan kenapa ia harus hidup: ia ingin mencicipi rasa mie kedelai hitam khas Korea. Sebuah makanan yang sejak kecil selalu ditolaknya, dan ketika terdampar di pulau ini tiba-tiba menjadi makanan yang wajib disantap sebelum ajal mendekat.

Maka, mulailah ia mencari cara agar bisa membuat mie. Ia mengumpulkan kotoran burung karena tahu burung makan biji, pasti ada sisa biji jagung tertinggal di kotoran. Ditanamlah kotoran itu, dan ajaib, ternyata tumbuhlah jagung. Singkat cerita, dengan bekal jagung yang telah dipanen, Kim berhasil membuat sebuah mie. Lantas, ia menyantapnya dengan perasaan meletup-letup, diiringi tangis dan sesenggukan yang entah dipicu bahagia atau sedih tak terpermanai: kesadaran bahwa tujuan hidupnya telah tercapai, ia telah mencicipi mie. Lalu apa berikutnya?
Screenshot from 2017-06-17 07-54-18
Di dalam kamar gelapnya, Kim perempuan menjadi satu-satunya saksi bagaimana prosesi panjang Kim laki-laki agar dapat mencecap rasa mie. Kedua manusia yang sama-sama terasing di tengah zaman modern ini akhirnya berkenalan. Setelah memergoki eksistensi Kim laki-laki di pulau, Kim perempuan memberanikan diri untuk keluar kamar—meski ia benar-benar menyusun strategi agar tidak berpapasan dengan orang lain, ia juga mengenakan helm berkaca gelap—berlari menuju jembatan dan melemparkan sebuah botol berisi surat. Kim laki-laki setelah membaca isi surat, akan membalas dengan cara menulis pesan di atas tanah pinggir pulau.

Pada akhirnya kita bisa merefleksikan hubungan pertemanan aneh dua Kim dalam film COTM, kaitannya dengan keterasingan manusia Korea di zaman modern, serta bagaimana kondisi yang sama terjadi di seluruh negara dunia, termasuk Indonesia. Tentu ada banyak Kim lain di sekitar kita. Mereka yang dirundung kesepian dan kehilangan tujuan hidup. Mereka yang akhirnya memutuskan mengakhiri hidup dan menyiarkannya langsung di facebook (v). Yang lebih penting kemudian adalah: di tengah segala keterasingan yang dipicu modernitas ini, menjadi lebih peka dan peduli pada manusia di sekitar kita adalah satu-satunya alasan yang menjadikan kemanusiaan tetap ada.

Sudahkah kita melihat dan peduli kepada manusia di sekitar kita? Apa yang terjadi dengannya, kenapa status media sosialnya saban hari menggambarkan teriakan sunyi minta tolong. Sudahkah kita peduli pada manusia-manusia malang yang menjadi korban percepatan dan sirkulasi modal? Atau, kita memang telah menjadi setali tiga uang dengan para pengendara mobil yang mengabaikan aksi bunuh diri Kim. Alih-alih menolong, kita lebih suka menertawakan tindakan laki-laki yang mengakhiri hidup di facebook sebagai tindakan bodoh dan pengecut. Sama seperti saat kita menertawakan dan mengolok-olok seorang perempuan yang bugil di tempat umum tanpa mau peduli dan peka bahwa perempuan tersebut bugil di jalan karena mengalami delusi yang dipicu adiksi benzodiazepine (vi).

Sudahkah kita berpikir bahwa mereka yang didera depresi dan menyendiri (persis seperti yang Kim laki-laki lakukan di pulau, dan Kim perempuan di kamar gelap) bukanlah karena mereka adalah attention seeker yang lebay. Mereka adalah seseorang yang kebingungan karena elan vitalnya muspra, tujuan hidupnya lenyap digelayuti sebuah hantu klinis bernama depresi. Maka, alih-alih merundung, menghakimi, menyalahkan mereka sebagai “manusia aneh yang tidak bisa bersyukur dan lebay”, seharusnya kita merangkul mereka, we should take care of them, mengajak mereka bersama-sama mendendangkan lagu “Menantang Rasi Bintang” oleh Festivalist, dengan ajakan “Uraikan simpul kacaunya!!!… Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah!!!”.

Di penghujung film, Kim laki-laki yang sudah menghayati jalan hidup barunya di pulau, akhirnya harus dijemput paksa untuk minggat dari sana. Sebagai pulau yang menjadi tanah bercokolnya tiang jalan tol, ternyata secara berkala ada petugas yang singgah untuk mengecek kondisi atau melakukan perbaikan. Saat para petugas menemukan Kim, mereka mengusir Kim dan berkata “tanah ini adalah properti milik negara, kamu nggak boleh tinggal di sini.”

Oh Kim yang malang. Di luar pulau menjadi korban yang tak mampu mengikuti roda perputaran modal, ketika memutuskan hidup di kesunyian wilderness pun ternyata harus tunduk pada negara, serta aparatusnya yang menyaru dalam bentuk para petugas. Ternyata wilderness itu pun semu. Tidak nyata.

Lagi-lagi, Kim perempuan menjadi satu-satunya saksi melalui teleskop, ia marah ketika melihat Kim laki-laki dikejar, diseret, ditarik paksa ke perahu lalu dibawa ke tengah kota. Maka, Kim perempuan memutuskan meninggalkan kamar. Tanpa helm, ia berlari mencari Kim laki-laki.

Di tengah kota, Kim laki-laki yang dilepaskan petugas memutuskan bahwa toh ia telah kehilangan hidupnya yang nyaman di wilderness pulau. Maka, ia memutuskan untuk menuju gedung pencakar langit, lalu melompat dari lantai 63. Kim naik bus, menuju gedung tersebut. Saat di dalam bus itulah Kim perempuan berhasil menemukan Kim laki-laki. Akhirnya, mereka berkenalan, bertatap muka, dan bercakap dalam sebentuk perbincangan yang sebenar-benarnya. Di titik itulah Kim laki-laki kembali menemukan elan vital, semangat hidup, dan Kim perempuan menemukan kembali apa itu interaksi yang sebenarnya dengan manusia di dunia nyata, di luar dunia virtual.

Aneh, janggal. Kedua manusia yang sama-sama kesepian, mengidap depresi, dan menjadi korban zaman modern, saling menolong dan menguatkan: life worth living. Pertanyaan terakhir yang muncul: di mana manusia-manusia lain di sekitar mereka berdua? Mereka yang katanya ‘normal’, tapi begitu abai pada kemanusiaan dan apa yang terjadi dengan manusia lain. Barangkali tidak perlu muluk-muluk peduli pada seluruh orang yang sesungguhnya tidak dikenal personal, tapi orang terdekat yang telah kita kenal begitu lama. Sudahkah kita berusaha mengerti dan peduli apa yang terjadi padanya? Coba. Mari kita tilik dan perhatikan orang dekat yang kita kenal lama, apa yang terjadi padanya. Lalu, putuskan: apakah kita akan meninggalkannya dan menghakiminya? Atau, kita akan merangkulnya, membantunya.

Di tengah kekacauan dunia modern, merangkul mereka yang kesepian adalah sebuah tindakan revolusioner.

Yogyakarta, 17 Juni 2017.

Catatan Akhir:

(i) Walau saya jarang menonton film buatan Korea dan kesulitan juga menjelaskan apa yang dimaksud dengan penampakan tipikal film Korea. Namun, barangkali yang saya maksud adalah bagaimana gelombang Hallyu alias Korean Wave terlihat jelas sebagai sebuah bentuk pemujaan pada kesempurnaan penampakan visual manusia rupawan. Hal yang mana memunculkan industri besar operasi plastik di Korea Selatan. Walau tidak bisa kemudian serta-merta disalahkan karena adanya perkara kebudayaan Korea Selatan yang memang mengganggap yang wajib dari hidup adalah sempurna. Maka, penampakan tipikal film Korea yang saya maksud barangkali adalah bagaimana film-film—atau serial televisi—buatan Korea Selatan sering menampakkan imaji visual kesempurnaan tersebut (cantik, ganteng, dunia yang indah).

(ii) https://www.forbes.com/sites/peterpham/2015/09/09/south-korea-the-seoul-of-the-worlds-economy/#545d530142c0 dan http://english.hani.co.kr/arti/english_edition/e_business/757139.html

(iii) Lihat Ariel Heryanto, Identitas & Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (2015, Kepustakaan Populer Gramedia).

(iv) http://www.aljazeera.com/programmes/peopleandpower/2015/08/south-korea-suicide-nation-150827070904874.html dan http://www.bbc.com/news/magazine-34710403

(v) http://m.liputan6.com/news/read/2890628/pria-bunuh-diri-live-di-facebook-sering-keluhkan-hidupnya

(vi) https://m.detik.com/news/berita/d-3521562/vm-yang-nyaris-bugil-saat-belanja-positif-pakai-obat-penenang

Hantu

Tags

,

Ghost

Ceritakan padaku sesuatu tentang Hantu!!!

