Arsip untuk ‘Tak Berkategori’ Kategori

Jilbab Formalitas

September 21, 2009

Wanita memakai jilbab diangggap sudah bermoral paling benar, jauh dari cela, sopan, dan cantik. Itulah stigma yang sudah terlanjur melekat di Masyarakat. Jilbab dianggap mewakili semua semua yang bagus dan rapi, maka dari itu kalau ada Wanita berjilbab akan dicap sebagai ‘Wanita terhormat’ sementara kalau ada Wanita bertanktop langsung dibilang ‘Wanita Binal’ tapi apa benar dengan berjilbab seorang Wanita sudah bisa dikategorikan sebagai Wanita Terhormat? Sebenarnya tergantung apa niat dari Wanita itu sendiri dalam memakai jilbab, asumsi Saya sendiri Tak semua yang berjilbab itu terhormat. Jilbab tak terhormat ditasbihkan kepada mereka-mereka yang memakai jilbab hanya sebagai formalitas atau karena paksaan orang lain, atau Cuma memakai Jilbab sebagai kedok karena kenyataannya Ia berjilbab namun rajin senggama 3 hari sekali. Kelihatan sekali jilbab formalitas dengan ciri-ciri diantaranya jilbab namun rambut berponi, jilbab mini, berjilbab namun rabut ekor kuda nongol dibelakang, jilbab bermotif Lingerie, memakai jilbab ketika di kantor atau Sekolah namun begitu pulang ganti hot pant dan tank top. dan lain sebagainya.

Jilbab memang sudah menjadi tradisi di Negeri ini, Saya bilang tradisi karena dari sekian banyak Perempuan berjilbab di Negeri ini, Saya berani memberi pernyataan bahwa sebagian besar sebenarnya memakai jilbab karena terpaksa, ya terpaksa karena Jilbab sudah jadi tradisi di Keluarganya, tuntutan Institusi tempatnya Bekerja atau Sekolah, atau tuntutan Estrogen biar bisa dibilang Wanita terhormat oleh Pujaan hati. Padahal bukankah harusnya berjilbab itu dari hati? Berjilbab harusnya benar-benar diniati untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang Perempuan Muslim. Dia yang berjilbab harusnya sudah menyadari bahwa berjilbab itu adalah prestasi tertinggi bagi Seorang perempuan Muslim dalam menjaga Kehormatannya, jadi enggak berjilbab karena terpaksa.

Di Negeri Indonesia ini kewajiban Wanita dalam berjilbab memang selalu menjadi kontroversi dan pertentangan. Mungkin inilah yang membuat Para Perempuan Indonesia juga bingung. Jadi sebenarnya Berjilbab itu wajib atau enggak sih? Ada yang bilang bahwa Jilbab Wajib dikenakan (maaf Saya lupa di Al-Qur’an surat mana. Ada yg ingat?) namun ada ulama yang bilang Jilbab Saja masih tidak cukup dan harus ditambah memakai Cadar menutupi Muka, sementara Alwi Shihab mengatakan bahwa lebih baik tidak berjilbab kalau tidak dari hati dan kenakan Saja “pakaian yang terhormat” sebagai ganti. Kita tidak usah berdebat pakaian seperti apa Saja yang masuk kriteria terhormat itu, pakaian yang menjaga diri pemakainya dari hal-hal negatif itulah kira-kira maksud dari pakaian terhormat.

Jilbab mulai ramai dikenakan Perempuan Indonesia sekitar 20 tahunan ini. Dulu Jilbab tidak begitu eksis dikenakan, bahkan Istri Buya Hamka saja dulu enggak berjilbab, namun mengenakan Pakaian Terhormat dalam kesehariannya. 20 tahun belakangan ini para Perempuannya berjilbab untuk meneruskan tradisi dan biar dianggap Wanita terhormat, bukan karena ingin menjaga kehormatannya. Lalu apakah ini pantas dibenarkan kalau berjilbab hanya untuk meneruskan tradisi dan dianggap sebagai Wanita terhormat? Dan bukan karena untuk menjaga kehormatannya? Kalau hanya untuk agar terlihat terhormat maka itu salah, karena diluarnya terlihat terhormat namun didalamnya sering dipegang-pegang. Kalau untuk menjaga kehormatan diluar dalam terjaga. Jadi wahai Para perempuan Indonesia yang berjilbab silakan Tanya pada diri anda sendiri: Anda berjilbab untuk apa, benar-benar Ikhlas dan untuk menjaga kehormatan? Atau terpaksa atas tuntutan norma-norma yang ada di Masyarakat dan biar terlihat terhormat? Daripada berjilbab namun bete terus karena kepanasanlah, risihlah namun terpaksa memakai karena berbagai hal. Lebih baik sekalian enggak usah mengenakan jilbab namun memakai Pakaian terhormat. Karena janggal rasanya kalau perempuan mengenakan Jilbab formalitas.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 21 September 2009

( For more Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Akar.

