Hello Chester

Tags

, , , ,

"The Ghosts Unexpectedly Inevitably Try to Push Themselves to The Surface." (2017, acrylic on paper)

“The Ghosts Unexpectedly Inevitably Try to Push Themselves to The Surface.” (2017, acrylic on paper)

Apa kabar bung? Tak terasa sudah beberapa waktu setelah kamu memutuskan mengakhiri hidup dengan menggantung diri. Jadi, apa yang kamu lakukan di sana sekarang? Apakah kamu sudah bersua dengan karibmu Chris Cornell? Mungkin kalian berdua kemudian memutuskan membentuk proyek musik bersama. Sebuah kugiran musik yang diberi nama Suicide Is An Option atau The Ghost Called Depression. Mungkin kalian berdua mengajak serta para musikus yang juga memutuskan mengakhiri hidup di masa lampau? Kurt Cobain harus diajak karena dia toh paling terkenal kan. Nick Drake jangan lupa, tuning gitar dia yang tidak biasa akan memberi warna baru pada musik rock kalian.

Tetapi, apa benar kalian bisa membuat proyek musik bersama itu di sana? Atau, yang ada sebenarnya hanya kegelapan abadi? A total void, emptiness, darkness?

Belakangan aku baru bisa mendengarkan dengan seksama album One More Light. Album terakhir bandmu Linkin Park yang sebelumnya aku cap sebagai dekaden karena mengikuti pola-pola EDM a la David Guetta, Calvin Harris, atau Marshmellow yang lagi digandrungi kids zaman now. Setelah keputusanmu meninggalkan dunia, istri, dan enam orang anakmu, aku memutuskan mendengarkan album barumu, membandingkannya dengan Hybrid Theory. Setelah lebih intens menyimak, baru aku sadar. Meski bangunan musiknya kekinian, toh dari segi lirik dan melodi yang kamu gubah tetap menyiratkan teriakan sunyimu, rasa putus asamu karena hidup yang nelangsa dirongrong hantu jahat bernama depresi.

Pasti berat banget ya bung? Kamu sudah berusaha bertahan, persis bait lagu “Heavy” yang kamu nyanyikan “holding on, why everything so heavy? Holding on, so much more then I can carry.Ndak papa kok mas Ches. I feel you bro. Kamu bukannya lemah. Kamu sudah melawan sebaik-baiknya kok bung. Sekuat tenaga. Barangkali kamu sudah di titik nadir hingga menulis lirik “Nobody can save me now (only I can save me now).” Di titik ini kamu sadar. Perang abadimu melawan depresi adalah peperangan sunyi. Tidak akan ada orang lain yang mampu membantumu. Tidak ada orang yang mampu mengerti apa itu depresi dan bagaimana kengeriannya hingga seseorang itu merasakan sendiri saat mengidapnya.

Depresi ibarat hantu yang menggelayutimu. Dia tidak terlihat orang lain. Hanya dapat dilihat dan dirasakan sebagai beban yang menahan oleh mereka yang mengidapnya.

Aku penasaran bung. Apa yang ada di pikiranmu di detik-detik terakhirmu? Saat temali itu mulai kamu lilitkan ke leher, dan kamu bersiap melompat dari meja atau kursi. Apakah kamu takut? Ragu? Atau sudah mengenyahkan itu semua dan berpikir bodo amat, lebih baik mati berkalang tanah ketimbang hidup dalam cekam si setan hitam.

Lalu kenapa kamu memilih menggantung diri sih bung? Di hari ulang tahun Chris Cornell pula. Oh, apa kamu terinspirasi dari guru rockmu itu yang juga mati gantung diri? Tetapi mungkin alasanmu lebih dari ikut-ikutan ya. Mungkin kamu sudah memikirkannya masak-masak. Gantung diri adalah cara mudah mati. Karena saat tali itu sudah menjerat tenggorokanmu, there is no turning back. Saat kamu tercekik, kamu sudah tidak akan bisa mundur lagi. Kecuali ada orang yang menemukan dan menyelamatkanmu sih.

Mungkin kamu sudah tahu bahwa misalnya kamu memutuskan bunuh diri dengan mengiris arteri di pergelangan tangan, kamu masih bisa meragu, mundur teratur dengan membebat lukamu dengan sesuatu. Atau kamu paham benar bagaimana tubuh manusia akan berusaha bertahan hidup sebagai insting alami, darah tercipta sebagai cairan yang mudah menggumpal sehingga saat ada luka di badan ia akan membeku menutupnya agar si empu tubuh tak kehilangan banyak darah dan tetap hidup.

Kamu sudah mantap benar rupanya ya bung untuk mati. Kenapa nggak lompat dari gedung tinggi bung? Itu sama aja kamu nggak akan ada kesempatan meragu kan? Sekali lompat, beberapa detik kemudian tubuhmu menghujam ke bumi yang pejal. Tetapi barangkali kamu cuma tak mau tubuhmu berantakan ya saat mendarat. Kasihan nanti anak istrimu menguburkanmu yang dagingnya tercerai berai dengan otak moncrot keluar.

Tetapi bagaimana kalau ternyata si hantu ngikut ke dunia sana ya bro? Ngikut nggak sih? Kan ngeselin juga ya, niatnya bunuh diri biar bebas dari cengkeraman kuat si hantu, eh ladalah ternyata si hantu ikut ke akhirat.

Aku jadi ingat saat pertama kali mendengarkan Linkin Park di masa SLTA silam. Aku terpukau dengan bagaimana caramu bernyanyi, terkadang berteriak. Aku terpesona pada bangunan musik kalian yang gitarnya gahar, pake sampling dan turntable segala, caramu berbagi shift nyanyi dengan Mike Shinoda yang harus nge-rap. Ya tapi mana aku tahu waktu itu kalau ternyata kamu nyanyi sambil curhat di lirik-lirikmu tentang traumamu karena pelecehan seksual saat remaja yang berujung pada hinggapnya depresi.

Ya aku jadi bertanya-tanya juga, trauma masa remaja itukah trigger atau pemicu hinggapnya depresi ke dirimu bung? Kenapa setiap orang diciptakan dengan titik ketahanan psikologis yang beda ya? Walau di titik ini aku paham bahwa setiap orang sesungguhnya punya kecenderungan untuk sakit atau mengalami gangguan kejiwaan. Namun, kenapa trigger dan titik awal kenanya bisa beda-beda? Ada yang butuh waktu lebih lama untuk kesambet si hantu, ada yang lebih rentan terkena. Ngerti nggak bung maksudku? Menurutmu si hantu pilih kasih nggak kalau mau nempel ke orang?

Kamu dulu pas masih hidup minum obat apa bung untuk mengobati depresimu? Pasti kamu minum Xanax yha mz? Nah aku barusan baca bung kalau salah satu obat yang paling laris di Amerika dan dunia adalah Xanax. Konon sebabnya karena obat golongan benzodiazepine itu yang saat ini diklaim sebagai satu-satunya obat yang secara klinis manjur menghajar si hantu depresi.

Duh bung, tapi ya namanya obat kimia buatan manusia yang tak pernah sempurna, efek sampingnya ngeri bung. Si obat ajaib itu bersifat eskalasi, jadi dia akan selalu minta naik dosis agar efeknya manjur. Masalahnya, ada yang namanya withdrawal bung, kalau si pasien berhenti minum dia bakal kena withdrawal. Mungkin gampangnya sebut aja mirip-mirip sakau gitu ya. Rasanya naudzubillah, lebih buruk dari mati, dan saat fase itu rasanya pengen mati aja. Wajar jika dalam banyak kasus, mereka yang depresi justru mengakhiri hidup saat fase withdrawal karena berhenti minum Alprazolam ini.

Mungkin kamu capek ya bung. Semacam mikir what’s the point? Nobody can save me now. Si hantu nggak bisa diobati, ya sudah mati. Persis lagu lamamu “In The End” yang semacam nubuat “in the end it doesn’t even matter.”

Ya sudah bung, baik-baik di sana. Semoga para ilmuwan tokcer segera menemukan penyebab sesungguhnya depresi, apa benar karena tidak seimbangnya perkara senyawa neurotransmitter, atau apa gitu? Semoga mereka juga menemukan obat yang mujarab dan tokcer untuk menyembuhkan depresi. Yang nggak kayak Xanax gitu, tanpa efek samping yang syerem. Biar nggak ada lagi orang yang harus mati kayak kamu bung. Salam untuk semua yang ada di sana. Eh jadinya di sana indah bak surga atau gelap gulita?

Yogyakarta, 23 Oktober 2017.

Advertisements

Memikirkan Ulang Faedah Musik

Tags

, , , ,

Ilustrasi: Dwi Sugiyanto

Ilustrasi: Dwi Sugiyanto

Saya memikirkan hal ini sejak lama: apa faedah musik bagi manusia dan kemanusiaan? Apakah musik hanya sekadar hiburan, perkara sekunder yang menyempil sebagai intermezzo di tengah lini kehidupan lain seperti bekerja, makan, tidur, bercinta? Atau, musik adalah perkara primer, bagian yang tak kalah pentingnya bagi kehidupan?

Pertama, untuk memahami faedah musik bagi manusia, kita harus mendefinisikan terlebih dulu apa itu musik. Musik adalah sistem tanda yang menggunakan unsur-unsur seperti melodi, irama, birama, harmoni, tangga nada, tempo, dinamika, dan timbre untuk merepresentasikan bunyi. Bunyi adalah getaran frekuensi, bunyi tersebut kemudian menggetarkan gendang telinga, terkonversi menjadi datum yang diterjemahkan menjadi sebuah kesan oleh otak.

Pakar bunyi dan penulis buku Sound Business, Julian Treasure menjabarkan bahwa bunyi memengaruhi manusia setidaknya melalui 4 cara, yaitu: 1. Fisik (produksi hormon, detak jantung, cara menghela napas), 2. Psikologi (memicu stres atau membuat santai), 3. Kognitif (produktivitas kerja), dan 4. Kebiasaan (memicu manusia melakukan kebiasaan tertentu).

Sebagai sebuah sistem tanda yang merepresentasikan kelindan berbagai bunyi, jelas musik memengaruhi kondisi manusia. Sistem tanda yang berbeda (kecepatan tempo, perbedaan timbre, tangga nada yang digunakan, dan lain-lain) akan menciptakan rasa yang berbeda, menimbulkan kesan yang berbeda. Inilah kenapa muncul selera dan interpretasi berbeda pada setiap orang.

Musik mengajarkan manusia untuk menggunakan nalar dan rasa agar bisa memahami sistem tanda dan kesan yang ditimbulkannya. Musik menjadikan kita dapat menyentuh dan memahami beberapa perasaan kita yang paling rumit, apa yang kita inginkan, bagaimana menjadi diri kita sendiri, serta memahami bagaimana orang lain memiliki kesan berbeda saat mendengarkan musik yang sama-sama kita dengarkan. Musik adalah ejawantah dari hasrat manusia, dan di saat bersamaan mengajarkan manusia bagaimana untuk berhasrat. Meminjam pernyataan filsuf klasik Tiongkok, Confusius, “Music produces a kind of pleasure which human nature cannot do without”.