Ujar Alina kepada tukang cerita.

Maka tukang cerita berkata:

Deep inside there’s a parallel universe. Dunia kita ini sesungguhnya bercabang. Dengan banyak ragam alur kisah terjadi di saat bersamaan. Jauh di salah satu dunia paralel yang bernama Kahuna Plateau, hidup seorang bocah laki-laki bernama Bonbon. Entah mendapat wangsit dari mana, Bonbon yang sebenarnya masih berusia belia telah dengan tegas dan mantap memutuskan jalan hidup yang dipilihnya: Aku hidup untuk menghimpun dan menyusun ilmu pengetahuan.

Maka jadilah Bonbon menghabiskan 1 x 24 jam hidupnya untuk membaca, mengamati dunia, lalu menulis hasil amatannya tersebut ke dalam sebuah batu sabak persis seperti yang muncul dalam kisah nabi Musa.

Bonbon makin keranjingan membaca dan mengamati. Karena semakin lama ia merasa semakin bodoh dan hina: ternyata masih banyak yang belum aku ketahui dari keluasan semesta yang bahkan tak mampu digambarkan oleh imajinasi ini; oh tidak, ternyata begitu banyak kisah nelangsa di dunia, banyak manusia mati tak wajar, banyak aksi tipu-tipu demi kemenangan mutlak segelintir manusia berotak bebal.

Semua tampak begitu utopis. Bonbon merasa gembira sekaligus nelangsa di saat bersamaan. Tekadnya sudah bulat: aku akan mengobati dunia yang sedang kesakitan ini. Tidak bisa tidak, citaku harus dituntaskan.

***

Hantu itu mulai muncul di penghujung tahun. Mulanya hanya sesekali dalam sebulan. Lama-lama ia hadir saban waktu, menemani Bonbon memburu pengetahuan. Bonbon menyadari eksistensi hantu itu dan membiarkannya. Toh si hantu tidak menggangguku, pikir Bonbon kala itu.

Ternyata si hantu mulai nakal. Entah bagaimana si hantu punya kemampuan mengendalikan badan Bonbon. Si hantu mulai gemar mendiami badan Bonbon, menyusup ke pembuluh darah, menggumpal di jantung, serta ngendon di otak, terutama di amygdala yang sesungguhnya nyempil kecil seupil. Alhasil, Bonbon jadi sering merasa ketakutan bukan kepalang. Takut menghadapi apapun yang di luar rumah dan kamar tempatnya belajar. Jadilah Bonbon menjadikan rumahnya sebagai benteng pertahanan terakhir menghadapi dunia yang menakutinya. Bonbon sadar, ini ulah si hantu. Tapi tak mampu ia mengusir si hantu yang kadung bercokol kuat di badannya bak akar tunggang.

Di masa-masa tertentu, hantu itu bisa bikin Bonbon berubah bentuk. Si hantu akan menggiring Bonbon keluar dari benteng, lalu bertandang ke satu atau dua pesta yang digelar kawan-kawan di kota kecil dunia Kahuna Plateau. Di pesta itu Bonbon akan berdansa-dansi dengan irama musik yang syahdu, sembari bernyanyi riang tembang-tembang kegemaran.

Di tengah pesta, saat Bonbon sudah bercengkerama dengan sesama manusia, si Hantu mulai berulah: diubahnya badan Bonbon menjadi sesosok monster. Matanya nyalang merah, kakinya mendadak memanjang dua meter, dengan tangan kanan malih rupa jadi palu, dan yang kiri jadi sabit. Rambutnya menggeliat ganas adalah ular black mamba dengan bisa yang bikin mati manusia dalam duapuluh menit pascadipatuk.

Monster bonbon mulai berlarian ke sana ke mari di tengah pesta yang makin menggila. Si monster lompat-lompat dengan brutal. Ia juga punya kemampuan terbang meski tak punya sayap. Maka beterbangan ia ke langit-langit tempat pesta. Hal yang membuat para khalayak harap-harap cemas berpikir bagaimana kalau Bonbon benar-benar terbang menuju langit yang sebenarnya untuk menuntaskan urusan-urusan langitan?

Si hantu memang kurang ajar. Monster Bonbon yang tadinya berlarian, lompat dan beterbangan lalu diperintahkannya untuk jatuh gedubak di pojokan, menyendiri, menjauhi kerumunan. Bonbon merasa mual sekaligus muak. Ia mulai jengah pada laku si Hantu. Bonbon merasa sedih: aku hidup demi ilmu pengetahuan, senjataku adalah rasio dan logika, serta setumpuk rasa. Tetapi kenapa aku tunduk dan tak mampu melawan Hantu yang menggelayutiku ini? Maka muntahlah Bonbon. Mengeluarkan segala rasa jijik pada dirinya sendiri, serta amarah tak berkesudahan pada si Hantu.

Ketika tengah membuka keran air di wastafel, tiba-tiba Bonbon mendapat gagasan yang menurutnya cukup cemerlang. Jika si Hantu bersemayam tersembunyi dalam pembuluh darah, maka ia bisa diusir jika Bonbon mampu membuka keran di pembuluh darahnya, mengeluarkan sejenak darah yang bersalut esensi si hantu, membersihkan darah tersebut, lalu memasukkan lagi darah melalui keran yang sama.

Maka mulailah ia memasang keran di arteri. Keran itu tampak menonjol di pergelangan tangan kiri. Bisa dibuka dan ditutup sesuka hati. Rupanya si Hantu tak bisa dikeluarkan sekaligus dalam satu waktu. Si Hantu terlalu nakal, menancap kuat pada diri Bonbon. Ah tak jadi masalah, pikir Bonbon. Toh aku bisa membuka dan menutup keran di pergelangan tangan setiap saat. Jika dilakukan berkala, pasti nanti si Hantu akan musnah total dari aliran darah dan jantung. Muspra, sirna, moksa.

***

“Loh aku kan minta diceritakan sesuatu tentang hantu. Harusnya muncul gerombolan memedi semacam tuyul, kuntilanak, pocong, dan makhluk seram lainnya dong. Ini ceritamu kok malah terdengar seperti kisah mental disorder?” Protes Alina pada tukang cerita.

Lalu tukang cerita menjawab: “justru itu. Bukankah perkara mental itu seperti lazimnya hantu? Antara ada dan tiada, sulit dipercaya, tapi memengaruhi dengan ampuh bagaimana kondisi fisik manusia. Mind over matter begitu loh.”

“Benar juga sih. Ah ya sudah. Aku mau jalan ke kota sebelah. Mencuri senja yang paling indah, lalu menguburnya dalam-dalam di sebuah tanah indah untuk mereka yang terlupakan, rusak, dan ditinggalkan,” tutur Alina.

Si Tukang Cerita turut serta bersama Alina.

Yogyakarta, 15 April 2017.

#prosa #fiksi

In Vernacular Music We Trust

Tags

, , , , , , ,

Photo: khanacademy.org

Photo: khanacademy.org

It is a well-known pattern in the cultural-studies field: the dichotomy between established and vernacular culture. Although the former is always remarkably known when we mention culture, the latter somehow has its own importance to the continuity of culture.

Specifically in music, the pattern always has similarity to our historical timeline. For instance, for the last five years, folk music has been positioned as the new “everyone’s favorite” on the Indonesian indie scene. If you form a duo with one guitar or a ukulele player, one singer who sings a typical lyric about pulang (coming home) or hujan (rain), intertwine a minimalistic arrangement with one or two bars of glockenspiel, you’re going to be considered a folk musician.

So, folk has arisen as the new established culture then. But if we take a look back in time, folk music is vernacular. Gypsy music was a pain in the ears for the European aristocratic royals. As time went by and the music trended, it changed path all the time, folk music moved from the vernacular into established culture. In particular, we could mention 1970s folk troubadours such a Bob Dylan, Woodie Guthrie, or the Indonesian version of both: Iwan Fals.

The case of folk music on our indie-scene is the perfect example to speak about the significance of vernacular music in our culture. How vernacular idioms have shaped our modern music.

In his book Noise Uprising: The Audiopolitics of a World Musical Revolution, Michael Denning defines vernacular music as a music that emerged and was played outside the aristocratic tradition. On its breakthrough, the aristocrats labeled vernacular as noise, the unwanted frequency. The vernacular music being disseminated was heard as noise by the established and cultivated elites: it was unrespectable and disrespected. Moreover, Denning argues that the vernacular music revolution emerged from the soundscape of working-class daily life in an archipelago of colonial ports.

Like Denning, in his book The Rest is Noise: Listening to The Twentieth Century, Alex Ross said that everything outside the established status-quo of music could be considered as a noise, or vernacular. Thus, Ross mentioned how jazz, in its dialectic of establishment circa the 1920s was labeled as noise by established music patrons, even by famous Frankfurt school thinker Theodor Adorno, whose essays of the 1920s and 1930s denounced jazz as “world-economic resonance in cheap foreign locales that could be imported at will”.