Agustus 27, 2009

Saya tiba-tiba teringat perkataan dari seorang kawan bernama Musallamah Hasan. Dulu Saya seing ngobrol sama Dia tentang berbagai Hal. Dan Satu ketika Dia ngomong begini: “Gw sering liat orang-orang pada nempel stiker ‘Sex Pistols’ di Motor atau Helm Mereka. Yang membuat Gw bertanya-tanya gitu, mereka nempel stiker itu emang ngefans Sex Pistols beneran atau Cuma asal nempel aja? Menurut Gw ketika kita udah berani nempel stiker tuh kita harus sudah tahu dong alasan kenapa kita nempelnya. Kayak temen-teen Gw yang nempel stiker ‘Revolution Fighter’ itu karena mereka ikut dalam perjuangan revolusi ketika menggulingkan kekuasaan orde baru dulu, mereka ikut turun kejalan dan membuat perubahan. Sebenarnya Cuma obrolan ringan tentang stiker tapi kalau ditelusuri lebih dalam jadi penting juga. Apa sebuah Kultus atau Aliran yang kita ikuti itu memang sudah Kita pelajari dari akarnya? Satu hari Saya bertemu dengan Mamat, mamat ini bersama kawan-kawannya mengaku sebagai ‘Anak Punk’ Saya bertemu dengannya di Lampu Merah dekat Tol Bekasi Barat. Lalu Saya iseng bertanya padanya: “Punk itu Apa? Yang dijawabnya dengan simple “Punk itu ya kayak Gw ini, hidup dijalan dengan dandanan keren, ngamen, mabuk bareng kawan-kawan, malakin anak sekolah ama Sopir Koasi, ngejar-ngejar Bencong di Gor bekasi buat dapet Seks gratis, dll, dst, dsb. Itulah Punk dimata Mamat. Lain lagi dengan Radji, Dia Saya jumpai beberapa tahun yang lalu, dan entah dimana dia sekarang karena semenjak pertemuan pertama saya dengannya Dia sudah pergi begitu Saja tanpa bisa Saya hubungi lagi. Radji ini Saya anggap sebagai ‘Punk yang sebenarnya’ karena Dia mau mempelajari Akar dan ujung pangkal kenapa Dia memilih untuk jadi Punk, Dia mau membaca darimana asal muasal Punk dibentuk, kenapa Punk harus ada, apa saja yang harus diberi resistensi oleh Punk. Jadi Dia tahu alasan kenapa memilih jadi Anak Punk, enggak Cuma ikut-ikutan Kawan biar bisa mabuk bareng-bareng dan ikutan saja. Sementara itu Dewi”dee”Lestari dalam bukunya Supernova: Akar menceritakan seorang tokoh bernama ‘Bong’ yang menurut Saya juga seandainya Bong ini benar-benar ada, maka Dialah Punk yang sebenarnya. Yang Tahu alasan kenapa Ideologi Punk dipilihnya, Sayangnya di negeri yang suka ikut-ikutan ini mungkin lebih banyak Anak Punk yang seperti Mamat ketimbang Bong atau Radji.