Celakanya, musik juga bersifat arbitrer. Ia memaksa masuk ke alam bawah sadar, lalu turut serta membentuknya. Contoh sederhananya, sebenci apapun kita dengan musik pop, sistem tanda berupa melodi easy listening yang tanpa sengaja kita dengarkan selewat di tempat umum akan menancapkan dengan kokoh kesan di alam bawah sadar kita, lalu memancing kita untuk mendendangkannya di lain waktu. Mau membenci dangdut seperti apapun, sistem tanda berupa irama hentakan ketipung akan memaksa pinggul kita secara otomatis bergoyang.

Maka, yang namanya pembentukan selera bukanlah isapan jempol belaka. Ada saat di mana musikus, kritikus, kapitalis, memahami benar sifat arbitrer musik ini lalu menggunakannya untuk membentuk selera orang lain.

Kedua, setelah kita memahami faedah musik bagi manusia, kita akan bisa memahami faedah musik bagi kemanusiaan, apa guna musik bagi hubungan antarmanusia. Menurut jargon yang sangat sering kita dengar, “Musik adalah bahasa universal.” Konon, musik mampu menghubungkan manusia di saat bahasa tak mampu melakukannya. Dalam pandangan antropolog musik Alan P. Merriam, musik memiliki 10 faedah dalam kemanusiaan, yaitu: pengungkapan emosional, penghayatan estetis, komunikasi, perlambangan, reaksi jasmani, berkaitan dengan norma sosial, pengesahan lembaga sosial, kesinambungan budaya, pengintegrasian masyarakat, serta hiburan.

Dewasa ini, musik telah menjadi industri milyaran dollar. Maka, di luar sepuluh faedah musik bagi kemanusiaan, musik diproduksi dan direproduksi sebanyak mungkin, diedarkan seluas mungkin, hanya berdasarkan pada satu kegunaan yang paling menjanjikan untuk dijual: hiburan. Ke manapun kita pergi, apapun film yang kita tonton, selalu ada musik mengiringi. Seorang pendengar musik yang anti pop sekalipun akan sangat sulit menghindarinya. Ia akan tetap terdengar walau secara tidak sengaja di kedai kopi atau toilet pusat perbelanjaan.

Ketika musik telah menjadi komoditas dalam industri yang sangat besar, kemudian hukum supply and demand berlaku: untuk memenuhi permintaan besar musik sebagai komoditas hiburan, harus ada banyak musikus yang menciptakannya.

***

Sebagai seseorang yang berlatar pendidikan formal musik, pertanyaan mengenai faedah musik ini memunculkan persoalan lanjutan: sudahkah pendidikan musik di Indonesia mengajarkan kita cara memahami faedah musik bagi manusia dan kemanusiaan? Sudahkah mereka yang duduk di bangku pendidikan musik (formal maupun non formal) diberi bekal untuk mendedah sifat arbitrer musik yang lantas mewujud dalam pembentukan selera? Atau, pendidikan musik di Indonesia justru menghasilkan para musikus yang hanya belajar menjadi sosok yang piawai mengolah sistem tanda? Para musikus yang kemudian menjadi tandem bagi industri musik milyaran dollar tersebut.

Menyitir gagasan akademisi Citra Aryandari, para musikus jebolan sekolah musik ini “piawai memencet tuts piano atau menggesek violin, tetapi jiwa dan emosi musiknya tak terasah. Setelah menyelesaikan studi musiknya harus ikut meneror masyarakat penikmat musik dengan sajian musik berbasis kapital yang tak mementingkan estetika dan rasa”.

Lembaga kajian musik yang bermarkas di Yogyakarta, Art Music Today, mencatat dalam buku terbitannya Membaca Musik Dari Masa Ke Masa bahwa sejak tahun 1960-an hingga 2015 hanya ada lebih kurang 200-an judul buku pengetahuan musik berbahasa Indonesia. Pengetahuan dalam artian, ia tak hanya mengkaji musik sebagai praktik mengolah sistem tanda, namun lebih lanjut mengkaji musik dan relasinya dengan manusia dan kemanusiaan. Jika dibandingkan dengan jumlah peristiwa musik yang terjadi (perilisan album, pertunjukan, dan sebagainya) di kurun waktu yang sama, ini jelas sangat tidak berimbang.

Praktik musik yang terus berjalan tanpa diimbangi produksi pengetahuan tentangnya akan menimbulkan masalah bagi generasi di masa depan: tidak ada cetak biru untuk mencipta dan mengembangkan musik yang lebih baik. Musik lantas hanya dipahami sekadar sebagai komoditas, hiburan, intermezzo. Maka, musik diciptakan dengan garis melodi yang mudah ditebak, progresi akor yang ‘gitu-gitu aja’, serta rasa musikal yang —meminjam istilah penyair Chairil Anwar— masih dangkal-picik benar. Tak lebih dari angin lalu saja. Menyejukkan kening dan dahipun tidak.

Padahal, mengkaji musik sebagai bentuk pengetahuan akan menjadi modal pengembangan kebudayaan yang apik di hari esok. Ambil contoh Andrew Weintraub yang mendedahkan dengan runut sejarah musik dangdut di Indonesia dalam bukunya Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Dangdut adalah musik yang dicaci-maki sebagai musik kampungan di awal kelahirannya, sempat dilarang rezim karena dianggap sebagai bentuk perlawanan, hingga kemudian dirangkul sebagai alat kampanye politik karena posisinya sebagai ‘musik rakyat’. Sekarang, tidak dapat dimungkiri dangdut adalah salah satu musik yang paling digemari di Indonesia. Atau, simak bagaimana Jeremy Wallach mencatat dengan lengkap musik populer di Indonesia periode 1997 hingga 2001 dalam buku etnografi bertajuk Modern Noise, Fluid Genres, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Komunitas Bambu.

Contoh lain adalah Michael Denning yang dalam bukunya Noise Uprising menjabarkan bagaimana persebaran teknologi gramofon memengaruhi pula popularitas musik vernakular (musik rakyat). Denning menyebut bahwa pada tahun 1926 perusahaan rekaman Jerman, Beka, merekam penyanyi dan penari Batavia’s Stambul Theater, Miss Riboet mendendangkan tembang keroncong Krontjong Moeritskoe. Pada tahun 1930-an, jaringan radio di Hindia Belanda memutar secara rutin musik keroncong yang telah tercetak pada plat tersebut. Ini memperluas popularitas keroncong. Hingga pada 1940, komponis asal Solo, Gesang, menggubah salah satu tembang keroncong paling terkenal sepanjang masa: Bengawan Solo.

Di bab lain, Denning menyatakan bahwa musik yang mapan sekarang, sesungguhnya adalah musik vernacular (pinggiran) di masa lampau. Sebagai contoh Denning menyebut bagaimana jazz, yang di masa sekarang dianggap sebagai bentuk musik high art yang diputar di kafe mewah, dulu lahir dari kedai dan pub para kelas pekerja di pelabuhan kolonial.

Di Indonesia sendiri, walau tidak banyak, sebenarnya sudah ada yang menginisiasi gerakan mempelajari dan memaknai musik sebagai bentuk pengetahuan. Almarhum komponis kontemporer Slamet Abdul Sjukur, misalnya. Semasa hidupnya, komponis asal Surabaya yang lebih suka dipanggil Mas Slamet ini gencar menggenjot wacana musik sebagai pengetahuan, baik saat mengisi berbagai kuliah umum, seminar, diskusi, maupun melalui berbagai tulisan. Mas Slamet juga menggedor kesadaran masyarakat tentang pentingnya memaknai bunyi serta bahaya kebisingan/polusi suara dengan mendirikan Masyarakat Bebas Bising.

Di angkatan yang lebih muda, musikolog Erie Setiawan dan Art Music Today telah bertahun-tahun berupaya mendorong kesadaran publik tentang pentingnya memaknai musik sebagai ilmu pengetahuan. Ini dilakukan dengan lini penerbitan buku, pengelolaan situs yang secara berkala mengunggah esai-esai musik, hingga lini label rekaman di mana AMT merilis album-album musik yang proses produksinya benar-benar dipikirkan secara matang dari segi materi musikal hingga proses perekamannya.

Saya akan menutup tulisan ini dengan kutipan dari Twilight of The Idols Friedrich Nietzsche: “Without music, life would be a mistake.” Dalam kutipan yang termahsyur ini Nietzsche seolah berkata: musik adalah sesuatu yang luar biasa. Maka, tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan. Saya akan memodifikasi gagasan Nietzsche menjadi “Without good music, life would be a mistake.” Meski kita hidup dengan musik, jika musiknya tidak bagus, dibuat serampangan, dan tidak beragam karena dibuat berdasarkan mekanisme pasar industri, maka hidup tersebut tetaplah sebuah kesalahan.

Maka, ini menjadi tugas berat untuk saya, anda, kita, dan semua orang yang menggeluti musik baik sebagai praktisi yang belajar secara otodidak, maupun praktisi dan akademisi jebolan institusi pendidikan seni (formal atau non formal), termasuk juga para pecinta (baca: pendengar) musik. Kita harus memikirkan ulang faedah musik bagi manusia dan kemanusiaan. Memaknai musik sebagai pengetahuan, menciptakan dan mencatat musik dengan baik. Agar ini menjadi bekal bagi generasi mendatang untuk menciptakan musik yang bagus. Sehingga kita tak terjebak di hidup sebagai sebuah kesalahan.

Yogyakarta, 22 Mei 2017.

Tulisan ini telah dimuat di Ruang Gramedia.

REFERENSI

Buku

Denning, Michael. 2015. Noise Uprising: The Audiopolitics of a World Musical Revolution. London: Verso.

Felicianata, Olga dan Erie Setiawan. 2016. Membaca Musik dari Masa ke Masa: Katalog Literatur Musik Berbahasa Indonesia dalam Lima Dekade. Yogyakarta: Art Music Today.

Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Northwestern: Northwestern University Press.

Nietzsche, Friedrich. 1997. Twilight of the Idols. Indianapolis: Hackett Publishing Company, Inc.

Wallach, Jeremy. 2008. Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia. 1997-2001. Wisconsin: The University of Wisconsin Publisher.

Weintraub, Andrew. 2012.  Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Jakarta: KPG.

Artikel

Afrisando, Jay. 2017. Masih Pentingkah Musik dan Bunyi Dipelajari?. Diakses dari https://satyanagari.org/2017/05/02/opini-masih-pentingkah-musik-dan-bunyi-dipelajari/

Aryandari, Citra. 2016. Teror Pendidikan Musik. Harian Kompas edisi 6 Februari 2016.