Maybe Adorno never thought that jazz would later move from the soundscape of the workingclass pub into those fancy highclass cafes. Jazz is not vernacular anymore; it is now the signifier of high-art music grandiose.

Henceforth, we can see the signification of vernacular music is crystal clear. The list would be long if we tried to write it down. The 1990s had their renowned Seattle sound movement. Beforehand, the Seattle sound was an underdog in the American music scene. Suddenly it all changed when Nirvana boomed, the media give it the name “grunge”, voila, vernacular music conquered established music.

In traditional Indonesian music terms, Javanese gamelan could be considered one of the most notably known ethnic ensembles. The long history of Javanization by the New Order put gamelan in the privileged position of “national high-art culture”. It is a product of established aristocratic society, invented and played inside the high walls of the Javanese sultan’s palace.

Lay people could not play the gamelan simply because they could not afford to buy the expensive bronze instruments. Thus, they lacked access to this musical genre.

As a result, the people who lived near Yogyakarta palace invented their own type of gamelan, using a cheaper and affordable material that grew everywhere across the archipelago: bamboo. This was genius. People from Banyumas, and other southern areas of Java, invented their calung or angklung, so they had their own kind of Karawitan. Of course, it was labeled as lowart by the established aristocratic gamelan artists.

Nowadays, we can hear this vernacular bamboo instrument all across the city of Yogyakarta. On the corner, by the traffic lights, calung are played by street buskers. At the mall, the fancy symbol of modern life, sometimes we can hear familiar bamboo tunes.

Even at government functions, sometimes calung ensembles play. The vernacular bamboo music from the past now surrounds Yogyakarta, the center of established aristocratic music.

Meanwhile, in the pop music industry, we hardly recognize dangdut — a mixture of Malay, Indian and rock — labeled as noise or called “dog s**t music” by famous rock singer Benny Soebardja in the 1970s. Since then, however, dangdut has been labeled vernacular music.

The funny thing is, as sociologist Ariel Heryanto writes in his pop culture study on how female dangdut singer Inul Daratista emerged in the 2000s, once again we can learn from the significance of vernacular music.

At that time, dangdut changed the trend of the Indonesian music industry. Rhoma Irama forced Ahmad Albar, a famous rocker, to write the dangdut-style “Zakia”, Inul could make pop group Project Pop arrange a Linkin Parkstyle song titled “Dangdut is The Music of My Country”.

Time will tell, the significance of vernacular music must be a blatant vision to our eyes now. Without doubt, vernacular music has shaped modern music. It reinvented the genres, trends and tunes we hear.

On the other hand, speaking about industry and capitalistic motives, while recognizing the significance of vernacular music, the established status quo (artists, record labels, media) will easily dismiss the belittled vernacular as noise — disrespectful and annoying harmony. They will reinvent vernacular music so they can sell it.

A good example of this phenomenon is the viral “om telolet om”, the vernacular phrase originated from kids who yelled to bus drivers to sound their unique telolet horn. When this phrase and three-to-five second melody became viral, a Western DJ remixed it into a song.

The lesson from vernacular music: snobbery is nonsense then. Sometimes when we hear music dubbed as high art, we easily judge vernacular music as low art, shallow or noisy. It is a shame because history has proven that vernacular music plays as pivotal role as that of established music.

Until it is proven otherwise, our pretentious judgment of vernacular music is nonsense and snobbish. And it will not bring us anywhere other than shallow debate.

Now, in vernacular music we can trust. As Béla Bartók wrote in his 1933 reflections: “The urban [established] music frequently sounds stilted, affected and artificial; the peasant [vernacular] music, on the other hand, gives the impression of being a far more spontaneous and vivid manifestation”.

*Featured at The Jakarta Post.

#30daymusicchallenge

Tags

, , ,

​I don’t know who start this #30daymusicchallenge campaign, but i think this is good. So, first time i found it in twitter, without a doubt i decided to join it, start to share my daily music playlist. 

It is good due to fact that our social media nowadays has been full with that hate speech information, the sectarian and racism tweet caused by “Pilkada” political drive. Mostly it is a hoax and so many people believe it without questioning the validity of the information. In my opinion, by sharing what kind of music we like, it is a form of resistance. We fought those stupidity caused by political drive. We spread positive things.

I’m already in my seventeenth days now. If you want to take a look at some of my other music playlist, feel free to scroll my twitter timeline at @arissetyawan.

Oh, I’ve decided to write in english for the purpose of future learning. Who knows next year i could continue my master studies, i need to write that academic writing, so i should start to practice now. Or, I considered that next year i should try to send my writing to several media with english content.

Pardon me for my bad english. Many grammatical error here and there. For future learning, grammar critics are welcomed.

————

#30daymusicchallenge Day 10: Edward Elgar – Cello Concerto in E Minor, Op. 85. https://www.youtube.com/shared?ci=yLpW1wvD-BM

There’s common belief in our musical life that ‘major’ key is representation of happiness while in the other hand ‘minor’ key stand for sadness.

The fact is, some studies found that dichotomy is a myth. Some neuroscience study found that major or minor keys doesn’t particularly affect our emotion. Our emotional reactions to keys are informed by our cultural preconceptions. The Western musical canon has always attached sentiment and gravity to minor keys, so we are preconditioned to indulge those notes with more emotion and sensibility.

Although i personally have known that fact, it is pretty hard to avoid the precondition deep inside my subconscious. So, generally i always think minor is sad.

Based on that subconscious precondition, my emotion suddenly changed to be sad and gloomy when for the first time i heard “Cello Concerto In E Minor Op. 85” composed by english composer Edward Elgar. The piece was composed by Elgar during the summer of 1919. It is almost 100 years ago. The work has four movements. The Cello Concerto is for the most part contemplative and elegiac.

Elgar composed it in the aftermath of the First World War. Maybe, that’s why the sadness is so intense due to the context of post-war world. I used to think that maybe some member of Canadian post-rock group Godspeed You! Black Emperor is Elgar’s aficionado, and this concerto influence them to compose twenty minute post-apocalyptic-dystopian post-rock masterpiece.

I always love cello, especially when the cellist is female. Sol Gabbeta, the concert master or soloist of this piece was marvelous. Look at her expression! There’s something spiritual and transcendent on the way she play that bow. Feels like the end is near.

——–

#30daymusicchallenge Day 11: Radiohead – Weird Fishes/Arpeggi https://www.youtube.com/shared?ci=PH9AguAgHHs

As a proud Radiohead fan, of course i never get tired of any songs from their discography, except Pablo Honey, the debut i never heard, sorry “Creep” admirer. But, this single from “In Rainbows” album is special coz i take it as my personal “curhat”.

Whether the lyric or music arrangement, everytime i listening “Weird Fishes/Arpeggi”, it is always makes me questioning everything i’ve done in my life. 

Yorke’s lyric (or poetry) is subtle yet blatant. Feels like we read one of Jules Verne sci-fi. He use the metaphor such a “in the deepest ocean / the bottom of the sea” to mention educational institution (Oxford?), and “Your eyes / They turn me” to criticize the omnipotent educational system. Just like God who have great power called faith, occasionally, education could turn you, homogenized you!

Moreover, Yorke questioning his free-will “Why should I stay here Why should I stay?”. I take it personally as my skeptic tool then: do i really need educational institution to broaden my knowledge and world-view? Or those institution is such a darkest deepest ocean that institutionalized me, and narrowing my perspective.

The music arrangement also an exquisite in term of music theory. I don’t want to talk about catchy groovy Selway’s drum beat, monotonous 4/4 typical drumming beat–if we compare it with 5/4 from  15 Steps. Instead, their chord progression is more interesting.

The reason why they put “Arpeggi” after “Weird Fishes” as the title is something technical. Originated from an arpeggio, a type of “broken chord” where the notes comprising a chord are played or sung in a rising or descending order. That arpeggio works. It is build the pressure of deepest ocean, the darkest world, part of earth where sunlight cannot reach. Place where weird fishes produce their own light in a tiny bulb on their head to lure tiny fish and eat them.

Sounds like big academia or professor in big educational institutions huh? With their so-called academia grandiose try to lure new students with the promise of “brighter academia future”, but in fact, sometime it’s all just about their own agenda. Those academia status quo will eat you, poor tiny fish.

———-

#30daymusicchallenge Day 12: Susan & Ria Enes – Susan Punya Cita-Cita https://www.youtube.com/shared?ci=xdiXnsiPIDc  

I think, this two songs are the most notably known anthem for Indonesian who spent their preteen at 90s: “Si Komo Lewat” by Kak Seto, and “Susan Punya Cita-Cita” by Susan & Ria Enes. The latter is what i want to talk about.