Lalu entah kenapa tiba tiba memori Saya tercelat ke perkataan Bobby Setenk. Vokalis dan gitaris berkharisma dari The Patient, sebuah band Grunge asal bekasi. “Ris, Gw sih lebih respect ke anak Grunge kayak Elo. Kalo orang-orang yang ngaku-ngaku anak grunge di Internet itu Gw ga percaya, soalnya kebanyakan mereka Cuma ngomong doang, ngakunya anak Grunge tapi hidup teratur, makan, bera, tidur dirumah Ortu. Kalo elo Ris, Lo jalanin kehidupan yang keras bener-bener. Elo kerja sendiri, hidup nyari makan. Sampai kerja apa juga dari jadi Buruh bangunan sampai Buruh Pabrik Elo pernah kerjain. Itu Grunge yang sebenarnya” hal mana yang kemudian juga membuat Saya teringat tulisan seorang yang aduh maaf Saya lupa namanya, yang jelas tulisan ini ada di Draft Buku ‘Grunge Indonesia, Subkultur para Pecundang’ karangan MasYoyon gitaris Ballerina’s Killer. Tulisannya kira-kira begini intinya “ketika dalam grunge itu sudah tidak ada ‘Pain’ didalamnya, apa Ia pantas lagi disebut Grunge? Bukankah genre grunge terbentuk dari Pain? Ketika orang-orang pelakunya mempunyai masalah dengan hidupnya yang berantakan dan kacau balau. Dalam hidup mereka selalu ada Pain, maka Mereka lari ke Grunge. Sementara tipikal anak Grunge Indonesia, oke ortu kalian tajir, kuliah di perguruan tinggi terbaik atau Sma unggulan, makan kenyang, tagihan internet bulanan tinggi, pacar cakep, dugem sering, alat musik kualitas terbaik. Dengan gaya hidup

yang teratur seperti itu mana ada Pain didalamnya? Pantaskah mereka ini masih disebut grunge?” ada lagi contoh lain. Satu ketika Saya menonton Festival band Band di Bekasi. Semua band yang main ya kebanyakan membawakan lagu-lagu pop gitu lah. Lalu dipertengahan acara ada satu band yang penampilannya nge Grunge banget dengan flannel, celana bolong dan attitude slenge’an. Dengan sesumbar Vokalisnya berteriak-teriak “Woiii band lain yang main disini goblok semua, kayak Band Gw dong keren. Grunge not dead…” dan tahu apa yang dimainkannya? About A Girl dan Smells Like Teen Spirit dengan vocal fals, Drum out of tempo, chord yang salah, serta bass yang bahkan kayak enggak dimainkan. Ketika Dia turun panggung Saya sempatkan bertanya padanya ‘Apa itu Grunge bro?” dan dijawabnya dengan Simple “Grunge itu yah kayak Gw, mabuk, Nirvana, Flanel, jeans Bolong, keren kan?’

Lalu Saya juga membaca sebuah Review tentang Event grunge disini:

http://www.jurnallica.com/report-2009_05_grunge-gods2.htm

Yang cukup menarik dari review itu adalah kata-kata ini:

Ya, memang acara ini hanya untuk mengenang musik-musik grunge mainstream yang ada di TV & radio era 90-an. Audiens di malam itu mengenal & memainkan grunge hanya dari band-band mainstream-nya. Mereka hanya mendengarkan album-album grunge major label saja, tidak notice dengan grunge lainnya (ket: band indie-rock/post-punk/hard-rock/heavy-metal dengan sound khas Northwest, USA akhir 80-an) seperti rilisan SST Records, Touch n’ Go Records, Neutral Records & K Records. Jadi kalian tidak akan mendengarkan lagu-lagu dari Bikini Kill ataupun Blood Circus dimainkan di sini. Oh well, mungkin sayanya aja yang terlalu underground puritan.

Karena bagi saya pribadi, “grunge gods” bukanlah Pearl Jam, Alice In Chains atau Nirvana sekalipun. Yang benar-benar “gods” adalah mereka para pelopor yang underatted dan hanya dikenal dalam skala kecil saja, seperti: The Melvins, (late) Black Flag, Flipper, Skin Yard, Screaming Trees, Soundgarden, Mudhoney, dll. Mungkin hal inilah mengapa scene grunge di Indonesia tidak bisa standout dan benar-benar maju. Tidak seperti scene indie-rock lainnya di Indonesia (shoegazing, indiepop, noise, garage-rock, nu-wave) yang bisa maju dan berkembang. Karena mereka mendekatkan diri ke root underground dari mana musik mereka berasal. Berbeda dengan scene grunge yang hanya mendengarkan grunge-grunge mainstream saja. Jadinya, scene grunge di Indonesia hanya menjadi scene yang penuh dengan imitator artis-artis grunge mainstream. Menyedihkan!

Lalu sebuah pujian untuk Navicula, Grunge Heroes from Bali:

Oke, mari lewatkan tulisan omong-kosong saya di atas. Saatnya band terakhir yang ditunggu-tunggu yaitu grunge legendaris asal Bali, Navicula! Saya memang tidak mengikuti diskografi mereka. Tapi berdasarkan research saya, refrensi musik mereka luas juga taste musiknya yang bagus. Unsur itu merupakan salah satu modal untuk membentuk sebuah band yang bagus! Ternyata benar ekspektasi saya, Navicula benar-benar band yang bagus!

