Arsip untuk ‘Tak Berkategori’ Kategori

Review: Kedua Kalinya Saya Menonton Konser Koil Di Alun-Alun Sragen 11-12-2008.

Desember 13, 2008

rock-in-koil-concert

Waw, menyenangkan rasanya dapat kesempatan kedua untuk bisa menghadiri konser Band Industrial Rock ini. Setelah beberapa waktu yang lalu sempat melihat penampilan gahar mereka di Parkir Stadiun Manahan Solo. Sebenarnya jarak antara Sragen dan Karanganyar cukup jauh, tapi demi Koil ya Saya dan kawan Saya Hary Goodboy bela-belain berangkat. Kapan lagi bisa nonton Koil? Kalau nunggu ada EO yang manggil mereka Main ke Karanganyar kayaknya enggak deh. Enggak ada maksudnya. Koil main di Sragen dalam rangka tour yang digelar oleh salah satu produsen Rokok yang asalnya dari Amrik. Sebelum kawan-kawan Koil menghajar Massa dengan Distorsi maksimum. Show didahului penampilan band-band lokal. Saya agak lupa list band yang main, karena ketika Saya datang sudah agak terlambat, tepat Saya tiba di Stage, Down For Life sedang memainkan hits-hits mereka. Saya sempat berpikir setelah Down For Life pasti Koil langsung main. Tapi ternyata dan tidak dinyana. Eng ing eng, ada satu band lagi yang main. Huffh, I’m so excited, I can’t wait anymore. Tapi ya mau gimana lagi. Band yang main ini bernama The Shine, dan tau musik yang mereka bawakan? Campur-campur alias Top40. yang cukup membuat interest tentu saja dua penyanyi ceweknya yang cara berpakaiannya bener-bener beuuuhhh. Bikin melek. Super ketat semua, satunya pake hotpants superpendek, satunya rok mini yang kayak bukan rok. (eh mau review Koil apah Rok mini cewek sih?) ok, disudahi Saja rok mininya, kembali ke Koil. Setelah The Shine main yang ditunggu datang juga. Leon naik pertama kali, lalu Ibrahim Nasution a.k.a Imo a.k.a Bobby, dilanjut Adam Vladvamp, Donny. Sang pengkhotbah Otong Verdijantoro naik panggung paling belakang. Koil membawakan lagu-lagu mereka dari album Blacklight Shines On, juga dari album lama Megaloblast. Hiburan Ringan menyerbu pertama Kali. Dan dilanjut dengan lagu-lagu lainnya. Nyanyikan Lagu Perang, Sistem Kepemilikan, Aku Lupa Aku Luka, Dosa, Ajaran Moral Sesaat (Sori lupa Songlistnya) ditutup dengan Kenyataan Dalam Dunia Fantasi. Entah kenapa di Konser kedua yang Saya tonton ini rasanya kurang klimaks. Tak seperti konser pertama di Gor Manahan yang Saya tonton dulu. Mungkin karena Songlist sekarang terasa agak kurang, Semoga Kau Sembuh, Lagu Hujan, Matahari, Mendekati Surga tak masuk Songlist. Juga yang membuat tidak klimaks menurut Saya adalah Soundsystemnya yang kurang menggigit. Dulu di Gor Manahan Soundnya dapet banget. Sementara di Sragen ini agak kurang memadai Soundnya. Ada beberapa kejadian menarik di Konser ini yang Saya alami:

1.Photografer official Koil (Saya kurang tahu namanya) sedang mengambil gambar didepan Stage, kebetulan Saya dan teman Saya Hary Goodboy berada dibarisan paling depan. Saya tunjukkan CD Blacklight Shines On yang tadinya niat Saya mau mintakan tanda tangan Koil diatasnya. Terus Saya bilang “Mas Foto Dong” dan difotolah Saya dan teman Saya Hary. Saya bilang kepadanya “tolong diupload ke Multiply Koil ya Mas! Nanti Saya Donlot disana. Dia hanya mengangguk Saja, yah semoga saja diupload bener.

2.Setelah Imo sang pencabik gitar selesai CheckSound. Saya panggil namanya Imoooooo….sembari menunjukkan CD Blacklight Saya. (Hahaha sebuah ID sebagai penanda bahwa Saya dan Teman Saya Hary Satu-satunya penyuka Koil Disana. Dibarisan belakang berkibar banner-banner Slank, Rasta, Oi, Dll. Karena ga ada banner Koil maka Jadilah CD Blacklight Saya angkat tinggi-tinggi) eh Akhirnya dia ngelihatin Saya. Senyum deh. Dan belakangan Imo tahu aja kalo Saya kehausan, maka Dilemparkannya sebotol Air mineral ke Saya. Minum Blaaahhhh…..

3.seperti dikonser Gor Manahan Kemarin Dulu, untuk kesekian kalinya Otong Mengucapkan: Yah nasib jadi Band ga terkenal seperti Koil. Jadi kalian mungkin ga tau lagu-lagu kami.

4.Beberapa kali Otong menyindir Artis-Artis selebritis (kalo dulu ga deh, sekarang Sindir-Sindir ya) mulai dari Miss Band, Band Sing Wis Mesti Aku Wong Jowo, Ipan GunWanWan, RubBand On Shou, Afghanistan dan beberapa lagi kena Sindir Otong.

5.entah tulus dari lubuk hati yang paling dalam ataukah Cuma Sindiran Satire belaka. Otong Bilang ” buat Soundsystem Ken dedes, Sukses mas buat Bisnisnya…” apa kecewa karena Soundnya yang jelek ya?

6.yang ini paten Saya baru ngelihat sekali. Nampaknya Otong sedang suka dengan hobi baru ini. Seolah Beliau ini kerasukan Arwah Kurt Cobain kemudian membanting gitar merah yang sedang dimainkannya. Dahsyaaaattt….