Back then. We live in a simulacra. The new order has a power to control every aspect of our life. The regime have this “pembangunanisme” (Developmentalism?) agenda. “Cita-cita” (future goal) is mandatory for kids, and for the purpose of development, you’re a good kids if you have a “cita-cita” to be doctor, engineer, architect, and wealthy high class what Susan called kongmelarat, ups, konglomerat (conglomerate). 

You set your “cita-cita” as philosopher? Leftist artist? Social science academia? Whoaaa, hold on, you better stop it now kiddo! It has nothing to support our developmentalism agenda.

Sounds like Susan–the cute smiling doll–and Ria Enes–the puppet master try to glorify new order pembangunanisme huh? But i think, deep inside, use Zizek psychoanalysis as analytical tool, i’m considering to conclude that Ria Enes try to talk something else rather that “pembangunanisme” future goals.

By using Susan as her spokesperson,  Enes try to challenge the dictator: “cita-citaku ingin jadi presiden” (my future goal is, i want to be president). Without a doubt, this line is something subversive due to the fact that Soeharto has been in power for almost 30 years. And probably, this subversive line is such a pain in the arse for the dictator, but he cannot do anything coz the popularity of the artists: Indonesian people admire and adore them.

For the next lines, Susan mocks conglomerate when she deliberately make a mistake of mentioning “konglomerat” as “kong-melarat”. Originated from Javanese, melarat is “miskin” in bahasa (poor). Seems that she want us–90s kiddo–put an attention to the caste of Indonesian society. When hunger and slum so “melarat” they stay hungry to the death, while at the same time the middle-high-class peoples (mostly who has a business with the dictator or the family) living their wealthy “konglomerat” life.

Thank you Susan. For that happily yet subversive preteen. At least for me.

———-

#30daymusicchallenge Day 13: Led Zeppelin – Moby Dick. https://www.youtube.com/shared?ci=0_JmcsfDLN8

Actually it was released one year earlier from the 70s. The instrumental track was featured at second ‘untitled’ Led Zeppelin album (known as Led Zeppelin II). But, it was released at october 1969. No internet, no spotify, no youtube, no torrent. Let assume that the music need 2-3 month to spread widely all across the world. And, voila, it is 70s now.

I used to think that Robert Plant, after introduce Bonham, will going to backstage or stand at the side wing, sip his whisky, lit his cigarette, and watching his bandmate turn into powerful trio.

The music backbone based on twelve bar drop d-blues riff played by Page and Jones. While Bonzo at his set is such a singer for this song. He singing with his drumset.

I remember one phrase from “Whiplash” movie. The quote with the picture of legendary American jazz drummer Buddy Rich. The quote said: ” IF YOU DON’T HAVE ABILITY, YOU WIND UP PLAYING IN A ROCK BAND.” It’s kinda sarcastic-cynical way to mocks rock music. Jazz is for skilled musician due to the fact that sometimes the improvisation is pretty hard. On the contrary, rock is for unskilled musician due to it’s simple 4/4 beat added with 2-3 min solo guitar to make it looked more sophisticated.

That’s not how things work in music. Every genre has it’s own aesthetic. That’s why you can’t force every musician to be as skilled as you dear jazz maestro.

Back to Moby Dick. In the name of rock, Bonzo didn’t need to understand paradiddle or triplets or any kind of rhythm techniques. He just need to beat that drum harder, faster, stronger. Rock is about plethora of delight. That’s why Bonzo put that big gong cymbal behind.

As a drum player. I admire Bonzo. Not in the technical drumming technique thing. Like i said before, it’s all about plethora of delight. The only question is: how come he could beat every tune perfectly with that drunk face? I don’t think he is sober when he playing. Take a look at the video! You’ll know what i mean. If you look closely to the background you’ll see Terrence Fletcher yell to Bonzo “Faster! Fastsr! Keep playing! Keep playing!”.

Most the time, after hit 3-4 min of solo drum, he will throw his sticks to the audience. And playing with bare hand. Now, he’s a virtuoso percussionist. He beat that snare, tom, and cymbal with the bare hand just like the way percussionist playing bongo or conga. It’s like sacred ritual. Bonham is ready to sacrifice his blood in the name of rock. Sometime he drawing blood while act his solo. Something i said before that’s why i admire him. I will think twice before beat that hard sharp cymbal with bare hand. Bonzo, he never think twice. 

Furthermore, i think Bonzo could be considered as a pioneer of this bare hand drumming technique. At the modern time, several drummer–mostly in jazz scene–playing this technique too. For instance, Dave Weckl and Benny Greb. Both drummer love to beat their set as percussion in some performance. And both playing with the gentle pressure, it is so good in term of dynamic, timbre, and tune colour. While Bonzo play it rough, the sound colour sometime feels so raw. But, that’s rock. Rough, hard, full of blood. Literally if we remember how Bonzo drawing blood.

Too bad he’s gone. At his death, still, it’s all about plethora of delight. He died after twelve or more shot of Vodka. He died while fall asleep, choked by his own vomit. 

His drumming character is to strong. No successor could replace this charismatic drummer. No other option for three bandmate, so they decide to disbanded.

Pesan Singkat Dari Ibu

Tags

, , ,

Kapan mulih le?

Pesan singkat dari ibu masuk ke kotak masuk telepon genggam saat saya tengah berada di keramaian. Singkat. Namun, tiga kata itu bermakna begitu dalam, mampu melontarkan saya dalam lamunan saat itu juga. Keramaian di sekitar mendadak menjadi sunyi. Atau meminjam lirik pop niaga bintang pop cum calon bupati Bekasi, di dalam keramaian aku masih merasa sepi. Bahkan kedalaman makna pesan singkat kiriman ibu bikin saya masih merenungkannya seminggu kemudian.

Sepintas, ibu hanya bertanya “kapan pulang nak?”. Namun, pesan itu berarti lebih. Tiga kata itu adalah ungkapan kangen berat seorang ibu pada anak laki-lakinya. Anak yang kurang ajar barangkali, karena jarak Yogyakarta-Karanganyar sangat dekat, dapat ditempuh naik motor kurang lebih 2,5 jam. Atau jika malas bermotor karena harus bermanuver menghindari lubang-lubang menganga di jalan raya Klaten, bisa naik kereta Prameks bertiket 8 ribu lalu naik bus jurusan Tawangmangu. Tapi, si anak laki-laki kurang ajar ini memang jarang sekali pulang ke kampung.

Tiga kata dalam pesan singkat itu juga menyelipkan kecemasan dan keraguan seorang ibu: apa sih yang kamu lakukan di Jogja nak? Apa yang kamu lakukan untuk hidupmu? Usiamu tak lagi belia.

Ibu mengirim pesan singkat melalui ponsel Nokia butut. Beliau enggan menggunakan ponsel pintar karena kesulitan mengetik melalui layar sentuh. Meski daya Nokia bututnya sering ngedrop karena usia baterai yang sudah uzur, beliau masih setia menggunakannya. Menurut ibu, saat mengetik harus ada bunyi ‘klik-klik-klik’ dan persentuhan kulit jari dengan tombol. Yang terakhir tak dapat beliau temukan di layar sentuh.

Lain lagi bapak. Beliau sudah beberapa bulan ini menggunakan ponsel pintar produksi negeri ginseng. Bapak kini menggunakan whatsapp, rajin mengunggah status di laman facebook. Bapak lebih sering menghubungi melalui whatsapp.

**

SMS dari ibu melontarkan saya pada lamunan retrospektif: kenapa saya jadi manusia model begini?

Ibu dan bapak lahir dari keluarga petani turun-temurun. Itulah hidup mereka sekarang. Pertanian sayur-mayur adalah apa yang mereka geluti sejak kecil hingga sekarang.

Barangkali, bagi ibu dan bapak tak pernah ada jargon “menanam adalah melawan”. Karena desa kami di lereng Lawu tak pernah merasakan konflik pertanahan yang sering terjadi—dan belakangan makin sering terjadi—di beberapa wilayah nusantara. Setidaknya hingga sekarang. Nggak tahu juga kalau cepat atau lambat akan ada konflik juga, mengingat kita ada di sebuah negara yang sering menyerobot hak hidup orang banyak demi kata kunci ‘pembangunanisme.’

Bagi ibu dan bapak, menanam adalah pekerjaan yang memang harus dilakukan, bukan upaya perlawanan. Menjadi petani adalah pekerjaan turun-temurun yang diwariskan kakek-nenek. Itulah yang mereka lakukan terus menerus. Meminjam falsafah Jepang, ibu dan bapak tengah mempraktikkan laku shokunin, sebuah tindakan melakukan sesuatu secara rutin, terus-menerus, tanpa adanya ambisi menjadi istimewa atau menjadi lebih besar dari orang lain.

Kembali ke pertanyaan di atas: kenapa saya tak mengikuti jejak mereka menjadi petani?