Mereka membuka set dengan lagu barunya “Menghitung Mundur”, komposisi psychedelia yang menghanyutkan dan penonton langsung dikejutkan dengan riff-riff heavy ala Gruntruck di lagu-lagu berikutnya! Moshing, headbanging & stage-diving tidak bisa dibendung lagi. Seisi venue terbakar oleh adrenalin. Nampaknya di materi-materi terbaru Navicula semakin heavy-rock/alternative-metal, bergeser dari style grungy hard-rock di rilisan-rilisan awal mereka.

Yang membuat saya salut dari Navicula adalah, mereka bisa menelusuri root dari musik grunge yang mereka mainkan (70’s psychedelic, 70’s hard-rock/blues/ heavy metal). Jadinya musik mereka betul-betul terasa root-nya! Tidak seperti kloning-kloning Nirvana, Pearl Jam, Silverchair & Creed yang sudah sering saya dengar di scene grunge lokal. Karena mereka (band-band kloningan) mendengarkan musik tanpa mempelajari sejarah dari musik itu sendiri.

Ya, klimaks acara malam itu memang dipegang oleh Navicula. Mereka bisa menjadi “god” tanpa harus memainkan lagu-lagu dari artis-artis grunge luar. Saya juga berani bilang kalau Navicula adalah penyelamat scene grunge di Indonesia!

Kasus-kasus yang Saya ceritakan diatas Cuma sebuah contoh dari banyak kasus lain, betapa orang-orang kita ini sering fanatis terhadap hal namun enggak berusaha mempelajari dasar kenapa ia bisa fanatis dengan hal itu. Kebanyakan ikut-ikutan atau biar terlihat keren, kenapa mamat harus ikut-ikutan jadi anak Punk tanpa mau mempelajari pergerakan Sex Pistols, Ramones, atau The Clash pada awal genre ini terbentuk? Kenapa Anak Grunge Indonesia harus berfilosofi bahwa Grunge itu Nirvana, mabuk, fals, banting gitar, dan enggak mau mempelajari akar terbentuknya grunge itu darimana? Kenapa mereka enggak mau terima Bahwa mereka setengah mati fanatis hanya memuja Cobain, padahal Cobain sendiri begitu tergila-gila pada begitu banyak artis dengan beragam Aliran macam The Beatles, Led Zeppelin, The Vaselines, Pixies, Melvins, dan buanyaaaaaakkk lagi. Saya sendiri enggak pernah menganggap diri sebagai ‘Anak grunge’  sekalipun Bobby Setenk menyebut Saya “Grunge”

Saya suka genre itu, Saya mendengarkan band-band yang termasuk dalamnya. Namun dengan mentasbihkan diri sebagai ‘anak grunge’ maka Saya hanya akan mengkotak-kotak kan musik dan alangkah bosannya menjadi Anak Grunge. Saya lebih suka disebut ‘Rocker’ karena dengan kata “Rock’ maka artinya menjadi luas sekali termasuk dalamnya subgenre-sugbenre yang ada dalam rock itu. Ini bukan sangggahan atau resistensi kalau Saya disebut ‘anak Grunge’ Cuma sebuah Advice atau ajakan kepada semua: Jadi saya memang mengamini ucapan Musallamah Hasan, Bobby Setenk, atau Radji. “Ketika kita mengaku sebuah ideology, Kultus, atau apapun sebuah aliran musik itu. Mbok ya ayo dipelajari dasarnya dulu kenapa Kita suka dan memilihnya. Jangan Cuma ikut-ikutan, biar terlihat keren, atau Cuma karena kurang kerjaan aja begitu. Jadinya nanti kayak Mamat lagi, ikut-ikutan jadi Punk tapi malah tersesat jadi tukang palak Sopir Koasi di jalan. Atau Kayak band apa namanya itu yang ngaku grunge, Nyaris ngebanting gitar panitia Festival tapi taunya Cuma lagu About A Girl Mari belajar dari root nya. Biar enggak tersesat.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 27 Agustus 2009

(For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Cerpen: Lebah.

Agustus 6, 2009

“,…Kenapa Kau terus menunggunya? Bukankah Ia belum tentu menunggumu juga”?

“…Aku tahu Ia sedang memikirkanku seperti ketika Sekarang Aku memikirkannya, karena Ia adalah pangeran lebah yang selalu ingat jalan pulang ke sarang, dan Aku lah Sarangnya….”