7.banyak sekali CD dan DVD yang dilemparkan ke penonton. Dan Saya ga bisa dapat Satupun, Lucky Me…

8.ini yang paling hebat dan menarik dari semua kejadian diatas. Ketika barisan belakang mulai rame-rame, Saya menengok kebelakang. Dan apa yang terjadi, orang-orang tolol dan arogan yang sedang mabok Ciu itu sedang berantem, saling hajar, tonjok-tonjokan. Aparat kepolisian yang berjaga didepan Stage langsung melompat mengejar para perusuh itu. Hary yang belum sadar situasi langsung Saya tarik ketempat aman sebelum dia keinjak para Polisi yang melompat mengejar perusuh itu. Hey, katanya hebat dan menarik. Mana? Ini dia yang hebat, ketika pak polisi melompat mengejar perusuh itu. Kaki Saya terinjak Kaki salah satu dari mereka. Padahal pak Polisi pakai sepatu Boot yang tebel itu. Aduuuuhhhh Sakiiittttt. Hebat kan?

9.Otong Verdijantoro sepertinya sangat berterimakasih kepada Ahmad Dhani terkait beredarnya Lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi Feat The Rock dibawah naungan Republik Cinta Management. Hal ini dituturkannya didepan keramaian.

Sebuah hiburan yang lumayan. Menonton penampilan band Industrial Rock itu di alun-alun kota Sragen. Next time datang lagi ya, Sukur-sukur kalo di Karanganyar aja, jadi Saya ga harus pulang malam-malam naik Sepeda motor dijalan lintas Sragen Karanganyar yang Sepi dan gelap.

Viva Koil….

ARIS SETYAWAN

Karanganyar 111208 (For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

NEGERI REALITY SHOW.

Desember 13, 2008

“…Ini kenapa rame-rame begini ada banyak kamera segala…???

Mungkin kalimat diatas sering kita dengar belakangan ini di stasiun2 teve negeri kita tercinta ini. Ya, kalimat favorit yang sering diucapkan seseorang yang muncul di program Reality Show. Sodara-sodara, ditengah masyarakat yang semakin bergantung pada televisi sekarang ini. Maka stasiun teve harus makin pintar dalam meraih simpati pemirsanya, dengan cara membuat program2 yang sekiranya bakal laris manis tanjung kimpul. Dan celakanya belakangan tv kita semakin ga kreatif, mengeluarkan jurus aman ‘Ikut-ikutan’ membuat program tv lain yang laris. Budaya plagiat dengan tanpa malu mereka terapkan di negeri ini. Setelah beberapa waktu dulu trendnya adalah membuat sinetron Religi, Kuis, Ajang pencarian bakat, Acara Tangga lagu dengan pengisi acaranya Artis2 dan Band2 Top Ibukota yang bahkan performance mereka Lypsync serta Minus One. Membuat sinetron dengan judulnya nama-nama orang keren seperti Melati, Mawar, Marvel, Spiderman, Intan, Permata, Maia, Ahmad, Bunga, Desa, Indah, Sekali, Dll, Dst, Dsb. (Dan kenapa harus pake nama2 keren? Kenapa ga pake nama Bejo, Mimin, Maman, Momon, Dll, Dst, Dsb)

Sekarang yang lagi Up2date untuk ditiru adalah: Ladies and gentlement, let me introduce nowadays Indonesian people Fav Tv Programme; Reality Show.

Entah buat Anda yang sering menyimak atau bahkan ga mau tahu sama sekali. Tv kita dipenuhi Reality show. Dan tema dari acara2 ini sangat beragam. Mulai dari yang isinya nyari orang hilang, menjebak Playboy kesrimpet kabel, Memata-matai (Wah Spionase di tv. Kereeeeennnn), ‘Balikan’ dengan mantan pacar, Backstreet2an, ketemu temen Chatting, menjebak selingkuhan. Dan banyaaaaakkkk lagi.

Terjemahan harfiah “Reality Show” dalam bahasa Indonesia berarti “Acara yang berdasarkan Realita atau Kenyataan” heeeemmm berarti kita bisa dengan kuat berasumsi inilah kondisi realita Negeri ini: banyak orang hilang, banyak Playboy berkeliaran, Banyak Mata-mata dan spionase baik yang benar2 dari pihak Intelijen suatu negara atau Cuma Mata2 Bohongan, banyak Orang Rujuk, banyak Penggemar Backstreet Boys (Nah Loh…?? Ralat. Banyak yang punya hubungan cinta tanpa disetujui), banyak orang yang tadinya Cuma chatting lalu kopi darat, dan inilah yang paling hebat. Di negeri ini banyak orang Selingkuh.

Lalu kenapa hanya semua problema itu saja yang diangkat kepermukaan? Kan masih banyak realita lain yang bisa dijadikan tema? Kisah Cinta Kaum Kusam, kehidupan para termarjinalkan, uang makan kuli bangunan, Pencopet patah hati, Korupsi berjamaah. Apalah. Mungkin ya itu tadi ya, namanya juga Reality Show, jadi yang diangkat ya Realita2 yang paling Penting Saja. Ok, beberapa Reality show memang mempunyai tema yang bagus. Yang isinya mencari orang hilang, cewek cakep tinggal bareng orang miskin, renovasi rumah. Tapi beberapa Reality show yang ada sekarang terasa sangat mengganggu. Ada yang menganggu privasi orang lain, bahkan semuanya nyaris sama, terutama yang temanya perebutan pacar atau kisah tentang seorang yang disakiti kekasihnya. Pada akhir acara2 itu kini harus diakhiri dengan berantem, jotos, tonjok, pukul, hantam, ngumpat, nama2 binatang disebut. Oh My God, apakah memperebutkan lawan jenis itu begitu penting sampai harus dibuktikan secara konfrontasi dengan kekerasan didepan publik seperti itu? Seolah-olah mereka tengah membela ideologi negara atau sebuah kepercayaan religius. Kalaupun memang penting kenapa juga harus dipublikasikan di tv. Sementara para pembuat acara ketika ditanya kenapa harus menampilkan adegan saat subyek berantem dengan enteng menjawab: namanya juga Reality Show. Semua mengalir apa adanya, direkam, editing minim, tanpa Naskah. Would You Believe it? Apa benar sebuah reality Show tanpa naskah? Apa benar orang2 didalamnya mengalami kejadian sebenarnya tanpa Akting? Lalu kenapa semua terasa seperti sadar kamera? Sadar bahwa mereka tengah disorot?