Situs

Treasure, Julian. 2009. The 4 Ways Sound Affects Us. Diakses dari https://www.ted.com/talks/julian_treasure_the_4_ways_sound_affects_us

Falsafah Kramadangsa dalam PIAS

Tags

, , , ,

Pias.

Pias.

Catatan: Ulasan ini adalah versi panjang (naskah asli) dari ulasan untuk buku saya PIAS yang ditulis oleh musikolog Erie Setiawan. Versi pendek (naskah tersunting) telah dimuat di ruang.gramedia.com.

Aris adalah semata tubuh yang terbentuk karena niat kedua orang-tuanya, direstui Sang Khalik, maka ia menjadi ada, menjadi “aku”. “Aku” kemudian berkembang dengan ikutan-ikutan dan ikatan-ikatan lain. Manusia dalam sifatnya, dalam identitasnya. Kegelisahan adalah bagian dari “aku” yang diikuti perasaan khawatir sekaligus optimis. Bukan “aku” yang mengalir bebas apa adanya, melainkan “aku” yang menjadi penuh tekanan. Ikutan dan ikatan yang menghantui “aku” itulah yang disebut kramadangsa, falsafah hidup versi Ki Ageng Suryomentaram, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Lewat Kawruh Begja (Ilmu Bahagia) warisan Ki Ageng Suryomentaram kita diajak berpikir hingga ke batin supaya hidup dalam ketenangan dan ketentraman.

Maka Aris bisa kita baca dalam berbagai gejolaknya, antara lain sebagai musisi indie dalam ikatan-ikatan dengan lingkungannya; bisa juga kita meletakkan Aris dalam batas “nalar atau pikirannya” (dumadi), maka lahirlah tulisan (adonan) dalam kapasitas Aris sebagai Etnomusikolog, Pemerhati Seni Budaya, atau yang lain-lain; dan pada tingkatan yang mendasar adalah Aris sebagai manusia, sebagai subyek, yang bisa kita lihat secara holistik-komprehensif seperti dalam sistem tata suara ambisonic (berbagai arah: atas bawah kiri kanan depan belakang), tidak hanya stereo yang mutlak kiri-kanan, atau mono yang terpusat satu sumber.

Terlebih dahulu harus diyakinkan secara seksama, kita akan membaca bumbu PIAS atau hasil masakannya? Bumbu akan bersifat otonom, memiliki tafsir tunggal, tidak terikat pada hasil akhir, sementara hasil masakannya akan mengaburkan fitrah segala sumber, bisa menimbulkan kecamuk. Maka jika orang memperdebatkan agama tanpa melihat dimensi kemanusiaan, hasilnya bisa celaka. Bisa jadi, Aris yang mengaku lahir dalam lingkungan di sekitar lereng Gunung Lawu ini menjadi sama sekali tidak penting, toh pada kenyataannya, tulisan-tulisannya lebih bercorak “urban”. Sisi apa dari “Jawa” yang tersemat pada tubuh (dan pikiran) Aris itu? Kita makin galau dengan identitas.

Menarik apa yang dikatakan Taufiq Rahman dalam epilog buku ini. Ia menyebut dengan istilah “perselingkuhan” dan “incest” untuk menggambarkan “peran ganda” dalam scene musik lokal atau ranah independen (contoh: ya musisi ya penulis, ya musisi ya desainer grafis, dan seterusnya). Apakah kita menjadi sedemikian “malu” dengan segala stigma yang berakibat pada tidak terjaminnya obyektifitas dalam jagad “kemerdekaan berekspresi” abad ini? Apakah dengan menyebut Aris sebagai Etnomusikolog sekaligus Drummer akan mengurangi bobotnya sebagai manusia dan obyektifitasnya untuk mengamati peristiwa (musik)? Agaknya tidak. Ini hanya masalah kecermatan epistemologis yang harus diperjuangkan sedemikian rupa.

Maka, Aris yang mengatakan PIAS hanyalah kumpulan dokumentatif belaka, adalah sebuah pengakuan yang jujur, mengajarkan mengenai bumbu-bumbu yang tidak terikat identitas, selain hanya karena kecintaan Aris pada pikiran dan aksara sebagai pengejewantahan laku gagasannya. Inilah yang menarik.

Maka jangan heran jika Anda akan menemukan banyak sekali percabangan pemikiran di buku ini, seperti susunan syaraf yang kompleks. Aris berusaha melihat fenomena seni, musik, budaya, film, dan lain-lain yang melintasi kesehariannya, dan ia telah membantu kita untuk “peka diri” pada tingkatan rohani sekaligus rasional. Ini juga bukan soal kualitas atau salah-benar.

Kalau mau jujur, lebih banyak kelirunya daripada benarnya. Menganggap Denny Sakrie kritikus musik (hal. 2) adalah pernyataan yang sangat terburu-buru. Aris tidak mengikutinya dengan informasi mengenai kaidah-kaidah menjadi kritikus musik berdasarkan fakta dan referensi sejarah. Pada artikel “Orksetra Diam John Cage” (hal. 262) juga sama saja. Aris agaknya belum mengetahui apa itu in-audible sound vibration dalam konteks metafisika bunyi—untuk mengaitkannya dengan karya fenomenal John Cage 4’33” itu. Agaknya Aris juga belum membaca buku Silence: Lectures and Writings buah pikiran John Cage. Dalam artikel “Waspada Kebisingan Kota” (hal. 46) kelihatannya juga sama. Masalah utamanya bukan soundscape akan tetapi psiko-akustik, yaitu hubungan antara manusia, bunyi yang didengarnya, dan intensitas bunyi (kadar desibel, frekuensi, durasi, karakter, struktur) dalam hubungannya dengan dampak psikologis manusia. Contoh-contoh “kekeliruan” ini tidak penting. Yang penting adalah Aris telah melemparkan wacana-wacana yang jarang dicermati orang.

Dua garis besar

Setidaknya ada dua garis besar dominasi yang menarik untuk dilihat lebih jauh dalam PIAS, buku setebal 323 halaman ini, yaitu kemampuan Aris dalam mengkaji seni-budaya dengan titik-berangkat pengalaman personal dengan berbagai fakta, contoh dalam artikel “Seni untuk Apa” (hal. 144), juga “Angkringan dan Hiperealitas” (hal. 199), dan di sisi lain adalah tulisan dengan gaya bahasa sangat subyektif seperti (terutama) tampak dalam “Surat untuk Sam” (hal. 60) dan “Surat untuk Ikun” (hal. 190). Tampak Aris sedang melakukan dialog imajiner yang intensif dalam perenungan (reflektif) kepada dominasi dua garis besar itu.

Selebihnya, ada sebuah saran yang mungkin penting bagi Anda ketika nantinya Anda mungkin tertarik membeli (membaca) buku ini. Yaitu ikutilah dengan pengalaman empirik, mendengar karya-karya yang dicontohkan (Sisir Tanah, Navicula, Homicide, dan yang lain-lain). Ini saya kira penting untuk mencapai sisi kenikmatan rohani (sensasi emosional) beserta kontekstualisasinya. Informasi yang disampaikan di buku ini akan menjadi percuma apabila kita hanya sebatas membayangkannya saja.

Satu diri

Aris pada kondisi yang sekarang, saat ini, detik ini, adalah Aris yang sedang berkonflik melawan dirinya sendiri, berperang dengan ke”aku”annya, dengan ikatan-ikatan dan ikutan-ikutannya, dengan kramadangsa-nya itu. Maka lebih substansial lagi adalah, bahwa judul buku ini memang tepat adanya. PIAS, yang artinya Pikiran Aris Setyawan, adalah ajakan untuk kita tidak “menghakimi” Aris dengan stempel-stempel khusus, juga untuk menguji apakah kita juga bisa golong-gilig dalam kapasitas sebagai manusia yang berpikir nir-identitas, selain hanya istiqomah dalam laku, terus-menerus, hingga kramadangsa menjadi “satu diri” (manunggal).

Aris sangat beruntung, pikirannya tersalurkan sesuai dengan apa yang menjadi minatnya, tidak memaksakan diri, tidak berorientasi tenar, tidak memihak pada kebenaran tunggal, suku, atau golongan, dan teman-temannya dengan ikhlas membantu mewujudkan mimpinya.

Pada akhirnya, saya harus menutup dengan satu paragraf yang mungkin tidak penting artinya bagi Anda. Saya ingin mengaku, bahwa sejujurnya saya pribadi tak punya kapasitas apapun secara intelektual untuk “ikut menanggung nasib” yang tengah menimpa Aris. Dari mulai menulis kata pengantar untuk buku ini, membahasnya secara lisan pada saat peluncuran, berbicara empat mata dalam kadar personal di berbagai kesempatan, dan harus menulis ulasan sepanjang 700-900 kata ini.

Apakah ini adill?

Merangkul Mereka yang Kesepian

Tags

, , , , , , , ,

Screenshot from 2017-04-26 21-22-14
“Uraikan simpul kacaunya!!!… Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah!!!”
(Festivalist – Menantang Rasi Bintang)

Saya jarang menonton film Korea, atau serial televisi Korea yang digandrungi beberapa teman. Tetapi, ketika saya menonton Castaway on the Moon (2009) karya sutradara Hae-jun Lee untuk pertama kalinya, saya langsung suka dengan film ini. Bahkan saya berulang kali menontonnya hingga mungkin kelima kalinya.

Premis film ini—tampak—sederhana. Kim (diperankan Jae-yeong Jeong) adalah seorang laki-laki putus asa yang memutuskan mengakhiri hidup dengan melompat dari sebuah jembatan. Ternyata lompatan dari atas jembatan ke Sungai Han tidak mengantarnya ke kematian. Alih-alih, arus mendamparkannya ke sebuah pulau kecil di tengah sungai. Singkat cerita, Kim memutuskan untuk menetap di pulau tersebut, bertahan hidup. Upaya survival Kim ternyata ditonton oleh seorang perempuan yang tinggal di apartemen bertingkat. Nama perempuan itu sama, Kim (diperankan Rye-won Jung). Ia punya hobi mengamati sekeliling dengan teleskop.

Suatu ketika, sebuah kebetulan—atau takdir—menggiring teleskop Kim nyasar memergoki Kim sedang berada di pulau. Jadilah ini jalinan cerita yang berjalan sepanjang film berdurasi lebih kurang dua jam tersebut: bagaimana Kim perempuan yang tinggal di apartemen bertingkat mengawasi Kim laki-laki yang tinggal di pulau kecil tengah sungai.

Dalam amatan dan pemahaman saya, di tengah premis yang—tampak—sederhana, alur yang mudah ditebak, serta penampakan visual yang sangat-sangat tipikal film Korea (i), Castaway on the Moon (selanjutnya disebut COTM) menjabarkan sesuatu yang lebih rumit dan tidak bisa dipandang sederhana: kelindan karut marut antara modernitas dan manusia yang hidup pada zaman tersebut.