Bagi ibu, bidang yang saya geluti tentu saja asing. Musik dalam pemahaman ibu adalah Ratih Purwasih, Betaria Sonata, dan Haddad Alwi Feat Sulis yang beliau mainkan di pemutar kaset pita butut merek Polytron. Gulungan seluloid yang beliau tebus di masa lampau saat saya masih di bangku sekolah dasar. Masih diputarnya hingga sekarang. Tak kenal ibu dengan layanan musik daring Spotify. 

Buku dalam kamus ibu adalah kitab suci, dan buku-buku agama yang beliau dapat dari majelis pengajian. Tak kenal ibu dengan segala diktat teori, catatan wacana, atau tetek bengek rigid seni dan budaya yang saya baca atau tulis ulang.

Pesan singkat tiga kata dari ibu melontarkan saya ke ingatan bahwa dua tahunan yang lalu ibu pernah berujar “le, kowe kan wis lulus kuliah, ibu ki njuk bingung yen ditakoni tetangga, kowe ki kerjane opo toh le saiki?” (nak, kamu kan sudah lulus kuliah, ibu tuh bingung kalau ditanya tetangga, kamu tuh pekerjaannya apa sih sekarang nak?)

Pesan singkat ibu memang sakti. Saya gundah gulana dibuatnya. Mempertanyakan ulang apa-apa yang saya lakukan sepanjang hayat yang hampir kepala tiga. Jangan-jangan segala apa yang saya percaya ternyata sekadar bayangan utopis? Bahwa ternyata kesenian dan kepenulisan yang saya lakukan begitu berjarak dengan realita di masyarakat. Bahkan, ibu dan bapak pun tak pernah benar-benar mengerti apa yang saya lakukan, dan secara berkala mempertanyakan “apa yang kamu lakukan untuk hidupmu nak?”

Saya jarang pulang kampung karena mulai malas harus menjelaskan lagi dan lagi, betapa saya mencintai pengetahuan, bahwa saya masih ingin membaca, melihat, mendengar, merasa, kemudian mencipta lebih banyak karya. Saya malas harus menjawab cecaran pertanyaan “kapan menikah?” “kapan bekerja di kantor?”

Ah, tapi itu bukan salah ibu dan bapak. Kalau dipikirkan lebih dalam, saya yang salah. Evaluasinya adalah, berarti saya harus mencari cara agar apa yang saya lakukan lebih mudah dipahami ibu dan bapak. Saya harus mampu menjabarkan gagasan bla bla bla estetika musik atonal a la Schoenberg atau estetika partisipatoris kolektif hip-hop Homicide kepada ibu yang saban hari mendendangkan “Gelas-Gelas Kaca” atau bapak yang menyanyikan “Kolam Susu” sembari membersihkan cangkul yang kotor.

Pesan singkat ibu semacam ramalan. Beliau tak pernah mendengar anak laki-lakinya curhat perkara nominal. Namun, ibu semacam pembaca pikiran yang mengerti benar bahwa pilihan hidup anaknya menjadi penikmat pengetahuan, telah menjadikan si anak hidup dalam keterbatasan di kota gudeg. Agaknya ibu mengerti, anaknya sering masygul saat honor menulis yang tak seberapa tak kunjung cair. Maka, ibu menyuruh pulang agar bisa ngepuk-puk si anak. Atau membekali sekarung beras dan sayur panenan sendiri untuk dibawa ke Jogja.

**

Ibu dan bapak tidak mengenal hari sabtu dan minggu seperti para pekerja kantoran. Barangkali sekarang bapak sedang menggenggam kokoh cangkulnya, atau menggendong alat semprot merk Swan dan menyemprot tanaman cabai agar bebas hama. Sementara ibu mengenakan caping untuk melindungi diri dari sengatan panas matahari, menyiangi rumput teki nakal yang nyempil di sela-sela daun bawang dan tomat.

Sabtu bukanlah weekend bagi mereka. Minggu—atau ahad dalam bahasa mereka—adalah hari yang sama, bergulir silih berganti. Hari untuk meneteskan peluh merawat tanaman di ladang, mengunduh hasilnya kala panen, lalu menjualnya di pasar Karangpandan.

Sabtu bukanlah saat traveling. Minggu dalam kamus bapak dan ibu adalah ahad nan bersahaja. Pagi setelah subuh, sebelum bercocok tanam mereka akan bertandang ke masjid desa seberang, hadir ke majelis pengajian dan menghayati kefanaan manusia di tengah keluasan semesta.

Di mata saya, ibu dan bapak adalah manusia juara. Wujud nyata petuah “nrimo ing pangdum” dan keikhlasan menjalani kehidupan, baik dan buruknya.

Sementara saya, anak laki-lakinya terkadang masih suka masygul dan gulana saat didera cobaan segelintir. Masih suka nelangsa atas jalan hidup yang saya pilih sendiri. 

Duh, semoga saya bisa terus belajar pada kalian ya ibu dan bapak. Semoga ibu dan bapak sehat selalu.

Insya Allah, kulo mantuk akhir bulan nggeh bu

Balasan pesan singkat saya kepada ibu. Janji pulang ke rumah yang belum bisa saya tepati.

Yogyakarta, 19 November 2016.

Altruisme Dorong Motor

Tags

, , ,

altruism-1272x442

Gambar dari evolution-institute.org

“Enten nopo mas? Telas bensin’e? Pun nggo kulo surung mawon?!!”

Hampir jam 10 malam di jalan Wates. Bermaksud hendak pulang cepat ke rumah untuk segera berbaring di kasur, melepas penat dan lelah. Malang tak bisa ditolak. Motor saya mogok. Bensin di tangki masih ada, distarter berkali-kali mesin enggan menyala. Mampus pikir saya waktu itu, karena jarak menuju rumah masih jauh nian. Bengkel tak mungkin ada yang buka. Mendorong motor adalah pilihan paling masuk akal, walau jauhnya masih bukan kepalang.

Baru beberapa meter mendorong motor, saya disamperi seseorang—eh dua orang tepatnya karena dia memboncengkan seseorang lagi—dengan motor bebek. Mas-mas berusia lebih kurang 30 tahunan, memboncengkan seorang bapak tua, sepertinya orang tuanya. Tanpa babibu basa basi perkenalan, si mas tahu kendala saya, langsung menawarkan diri mendorong motor saya. Si mas ngotot membantu meski saya jelaskan bahwa rumah saya masih jauh, dan arah perjalanan kita sebenarnya berlainan. Saya menuju arah Godean, si mas menuju Wates.

Malam itu saya tertolong, urung mendorong motor berkilo-kilo sampai rumah. Si mas—entah siapa namanya, kami tak sempat berkenalan—dan bapaknya, mendorong motor mogok yang saya kendarai. Sembari mengendarai motor kaki si mas mendorong knalpot motor saya. Sampai dekat rumah, saya hanya sempat mengucapkan terima kasih. Tanpa babibu si mas langsung pamit pergi, tak ada gelagat mau minta imbalan.

Si mas pendorong motor membuat saya sadar bahwa di tengah dunia kapitalistik yang mengukur segalanya dengan takaran untung-rugi ini, saat egoisme dan kepentingan diri sering menjadi yang utama, ternyata masih banyak orang baik penganut altruisme, Paham atau sifat lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain.

Si mas hanya salah satu kasus mogoknya motor saya. Sebelumnya di wilayah berbeda di Jogja, saya sempat mengalami mogok beberapa kali. Seringnya karena lupa mengisi bensin. Jarum indikator bensin saya rusak, jadi kadang saya tak tahu cadangan bensin di tangki. Tahunya ya begitu sudah di jalan sepi, tidak ada penjual premium eceran, eh ternyata habis. Saat mendorong motor, sering ada orang berhenti, menawarkan bantuan mendorong motor sampai mendapatkan bensin.

Ini Jogja. Kota yang mulai dikeluhkan banyak orang karena laju pembangunan tak terkendali, kota yang katanya sedang dikuasai investor dan pengembang, kota yang jumlah kawasan komersilnya kian banyak melebihi infrastruktur pendidikan. Di tengah sengkarut pembangunanisme ini, orang-orang Jogja di akar rumput masih hidup bersahaja. Bersenjatakan altruisme, mereka saling membantu antar sesama. Tanpa hitungan hari ini dapat untung berapa dari aksi tersebut.

Grup Facebook Info Cegatan Jogja adalah ruang altruisme paling mutakhir bagi warga. Awalnya digunakan untuk berbagi info lokasi razia kendaraan yang dilakukan polisi di seputar wilayah Jogja. Namun belakangan saya perhatikan grup ini sering juga membagikan info jika ada seseorang dengan kendaraan mogok butuh bantuan. Akan ada seseorang yang memposting informasi bahwa ada seseorang di lokasi tertentu butuh bantuan, siapa berada dekat dengan lokasi harap membantu. Tak lama berselang biasanya akan ada yang berkomentar, mengatakan dekat dengan lokasi dan siap membantu. Menjemput si malang yang motornya kehabisan bensin atau mogok tengah malam.