Beberapa acara juga sudah melenceng dari tema awalnya dan mencampuri urusan para client atau pelaku acaranya terlalu jauh. Acara yang isinya menjebak Playboy. Mereka bertugas menjebak seorang playboy agar ketahuan ke-playboy-annya didepan sang pelapor. Dan harusnya urusan mereka hanyalah menjebak sang playboy, ketika tugasnya sudah selesai dan playboy sudah ketahuan maka mereka harus lepas tangan, karena masalah berikutnya adalah privasi antara sang pelapor dan playboy. Biarlah mereka menyelesaikan sendiri perkara mereka. Namun kenyataannya para host Reality show tersebut kebablasan dengan ikut menghajar playboy, menghakiminya seolah-olah mereka mempunyai kepentingan didalamnya.

Apapun isi acara tersebut, Saya hanya bisa menyimpulkan bahwa negeri ini sedang senang bermimpi. Maka wajar jika para produsen reality show ogah membuat acara tentang realita yang sebenarnya di masyarakat. Dan angkatlah ke permukaan realita yang mereka anggap penting. Sesuatu yang menurut Saya terkadang Absurd, diluar nalar, terlalu berlebihan dan ga penting. Untuk apa membahas cinta monyet atau cinta lokasi dan selingkuh ketika perut sedang lapar karena tak mampu menebus sekilo beras yang harganya sudah terlampau mahal? Untuk apa meributkan perebutan kekasih atau menegaskan status sebuah hubungan ketika kepala sedang pening memikirkan, bagaimana biar bisa bayar tunggakan kontrakan yang 3 bulan tak terbayar?

“….Woi, An*i*g Lo, Ngen**t, awas lo ye tunggu pembalasan Gue…besok2 ye gue hajar balik Lo…”

Sebuah kalimat yang lagi2 ada di sebuah reality show, nampaknya sang tokoh didalamnya sedang merencanakan sebuah Vendetta. Balas dendam karena tidak terima, bisa jadi ga terima diperlakukan layaknya seorang koruptor dengan disorot kamera. Atau bisa jadi yang lain. Selamat datang di Negeri Reality Show.

ARIS SETYAWAN

Karanganyar 111208

(For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Grunge Resurrection

Desember 13, 2008

Bayangkan ketika sekarang ini anak-anak Abg, Pelajar-pelajar Sma, juga anak-anak gaul lainnya yang biasanya berstyle Emo dengan rambut poni, celana ketat dan kaos MCR nya malih rupa berdandan ala Grunge. Mengenakan kemeja flanel ditambah jeans robek, rambut panjang acak-acakan, sepatu belel yang ga dicuci selama 3 bulan. Ketika itu terjadi mungkin kita sudah tiba dimasa kebangkitan Grunge.

Kenapa kebangkitan? Memang Grunge sedang mati ya? Kurang lebih bisa disebut demikian. Tapi lebih tepatnya genre yang sempat besar di awal tahun 90-an ini bukan mati. Hanya saja kurang muncul dipermukaan. Mari kita flashback ke masa lampau. Ketika grunge dengan hebatnya menjajah ranah musik Internasional. Saya tidak akan menyebutkan awal kemunculan Genre ini yang dimulai dari tahun 80-an oleh Green River, Mudhoney dan kawan-kawan. Untuk anda yang mungkin masih penasaran atau belum tahu sejarah panjang aliran musik ini silakan cari sendiri saja di Internet. Saya hanya mengajak flashback ke masa kejayaannya, era awal 90-an. Dimulai dengan meledaknya Album fenomenal Nirvana yakni Nevermind. Setelah sebelumnya tak ada satupun band Alternative atau secara spesifiknya Grunge yang bisa masuk jalur mainstream, Nevermind membawa sebuah formula tepat yang akhirnya bisa membuatnya masuk mainstream. Setelah penjualan Nevermind meledak, menyusul band-band grunge lain dikontrak label besar. Sebut saja Pearl Jam, Soundgarden, Alice In Chains. Band-band yang tadinya dipandang sebelah mata tiba-tiba bisa menjual jutaan copy dan menguasai tangga lagu. Grunge pun menjadi sebuah subkulture baru yang menguasai dunia menggantikan era metal dan glamrock. Mulailah anak-anak muda dipenjuru dunia mengikuti gaya idola-idola mereka mengenakan Style ala grunge.

Kenapa grunge begitu mudah diterima kala itu? Kenapa genre ini akhirnya baru bisa masuk mainstream pada awal tahun 90-an? Padahal sebenarnya bukankah genre ini sudah muncul dan tercipta cukup lama sekitar tahun 80-an ketika Mark Arm dari band Green River mengenalkannya kepada publik Seattle. Pada tahun itu pula band-band yang menggaungkan grunge semakin menjamur di kota asalnya Seattle. Tapi pada tahun itu pula grunge tak pernah bisa masuk mainstream karena kalah pamor dengan Metal dan glamrock yang sedang digandrungi saat itu. Menurut asumsi Saya grunge bisa diterima pada awal 90-an karena itu adalah momen yang tepat. Kondisi dunia yang sedang kacau balau, banyak orang frustasi, perang Teluk, Resesi Ekonomi, penyalahgunaan Obat terlarang yang makin merajalela. Dunia yang sedang depresi butuh sebuah wadah penyaluran untuk melepaskan semua masalah itu. Dan Grunge dianggap sebagai sebuah lansekap yang tepat. Sesuai dengan imej yang melekat pada grunge: depresi, frustasi, alienasi, drugs addict dan dunia berkata ini dia Sebuah lansekap buat melepas semua masalahku.