Menjadi manusia yang hidup di zaman modern adalah sebuah tantangan yang berat, bikin capek, terasing, dan kebingungan. COTM menggambarkan bagaimana keterasingan dan alienasi yang harus dihadapi manusia yang hidup pada zaman modern. Zaman saat keberlangsungan sirkulasi modal adalah panglima, saat percepatan di segala bidang adalah sebuah kebenaran absolut. Pada suatu titik jenuh, seorang manusia akan mulai mempertanyakan alasan hakiki: what’s the purpose? It’s seems pointless. Apa lagi tujuan hidup di tengah keterasingan ini?

Dalam konteks Korea Selatan, negara yang konon sedang digadang-gadang sebagai the rise of new economic power dengan pertumbuhan ekonomi yang kian pesat, perusahaan-perusahaan multinasional yang menggurita ke pasar global (ii), hingga serbuan produk kultural yang tak terbendung bikin seorang gadis berjilbab di pojok Nganjuk memuja putihnya artis Korea (iii), tentu harus ada yang dikorbankan. Kim laki-laki adalah salah satu korbannya.

Saya paham benar ketakutan yang tengah dihadapi Kim. Pria di usia 30an, menatap nanar pada nasibnya di masa depan. Kim terbelit hutang dengan bunga besar, kehilangan pekerjaan karena perusahaan lamanya bangkrut, ditolak mentah-mentah saat melamar pekerjaan baru dengan alasan dirinya sudah terlalu tua dan kompetensinya kalah jauh dari para pelamar muda (score TOEIC Kim sangat rendah). Ia juga baru saja putus cinta dengan seorang perempuan. Lengkap sudah. Kim berada di titik nadir pemikiran: apa guna hidup di tengah semua nestapa ini? Ia jelas terseok-seok berusaha mengikuti ritme percepatan modernitas yang menggenjot pertumbuhan ekonomi Korea Selatan. Ritme yang bikin semua orang harus bergerak cepat, cepat, dan cepat, mengabaikan segala yang tidak ada hubungannya dengan perkara pertumbuhan ini.
Screenshot from 2017-06-17 07-50-44
Pengabaian ini dapat terlihat di adegan awal film saat Kim memutuskan melompat dari jembatan. Tampak begitu banyak mobil seliweran di jalan. Agak janggal jika di antara ramainya arus lalu lintas, tidak ada seorang pengendara pun yang melihat seorang laki-laki tengah berdiri di pinggir jembatan, dan berpikir bahwa laki-laki itu berjas, jelas bukan petugas perawatan perbaikan jembatan, maka, ia pasti mau bunuh diri, maka aku harus berhenti dan menolongnya.

Atau, inilah buah modernitas. Pengabaian adalah sebuah kewajaran. Menolong seorang laki-laki yang tak dikenal dari upaya bunuh diri tentu mengganggu arus lalu lintas, memaksa banyak kendaraan berhenti. Tidak bisa tidak. Roda harus terus berputar, sirkulasi modal harus terus berjalan. Maka, biarkan laki-laki itu menjadi sebuah angka di tengah statistik tingginya jumlah kematian karena bunuh diri di Korea Selatan. (iv)

Lain lagi Kim perempuan. Ia memutuskan tinggal di dalam kamarnya 24 jam sehari 7 hari seminggu tanpa keluar ke mana pun. Bagi Kim, kamar itu adalah benteng terakhirnya. Ia cantik, setidaknya dengan penilaian a la gelombang hallyu seperti yang saya sebutkan tadi. Namun, ia sangat tidak percaya dengan dirinya sendiri, ia kehilangan jatidiri. Maka, ia memutuskan hidup di dunia virtual: sosial media. Hari-hari Kim adalah memoles halaman sosial medianya menjadi rupawan: mengunggah foto orang lain yang menurutnya lebih cantik dan mendakunya sebagai diri sendiri, ia juga rajin update foto barang-barang belanjaan yang fancy dengan teks penjelasan seperti “sepatu baru, beli di Mall. Bagus nggak?”

Bagi Kim perempuan, inilah interaksi sosial yang nyata: bagaimana komentar, jumlah jempol, dan berapa banyak tiap postingan—palsu—nya dibagikan. Ia pada akhirnya memutuskan meninggalkan interaksi yang sebenarnya di dunia nyata. Mengunci rapat pintu kamar, menghayati keterasingan di kamar gelap dengan pendar layar 14 inci sebagai jendela. Pertanyaannya: lalu apa itu dunia nyata? Mana yang sebenarnya lebih nyata bagi Kim perempuan? Kamar gelapnya? Atau dunia tanpa batasnya di internet?
Screenshot from 2017-06-17 07-39-41
Setelah gagal mengakhiri hidup dan terdampar di pulau tengah sungai. Kim memutuskan untuk tinggal menetap di sana. Mulailah ia belajar survival. Bayangkan film Castaway (2000) karya sutradara Robert Zemeckis saat Chuck Noland (diperankan Tom Hanks) terdampar di sebuah pulau dan harus belajar bertahan hidup. Kim mengalami hal yang sama. Bedanya, Chuck Noland terdampar di pulau tengah samudera, sementara Kim di pulau tengah sungai di pusat kota, di mana jembatan jalan bebas hambatan merintang di atasnya dan salah satu tiang penyangganya berdiri kokoh di atas tanah.

Kim belajar berburu ikan, burung, dan bercocok tanam. Tiba-tiba ia menemukan sebuah pencerahan: ternyata hidup di wilderness ini lebih penuh kepastian daripada harus berjibaku dengan ketidakpastian di luar pulau: ketidakpastian bagaimana nasibnya di pekerjaan, ketidakpastian bagaimana cara membayar hutang dan bunganya, ketidakpastian bagaimana hubungan asmara. Di luar pulau, modernitas menjadikan Kim kehilangan tujuan hidup, rutinitas percepatan jadikan ia terasing, tersingkir di kejamnya persaingan pencarian kerja. Di dalam pulau, ia menemukan kembali satu tujuan hidup, satu alasan kenapa ia harus hidup: ia ingin mencicipi rasa mie kedelai hitam khas Korea. Sebuah makanan yang sejak kecil selalu ditolaknya, dan ketika terdampar di pulau ini tiba-tiba menjadi makanan yang wajib disantap sebelum ajal mendekat.

Maka, mulailah ia mencari cara agar bisa membuat mie. Ia mengumpulkan kotoran burung karena tahu burung makan biji, pasti ada sisa biji jagung tertinggal di kotoran. Ditanamlah kotoran itu, dan ajaib, ternyata tumbuhlah jagung. Singkat cerita, dengan bekal jagung yang telah dipanen, Kim berhasil membuat sebuah mie. Lantas, ia menyantapnya dengan perasaan meletup-letup, diiringi tangis dan sesenggukan yang entah dipicu bahagia atau sedih tak terpermanai: kesadaran bahwa tujuan hidupnya telah tercapai, ia telah mencicipi mie. Lalu apa berikutnya?
Screenshot from 2017-06-17 07-54-18
Di dalam kamar gelapnya, Kim perempuan menjadi satu-satunya saksi bagaimana prosesi panjang Kim laki-laki agar dapat mencecap rasa mie. Kedua manusia yang sama-sama terasing di tengah zaman modern ini akhirnya berkenalan. Setelah memergoki eksistensi Kim laki-laki di pulau, Kim perempuan memberanikan diri untuk keluar kamar—meski ia benar-benar menyusun strategi agar tidak berpapasan dengan orang lain, ia juga mengenakan helm berkaca gelap—berlari menuju jembatan dan melemparkan sebuah botol berisi surat. Kim laki-laki setelah membaca isi surat, akan membalas dengan cara menulis pesan di atas tanah pinggir pulau.

Pada akhirnya kita bisa merefleksikan hubungan pertemanan aneh dua Kim dalam film COTM, kaitannya dengan keterasingan manusia Korea di zaman modern, serta bagaimana kondisi yang sama terjadi di seluruh negara dunia, termasuk Indonesia. Tentu ada banyak Kim lain di sekitar kita. Mereka yang dirundung kesepian dan kehilangan tujuan hidup. Mereka yang akhirnya memutuskan mengakhiri hidup dan menyiarkannya langsung di facebook (v). Yang lebih penting kemudian adalah: di tengah segala keterasingan yang dipicu modernitas ini, menjadi lebih peka dan peduli pada manusia di sekitar kita adalah satu-satunya alasan yang menjadikan kemanusiaan tetap ada.

Sudahkah kita melihat dan peduli kepada manusia di sekitar kita? Apa yang terjadi dengannya, kenapa status media sosialnya saban hari menggambarkan teriakan sunyi minta tolong. Sudahkah kita peduli pada manusia-manusia malang yang menjadi korban percepatan dan sirkulasi modal? Atau, kita memang telah menjadi setali tiga uang dengan para pengendara mobil yang mengabaikan aksi bunuh diri Kim. Alih-alih menolong, kita lebih suka menertawakan tindakan laki-laki yang mengakhiri hidup di facebook sebagai tindakan bodoh dan pengecut. Sama seperti saat kita menertawakan dan mengolok-olok seorang perempuan yang bugil di tempat umum tanpa mau peduli dan peka bahwa perempuan tersebut bugil di jalan karena mengalami delusi yang dipicu adiksi benzodiazepine (vi).

Sudahkah kita berpikir bahwa mereka yang didera depresi dan menyendiri (persis seperti yang Kim laki-laki lakukan di pulau, dan Kim perempuan di kamar gelap) bukanlah karena mereka adalah attention seeker yang lebay. Mereka adalah seseorang yang kebingungan karena elan vitalnya muspra, tujuan hidupnya lenyap digelayuti sebuah hantu klinis bernama depresi. Maka, alih-alih merundung, menghakimi, menyalahkan mereka sebagai “manusia aneh yang tidak bisa bersyukur dan lebay”, seharusnya kita merangkul mereka, we should take care of them, mengajak mereka bersama-sama mendendangkan lagu “Menantang Rasi Bintang” oleh Festivalist, dengan ajakan “Uraikan simpul kacaunya!!!… Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah!!!”.

Di penghujung film, Kim laki-laki yang sudah menghayati jalan hidup barunya di pulau, akhirnya harus dijemput paksa untuk minggat dari sana. Sebagai pulau yang menjadi tanah bercokolnya tiang jalan tol, ternyata secara berkala ada petugas yang singgah untuk mengecek kondisi atau melakukan perbaikan. Saat para petugas menemukan Kim, mereka mengusir Kim dan berkata “tanah ini adalah properti milik negara, kamu nggak boleh tinggal di sini.”

Oh Kim yang malang. Di luar pulau menjadi korban yang tak mampu mengikuti roda perputaran modal, ketika memutuskan hidup di kesunyian wilderness pun ternyata harus tunduk pada negara, serta aparatusnya yang menyaru dalam bentuk para petugas. Ternyata wilderness itu pun semu. Tidak nyata.