*

Sudah setahun saya menyingkirkan sistem operasi buatan perusahaan raksasa Bill Gates, dan memutuskan untuk menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu di laptop saya. Awalnya, saya memutuskan hijrah ke Ubuntu hanya karena sadar bahwa kebutuhan komputasi saya tidak muluk-muluk. Saya hanya butuh laptop untuk menulis, mendengar musik, menonton film, berselancar di dunia maya. Saya tak butuh piranti lunak untuk desain, menyunting video atau foto. Setelah baca sana-sini, Ubuntu sudah memenuhi kebutuhan tersebut. Ubuntu juga gratis, bisa digunakan tanpa perlu membayar seperti sistem operasi tetangga sebelah.

Semakin lama mencoba Ubuntu, saya mulai belajar banyak hal. Sistem operasi ini bukan bikinan sebuah perusahaan besar yang membayar karyawannya untuk menulis kode-kode binary. Jadinya, Ubuntu tentu masih banyak kendala di sana-sini. Terkadang sistem operasi ini tidak mendukung piranti keras laptop, buntutnya ya speaker tidak keluar suaranya, atau touchpad laptop tak bisa digerakkan.

Sistem operasi keroyokan. Dikerjakan oleh banyak orang dan komunitas dari berbagai belahan dunia dengan satu minat yang sama: menciptakan sistem komputasi yang lebih baik bagi dunia. Berbeda dengan tujuan sistem operasi perusahaan raksasa itu kan? Saat semua diukur dengan angka. Tidak percaya? Coba tebus lisensi sistem operasi Jendela-Jendela! Tercengang dengan jumlah nominalnya?

Untuk memperbaiki kendala di Ubuntu, saya mulai rajin menelusuri forum-forum Linux atau Ubuntu yang tersebar di internet. Di situ selalu ada jawaban. Selalu ada orang yang menjawab pertanyaanmu. Para guru yang sukarela menelusuri permasalahan yang dipaparkan seorang pengguna baru, lalu memaparkan langkah demi langkah solusi untuk masalah tersebut.

Linux Ubuntu adalah contoh lain dari altruisme ini. Masih ada ya jaringan organik komunitas lintas negara, mau merelakan waktunya untuk coding, menyempurnakan sistem operasi ini. Mengikhlaskan diri menjawab setiap pertanyaan di forum-forum dunia maya. Membantu seorang pengguna baru di negara dunia ketiga yang bahkan tidak dikenalnya, seseorang yang memiliki nama yang susah dieja oleh lidah pembicara bahasa Inggris, seseorang yang mungkin tak akan pernah dijumpai secara nyata. Altruisme ini dilakukan dengan keyakinan bahwa hidup yang baik adalah saat orang lain merasakan kebaikan yang sama dengan apa yang kita rasakan.

Entahlah. Apa ya kesimpulannya? Mungkin ya. Mungkin agar kita jangan takut. Di luar pembacaan statistik bahwa dunia tidak baik-baik saja, bahwa 1 % menguasai kekayaan dunia sementara 99 % penduduk dunia adalah budaknya, masih banyak orang baik. Barangkali, masih ada harapan untuk hidup yang lebih baik. Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah!!!

Yogyakarta, 13 Agustus 2016.

Tentang Perempuan

image

Aku tidak tahu apa yang bikin cerlang mata itu digdaya. Yang jelas ia bikin gamang.

Perempuan datang dengan sejuta asa. Tekadnya kokoh sepejal selonjor cemara menjulang.

Perempuan pergi dengan tangis. Ah, mana aku tahu isi hatimu. Itu palung terlampau dalam menyublim berani.

Labirinmu menyesatkanku dalam jalan memutar tiada batas.

Perempuan datang kembali dengan sejuta mimpi. Bahwa suka dan cita makin tak terpermanai. Tidak bisa tidak harus dijabarkan dengan gamblang.

Tapi. Kecipak rinai hujan bulan Juni toh mengisyaratkan: masygul dan gulana ini hanya sementara. Tak usah turut serta pada godaaan celaka.

Perempuan datang dan pergi. Satu jua yang harus berani, menghadapi aku dan pelbagai keliaran imaji.

O, aku dan segala emosi.

Perempuan mana betah denganku sampai nanti? Akan kucium keningnya saban hari, kujaga dari jahatnya dunia yang makin tak terkendali.

Yogyakarta, 23 Juni 2016.

Menghayati Keberagaman Musik Melalui Sambung Rasa

Tags

, , ,

(Tulisan pengantar untuk konser jazz “Sambung Rasa” A. Ragipta Utama di IFI-LIP Yogyakarta, Jum’at 15 Januari 2016)

cycfqhmueaedlys

 

Setali tiga uang dengan pembicaraan mengenai keberagaman dalam agama, rupanya juga bercokol dengan kuat sebuah kanker ganas yang menggerogoti pondasi dan bangunan keberagaman dalam musik: fundamentalisme. Paradigma pemujaan terhadap keyakinan diri sendiri ini berbahaya karena menumbuhkan sikap ekslusif dalam diri, bikin cupet pikiran, enggan menerima keyakinan lain yang terlihat berbeda.

Di dalam tataran musik, fundamentalisme ini dapat dilihat dari seringnya terjadi pengkotakan genre musik. Musisi yang berkarya di genre A menganggap itulah kebenaran absolut nan ekslusif, sedangkan genre B haram untuk dijamah karena menurut pikiran cupetnya perbedaan adalah semacam ancaman. Fundamentalisme ini yang lantas memunculkan oposisi biner atau dikotomi dalam musik: tradisi vs modern, high art vs pop art, major music vs indie music, musik barat vs musik timur, dan seterusnya.

A. Ragipta Utama alias Gipta adalah musisi muda yang belajar, tumbuh dan berkembang di tengah pusaran perdebatan dikotomis tersebut. Setidaknya di institusi pendidikan tinggi seni tempat Gipta bernaung, sering dijumpai para musisi yang beranggapan genre musiknya ekslusif serta enggan mengeksplorasi secara lebih luas musiknya tersebut. Sementara kehidupan musik di gedung sebelahnya terlampau sibuk mengutuk musuh imajiner bernama ‘globalisasi’ dan ‘modernitas’ yang dianggap ancaman bagi musik tradisi nan adiluhung.

Kedua sikap ekslusif di atas justru menyebabkan musik yang sebenarnya keren bagaikan katak dalam tempurung: dikungkung kerangkeng ekslusifitas, dimainkan di kandang sendiri, ditonton dan diapresiasi kalangan sendiri. Gipta, untungnya bisa menjebol kerangkeng eklusifitas tersebut. Konser bertajuk ‘Sambung Rasa’ ini adalah salah satu cara Gipta menghancurkan dikotomi dalam musik, merayakan keberagaman dalam musik.

Jauh sebelum embrio Sambung Rasa muncul, Gipta telah memulai proses eksplorasi musikalnya yang beragam. Setelah sering wara-wiri di berbagai pertunjukan musik jazz—misalnya menjajal panggung Ngayogjazz di tahun 2013 dan 2014—tiba-tiba Gipta sering muncul di panggung non-jazz bersama kolektif musik folk Sisir Tanah. Bagi mereka yang mengenal atau sempat menonton permainan jazz Gipta, tentu ini mengejutkan. Musik folk yang dimainkan Sisir Tanah dibangun dengan kesederhanaan akor gitar bolong dan kekuatan lirik subtil, sedangkan jazz fusion yang biasa dimainkan Gipta jelas mengedepankan teknik instrumental yang tinggi dengan progresi akor rumit.

Inilah salah satu contoh bagaimana Gipta menjebol kerangkeng ekslusifitas musik. Di era modern jazz sering dimaknai sebagai musik ekslusif. Musik yang harusnya suci dari perkara strata kelas sosial tiba-tiba harus dikotak-kotakkan sesuai kebutuhan. Jazz menjadi musiknya kelas tinggi. Gipta mementahkan pernyataan itu, menggali kembali akar jazz yang pada awalnya justru berawal dari semangat perlawanan kaum budak kulit hitam. Gipta kemudian memetik nada-nada di gitarnya, melengkapi musik dan lirik Sisir Tanah yang banyak membicarakan narasi perlawanan dan kehidupan masyarakat akar rumput.

Sambung Rasa kemudian dapat dimaknai sebagai laku eksplorasi Gipta di level berikutnya. Sebagai seorang manusia Indonesia, Gipta menyadari bahwa di luar jazz yang selama ini digeluti dan mengalir di nadinya ada musik atau bentuk kesenian yang kokoh menancap menjadi akar di dirinya sebagai seorang anak suku Jawa: karawitan. Gipta sampai pada titik nadir saat menyadari jazz yang ia mainkan selama beberapa tahun terasa mengasingkannya dari akar karawitan.