Secepat kemunculannya, secepat itulah pula kemundurannya. Perlahan namun pasti genre ini mulai memudar hilang dari peredaran. Pergeseran selera musik dituding sebagai penyebabnya. Budaya pop memang selalu bergerak dari satu ke yang lain dan tibalah saatnya bagi grunge untuk menghilang. Selain pergeseran selera musik ditambah lagi berbagai perpecahan serta bubarnya band-band yang mengusung alirannya. Tewasnya Kurt Cobain frontman Nirvana karena bunuh diri, Juga Layne Staley vokalis Alice In Chains yang meninggal karena overdosis penggunaan heroin, bubarnya Soundgarden. Dan banyak lagi band-band lain menyusul pecah atau bubar mempercepat pudarnya pengaruh grunge di kancah musik. Setelah berhasil menguasai dunia selama beberapa tahun maka hilanglah Seattle sound dari peredaran. Menyisakan keturunannya yang mentasbihkan diri dengan nama Post Grunge.

Sebenarnya setelah era 90-an itu grunge tidak sepenuhnya mati. Tentu saja masih banyak orang yang suka dan setia mendengarkan serta menganut Style grunge ini. Diseluruh dunia, khususnya di Indonesia masih banyak band-band yang mengaku memainkan musik distorsi keras ini. Hanya saja mungkin yang menjadi masalah adalah kurangnya naik ke permukaan. Band-band beraliran grunge ini kebanyakan hanya bisa bermain musik dan mengedarkan rekaman mereka di kalangan komunitas. Tak bisa masuk mainstream persis seperti halnya di awal kemunculan grunge tahun 80-an lalu. Band Grunge Indonesia yang bisa masuk mainstream atau major label bisa dihitung. Navicula, Cupumanik, Plastik di beberapa dekade lalu. Padahal banyak band-band bagus di negeri ini, hanya saja kendalanya mungkin kurang adanya wadah yang benar-benar bisa menjadi tempat berekspresi band grunge. Beberapa band memang bisa membentuk komunitas-komunitas yang cukup maju, membuat berbagai gigs-gigs dan event untuk menyalurkan nafsu bermusik, mengedarkan zine-zine baik yang dicetak maupun memanfaatkan media Blog, Fs, forum dan milis-milis. Tapi semuanya masih berkutat di ranah komunitas sendiri. Menjadi konsumsi komunitas. Sementara untuk mengharap ada seorang Good Samaritan dari pihak mainstream yang akan mengangkat Grunge ke permukaan ditengah kondisi industri musik Indonesia yang seperti ini sepertinya juga tidak mungkin. Jadi apakah akan ada wadah-wadah yang bisa membantu lagi kebangkitan grunge secara lebih baik?

Tapi untungnya masih ada juga pejuang-pejuang yang dengan penuh semangat membuat wadah itu. Sebuah tempat dimana para musisi pengusung grunge bisa saling bertemu, mempublikasikan musik yang mereka buat serta saling bertukar pikiran. Sebut saja www.totalfeedback.com yang sudah beberapa tahun tetap online sebagai Webzine serta direktori Grunge Indonesia. Disana kita bisa mendapatkan berita terbaru tentang Grunge, review band-band keren, membaca Artikel-artikel yang ditulis para Grungies, mendownload lagu-lagu yang disediakan, serta mengiklankan band kita. Terima kasih kepada Admin Totalfeedback yang masih bertahan mengelola situs itu walau dengan dana operasional pribadi. Selain Totalfeedback belakangan Situs yang muncul untuk dijadikan media bertukar pikiran para Grungies adalah www.naviculamusic.com

Web yang dikelola band asal Bali Navicula ini baru saja launching, dan rencananya juga akan dijadikan sebuah wadah bertemu para grungies. Terima kasih juga kepada Navicula yang mau membuat situs tersebut. Diharapkan dengan hadirnya www.naviculamusic.com serta tetap eksisnya www.totalfeedback.com bisa benar-benar menjadi media penyebaran grunge yang lebih baik. Sehingga Genre ini bisa terpublikasikan secara lebih luas dan akhirnya muncul kembali kepermukaan, kemudian kembali menjadi Genre yang menjajah peta musik Dunia dan Indonesia pada khususnya. Mari kita berharap ini akan menjadi kebangkitan Grunge.

Grunge Resurrection…!!!

Aris Setyawan

Karanganyar 12-12-2008

(For More Sh*t Please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Grunge, Harus Suramkah?

Desember 13, 2008

Saya pernah ikut sebuah milis yang bernama I-rocks. Milis ini diikuti banyak kalangan mulai dari para pekerja kantoran, wartawan musik, juga beberapa musisi terkenal negeri ini ikut didalamnya. Pokoknya yang ikut di milis ini ya orang-orang yang suka musik Rock. Apa yang menjadi tema didalam milis ini? Apapun yang berbau Rock dan turunannya. Milis ini terbilang sangat ramai aktivitasnya, setiap hari selalu ada thread baru yang dimunculkan entah membahas sebuah Current affairs ataupun membahas sebuah Album dari band rock kenamaan. Beberapa waktu setelah Saya gabung di I-Rocks Saya belum berani membuat Thread sendiri. Saya hanya membaca thread-thread yang ada dan menyimak apa-apa yang sedang didiskusikan disana. Dan memang benar apa-apa yang dibahas menyangkut rock dan turunannya mulai dari Metal, Progresive rock, heavy metal, Industrial Rock, Alternative, dll, dst, dsb. Tapi tak ada satupun yang membahas Grunge, akhirnya Saya beranikan membuat sebuah Thread dengan judul “Ada Yang Suka Grunge Ga Disini?” isi Thread hanya Saya isi singkat saja sebab inti thread ini sudah terjelaskan hanya pada judul. Beberapa waktu kemudian berbagai jawaban muncul dari para Anggota I-Rocks. Dan ini beberapa diantaranya:

“Saya dulu sempat Suka pas masih Sma, kalo sekarang kayaknya ga deh. Bosen…”

“oh ya Grunge ya, gimana ya. Kalo Cuma lewat dengar beberapa lagu sih ok aja. Tapi kalo disuruh suka banget kayaknya enggak deh. Soalnya Grunge ngebosenin banget tuh musiknya cuman gitu-gitu ajah…”

“Gw Suka Alice In Chains, tapi ga setuju kalo Do’i dikotakkan ke Grunge. Gw lebih suka Alice disebut Hardrock. “

“…Grunge…grunge…grunge…Suara motor 2 tak distarter….”