Lagi-lagi, Kim perempuan menjadi satu-satunya saksi melalui teleskop, ia marah ketika melihat Kim laki-laki dikejar, diseret, ditarik paksa ke perahu lalu dibawa ke tengah kota. Maka, Kim perempuan memutuskan meninggalkan kamar. Tanpa helm, ia berlari mencari Kim laki-laki.

Di tengah kota, Kim laki-laki yang dilepaskan petugas memutuskan bahwa toh ia telah kehilangan hidupnya yang nyaman di wilderness pulau. Maka, ia memutuskan untuk menuju gedung pencakar langit, lalu melompat dari lantai 63. Kim naik bus, menuju gedung tersebut. Saat di dalam bus itulah Kim perempuan berhasil menemukan Kim laki-laki. Akhirnya, mereka berkenalan, bertatap muka, dan bercakap dalam sebentuk perbincangan yang sebenar-benarnya. Di titik itulah Kim laki-laki kembali menemukan elan vital, semangat hidup, dan Kim perempuan menemukan kembali apa itu interaksi yang sebenarnya dengan manusia di dunia nyata, di luar dunia virtual.

Aneh, janggal. Kedua manusia yang sama-sama kesepian, mengidap depresi, dan menjadi korban zaman modern, saling menolong dan menguatkan: life worth living. Pertanyaan terakhir yang muncul: di mana manusia-manusia lain di sekitar mereka berdua? Mereka yang katanya ‘normal’, tapi begitu abai pada kemanusiaan dan apa yang terjadi dengan manusia lain. Barangkali tidak perlu muluk-muluk peduli pada seluruh orang yang sesungguhnya tidak dikenal personal, tapi orang terdekat yang telah kita kenal begitu lama. Sudahkah kita berusaha mengerti dan peduli apa yang terjadi padanya? Coba. Mari kita tilik dan perhatikan orang dekat yang kita kenal lama, apa yang terjadi padanya. Lalu, putuskan: apakah kita akan meninggalkannya dan menghakiminya? Atau, kita akan merangkulnya, membantunya.

Di tengah kekacauan dunia modern, merangkul mereka yang kesepian adalah sebuah tindakan revolusioner.

Yogyakarta, 17 Juni 2017.

Catatan Akhir:

(i) Walau saya jarang menonton film buatan Korea dan kesulitan juga menjelaskan apa yang dimaksud dengan penampakan tipikal film Korea. Namun, barangkali yang saya maksud adalah bagaimana gelombang Hallyu alias Korean Wave terlihat jelas sebagai sebuah bentuk pemujaan pada kesempurnaan penampakan visual manusia rupawan. Hal yang mana memunculkan industri besar operasi plastik di Korea Selatan. Walau tidak bisa kemudian serta-merta disalahkan karena adanya perkara kebudayaan Korea Selatan yang memang mengganggap yang wajib dari hidup adalah sempurna. Maka, penampakan tipikal film Korea yang saya maksud barangkali adalah bagaimana film-film—atau serial televisi—buatan Korea Selatan sering menampakkan imaji visual kesempurnaan tersebut (cantik, ganteng, dunia yang indah).

(ii) https://www.forbes.com/sites/peterpham/2015/09/09/south-korea-the-seoul-of-the-worlds-economy/#545d530142c0 dan http://english.hani.co.kr/arti/english_edition/e_business/757139.html

(iii) Lihat Ariel Heryanto, Identitas & Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia (2015, Kepustakaan Populer Gramedia).

(iv) http://www.aljazeera.com/programmes/peopleandpower/2015/08/south-korea-suicide-nation-150827070904874.html dan http://www.bbc.com/news/magazine-34710403

(v) http://m.liputan6.com/news/read/2890628/pria-bunuh-diri-live-di-facebook-sering-keluhkan-hidupnya

(vi) https://m.detik.com/news/berita/d-3521562/vm-yang-nyaris-bugil-saat-belanja-positif-pakai-obat-penenang

Hantu

Tags

,

Ghost

Ceritakan padaku sesuatu tentang Hantu!!!

Ujar Alina kepada tukang cerita.

Maka tukang cerita berkata:

Deep inside there’s a parallel universe. Dunia kita ini sesungguhnya bercabang. Dengan banyak ragam alur kisah terjadi di saat bersamaan. Jauh di salah satu dunia paralel yang bernama Kahuna Plateau, hidup seorang bocah laki-laki bernama Bonbon. Entah mendapat wangsit dari mana, Bonbon yang sebenarnya masih berusia belia telah dengan tegas dan mantap memutuskan jalan hidup yang dipilihnya: Aku hidup untuk menghimpun dan menyusun ilmu pengetahuan.

Maka jadilah Bonbon menghabiskan 1 x 24 jam hidupnya untuk membaca, mengamati dunia, lalu menulis hasil amatannya tersebut ke dalam sebuah batu sabak persis seperti yang muncul dalam kisah nabi Musa.

Bonbon makin keranjingan membaca dan mengamati. Karena semakin lama ia merasa semakin bodoh dan hina: ternyata masih banyak yang belum aku ketahui dari keluasan semesta yang bahkan tak mampu digambarkan oleh imajinasi ini; oh tidak, ternyata begitu banyak kisah nelangsa di dunia, banyak manusia mati tak wajar, banyak aksi tipu-tipu demi kemenangan mutlak segelintir manusia berotak bebal.

Semua tampak begitu utopis. Bonbon merasa gembira sekaligus nelangsa di saat bersamaan. Tekadnya sudah bulat: aku akan mengobati dunia yang sedang kesakitan ini. Tidak bisa tidak, citaku harus dituntaskan.

***

Hantu itu mulai muncul di penghujung tahun. Mulanya hanya sesekali dalam sebulan. Lama-lama ia hadir saban waktu, menemani Bonbon memburu pengetahuan. Bonbon menyadari eksistensi hantu itu dan membiarkannya. Toh si hantu tidak menggangguku, pikir Bonbon kala itu.

Ternyata si hantu mulai nakal. Entah bagaimana si hantu punya kemampuan mengendalikan badan Bonbon. Si hantu mulai gemar mendiami badan Bonbon, menyusup ke pembuluh darah, menggumpal di jantung, serta ngendon di otak, terutama di amygdala yang sesungguhnya nyempil kecil seupil. Alhasil, Bonbon jadi sering merasa ketakutan bukan kepalang. Takut menghadapi apapun yang di luar rumah dan kamar tempatnya belajar. Jadilah Bonbon menjadikan rumahnya sebagai benteng pertahanan terakhir menghadapi dunia yang menakutinya. Bonbon sadar, ini ulah si hantu. Tapi tak mampu ia mengusir si hantu yang kadung bercokol kuat di badannya bak akar tunggang.

Di masa-masa tertentu, hantu itu bisa bikin Bonbon berubah bentuk. Si hantu akan menggiring Bonbon keluar dari benteng, lalu bertandang ke satu atau dua pesta yang digelar kawan-kawan di kota kecil dunia Kahuna Plateau. Di pesta itu Bonbon akan berdansa-dansi dengan irama musik yang syahdu, sembari bernyanyi riang tembang-tembang kegemaran.

Di tengah pesta, saat Bonbon sudah bercengkerama dengan sesama manusia, si Hantu mulai berulah: diubahnya badan Bonbon menjadi sesosok monster. Matanya nyalang merah, kakinya mendadak memanjang dua meter, dengan tangan kanan malih rupa jadi palu, dan yang kiri jadi sabit. Rambutnya menggeliat ganas adalah ular black mamba dengan bisa yang bikin mati manusia dalam duapuluh menit pascadipatuk.

Monster bonbon mulai berlarian ke sana ke mari di tengah pesta yang makin menggila. Si monster lompat-lompat dengan brutal. Ia juga punya kemampuan terbang meski tak punya sayap. Maka beterbangan ia ke langit-langit tempat pesta. Hal yang membuat para khalayak harap-harap cemas berpikir bagaimana kalau Bonbon benar-benar terbang menuju langit yang sebenarnya untuk menuntaskan urusan-urusan langitan?

Si hantu memang kurang ajar. Monster Bonbon yang tadinya berlarian, lompat dan beterbangan lalu diperintahkannya untuk jatuh gedubak di pojokan, menyendiri, menjauhi kerumunan. Bonbon merasa mual sekaligus muak. Ia mulai jengah pada laku si Hantu. Bonbon merasa sedih: aku hidup demi ilmu pengetahuan, senjataku adalah rasio dan logika, serta setumpuk rasa. Tetapi kenapa aku tunduk dan tak mampu melawan Hantu yang menggelayutiku ini? Maka muntahlah Bonbon. Mengeluarkan segala rasa jijik pada dirinya sendiri, serta amarah tak berkesudahan pada si Hantu.

Ketika tengah membuka keran air di wastafel, tiba-tiba Bonbon mendapat gagasan yang menurutnya cukup cemerlang. Jika si Hantu bersemayam tersembunyi dalam pembuluh darah, maka ia bisa diusir jika Bonbon mampu membuka keran di pembuluh darahnya, mengeluarkan sejenak darah yang bersalut esensi si hantu, membersihkan darah tersebut, lalu memasukkan lagi darah melalui keran yang sama.

Maka mulailah ia memasang keran di arteri. Keran itu tampak menonjol di pergelangan tangan kiri. Bisa dibuka dan ditutup sesuka hati. Rupanya si Hantu tak bisa dikeluarkan sekaligus dalam satu waktu. Si Hantu terlalu nakal, menancap kuat pada diri Bonbon. Ah tak jadi masalah, pikir Bonbon. Toh aku bisa membuka dan menutup keran di pergelangan tangan setiap saat. Jika dilakukan berkala, pasti nanti si Hantu akan musnah total dari aliran darah dan jantung. Muspra, sirna, moksa.

***

“Loh aku kan minta diceritakan sesuatu tentang hantu. Harusnya muncul gerombolan memedi semacam tuyul, kuntilanak, pocong, dan makhluk seram lainnya dong. Ini ceritamu kok malah terdengar seperti kisah mental disorder?” Protes Alina pada tukang cerita.

Lalu tukang cerita menjawab: “justru itu. Bukankah perkara mental itu seperti lazimnya hantu? Antara ada dan tiada, sulit dipercaya, tapi memengaruhi dengan ampuh bagaimana kondisi fisik manusia. Mind over matter begitu loh.”

“Benar juga sih. Ah ya sudah. Aku mau jalan ke kota sebelah. Mencuri senja yang paling indah, lalu menguburnya dalam-dalam di sebuah tanah indah untuk mereka yang terlupakan, rusak, dan ditinggalkan,” tutur Alina.

Si Tukang Cerita turut serta bersama Alina.

Yogyakarta, 15 April 2017.

#prosa #fiksi

In Vernacular Music We Trust

Tags

, , , , , , ,

Photo: khanacademy.org

Photo: khanacademy.org

It is a well-known pattern in the cultural-studies field: the dichotomy between established and vernacular culture. Although the former is always remarkably known when we mention culture, the latter somehow has its own importance to the continuity of culture.