Kegelisahan Gipta ini menjadi raison d’etre konser Sambung Rasa: membongkar kerangkeng pengkotakan genre musik, memusnahkan dikotomi musik entah itu tradisi vs modern atau barat vs timur, menggali akar njawani dalam diri, merayakan keberagaman musik. Dengan gagah berani Gipta mewujudkan ikhtiarnya dalam bentuk delapan repertoar musik yang ditampilkan di Sambung Rasa.

Barangkali inilah kenapa konser ini bertajuk Sambung Rasa, dalam pemahaman karawitan Jawa ‘rasa’ adalah sesuatu yang abstrak, sukar dijelaskan, tidak dapat ditulis layaknya model penulisan partitur diatonis, namun ‘rasa’ ada dan menyetir bagaimana sebuah musik karawitan harus dimainkan supaya enak didengarkan. Dalam tataran bentuk musikal, Gipta sedang menyambungkan ‘rasa’ dari tiap genre musik tersebut. Dalam tataran narasi, Gipta sedang menyambungkan ‘rasa’ dari tiap genre musik: art for art dipadu-padankan dengan narasi art for common sense.

Ikhtiar sambung rasa Gipta dimulai dengan repertoar bertajuk “Kontemplasi”, petikan gitar solonya adalah pengejawantahan dari perenungan tentang ‘rasa’, serta retrospeksi perjalanan musikal Gipta semenjak masih kecil hingga dewasa. Repertoar kedua “Lagu Baik” merupakan lagu Sisir Tanah. Selarik bait “bakar petamu! Jejak baru” yang ditulis Bagus Dwi Danto menjadi refleksi dari apa yang dilakukan Gipta dalam Sambung Rasa: membakar peta musik yang sudah bercokol lama (jazz harus begini karawitan harus begitu), kemudian membuat jejak baru (mencampur semua keragaman musik itu dalam Sambung Rasa).

Penelusuran akar Jawa Gipta terlihat dalam repertoar “Tepo Seliro” “Caploan”, dan “Jati Raga”. Di “Tepo Seliro” Gipta memadukan gitar jazz dengan keplakan kendang, menunjukkan bahwa dengan sikap tenggang rasa kedua instrumen dari musik dan belahan dunia berbeda ini bisa disatukan ke dalam satu kesatuan musik yang apik. Di repertoar “Caploan” Gipta memadukan keriuhan tiupan slompret, ritmis ramai calung bambu, dan bangunan musik fusion dari instrumen konvensional untuk menginterpretasikan kesenian barong Jogja. “Jati Raga” adalah repertoar yang menarik. Di luar teknis musikal saat Gipta mencampur gitar, bass, kentongan, vokal nuansa etnis, serta menyitir beberapa baris serat Wedhatama gubahan Mangkunegaran IV, repertoar ini terasa begitu intens menggambarkan perenungan eksistensial Gipta sebagai manusia yang fana di tengah keluasan semesta.

Gipta tetap mempertahankan fusion yang telah lama digelutinya dengan memainkan repertoar “Fred” karya gitaris fusion termahsyur Allan Holdsworth. Penambahan instrumen brass berupa trumpet dan saxophone dalam repertoar “Kasat” juga makin memantapkan rasa fusion, secara kasat mata rasa fusion ini tampak dari bagaimana Gipta mengotak-atik distorsi dan memetik gitarnya saat bagian solo. “Hujan Malam Ini” meneguhkan ikhtiar sambung rasa saat Gipta menyematkan gesekan string section yang mendayu-dayu.

Melalui delapan repertoar dalam konser Sambung Rasa, Gipta dengan lantang menyuarakan keyakinannya: beginilah seharusnya musik, tepo seliro atau tenggang rasa, saling menghargai antar genre dan budaya.

Ada banyak musisi jazz yang keren dan memiliki skill ala virtuoso tak tertandingi, pun di ranah musik yang katanya tradisi. Namun tidak banyak musisi seperti Gipta, yang menyadari sikap fundamentalisme dan tinggi hati memuja musik sendiri sebagai yang paling baik itu justru membatasi kenikmatan musik.

Pernyataan Gipta bahwa jazz dan karawitan adalah musik tenggang rasa memang benar. Lagipula bukankah jazz adalah musik yang sangat ramah kepada eksplorasi dan improvisasi seliar apapun. Entah mendapatkan wangsit dari mana, tapi Gipta bisa dibilang beruntung memperoleh hidayah untuk keluar dari zona nyaman jazz kemudian mengeksplorasi keberagaman dalam musik, menghayati tepo seliro atau tenggang rasa jazz dan karawitan.

Sebagai penikmat musik, kita juga beruntung dapat menghayati keberagaman musik melalui Sambung Rasa. Gipta mengajak kita berkontemplasi bahwa tidak ada musik yang par excellence, setiap musik adalah pelengkap bagi musik lainnya, musik adalah sambung rasa.

Mengutip lirik Sisir Tanah, Gipta memiliki ‘semangat baik’ menghayati keberagaman musik melalui Sambung Rasa. Siapkah kita ikut membakar peta dan membuat jejak baru bersama A. Ragipta Utama?

Yogyakarta, 12 Januari 2016.

*Aris Setyawan. Penulis. Penikmat musik. Bermain dan belajar di kolektif seni Roemansa Gilda. Dapat dihubungi melalui surel arisgrungies@gmail.com

 

Makna (Musik) Mana Yang Kita Bela?

Tags

, , ,

music-is-life

Gambar dari thequotepedia.com

Kita sering mendengar tipikal komentar seperti ini: “aduh kok band atau musisi ini memainkan musiknya di konser nggak mirip sama sekali ya dengan versi di album”, atau “sayang sekali si anu menyanyikan lagunya improve begitu, nadanya nggak sama persis dengan yang di versi rekaman.” Di masa sekarang penikmat musik sering menilai pertunjukan atau konser musik yang ditontonnya dengan parameter hasil rekaman album sang musisi.

Loh memangnya kenapa? Memang harusnya begitu kan? Konser atau pertunjukan musik adalah perpanjangan dari rekaman, jadi sang musisi atau band harusnya tampil dan memainkan musiknya persis sesuai bentuk musik yang diabadikan di rekaman. Pertunjukan langsung itu harus memenuhi ekspektasi penonton yang berangkat ke venue berbekal imaji musikal sesuai apa yang ada di rekaman.

Premis di atas bisa jadi benar jika kita menggunakan paradigma penikmat musik yang hidup di jaman tatkala teknologi rekaman telah ditemukan. Seperti dicatat vokalis cum gitaris band punk jebolan CBGB David Byrne dalam bukunya How Music Works, bahwa audiens musik yang menggemari sebuah lagu di rekaman (vinyl, cd, cassette, mp3) kemudian berkeinginan mendengar versi yang sama di konser. Premis ini menjadi keniscayaan di era teknologi: musik dalam rekaman adalah kebenaran, maka sebisa mungkin musik yang dimainkan live harus mirip dengan versi rekaman.

Lebih lanjut menurut Byrne, premis ini tidak pernah ada di jaman ketika teknologi rekaman belum ditemukan. Di masa ketika musik adalah pertunjukan langsung, audiens hadir ke pertunjukan tersebut tanpa ekspektasi berlebih. Musik dimaknai bagus atau tidak dari kepiawaian sang musisi menyampaikan pesan estetisnya saat itu juga, saat pertunjukan berlangsung. Setiap audiens yang hadir secara langsung menjadi bagian dari konteks pertunjukan itu, berbeda dengan masa sekarang saat teknologi memungkinkan setiap orang secara individual mampu mendengarkan rekaman musik di rumah masing-masing, kemudian membawa bekal penilaian saat berangkat menonton pertunjukan.

Menyitir gagasan sosiolog H. Stith Bennet, kita telah mengembangkan sebuah kesadaran yang disebutnya sebagai ‘recording consciousness.’ Artinya, kita sering beranggapan suara di dunia seharusnya sama dengan suara yang kita dengar di rekaman. Teknologi rekaman sesungguhnya sangat membantu kehidupan manusia, karena musik yang sebelumnya hanya didengarkan di momen saat ada pertunjukan tiba-tiba bisa didengarkan kapan pun dimana pun. Namun sayang kebiasaan individualistik ini menjadikan manusia modern menganggap suara dalam rekaman itu parameter untuk menilai suara di dunia, atau menurut Bennet we internalize how the world sounds based on how recordings sound.

Gagasan Bennet mengenai recording consciousness dapat menjelaskan kenapa sekarang jamak kita temukan komentar seperti tertulis di awal tulisan ini. Kemudahan mendengarkan musik melalui teknologi menjadikan penikmat musik era modern memiliki recording consciousness, kemudian mencerap suara di dunia (suara alam seperti desir angin, rinai hujan, hingga konser musik) dan membandingkannya dengan suara rekaman yang menurut mereka adalah sebuah kebenaran absolut.