“Say Yes To Ed PJ, Say No To Cobain Nirvana…”

“Gw ikut nimbrung aja ya bro, Queen Of The Stone Age ntuh masuk Grunge ndak Seh?”

“Gw ga suka Grunge, Soalnya isinya Suram melulu…..”

Mengkutip komentar yang terakhir, Grunge isinya Suram melulu. Haha, mungkin memang sudah menjadi takdir bahwa Genre ini harus menegaskan sisi-sisi gelap. Depresi, frustasi, Alienasi, Kecanduan Obat terlarang, Suicide, Patah Hati, dan masih banyak lagi hal gelap lainnya. Apa karena Genre ini berasal dari kota Seattle yang udaranya selalu dingin, Kota yang selalu gelap tertutup mendung dan hujan. Maka musik yang tercipta disanapun gelap dan suram juga? Sesuram nasib para penduduknya yang notabene kebanyakan mempunyai kehidupan yang suram.

Yang tetap menjadi sebuah pertanyaan adalah Harus Selalu Suramkah Grunge? Bagaimana kalo tema-tema yang dibawakan musik Grunge dirubah saja membahas sesuatu yang lebih menyenangkan? Selingkuh mungkin, bukankah selingkuh itu menyenangkan? Buktinya belakangan semua band-band Indonesia lagi demam membuat lagu bertema selingkuh atau menyeleweng dari pasangan. Apakah jika sebuah band Grunge membuat lagu bertema diluar kesuraman lantas mereka dicap ‘Udah ga Grunge lagi karena udah ga suram’ lalu apa kalo sebuah band memutuskan membuat lagu bertema ceria dianggap sudah berkhianat dari Mazhab grunge? Tentu semuanya kembali ke diri kita sendiri. Bagi para penyuka musik Grunge, bisa ga kita menerima sebuah band yang keluar dari pakem Suram dan melangkah ke sisi ceria bahagia?

Aris Setyawan

Karanganyar 12-12-2008

(For More Sh*t Please Visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Cerpen Sebelum Aku Mati

Januari 7, 2008

Aku sering berkunjung ke pemakaman. Baik itu untuk tujuan berziarah ke makam orang-orang yang telah dipanggil lebih dahulu, atau Cuma sekedar mencium wewangian kamboja yang semerbak di tanahnya. Semasa kecilku pun aku gemar berkunjung kesana. Dengan tanpa rasa takut kulompati Nisan-nisan yang diam membisu itu. Bahkan tak jarang kududuki satu-dua nisan yang bentuknya kukhayalkan sebagai seekor kuda. Aku serasa jadi ksatria berpedang dengan kuda kesayangannya tengah di medan perang. Aku senang menerbangkan layang-layangku di kompleks pemakaman. Kata orang sih angker. Tapi kataku di pemakaman ini banyak angin, jadi layang-layangku bisa mengangkasa dengan cepat. Ketika beranjak dewasapun aku tak bisa menghilangkan kebiasaan ini. Ketika ada tetangga atau kerabat yang meninggal dan hendak dikebumikan, entah kenapa senyuman mengembang di bibirku. Bukannya senyuman yang menunjukkan kebencianku pada orang mati itu. Tapi senyuman kegembiraan karena sebentar lagi aku akan turut menghantarnya menuju rumah masa depan sekaligus kediamannya di masa datang. Dengan penuh semangat diriku akan mengiring jenazah itu menuju kuburan. Begitu menginjakkan kaki di tanahnya. Aku akan memandang sekeliling, sekitar yang nampaknya sunyi, senyap. Kawanan burung gagak bersiul seraya bercengkerama di sudut. Ada beberapa gundukan tanah yang masih berwarna merah dan belum ditumbuhi rumput tanda penghuninya baru saja mengkapling jatah kediamannya. Ketika jenazah yang kuiring mulai diturunkan ke liang lahatnya, tanpa henti aku terus menatapnya, aku tak mau melewatkan satu momenpun. Mengerdipkan kelopakpun aku enggan. Dalam hati aku ucapkan perpisahan sekaligus selamat kepadanya. Selamat jalan wahai yang telah pergi, semoga kau dapatkan tempat yang lebih baik disana. Semoga kau diterima di sisi-NYA. Juga kuhaturkan selamat padamu, selamat karena kau lebih dulu meninggalkan dunia yang penuh kebohongan serta menjenuhkan ini. Pasti kau sungguh senang bisa meninggalkan permukaan bumi nan penuh benci ini, lalu kau bisa terbaring dengan tenang di dalam bumi, tanpa takut dilindas kesombongan sesama. Oh ya, apa disana kira-kira ada kantor pos? seandainya kau sudah menemukannya, jangan lupa kirim surat buatku. Ceritakan segala yang terjadi didalam sana. Kalau perlu berilah uang lebih pada sang kurir gaib biar suratnya cepat sampai. Selamat jalan, sampai jumpa. Sang jenazah telah tertimbun tanah. Bunga-bunga bertabur diatas gundukannya, semua orang termasuk keluarga almarhum telah meninggalkan pemakaman. Tinggal aku sendiri, aku dan banyak nisan serta para penghuninya. Seraya menatapi luasnya, aku mulai berpikir, merenung dan membayangkan. Ah, suatu saat nanti aku akan jadi salah satu penghuninya. Aku tak sabar menanti datangnya jatahku. Aku ingin segera jadi bagian dari mereka. Tapi, kupikir-pikir lagi nanti dulu. Masih banyak yang belum kulakukan. Sebelum aku mati, aku masih memimpikan banyak hal, aku masih ingin memberikan sesuatu kepada orang-orang yang kusayangi. Sebelum aku mati aku ingin…