Sebuah percakapan Biasa antara Aku dan Dewi, percakapan yang tak pernah mengalami eskalasi seperti yang kuharapkan. Percakapan yang semenjak setahun kita berteman hanya berkutat di seputaran bagaimana Ia sangat menantikan kepulangan Pangeran Lebahnya, bagaimana Ia sangat merindukan sengatan Cintanya, dan lain sebagainya. Padahal Aku tentu Saja sangat ingin percakapan ini beranjak saja kesesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dari percakapan biasa dua teman disore hari di taman kota kala matahari mulai memerah, Aku ingin percakapan ini jadi obrolan dua insan yang,,….Ah Kau tahulah maksudnya. Aku dan Dewi memang pribadi yang benar-benar berbeda, Aku cenderung menggebu-gebu akan beberapa hal, sementara Ia sering menganggap sesuatu biasa Saja. Ia bisa saja habis tersengat lebah (secara harfiah alias kesengat lebah beneran) namun ia hanya Akan menganggapnya biasa saja, hal yang bila terjadi pada orang lain sudah membuat mereka menangis. Tapi mungkin karena perbedaan itulah kami bersatu, sejak pertemuan kita setahun yang lalu hingga sekarang, kami jadi tak terpisahkan. Sebagai Sahabat. Dan bercakap-cakap disore hari dibangku taman adalah kebiasaan kami berdua yang sering kami lakukan. Setelah bosan bercakap-cakap hingga mulut berbusa maka biasanya kami akan berjalan bersama untuk pulang kerumah, Aku pastikan melihatnya masuk rumah dulu, baru Aku pulang kerumahku sendiri. Esok harinya terulang lagi seperti itu, dan begitu, dan begitu.

“,….Setahun yang lalu ketika kita baru berteman Kau bilang padaku Ia pergi setahun yang lalu, berarti sudah 2 tahun Ia pergi, 2 tahun Dewi. Waktu yang cukup lama untuk membuat seorang pria sudah melupakanmu. Apalagi yang Kau harapkan darinya,,…:”?

“,……Probabilitas sahabatku, Segala yang tidak mungkin didunia ini bisa jadi mungkin. Maka Aku mungkinkan Pangeran lebahku akan kembali…”

lagi dan lagi, stagnasi terulang lagi. Percakapan soreku dengan Dewi yang tak kunjung meningkat jadi percakapan sepasang kekasih, Dewi menunggu seorang Pria yang dijulukinya ‘Pangeran Lebah’ Ia sudah menunggunya bertahun-tahun, Ia bilang Pangeran lebahnya sedang menuju negeri yang jauh, yang saking jauhnya sampai tak ada di peta dunia atau di Google Earth. Ilmu yang dicarinya katanya akan bisa bisa membuat perubahan besar pada Dunia. Ilmu yang katanya Akan membuat lebah Amat bermanfaat bagi Dunia. Cinta Dewi kepada Pria itu tentu saja cinta biasa seperti cinta manusia lainnya, biasa bagi mereka, tidak biasa bagiku. Sumpah. Aku mencintaimu lebih baik darinya wi, Aku yang mendengar keluh kesahmu ketika Kau sedang sedih. Aku pula yang mengelap Air matamu dengan tisu basah saat Kau meneteskan Air mata kerinduan mendalam pada Sang Pangeran, Aku Antar Kau kemana Kau suka, Aku pula yang selalu bercakap denganmu dibangku taman Kota yang banyak nyamuknya kalau sudah malam. Dan kenapa Kau harus kompulsif dengan segala yang berbau Lebah? Demi Kau Aku rela jadi lebahmu, apa Kau mau Aku jadi Tawon Ndas yang akan melindungimu dengan ganasnya ketika Kau sebagai sarang dalam bahaya? Oh, mungkin jadi Tawon Madu Saja biar Kau bisa minum madu tiap hari, apa saja demi Meningkatnya hubungan kita….kumohon lupakan saja pangeran lebahmu dan berpalinglah padaku, Aaarrggghhhh Aku dikerubungi imajinasi tentang ribuan lebah mengeroyokku. Aku jadi Apiphobia. Aku benci lebah bukan bermaksud mendiskriminasikan makhluk Tuhan, cuma karena Kau sangat mencinta Pangeran Lebah, sementara Aku mencintaimu, dan Pangeran lebah hilang entah kemana.

“,,…Dewi, Kenapa dari siang tadi wajahmu murung terus begitu…”?