Specifically in music, the pattern always has similarity to our historical timeline. For instance, for the last five years, folk music has been positioned as the new “everyone’s favorite” on the Indonesian indie scene. If you form a duo with one guitar or a ukulele player, one singer who sings a typical lyric about pulang (coming home) or hujan (rain), intertwine a minimalistic arrangement with one or two bars of glockenspiel, you’re going to be considered a folk musician.

So, folk has arisen as the new established culture then. But if we take a look back in time, folk music is vernacular. Gypsy music was a pain in the ears for the European aristocratic royals. As time went by and the music trended, it changed path all the time, folk music moved from the vernacular into established culture. In particular, we could mention 1970s folk troubadours such a Bob Dylan, Woodie Guthrie, or the Indonesian version of both: Iwan Fals.

The case of folk music on our indie-scene is the perfect example to speak about the significance of vernacular music in our culture. How vernacular idioms have shaped our modern music.

In his book Noise Uprising: The Audiopolitics of a World Musical Revolution, Michael Denning defines vernacular music as a music that emerged and was played outside the aristocratic tradition. On its breakthrough, the aristocrats labeled vernacular as noise, the unwanted frequency. The vernacular music being disseminated was heard as noise by the established and cultivated elites: it was unrespectable and disrespected. Moreover, Denning argues that the vernacular music revolution emerged from the soundscape of working-class daily life in an archipelago of colonial ports.

Like Denning, in his book The Rest is Noise: Listening to The Twentieth Century, Alex Ross said that everything outside the established status-quo of music could be considered as a noise, or vernacular. Thus, Ross mentioned how jazz, in its dialectic of establishment circa the 1920s was labeled as noise by established music patrons, even by famous Frankfurt school thinker Theodor Adorno, whose essays of the 1920s and 1930s denounced jazz as “world-economic resonance in cheap foreign locales that could be imported at will”.

Maybe Adorno never thought that jazz would later move from the soundscape of the workingclass pub into those fancy highclass cafes. Jazz is not vernacular anymore; it is now the signifier of high-art music grandiose.

Henceforth, we can see the signification of vernacular music is crystal clear. The list would be long if we tried to write it down. The 1990s had their renowned Seattle sound movement. Beforehand, the Seattle sound was an underdog in the American music scene. Suddenly it all changed when Nirvana boomed, the media give it the name “grunge”, voila, vernacular music conquered established music.

In traditional Indonesian music terms, Javanese gamelan could be considered one of the most notably known ethnic ensembles. The long history of Javanization by the New Order put gamelan in the privileged position of “national high-art culture”. It is a product of established aristocratic society, invented and played inside the high walls of the Javanese sultan’s palace.

Lay people could not play the gamelan simply because they could not afford to buy the expensive bronze instruments. Thus, they lacked access to this musical genre.

As a result, the people who lived near Yogyakarta palace invented their own type of gamelan, using a cheaper and affordable material that grew everywhere across the archipelago: bamboo. This was genius. People from Banyumas, and other southern areas of Java, invented their calung or angklung, so they had their own kind of Karawitan. Of course, it was labeled as lowart by the established aristocratic gamelan artists.

Nowadays, we can hear this vernacular bamboo instrument all across the city of Yogyakarta. On the corner, by the traffic lights, calung are played by street buskers. At the mall, the fancy symbol of modern life, sometimes we can hear familiar bamboo tunes.

Even at government functions, sometimes calung ensembles play. The vernacular bamboo music from the past now surrounds Yogyakarta, the center of established aristocratic music.

Meanwhile, in the pop music industry, we hardly recognize dangdut — a mixture of Malay, Indian and rock — labeled as noise or called “dog s**t music” by famous rock singer Benny Soebardja in the 1970s. Since then, however, dangdut has been labeled vernacular music.

The funny thing is, as sociologist Ariel Heryanto writes in his pop culture study on how female dangdut singer Inul Daratista emerged in the 2000s, once again we can learn from the significance of vernacular music.

At that time, dangdut changed the trend of the Indonesian music industry. Rhoma Irama forced Ahmad Albar, a famous rocker, to write the dangdut-style “Zakia”, Inul could make pop group Project Pop arrange a Linkin Parkstyle song titled “Dangdut is The Music of My Country”.

Time will tell, the significance of vernacular music must be a blatant vision to our eyes now. Without doubt, vernacular music has shaped modern music. It reinvented the genres, trends and tunes we hear.

On the other hand, speaking about industry and capitalistic motives, while recognizing the significance of vernacular music, the established status quo (artists, record labels, media) will easily dismiss the belittled vernacular as noise — disrespectful and annoying harmony. They will reinvent vernacular music so they can sell it.

A good example of this phenomenon is the viral “om telolet om”, the vernacular phrase originated from kids who yelled to bus drivers to sound their unique telolet horn. When this phrase and three-to-five second melody became viral, a Western DJ remixed it into a song.

The lesson from vernacular music: snobbery is nonsense then. Sometimes when we hear music dubbed as high art, we easily judge vernacular music as low art, shallow or noisy. It is a shame because history has proven that vernacular music plays as pivotal role as that of established music.

Until it is proven otherwise, our pretentious judgment of vernacular music is nonsense and snobbish. And it will not bring us anywhere other than shallow debate.

Now, in vernacular music we can trust. As Béla Bartók wrote in his 1933 reflections: “The urban [established] music frequently sounds stilted, affected and artificial; the peasant [vernacular] music, on the other hand, gives the impression of being a far more spontaneous and vivid manifestation”.

*Featured at The Jakarta Post.

#30daymusicchallenge

Tags

, , ,

​I don’t know who start this #30daymusicchallenge campaign, but i think this is good. So, first time i found it in twitter, without a doubt i decided to join it, start to share my daily music playlist. 

It is good due to fact that our social media nowadays has been full with that hate speech information, the sectarian and racism tweet caused by “Pilkada” political drive. Mostly it is a hoax and so many people believe it without questioning the validity of the information. In my opinion, by sharing what kind of music we like, it is a form of resistance. We fought those stupidity caused by political drive. We spread positive things.

I’m already in my seventeenth days now. If you want to take a look at some of my other music playlist, feel free to scroll my twitter timeline at @arissetyawan.

Oh, I’ve decided to write in english for the purpose of future learning. Who knows next year i could continue my master studies, i need to write that academic writing, so i should start to practice now. Or, I considered that next year i should try to send my writing to several media with english content.

Pardon me for my bad english. Many grammatical error here and there. For future learning, grammar critics are welcomed.

————

#30daymusicchallenge Day 10: Edward Elgar – Cello Concerto in E Minor, Op. 85. https://www.youtube.com/shared?ci=yLpW1wvD-BM

There’s common belief in our musical life that ‘major’ key is representation of happiness while in the other hand ‘minor’ key stand for sadness.

The fact is, some studies found that dichotomy is a myth. Some neuroscience study found that major or minor keys doesn’t particularly affect our emotion. Our emotional reactions to keys are informed by our cultural preconceptions. The Western musical canon has always attached sentiment and gravity to minor keys, so we are preconditioned to indulge those notes with more emotion and sensibility.

Although i personally have known that fact, it is pretty hard to avoid the precondition deep inside my subconscious. So, generally i always think minor is sad.

Based on that subconscious precondition, my emotion suddenly changed to be sad and gloomy when for the first time i heard “Cello Concerto In E Minor Op. 85” composed by english composer Edward Elgar. The piece was composed by Elgar during the summer of 1919. It is almost 100 years ago. The work has four movements. The Cello Concerto is for the most part contemplative and elegiac.

Elgar composed it in the aftermath of the First World War. Maybe, that’s why the sadness is so intense due to the context of post-war world. I used to think that maybe some member of Canadian post-rock group Godspeed You! Black Emperor is Elgar’s aficionado, and this concerto influence them to compose twenty minute post-apocalyptic-dystopian post-rock masterpiece.

I always love cello, especially when the cellist is female. Sol Gabbeta, the concert master or soloist of this piece was marvelous. Look at her expression! There’s something spiritual and transcendent on the way she play that bow. Feels like the end is near.

——–

#30daymusicchallenge Day 11: Radiohead – Weird Fishes/Arpeggi https://www.youtube.com/shared?ci=PH9AguAgHHs

As a proud Radiohead fan, of course i never get tired of any songs from their discography, except Pablo Honey, the debut i never heard, sorry “Creep” admirer. But, this single from “In Rainbows” album is special coz i take it as my personal “curhat”.

Whether the lyric or music arrangement, everytime i listening “Weird Fishes/Arpeggi”, it is always makes me questioning everything i’ve done in my life. 

Yorke’s lyric (or poetry) is subtle yet blatant. Feels like we read one of Jules Verne sci-fi. He use the metaphor such a “in the deepest ocean / the bottom of the sea” to mention educational institution (Oxford?), and “Your eyes / They turn me” to criticize the omnipotent educational system. Just like God who have great power called faith, occasionally, education could turn you, homogenized you!

Moreover, Yorke questioning his free-will “Why should I stay here Why should I stay?”. I take it personally as my skeptic tool then: do i really need educational institution to broaden my knowledge and world-view? Or those institution is such a darkest deepest ocean that institutionalized me, and narrowing my perspective.

The music arrangement also an exquisite in term of music theory. I don’t want to talk about catchy groovy Selway’s drum beat, monotonous 4/4 typical drumming beat–if we compare it with 5/4 from  15 Steps. Instead, their chord progression is more interesting.

The reason why they put “Arpeggi” after “Weird Fishes” as the title is something technical. Originated from an arpeggio, a type of “broken chord” where the notes comprising a chord are played or sung in a rising or descending order. That arpeggio works. It is build the pressure of deepest ocean, the darkest world, part of earth where sunlight cannot reach. Place where weird fishes produce their own light in a tiny bulb on their head to lure tiny fish and eat them.

Sounds like big academia or professor in big educational institutions huh? With their so-called academia grandiose try to lure new students with the promise of “brighter academia future”, but in fact, sometime it’s all just about their own agenda. Those academia status quo will eat you, poor tiny fish.

———-

#30daymusicchallenge Day 12: Susan & Ria Enes – Susan Punya Cita-Cita https://www.youtube.com/shared?ci=xdiXnsiPIDc  

I think, this two songs are the most notably known anthem for Indonesian who spent their preteen at 90s: “Si Komo Lewat” by Kak Seto, and “Susan Punya Cita-Cita” by Susan & Ria Enes. The latter is what i want to talk about.

Back then. We live in a simulacra. The new order has a power to control every aspect of our life. The regime have this “pembangunanisme” (Developmentalism?) agenda. “Cita-cita” (future goal) is mandatory for kids, and for the purpose of development, you’re a good kids if you have a “cita-cita” to be doctor, engineer, architect, and wealthy high class what Susan called kongmelarat, ups, konglomerat (conglomerate). 