Celaka, kematianku telah mendekat. Aku yakin bahwa ajal akan segera menjemputku. Aku tak bisa menjelaskan darimana aku mendapatkan berita ini. Tapi sepertinya perasaanku yang mengatakan bahwasanya mati akan segera menyergapku. Dari segala arah mata angin, dari langit, dari bawah bumi, dari mana-mana kematian bisa saja segera memeluk jasadku. Oh, tidak bagaimana ini? Bukannya aku hendak menolak ajal. Aku pasrah dan rela jika memang saatnya telah tiba. Tapi aku masih ingin melakukan banyak hal, aku masih muda dan juga enerjik. Aku masih dibutuhkan khalayak. Aku baru berumur 20 tahun. Masih perjaka ting-ting. Kematian, kenapa kau harus datang begitu cepat? Tunggulah barang beberapa tahun lagi, biar aku beruban dan wajahku keriput dahulu. Sekali lagi aku sulit mempercayainya, memang tak ada yang bisa memastikan bahwa hari ini atau esok kematian akan datang. Tapi sepertinya perasaanku kali ini bisa dipercaya. Aku memang akan segera mati. Jadi aku harus segera menyelesaikan yang belum terselesaikan, mengakhiri apa yang belum berakhir, serta membagikan segalanya sesuatu yang belum sempat kubagikan. Waktuku amat sempit, aku harus bergegas. Masih banyak tugas yang harus kujalankan. Baiklah, wahai sang ajal, jikalau memang kau hendak jemput aku sekarang. Beri aku kesempatan, aku butuh waktu untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia.

Aku telah meninggalkan kompleks perkuburan itu. Kini aku terduduk lunglai di kamar. Badanku serasa lemas dan otakku terasa kosong hampa. Bukannya karena takut akan datangnya mati, aku siap menghadapinya. Justru kematian telah lama kutunggu-tunggu. Cuma yang jadi masalah kenapa harus secepat ini? Saat ini aku belum menjelajah dunia sama sekali. Namun biar bagaimana kematian tak bisa ditawar lagi. Ya sudah, aku pasrah. Ok, aku sadar waktuku tak banyak. Degup jantungku serasa berpacu dengan hembusan angin. Diusiaku yang masih muda, banyak yang belum kuketahui dan belum kulakukan. Sebisa mungkin harus tercapai semua yang tadinya belum bisa tercapai.

Sebelum aku mati, aku harus membagi-bagikan semua milikku. Biar orang-orang terus mengenangku saat mereka menatap dan menyentuh barang-barang pemberianku. Semua yang hendak kubagikan mulai kukumpulkan. Dari barang-barang yang bersifat remeh sampai yang amat berharga. Buku-buku koleksi novelku akan kuserahkan buat si Citra yang kutu buku itu. Tas punggung dan juga alat-alat tulisku, emm, mendingan kuberikan pada joni. Tetangga sebelah yang masih duduk dibangku kelas 6 SD. Ia pasti sangat senang memperoleh tas baru namun seken ini. Oh iya, kaset-kaset Nirvana dari album pertama sampai terakhir. Benda yang paling berharga menurutku. Satu keputusan yang cukup sulit, hendak kuberikan pada siapa? Sosok yang akan menerimanya harus seseorang yang benar-benar cinta musik dan menganut paham idealisme. Biar ia bisa merawat kaset-kaset yang lumayan langka ini. Aha, tentu saja. Tak salah lagi, Veri. Ia adalah anak band. Pasti ia akan dengan sangat senang hati menerima pemberianku. Waduh, masih banyak yang harus kubagikan, masih banyak yang harus kulakukan. Tapi waktuku semakin sempit. Aku musti bergegas. Keringat dingin mulai bertetesan dari dahiku. Jantung berdegup lebih kencang, aku takut tak bisa menyelesaikan kewajibanku tepat pada waktunya. Lagi-lagi aku memohon padamu wahai sang ajal. Ulurlah waktu, sebelum aku mati aku ingin memulai apa yang belum kumulai. Ah, semua barang kepunyaanku takkan selesai kubagikan. Lebih baik keseluruhannya kukumpulkan saja dalam kardus, lalu kuberi catatan surat wasiat agar supaya isi didalamnya diserahkan kepanti asuhan. Lalu kira-kira apalagi yang harus kulakukan. Wah, rasa-rasanya selama aku hidup aku jarang beramal. Aku sering merasa iba menatap anak-anak kumal dipinggir jalanan yang menadahkan tangan. Tapi aku Cuma sebatas iba, dan jarang memberi rupiah pada mereka. Disaat-saat terakhir ini aku harus beramal, aku harus menyumbangkan uangku yang terbatas buat bocah-bocah yatim-piatu. Segera kuraih Telepon genggam di meja. Kucek pulsa yang tersisa, sisa pulsa yang anda miliki adalah senilai dua puluh lima ribu tiga ratus lima puluh rupiah . tinggal segitu sisa pulsaku. Aku ingat kalau operator selularku punya program infak lewat pengurangan pulsa. Sisa pulsaku kuhabiskan, kukirimkan untuk infak via SMS. Sudah cukup, aku sudah beramal.