“…Kau tahu tidak kemarin ada seseorang yang menulis sesuatu di Wall Facebook ku. Dan Kau tahu siapa Dia? Pangeran Lebahku, Aku senang setengah mati sampai melompat-lompat. Kau Tahu apa yang dituliskannya: HI APA KABAR. Dengan huruf kapital, HI APA KABAR..”

“Lalu kenapa Kau malah murung? Bukankah harusnya Kau senang mendapat kabar darinya?”

“Karena ketika Kubaca Info Facebook nya ternyata ada tulisan ‘Bee Prince is in relationship with Nadia Natalie Sovia’.

Pak Djamil tukang sapu taman sudah tentu heran melihat Kami sore ini, kami yang biasanya cuma bercakap-cakap di bangku itu kali ini terlihat lain. Aku duduk biasa menatap kejauhan, sementara Dewi menyandarkan Kepalanya dibahuku, menangis sesenggukan. Lalu apa mau dikata? Ia mengharapkan kebetulan berpihak padanya dan mengembalikan seorang Pria yang amat dicintainya yang sudah pergi bertahun yang lalu. Ia berfilosofi lebah selalu bisa pulang kesarangnya meski sudah terbang berkilo-kilo meter mencari sari bunga, maka Pangerannya juga akan kembali. Namun pada akhirnya Dewi mendapat pelajaran bahwa dalam hidup ini terkadang kita tak harus mendapatkan apa yang kita inginkan, kadang kita harus dibuat kecewa karena menunggu sebuah ketidakpastian. Ia mengamini ucapan Albert Einstein “Sesuatu yang tidak pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri” ketidakpastian hubungannya dengan pangeran lebah yang selama bertahun-tahun dipertanyakannya ternyata terjawab lewat sebuah tulisan di sebuah Situs jejaring pertemanan buatan Mark Zuckenberg, yang sedang digandrungi didunia dan membuat segala kalangan kecanduan. Bukannya bermaksud memanfaatkan momen ketika Dewi sedang sedih, tapi ya seperti kuceritakan tadi Kawan. Aku ingin percakapan soreku dengannya meningkat dari cuma percakapan antar Dua sahabat yang sama-sama suka baca, menjadi percakapan Dua kekasih yang juga suka Baca. Optimismeku memuncak dan bla bla bla…

“…Dewi, Pangeran Lebahmu sudah benar-benar tak akan kembali karena Ia telah menemukan sarang lain untuk pulang. Jadi apakah kini Kau mengijinkan Aku menjadi Pangeran Lebahmu…?”

“…Hey, Kau mempertanyakan sesuatu yang sudah pasti jawabannya. Kau tahu, lebah itu binatang yang setia. Konon pejantannya akan terus menjadi pasangan Ratu lebah hingga ajal datang menjemput. Nah kenapa ilmu percintaan lebah itu tak kuterapkan saja dikehidupanku. Aku akan terus menunggu kedatangan Pangeran lebah”

“Sekalipun Ia sudah pasti pergi dengan Wanita lain dan takkan kembali?”

“Tentu saja, kenapa tidak…”

Facebook Mobile Home.

Home * Profile * Friends * Inbox (69)

You Have 2 New Notifications

You Have 69 New Messages

You Have 79 Event Invitations

Status Updates

Dewi Bee Lover Tahu ga, gw kayaknya bakal terima cinta sahabat dkt gw deh. Setelah gw pikir2 Kayaknya Dia pas bgt gitu buat jd pangeran lebah gw. Nanti sore pas qta ngbrol di taman kyk biasana gw bakal terima cintanya. (2 hours Ago) – 50 Comments – Like

Dewi Bee Lover

Update Status

Clear

Azkiya putri BT bgt kul ngebosenin (2 hours Ago) – 8 Comments – Like

Arid Prasaja mendengarkan Tak gendong….. (5 hours Ago) – Comments – Like

Taufik Hidayat Like This

A Man That Love His Best Friend Wanna take a suicide, cinta ditolak, bunuh diri bertindak. Bye cruel world.