You set your “cita-cita” as philosopher? Leftist artist? Social science academia? Whoaaa, hold on, you better stop it now kiddo! It has nothing to support our developmentalism agenda.

Sounds like Susan–the cute smiling doll–and Ria Enes–the puppet master try to glorify new order pembangunanisme huh? But i think, deep inside, use Zizek psychoanalysis as analytical tool, i’m considering to conclude that Ria Enes try to talk something else rather that “pembangunanisme” future goals.

By using Susan as her spokesperson,  Enes try to challenge the dictator: “cita-citaku ingin jadi presiden” (my future goal is, i want to be president). Without a doubt, this line is something subversive due to the fact that Soeharto has been in power for almost 30 years. And probably, this subversive line is such a pain in the arse for the dictator, but he cannot do anything coz the popularity of the artists: Indonesian people admire and adore them.

For the next lines, Susan mocks conglomerate when she deliberately make a mistake of mentioning “konglomerat” as “kong-melarat”. Originated from Javanese, melarat is “miskin” in bahasa (poor). Seems that she want us–90s kiddo–put an attention to the caste of Indonesian society. When hunger and slum so “melarat” they stay hungry to the death, while at the same time the middle-high-class peoples (mostly who has a business with the dictator or the family) living their wealthy “konglomerat” life.

Thank you Susan. For that happily yet subversive preteen. At least for me.

———-

#30daymusicchallenge Day 13: Led Zeppelin – Moby Dick. https://www.youtube.com/shared?ci=0_JmcsfDLN8

Actually it was released one year earlier from the 70s. The instrumental track was featured at second ‘untitled’ Led Zeppelin album (known as Led Zeppelin II). But, it was released at october 1969. No internet, no spotify, no youtube, no torrent. Let assume that the music need 2-3 month to spread widely all across the world. And, voila, it is 70s now.

I used to think that Robert Plant, after introduce Bonham, will going to backstage or stand at the side wing, sip his whisky, lit his cigarette, and watching his bandmate turn into powerful trio.

The music backbone based on twelve bar drop d-blues riff played by Page and Jones. While Bonzo at his set is such a singer for this song. He singing with his drumset.

I remember one phrase from “Whiplash” movie. The quote with the picture of legendary American jazz drummer Buddy Rich. The quote said: ” IF YOU DON’T HAVE ABILITY, YOU WIND UP PLAYING IN A ROCK BAND.” It’s kinda sarcastic-cynical way to mocks rock music. Jazz is for skilled musician due to the fact that sometimes the improvisation is pretty hard. On the contrary, rock is for unskilled musician due to it’s simple 4/4 beat added with 2-3 min solo guitar to make it looked more sophisticated.

That’s not how things work in music. Every genre has it’s own aesthetic. That’s why you can’t force every musician to be as skilled as you dear jazz maestro.

Back to Moby Dick. In the name of rock, Bonzo didn’t need to understand paradiddle or triplets or any kind of rhythm techniques. He just need to beat that drum harder, faster, stronger. Rock is about plethora of delight. That’s why Bonzo put that big gong cymbal behind.

As a drum player. I admire Bonzo. Not in the technical drumming technique thing. Like i said before, it’s all about plethora of delight. The only question is: how come he could beat every tune perfectly with that drunk face? I don’t think he is sober when he playing. Take a look at the video! You’ll know what i mean. If you look closely to the background you’ll see Terrence Fletcher yell to Bonzo “Faster! Fastsr! Keep playing! Keep playing!”.

Most the time, after hit 3-4 min of solo drum, he will throw his sticks to the audience. And playing with bare hand. Now, he’s a virtuoso percussionist. He beat that snare, tom, and cymbal with the bare hand just like the way percussionist playing bongo or conga. It’s like sacred ritual. Bonham is ready to sacrifice his blood in the name of rock. Sometime he drawing blood while act his solo. Something i said before that’s why i admire him. I will think twice before beat that hard sharp cymbal with bare hand. Bonzo, he never think twice. 

Furthermore, i think Bonzo could be considered as a pioneer of this bare hand drumming technique. At the modern time, several drummer–mostly in jazz scene–playing this technique too. For instance, Dave Weckl and Benny Greb. Both drummer love to beat their set as percussion in some performance. And both playing with the gentle pressure, it is so good in term of dynamic, timbre, and tune colour. While Bonzo play it rough, the sound colour sometime feels so raw. But, that’s rock. Rough, hard, full of blood. Literally if we remember how Bonzo drawing blood.

Too bad he’s gone. At his death, still, it’s all about plethora of delight. He died after twelve or more shot of Vodka. He died while fall asleep, choked by his own vomit. 

His drumming character is to strong. No successor could replace this charismatic drummer. No other option for three bandmate, so they decide to disbanded.

Pesan Singkat Dari Ibu

Tags

, , ,

Kapan mulih le?

Pesan singkat dari ibu masuk ke kotak masuk telepon genggam saat saya tengah berada di keramaian. Singkat. Namun, tiga kata itu bermakna begitu dalam, mampu melontarkan saya dalam lamunan saat itu juga. Keramaian di sekitar mendadak menjadi sunyi. Atau meminjam lirik pop niaga bintang pop cum calon bupati Bekasi, di dalam keramaian aku masih merasa sepi. Bahkan kedalaman makna pesan singkat kiriman ibu bikin saya masih merenungkannya seminggu kemudian.

Sepintas, ibu hanya bertanya “kapan pulang nak?”. Namun, pesan itu berarti lebih. Tiga kata itu adalah ungkapan kangen berat seorang ibu pada anak laki-lakinya. Anak yang kurang ajar barangkali, karena jarak Yogyakarta-Karanganyar sangat dekat, dapat ditempuh naik motor kurang lebih 2,5 jam. Atau jika malas bermotor karena harus bermanuver menghindari lubang-lubang menganga di jalan raya Klaten, bisa naik kereta Prameks bertiket 8 ribu lalu naik bus jurusan Tawangmangu. Tapi, si anak laki-laki kurang ajar ini memang jarang sekali pulang ke kampung.

Tiga kata dalam pesan singkat itu juga menyelipkan kecemasan dan keraguan seorang ibu: apa sih yang kamu lakukan di Jogja nak? Apa yang kamu lakukan untuk hidupmu? Usiamu tak lagi belia.

Ibu mengirim pesan singkat melalui ponsel Nokia butut. Beliau enggan menggunakan ponsel pintar karena kesulitan mengetik melalui layar sentuh. Meski daya Nokia bututnya sering ngedrop karena usia baterai yang sudah uzur, beliau masih setia menggunakannya. Menurut ibu, saat mengetik harus ada bunyi ‘klik-klik-klik’ dan persentuhan kulit jari dengan tombol. Yang terakhir tak dapat beliau temukan di layar sentuh.

Lain lagi bapak. Beliau sudah beberapa bulan ini menggunakan ponsel pintar produksi negeri ginseng. Bapak kini menggunakan whatsapp, rajin mengunggah status di laman facebook. Bapak lebih sering menghubungi melalui whatsapp.

**

SMS dari ibu melontarkan saya pada lamunan retrospektif: kenapa saya jadi manusia model begini?

Ibu dan bapak lahir dari keluarga petani turun-temurun. Itulah hidup mereka sekarang. Pertanian sayur-mayur adalah apa yang mereka geluti sejak kecil hingga sekarang.

Barangkali, bagi ibu dan bapak tak pernah ada jargon “menanam adalah melawan”. Karena desa kami di lereng Lawu tak pernah merasakan konflik pertanahan yang sering terjadi—dan belakangan makin sering terjadi—di beberapa wilayah nusantara. Setidaknya hingga sekarang. Nggak tahu juga kalau cepat atau lambat akan ada konflik juga, mengingat kita ada di sebuah negara yang sering menyerobot hak hidup orang banyak demi kata kunci ‘pembangunanisme.’

Bagi ibu dan bapak, menanam adalah pekerjaan yang memang harus dilakukan, bukan upaya perlawanan. Menjadi petani adalah pekerjaan turun-temurun yang diwariskan kakek-nenek. Itulah yang mereka lakukan terus menerus. Meminjam falsafah Jepang, ibu dan bapak tengah mempraktikkan laku shokunin, sebuah tindakan melakukan sesuatu secara rutin, terus-menerus, tanpa adanya ambisi menjadi istimewa atau menjadi lebih besar dari orang lain.

Kembali ke pertanyaan di atas: kenapa saya tak mengikuti jejak mereka menjadi petani?

Bagi ibu, bidang yang saya geluti tentu saja asing. Musik dalam pemahaman ibu adalah Ratih Purwasih, Betaria Sonata, dan Haddad Alwi Feat Sulis yang beliau mainkan di pemutar kaset pita butut merek Polytron. Gulungan seluloid yang beliau tebus di masa lampau saat saya masih di bangku sekolah dasar. Masih diputarnya hingga sekarang. Tak kenal ibu dengan layanan musik daring Spotify. 

Buku dalam kamus ibu adalah kitab suci, dan buku-buku agama yang beliau dapat dari majelis pengajian. Tak kenal ibu dengan segala diktat teori, catatan wacana, atau tetek bengek rigid seni dan budaya yang saya baca atau tulis ulang.

Pesan singkat tiga kata dari ibu melontarkan saya ke ingatan bahwa dua tahunan yang lalu ibu pernah berujar “le, kowe kan wis lulus kuliah, ibu ki njuk bingung yen ditakoni tetangga, kowe ki kerjane opo toh le saiki?” (nak, kamu kan sudah lulus kuliah, ibu tuh bingung kalau ditanya tetangga, kamu tuh pekerjaannya apa sih sekarang nak?)

Pesan singkat ibu memang sakti. Saya gundah gulana dibuatnya. Mempertanyakan ulang apa-apa yang saya lakukan sepanjang hayat yang hampir kepala tiga. Jangan-jangan segala apa yang saya percaya ternyata sekadar bayangan utopis? Bahwa ternyata kesenian dan kepenulisan yang saya lakukan begitu berjarak dengan realita di masyarakat. Bahkan, ibu dan bapak pun tak pernah benar-benar mengerti apa yang saya lakukan, dan secara berkala mempertanyakan “apa yang kamu lakukan untuk hidupmu nak?”

Saya jarang pulang kampung karena mulai malas harus menjelaskan lagi dan lagi, betapa saya mencintai pengetahuan, bahwa saya masih ingin membaca, melihat, mendengar, merasa, kemudian mencipta lebih banyak karya. Saya malas harus menjawab cecaran pertanyaan “kapan menikah?” “kapan bekerja di kantor?”