Badanku lemas sekali, tulang-tulang serasa bergemeretakkan. Waktunya hampir tiba pikirku. Terlalu banyak yang belum kukerjakan. Sebelum mati aku ingin mencicipi sate ayam Cak Amat terlebih dahulu. Satenya paling terkenal di daerahku karena dibakar sempurna. Dengan bumbu kacang yang sedap menggoda. Sebelum mati aku juga ingin mengirim E-mail buat Angelina jolie. Aku hendak menyatakan kekagumanku padanya terkait aktingnya di Tomb raider yang luar biasa. Oh tidak, lalu bagaimana dengan teman-teman Chattingku? Mereka akan kehilangan Co-keren jika aku tak berpamitan. Setelah kuhitung-hitung dan kukalkulasikan lagi. Serta mengambil segala resiko yang terjadi, aku memutuskan waktunya masih cukup. Sebelum sang ajal datang aku masih sempat melakoni semuanya. Aku berkejar-kejaran dengan mati, menuju tempat mangkal Cak Amat. Memesan sate ayam spesial 10 tusuk plus es teh. Kemudian lari ke Cybernet login ke Yahoo, menulis e-mail singkat ke Anjelina jolie. Mengirim Offline messagges dengan isi ‘aku pergi meninggalkan dunia, selamat tinggal’ lalu kukirim kepada semua teman-teman chat-ku di seluruh penjuru dunia. kemudian Tak lupa kukembalikan kartu member-ku pada penunggu warnet sekalian pamitan padanya yang mana membuat ia mengerutkan dahi sekaligus terheran-heran saat aku bilang aku akan meninggalkan dunia ‘tuk selama-lamanya. Waktu terus berputar, jantungku makin hebat berdetak. Mengapa jantungku berdetak, berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau perang.1 Aku keluar dari ruangan warnet, menatap indahnya dunia, merasakan hembusan angin yang sepertinya akan jadi angin terakhir yang bisa menyentuh kulitku karena didalam sana pasti sedikit pengap dan tak ada lubang anginnya. Aku merasa sudah amat siap kini, sebelum aku mati aku telah laksanakan semua kewajiban, telah kumulai apa yang harus kumulai, dan telah kuakhiri apa yang harus berakhir. Serasa damai menyelubungi kalbu. Kematian hendak menjemputku secara pelan dan mengendap-endap. Tapi kok rasanya seperti masih ada yang mengganjal di hati, tapi apa ya? Rasa-rasanya masih ada yang tertinggal. Ada sesuatu hal yang terasa amat penting dan belum kuselesaikan. Kupikir dan kutelaah lagi jejak-jejak memori di otak. Ku jelajah segala rasa di hati dan mampuslah aku. Mampuslah aku walau pada kenyataannya aku memang akan segera mampus nanti. Ada masalah besar, aku lupa. Teramat lupa dan aku merutuki diriku sendiri kenapa aku bisa lupa. Aku belum menyatakan cintaku pada Bunga. Gadis yang 6 bulan belakangan ini membuatku susah tidur. Aku terus memendam perasaan cintaku karena aku menganggap waktunya belum tepat dan masih banyak hari esok untuk menyatakannya. Penyesalan memang datangnya belakangan. Perasaanku mengatakan ’Kau akan segera mati, waktumu telah tiba.’ Tidak, aku belum mau mati. Aku tak mau mati tanpa cinta, jelas-jelas sang ajal mendekat mengendap-endap hendak menyergapku dari belakang. Dan aku berlari, berlari sekencang mungkin mencari Bunga. Ini hari Senin. Bunga pasti tengah duduk di meja kelasnya menerima mata kuliah ekonomi yang di sampaikan Pak Soebagyo. Aku berlari menumpang angin, tak peduli semua orang menatapku dengan pandangan mereka. Ah mungkin mereka heran melihatku berlari-lari di tengah hari yang panas ini. Atau bisa jadi dan sangat mungkin mereka iba karena melihat aku tengah dikejar-kejar sang ajal yang menguntitku dari belakang. Mereka juga bisa melihatnya, orang-orangpun melihat kematian mendekatiku. Aku terus berlari, kampus tempatku dan Bunga menuntut ilmu sudah terlihat didepan mata. Bunga tunggu aku, aku akan menyatakan cinta padamu. Rasa yang terus kupendam ini akan kuutarakan padamu. Bersiaplah Bunga, terimalah cintaku. Aku mengelap dahiku yang telah bersimbah peluh. Seraya berlari aku menoleh kebelakang, kutilik siapa tahu sang ajal telah sangat dekat. Dengan kaki yang terus melangkah berlari, aku mencari-cari. Mana kira-kira sang ajal? Terlalu lama aku menoleh kebelakang sampai tiba-tiba….Guuuubbrraaaakkk….Sepeda motor bebek itu menabrakku. Aku terpelanting dan terjatuh di jalan raya. Aku terbaring diantara kehidupan dan kematian. Orang-orang mengerumuniku, termasuk sang pengendara motor. Dan lagi-lagi mereka Cuma menatapku dengan tatapan itu. Antara heran karena aku berlari dengan menolehkan muka kebelakang, atau bisa jadi iba karena mereka melihat sang ajal sedang memeluk diriku. Oh, sia-sia semuanya. Aku akan menjadi makhluk yang mati tanpa cinta. Selamat tinggal Bunga, maafkan aku karena aku tak sempat nyatakan cinta padamu. Kau adalah yang terindah dihatiku. aku akan pergi. Pergi jauh, meninggalkan dunia. Haha, aku tersenyum di tengah kerumunan orang-orang yang mengelilingiku. Aku akan segera terkubur dalam bumi. Ditimbun tanah yang dicangkul para penjaga kuburan. Sang ajal mendekat, terus mendekat, aku menggigit bibirku berharap bisa mengurangi kepanikan dalam jiwa dan diriku. Sudah sangat dekat sang mati, ah, padahal sebelum aku mati aku ingin menyatakan cintaku pada Bunga terlebih dahulu. Biar aku tak mati tanpa cinta. Tapi terlambat, sang ajal amat dekat, ia ada dihadapanku kini, sesungging senyum kecil menggantung di bibirku. Aku pergi, selamat tinggal dunia, aku peerrrgggiiii……”Le, cah bagus. Bangun Le, sudah siang iki lho. Kan kamu harus kuliah. Sayang kan kalau sampe enggak masuk kuliah. Wis awan le, ayo bangun-bangun!”