Penilaian kebenaran absolut tersebut tentu saja rancu jika kita maknai produk rekaman musik sebagai sesuatu yang artifisial. Maksudnya, sebelum sebuah bentuk musik menjadi versi jadi yang siap didengarkan dari media penyimpanan rekaman, musik tersebut harus melewati berbagai proses dalam recording session. Musik itu harus di-take atau direkam, lalu dipoles sana dan sini dalam proses mixing dan mastering, diamplifikasi, ada proses penambahan efek, nada-nada sumbang dari pita suara penyanyi harus diluruskan dengan piranti lunak yang seringnya punya fitur koreksi nada, dan berbagai tetek bengek prosesi recording lainnya.

Tidak dapat dipungkiri, hasil akhir sempurna dari sebuah musik terwujud karena proses panjang kerja studio ini. Buntutnya, agak rancu dan bermasalah dong jika kita menjadikan musik rekaman ini sebagai kebenaran absolut macam dogma, kemudian menggunakannya sebagai parameter menilai bagus tidaknya pertunjukan musik live.

Suara sumbang si penyanyi di konser adalah sesuatu yang manusiawi, siapa tahu pita suaranya tengah bermasalah karena kealpaan sebelum konser kok minum tiga gelas es teh, siapa tahu sang penyanyi tak mampu menjangkau register nada yang biasanya mampu didendangkan karena saat itu konsentrasinya terpecah oleh baper memikirkan kisah asmara.

Siapa tahu sebenarnya band atau musisi yang tampil sengaja memainkan musiknya dalam aransemen yang berbeda dengan di versi rekaman karena mereka sedang mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan estetis lain dari musik itu, atau untuk mengakali kebosanan memainkan bentuk musik yang sama sepanjang tur 30 kota.

Jika boleh mengadaptasi konsep false consciousness Marx bahwa “gagasan senantiasa menyembunyikan kepentingan kelompok yang berkuasa, gagasan bukan kebenaran, melainkan kepentingan yang dipalsukan.” Di dalam tataran ideologis recording consciousness bisa juga dianggap sebagai bentuk kesadaran palsu.

Musik hasil rekaman adalah gagasan yang seolah dicitrakan sebagai kebenaran absolut, padahal di baliknya ada kepentingan-kepentingan yang dipalsukan: synthesizer untuk membuat sintesa suara alam, perangkat lunak untuk mengkoreksi ketidakmampuan seorang penyanyi mencapai nada sempurna, metronome untuk menutupi ketidakmampuan drummer menjaga kestabilan tempo saat rekaman, hingga mixing untuk memoles hasil akhir musik terdengar manis dan rupawan. Bentuk lain kesadaran palsu yang paling bertahan lama di kancah musik arus utama Indonesia adalah: lip-sync dan minus-one yang dicitrakan sebagai kebenaran, menutupi kepentingan-kepentingan kapital di baliknya, menjaga penonton kelas menengah ke bawah dalam kepasifan.

Mungkin false consciousness dalam recording consciousness ini yang menyebabkan komponis dan konduktor musik klasik Amerika John Philip Sousa mengkritik keras recorded music di awal kelahirannya. Di dalam esainya yang terbit tahun 1906 bertajuk The Menace of Mechanical Music,”Sousa menuding musik rekaman sebagai mesin yang mereduksi ekspresi musikal menjadi sekadar sistem matematis dalam bentuk megaphone, roda, cakram, silinder, dan benda-benda yang berputar (vinyl, cd, dll).

Terlepas dari kepentingan Sousa sebagai komponis dan konduktor pertunjukan musik live yang tentu terancam oleh teknologi baru musik rekaman, kekhawatirannya cukup beralasan jika kita menilik komentar-komentar yang kita bicarakan di awal: saat khalayak penikmat musik menilai kualitas musik bukan dari ekspresi estetisnya, tapi berdasarkan mirip tidaknya dengan versi rekaman.

Sampai di sini seharusnya kita telah menemukan kesimpulan: jadi mana nih yang paling benar? Musik rekaman, atau musik pertunjukan langsung?

Mencoba mencari jalan tengah untuk pertanyaan di atas, kata kunci apa yang kita bicarakan adalah mimicry atau peniruan. Penikmat musik modern beranggapan pertunjukan langsung musik adalah peniruan yang harus semirip mungkin meniru kebenaran absolut dalam rekaman, penikmat musik serta praktisi semacam Sousa di era pra-rekaman beranggapan sebaliknya bahwa musik yang dimainkan secara langsung adalah kebenaran sementara musik rekaman merupakan bentuk peniruannya. Sementara jika kita lebarkan konteks pembicaraan kita, seni atau secara spesifik musik adalah bentuk peniruan atau mimicry dari nature atau alam.

Pakar neurologi Mark Changizi menyebut bahasa dan musik adalah upaya manusia meniru alam. Menurut Changizi suara nature atau alam sebenarnya terlampau pelik untuk dipahami dengan keterbatasan otak manusia, sebab ada frekuensi-frekuensi di level rendah tak mampu diterjemahkan datum indera manusia. Musik buatan manusia adalah upaya meniru alam hanya dengan menghadirkan frekuensi-frekuensi level tinggi yang dapat dipahami manusia.

Contoh dari pendapat Changizi dapat disimak dari penjelasan pakar mitologi Joseph Campbell. Menurut Campbell manusia membangun candi dan gereja dengan mengedepankan aspek akustika suara di bangunan itu. Ini karena manusia sedang menirukan akustik dalam sebuah gua, tempat manusia generasi pertama merasakan kerinduan spiritual. Tentu saja manusia tidak akan mampu menangkap standar akustik dalam gua secara persis, apa yang bisa dilakukan adalah membangun peniruan itu dengan simplifikasi.

Simplifikasi ini dapat didengar dan dirunut dalam setiap musik buatan manusia. Misalnya, suara debur ombak adalah produk alam yang coba ditiru sinden, maka pendendang laras Jawa ini akan melatih suaranya di pantai, membandingkan larasnya dengan debur ombak. Kemudian suara sinden ini ditiru ulang oleh penyanyi modern dalam berbagai aransemen, misalnya sepotong nyanyian ala sinden di pertengahan lagu Putih milik Efek Rumah Kaca.

Tulisan ini akan diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang sangat klise: jadi manusia nggak boleh jumawa dan takabur. Iya, klise sih. Tapi memang benar toh? Apakah kita masih bisa jumawa setelah mengetahui musik dan produk peradaban manusia lainnya hanyalah bentuk mimicry dari alam raya. Apakah kita bisa menyombongkan diri memiliki kualitas musikal lebih baik dan berhak menghakimi penampilan langsung sebuah band hanya berdasarkan persepsi setengah-setengah yang ditimbulkan kesadaran palsu ala recording consciousness. Apakah seseorang berhak menyombongkan diri sebagai manusia paling mengerti musik karena mampu hadir di ratusan konser, lalu ingin membasmi penonton lain yang menurutnya kurang mengapresiasi konser tertentu hanya karena terdiam tanpa gerak.

Apakah saya berhak jumawa dan menyombongkan diri melalui tulisan ini? Padahal ini hanya saripati pemikiran-pemikiran manusia lain yang saya olah dengan secuil pemahaman pribadi saya tentang apa itu musik, bagaimana menciptakan, mendengarkan, dan memaknai musik.

Mengutip lirik lagu dari band yang sebenarnya sudah bagus tanpa dinodai komentar fasis seseorang dengan mental—maaf—ngehek di atas: “makna-makna dalam aksara / makna, mana yang kita bela?” Ada sebuah subyektifitas yang sangat kentara dalam setiap bahasa yang kita bicarakan atau kita dengarkan. Anggap musik sebagai bahasa, ada subyektifitas yang sangat kentara memengaruhi makna mana yang kita cerap dan akan kita bela.

Artinya, mau memaknai musik dengan paradigma manusia modern pemuja kesempurnaan rekaman, atau sebagai bentuk seni pertunjukan persis era pra-modern, itu adalah suyektifitas yang akan dibela mati-matian oleh seseorang. Mau menjadi penikmat musik medioker yang jumawa hanya karena mampu hadir ke ratusan konser dan mengkoleksi ribuan rilisan musik, atau penikmat musik yang legowo menyadari prosesi menikmati musik menjadikannya sadar bahwa masih banyak musik belum didengarkan dan musik justru menggambarkan kekecilan manusia di alam raya, itu semua pilihan bersalut subyektifitas yang tentu akan dibela mati-matian.

Saat nanti seorang pembaca nyasar ke tulisan ini, barangkali kemudian tidak sepakat dengan beberapa poin klise yang saya paparkan di tulisan ini, saya tentu akan membela mati-matian makna dalam barisan aksara ini, sampai titik darah penghabisan saat argumen saya terbukti lemah dan kalah telak oleh argumen dari barisan aksara seorang pembaca yang nyasar itu.

Pusing kan? Sama, saya juga. Kenapa perkara memaknai musik harus serumit ini sih ya? Hhhhhhhh.

Yogyakarta, 03 Januari 2016.