(2 hours Ago) – 235 Comments – Like

SELESAI

Bekasi 6 Agustus 2009

Tambahan: Cerpen ini bukan bermaksud mengajarkan agar membenci lebah, atau salah satu bentuk diskriminasi akan lebah. Justru cerpen ini ditulis ketika Sekarang ini Saya sedang tertarik dengan makhluk itu, tidak ada satu lebahpun terluka selama pembuatan cerpen ini, cerpen ini juga tidak mengajarkan tentang kita harus bunuh diri ketika Cinta ditolak. Sama sekali tidak. Saya hanya berusaha mengatakan bahwa segala probabilitas bisa saja terjadi didunia ini. Tokoh Dewi yang menunggu seseorang dan ternyata Ia sudah punya kekasih lain, Dewi yang pada Akhirnya memang cinta tokoh pria dan siangnya hendak menerima cintanya, namun sang pria sudah memutuskan bunuh diri diketahui dari status Facebook. Moral dari cerita ini tentu saja bahwa segala kebetulan itu bisa saja terjadi dlm hidup, jadi jangan terlalu fanatis menanti sesuatu, atau terburu-buru melakukan hal konyol. Karena kedepannya sebuah kebetulan akan bisa merubah segalanya, dan ketika kita terlanjur bertindak konyol maka hanya ada penyesalan semata.

REGARDS

-Aris Setyawan-

Cerpen: “Kamu Harusnya Bisa Seperti Dikan Dong Sayang. (Lip-sync)”

April 8, 2009

Photobucket
….Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…??!!!!!! Dia itu cowok yang penyabar, dan pasti selalu Sayang sama kekasihnya,,,,….

Itu yang selalu diucapkan Irene pacarku, kalimat favoritnya yang keluar ketika Ia sedang kesal padaku atau ketika kita sedang berantem. Maka Ia akan segera membandingkan Aku dengan Vokalis salah satu band (katanya) papan atas itu. Dikan, Dikan, Dikan. Ah mungkin sebenarnya memang Dikan itulah yang pantas disebut sebagai pacar Irene dan bukan Aku. Karena menurutku pemujaan Irene kepadanya sudah tergolong kompulsif, sangat berlebihan serta terobsesi. Ketika Kami berdua nonton di Bioskop, maka Irene akan berujar: “Ah kira-kira si Dikan itu suka nonton film apa ya Say…” pas sedang makan es krim berdua: “heeemmm….enak banget sich es krimnya, manis, semanis suara Dikan…. Dan bahkan yang paling parah dan bisa kucap sebagai benar-benar gila ketika Irene dengan bangganya menyejajarkan Dikan itu sebagai Vokalis band terbaik berbarengan dengan Paul Mccartney atau Iwan Fals, walau sebenarnya Irene tahu bahwa sangat tidak mungkin Dikan itu bisa dibandingkan dengan Sir Paul atau Bang Iwan, tapi tetap saja Ia ngotot padaku kalau mereka bertiga berkemampuan sama. oh Tuhanku setan apakah gerangan yang menyesatkan pacarku ini….???

…Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…??!!!!! Suaranya tuh bagus banget kalau lagi nyanyi di Tv. Nah sementara kamu kalau nyanyi enggak jelas gitu….

Opini Irene ketika mendengar Aku menyanyi. Padahal Aku sudah menyanyi sepenuh hati namun Irene tetap membanding-bandingkan Aku dengan Dikan-nya itu Cuma karena Aku nyanyi lagu sosial (yang katanya ga jelas) sementara Dikan nyanyi lagu selingkuh. Aku memang menjadi vokalis sebuah band alternative yang kurang dikenal namanya dan bukan juga band papan atas yang lagunya bercerita tentang keadaan sosial politik negeri ini yang secara otomatis dicap sebagai band ‘enggak jelas’ oleh orang-orang pecinta ‘lagu selingkuh’ seperti pacarku itu. Aku dan Irene pacaran sejak Aku dan Dia masih kuliah semester 3 hingga Akhirnya Aku sekarang bekerja di salah satu stasiun tv swasta. Gaya pacaran kami biasa saja seperti kebanyakan orang, kami jalan-jalan ke mall di malam minggu, menyempatkan menonton film terbaru berdua, dll. Entah apa yang membuatku terpesona dengan Irene dulu. Yang jelas selama itulah Aku yakin bahwa Aku memang Sayang Dia, terlepas dari masalah Ia tergila-gila dengan vokalis band papan atas itu tentunya. Dulu awal-awal pacaran kami Ia sudah mulai menampakkan tanda-tanda obsesinya akan Dikan. Cuma satu kata itu yang diucapkannya bahkan mungkin melebihi ucapan namaku dari mulutnya. Seolah 24 jam hidupnya harus dipakai untuk mengucapkan nama Dikan, Dikan, Dikan. Dan semakin kesini kegilaan itu mulai terasa menganggu, sebab Irene mulai berani menyuruh Aku untuk mengganti nama Saja menjadi Dikan agar ketika Ia kangen setengah mati Ia bisa melampiaskannya padaku. Beberapa tahun setelah Aku bekerja di stasiun tv itu Akhirnya aku menikahi Irene. Kami menikah seperti pasangan biasa juga, Cuma satu yang tak biasa: inilah pertama kalinya pernikahan adat jawa dilangsungkan bukan dengan musik gamelan sebagai pengiring. Tapi seperangkat gamelan harus mengalah tersingkir tergantikan oleh lagu selingkuh yang diputar di VCD bajakan.