Iya Bu”

Aku masih rajin mengunjungi pemakaman. Walaupun kini usiaku telah uzur dan berbau tanah. Aku mengunjungi pemakaman secara rutin, entah demi berziarah, mengirimkan doa serta penghormatan bagi mereka yang telah lebih dahulu dipanggil, atau untuk mencium wewangian Bunga kamboja yang berguguran dipinggiran kompleks pemakaman. Atau sekedar melihat keriangan anak-anak yang bermain layang-layang disana. Aku mengunjungi pemakaman agar supaya aku ingat mati, mati yang tak tentu kapan menggenggam ragaku. Kematian yang semoga terus menjagaku agar jadi makhluk yang arif nan bijaksana sampai ku menutup mata. Masih tersisa senyuman di bibir wajahku yang mengeriput. Aku menerawang jauh kedalam kalbu. Takutkah aku dengan mati? Ngerikah aku dengan Keputusan-NYA? Anak-anak yang tengah bermain layang-layang itu terlihat amat gembira. Aku mendekat pada mereka, “Nak, bolehkah Bapak pinjam layang-layangnya sebentar?” “ini Pak” layang-layang itu diserahkan padaku. Aku coba menerbangkannya. Sebelum aku mati, aku ingin menerbangkan layang-layang ke angkasa. Haha, aku jadi ingat ketika kecil dulu aku selalu jadi juara adu layang-layang di pemakaman ini. Sebelum aku mati, aku ingin jadi juara lagi.

***

Baradatu, Way Kanan, 18 Nopember 2006

 

1 Lagu : Dewa 19 – Sedang ingin bercinta.

Mahasiswa: “Calon Intelektual Yg Ternyata Masih Seperti Anak SD”

Januari 7, 2008

Tulisan ini bukan bermaksud Mendisk kreditkan pihak mahasiswa. Ini hanya demi kebaikan semua, ditulis berdasarkan laporan teman Saya Seorang Operator Warnet yg sedang kesal dengan Mahasiswa2 yg sering datang Ke warnetnya dan ga bisa menjaga kesopanan.

Mahasiswa Pejuang Reformasi

 

Wah Kenapa gw perlu nulis kayak gini? Lha mahasiswa koq mesti dibahas? Lha kenapa ga? Pasalnya mereka adalah calon penerus hidup matinya bangsa ini, yg bersekolah menuntut ilmu dan dikatakan sebagai “Calon Intelektual”

 

kalo ada demo2 di jalanan menuntut diturunkannya harga kebutuhan pokok, siapa lagi kalo bukan mahasiswa? Kebanyakan pejuang2 Reformasi tentu saja mahasiswa. Intinya mahasiswa adalah Calon Intelektual yg dididik untuk menjadi seorang yg berparadigma luas, ga melulu berdiri dan bercokol serta puas di satu tempat. Mereka adalah seorang yg berpendidikan tinggi (katanya sih)

 

tapi terkadang kenyataannya berkebalikan dengan katanya….

 

seorang yg berpendidikan tinggi namun kebanyakan masih berpikir dangkal. Lha mahasiswa kok seperti anak SD. Rame seperti di kampus sendiri. Menurut laporan dari seorang teman gw yg kerja di salah satu Warnet di Karanganyar Solo Jawa Tengah. Sekarang lg rame2 nya yg namanya “Ujian Cisco”

 

tau kan Cisco Loe Pada? Ujian Online gitulah intinya. Gw sedang ga pengen bahas ujiannya. Tapi sifat para orang yg ikutan ujiannya. Secara sebuah warnet adalah ruang publik tempat bagi banyak orang untuk mengakses internet. Tentu saja tempat itu dikunjungi oleh banyak orang dari banyak kalangan juga….

 

 

nah berhubung lg rame yg namanya ujian, tu para Mahasiswa berkumpul bersama untuk mengikuti ujian gitu..ini yg bikin sebel menurut laporan temen gw..lha mereka anggap warnet adalah kampus mereka sehingga mereka bebas teriak2 seperti di kampus sendiri. Terang saja beberapa user warnet yg ga ikut ujian merasa terganggu….

 

mahasiswa koq kayak anak SD gitu, teriak2 di tempat umum. lha kalo anak SD sih wajar2 saja teriak2 rame2 bercanda pas di tempat umu. Anak SD kalo lg di Sekolah belajar pasti ada ramenya dan kalo dah ditegur gurunya maka akan tenang. Anak SD kalo di tempat umum bisa jadi rame dan ditegur seseorang maka dia akan diam. Lha ini MAHASISWA. Calon Intelektual lg2 gw sebut. Apa pantas seorang Calon Intelektual ga bisa ngerubah sikap setelah ditegur? Soalnya menurut temen Gw yg jaga Warnet dia dah berkali-Kali bilangin ke Para Mahasiswa yg terhormat itu agar tenang karena menganggu user lain yg ga ikut ujian tapi yah ternyata Para Mahasiswa itu ber-IQ lebih rendah dari para Anak2 SD. Karena apa? Yah seperti yg Gw bilang tadi, anak SD aja kalo dibilangin nurut. Ga seperti para Mahasiswa yg bandel2 minta ampun….

 

 

yah semoga mereka2 para Mahasiswa bisa merubah sikap, karena memang bagaimanapun juga mereka2 adalah orang2 pintar yg akan menjadi penerus kemajuan bangsa ini.

 

 

Halo dunia! Saya Baru Mulai WordPress Mohon bantuannya…

Januari 7, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Hehehe….yah pokoknya baru mulai WordPress. dah mulai bosen di Friendster, MySpace, juga di Multiply. sapa tau disini lebih asik gitu…