Ah, tapi itu bukan salah ibu dan bapak. Kalau dipikirkan lebih dalam, saya yang salah. Evaluasinya adalah, berarti saya harus mencari cara agar apa yang saya lakukan lebih mudah dipahami ibu dan bapak. Saya harus mampu menjabarkan gagasan bla bla bla estetika musik atonal a la Schoenberg atau estetika partisipatoris kolektif hip-hop Homicide kepada ibu yang saban hari mendendangkan “Gelas-Gelas Kaca” atau bapak yang menyanyikan “Kolam Susu” sembari membersihkan cangkul yang kotor.

Pesan singkat ibu semacam ramalan. Beliau tak pernah mendengar anak laki-lakinya curhat perkara nominal. Namun, ibu semacam pembaca pikiran yang mengerti benar bahwa pilihan hidup anaknya menjadi penikmat pengetahuan, telah menjadikan si anak hidup dalam keterbatasan di kota gudeg. Agaknya ibu mengerti, anaknya sering masygul saat honor menulis yang tak seberapa tak kunjung cair. Maka, ibu menyuruh pulang agar bisa ngepuk-puk si anak. Atau membekali sekarung beras dan sayur panenan sendiri untuk dibawa ke Jogja.

**

Ibu dan bapak tidak mengenal hari sabtu dan minggu seperti para pekerja kantoran. Barangkali sekarang bapak sedang menggenggam kokoh cangkulnya, atau menggendong alat semprot merk Swan dan menyemprot tanaman cabai agar bebas hama. Sementara ibu mengenakan caping untuk melindungi diri dari sengatan panas matahari, menyiangi rumput teki nakal yang nyempil di sela-sela daun bawang dan tomat.

Sabtu bukanlah weekend bagi mereka. Minggu—atau ahad dalam bahasa mereka—adalah hari yang sama, bergulir silih berganti. Hari untuk meneteskan peluh merawat tanaman di ladang, mengunduh hasilnya kala panen, lalu menjualnya di pasar Karangpandan.

Sabtu bukanlah saat traveling. Minggu dalam kamus bapak dan ibu adalah ahad nan bersahaja. Pagi setelah subuh, sebelum bercocok tanam mereka akan bertandang ke masjid desa seberang, hadir ke majelis pengajian dan menghayati kefanaan manusia di tengah keluasan semesta.

Di mata saya, ibu dan bapak adalah manusia juara. Wujud nyata petuah “nrimo ing pangdum” dan keikhlasan menjalani kehidupan, baik dan buruknya.

Sementara saya, anak laki-lakinya terkadang masih suka masygul dan gulana saat didera cobaan segelintir. Masih suka nelangsa atas jalan hidup yang saya pilih sendiri. 

Duh, semoga saya bisa terus belajar pada kalian ya ibu dan bapak. Semoga ibu dan bapak sehat selalu.

Insya Allah, kulo mantuk akhir bulan nggeh bu

Balasan pesan singkat saya kepada ibu. Janji pulang ke rumah yang belum bisa saya tepati.

Yogyakarta, 19 November 2016.

Altruisme Dorong Motor

Tags

, , ,

altruism-1272x442

Gambar dari evolution-institute.org

“Enten nopo mas? Telas bensin’e? Pun nggo kulo surung mawon?!!”

Hampir jam 10 malam di jalan Wates. Bermaksud hendak pulang cepat ke rumah untuk segera berbaring di kasur, melepas penat dan lelah. Malang tak bisa ditolak. Motor saya mogok. Bensin di tangki masih ada, distarter berkali-kali mesin enggan menyala. Mampus pikir saya waktu itu, karena jarak menuju rumah masih jauh nian. Bengkel tak mungkin ada yang buka. Mendorong motor adalah pilihan paling masuk akal, walau jauhnya masih bukan kepalang.

Baru beberapa meter mendorong motor, saya disamperi seseorang—eh dua orang tepatnya karena dia memboncengkan seseorang lagi—dengan motor bebek. Mas-mas berusia lebih kurang 30 tahunan, memboncengkan seorang bapak tua, sepertinya orang tuanya. Tanpa babibu basa basi perkenalan, si mas tahu kendala saya, langsung menawarkan diri mendorong motor saya. Si mas ngotot membantu meski saya jelaskan bahwa rumah saya masih jauh, dan arah perjalanan kita sebenarnya berlainan. Saya menuju arah Godean, si mas menuju Wates.

Malam itu saya tertolong, urung mendorong motor berkilo-kilo sampai rumah. Si mas—entah siapa namanya, kami tak sempat berkenalan—dan bapaknya, mendorong motor mogok yang saya kendarai. Sembari mengendarai motor kaki si mas mendorong knalpot motor saya. Sampai dekat rumah, saya hanya sempat mengucapkan terima kasih. Tanpa babibu si mas langsung pamit pergi, tak ada gelagat mau minta imbalan.

Si mas pendorong motor membuat saya sadar bahwa di tengah dunia kapitalistik yang mengukur segalanya dengan takaran untung-rugi ini, saat egoisme dan kepentingan diri sering menjadi yang utama, ternyata masih banyak orang baik penganut altruisme, Paham atau sifat lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain.

Si mas hanya salah satu kasus mogoknya motor saya. Sebelumnya di wilayah berbeda di Jogja, saya sempat mengalami mogok beberapa kali. Seringnya karena lupa mengisi bensin. Jarum indikator bensin saya rusak, jadi kadang saya tak tahu cadangan bensin di tangki. Tahunya ya begitu sudah di jalan sepi, tidak ada penjual premium eceran, eh ternyata habis. Saat mendorong motor, sering ada orang berhenti, menawarkan bantuan mendorong motor sampai mendapatkan bensin.

Ini Jogja. Kota yang mulai dikeluhkan banyak orang karena laju pembangunan tak terkendali, kota yang katanya sedang dikuasai investor dan pengembang, kota yang jumlah kawasan komersilnya kian banyak melebihi infrastruktur pendidikan. Di tengah sengkarut pembangunanisme ini, orang-orang Jogja di akar rumput masih hidup bersahaja. Bersenjatakan altruisme, mereka saling membantu antar sesama. Tanpa hitungan hari ini dapat untung berapa dari aksi tersebut.

Grup Facebook Info Cegatan Jogja adalah ruang altruisme paling mutakhir bagi warga. Awalnya digunakan untuk berbagi info lokasi razia kendaraan yang dilakukan polisi di seputar wilayah Jogja. Namun belakangan saya perhatikan grup ini sering juga membagikan info jika ada seseorang dengan kendaraan mogok butuh bantuan. Akan ada seseorang yang memposting informasi bahwa ada seseorang di lokasi tertentu butuh bantuan, siapa berada dekat dengan lokasi harap membantu. Tak lama berselang biasanya akan ada yang berkomentar, mengatakan dekat dengan lokasi dan siap membantu. Menjemput si malang yang motornya kehabisan bensin atau mogok tengah malam.

*

Sudah setahun saya menyingkirkan sistem operasi buatan perusahaan raksasa Bill Gates, dan memutuskan untuk menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu di laptop saya. Awalnya, saya memutuskan hijrah ke Ubuntu hanya karena sadar bahwa kebutuhan komputasi saya tidak muluk-muluk. Saya hanya butuh laptop untuk menulis, mendengar musik, menonton film, berselancar di dunia maya. Saya tak butuh piranti lunak untuk desain, menyunting video atau foto. Setelah baca sana-sini, Ubuntu sudah memenuhi kebutuhan tersebut. Ubuntu juga gratis, bisa digunakan tanpa perlu membayar seperti sistem operasi tetangga sebelah.

Semakin lama mencoba Ubuntu, saya mulai belajar banyak hal. Sistem operasi ini bukan bikinan sebuah perusahaan besar yang membayar karyawannya untuk menulis kode-kode binary. Jadinya, Ubuntu tentu masih banyak kendala di sana-sini. Terkadang sistem operasi ini tidak mendukung piranti keras laptop, buntutnya ya speaker tidak keluar suaranya, atau touchpad laptop tak bisa digerakkan.

Sistem operasi keroyokan. Dikerjakan oleh banyak orang dan komunitas dari berbagai belahan dunia dengan satu minat yang sama: menciptakan sistem komputasi yang lebih baik bagi dunia. Berbeda dengan tujuan sistem operasi perusahaan raksasa itu kan? Saat semua diukur dengan angka. Tidak percaya? Coba tebus lisensi sistem operasi Jendela-Jendela! Tercengang dengan jumlah nominalnya?

Untuk memperbaiki kendala di Ubuntu, saya mulai rajin menelusuri forum-forum Linux atau Ubuntu yang tersebar di internet. Di situ selalu ada jawaban. Selalu ada orang yang menjawab pertanyaanmu. Para guru yang sukarela menelusuri permasalahan yang dipaparkan seorang pengguna baru, lalu memaparkan langkah demi langkah solusi untuk masalah tersebut.

Linux Ubuntu adalah contoh lain dari altruisme ini. Masih ada ya jaringan organik komunitas lintas negara, mau merelakan waktunya untuk coding, menyempurnakan sistem operasi ini. Mengikhlaskan diri menjawab setiap pertanyaan di forum-forum dunia maya. Membantu seorang pengguna baru di negara dunia ketiga yang bahkan tidak dikenalnya, seseorang yang memiliki nama yang susah dieja oleh lidah pembicara bahasa Inggris, seseorang yang mungkin tak akan pernah dijumpai secara nyata. Altruisme ini dilakukan dengan keyakinan bahwa hidup yang baik adalah saat orang lain merasakan kebaikan yang sama dengan apa yang kita rasakan.

Entahlah. Apa ya kesimpulannya? Mungkin ya. Mungkin agar kita jangan takut. Di luar pembacaan statistik bahwa dunia tidak baik-baik saja, bahwa 1 % menguasai kekayaan dunia sementara 99 % penduduk dunia adalah budaknya, masih banyak orang baik. Barangkali, masih ada harapan untuk hidup yang lebih baik. Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah!!!

Yogyakarta, 13 Agustus 2016.

Tentang Perempuan

image

Aku tidak tahu apa yang bikin cerlang mata itu digdaya. Yang jelas ia bikin gamang.

Perempuan datang dengan sejuta asa. Tekadnya kokoh sepejal selonjor cemara menjulang.

Perempuan pergi dengan tangis. Ah, mana aku tahu isi hatimu. Itu palung terlampau dalam menyublim berani.

Labirinmu menyesatkanku dalam jalan memutar tiada batas.

Perempuan datang kembali dengan sejuta mimpi. Bahwa suka dan cita makin tak terpermanai. Tidak bisa tidak harus dijabarkan dengan gamblang.

Tapi. Kecipak rinai hujan bulan Juni toh mengisyaratkan: masygul dan gulana ini hanya sementara. Tak usah turut serta pada godaaan celaka.

Perempuan datang dan pergi. Satu jua yang harus berani, menghadapi aku dan pelbagai keliaran imaji.

O, aku dan segala emosi.

Perempuan mana betah denganku sampai nanti? Akan kucium keningnya saban hari, kujaga dari jahatnya dunia yang makin tak terkendali.

Yogyakarta, 23 Juni 2016.