Sejak dulu kala Aku sering mendengar istilah ini, istilah yang selalu dikatakan kepada para calon-calon pengantin baru untuk memberikan greget, atau diucapkan kepada yang belum nikah-nikah biar pengen buru-buru nikah. Orang-orang sering bilang: “Beuh, malam pertama tuh bener-bener nikmat, serasa jadi raja dan ratu dalam semalam deh….hahaha mungkin karena terdoktrinasi istilah itu akupun sangat menantikan malam pertama ini. Dan ketika saatnya tiba, Irene masuk kamar pengantin, Aku sudah membayangkan Akhirnya bisa bercinta denganmu Sayang secara resmi dan enggak berzina. Kami mulai foreplay, berciuman dengan panas, mulai melepas…(maaf demi keamanan agar tak terdamprat UU Pornografi & Pornoaksi tulisan adegan bercinta terpaksa disensor) oh Ireneeeeeee……..Aku memanggil-manggil namanya dengan mesra….oooooohhhhh Dikaaaannnnnn… nama itu yang didesahkan Irene, bahkan dimalam pertama kami. Mood bercintaku turun drastis demi mendengarnya. “Sayang cukup sudah semua kegilaan ini, Kamu terus menerus menyebut nama itu dari semenjak Kita pacaran dulu bahkan hingga kini dimalam pertama kita. Dikan, Dikan, Dikan. Kamu aja ga kenal Sama Dia Ren, Kamu Cuma menonton Ia menyanyi untuk bandnya di televisi, kamu belum pernah ketemu Dikan itu. Bagaimana bisa Kamu bilang Ia begitu baik, sabar, suaranya bagus. Kamu tahu enggak sih kalau suara bagusnya ketika sedang bernyanyi di teve itu palsu, namanya
lip-sync
, Ia hanya pura-pura nyanyi diiringi suara musik. Lagian apa sih bagusnya lagu Dikan ini? Lagunya Cuma bercerita tentang selingkuh dan selingkuh, apa jangan-jangan kamu memang suka dengan lagu-lagu selingkuh itu karena kamu pengen selingkuh dengan si Dikan ini?

…Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…???!!!!! Ia membela hak-hak para manusia yang sudah memantapkan dirinya untuk selingkuh dari pasangan, Ia adalah pemimpin kelompok minoritas yang memutuskan untuk menjadikan selingkuh hal yang wajar dan memasyarakat, Dikan itu Leader band yang hebat, Ia hendak ‘memasyarakatkan Selingkuh dan Menselingkuhkan Masyarakat’. Kamu tadi Tanya apa? Aku hendak Selingkuh Sama Si Dikan? Yah kalau emang Dikan nya mau Sama Aku kenapa tidak? Kamu enggak keberatan kan Sayang kalau Aku selingkuh sama Dikan…????

Cukup sudah, kegilaan ini harus diakhiri sampai disini, hati istriku sudah direbut oleh Dikan itu, seseorang yang bahkan tak kukenal, Irene juga tak mengenalnya secara langsung. Diam diam Aku merencanakan sebuah balas dendam. Akan kuruntuhkan karier bermusik Dikan. Hari ini Ia akan tampil di acara musik stasiun tv tempatku bekerja. Band nya didaulat untuk Lip-sync ketika tampil live secara nasional dan itulah saatnya, Aku di perusahaan ini bertugas mengatur bebunyian-bebunyian yang muncul di speaker tv yang kalian setel itu. Intinya Akulah yang bertanggung jawab mengatur suara. Aku akan merusak musik yang diputar ketika Dikan tampil sehingga rencana Lip-sync nya berantakan. Hahahahaha, Aku menyeringai puas, sebentar lagi wahai istriku, Dikan itu akan kuhancurkan, dan kau akan tahu kepalsuannya dalam bernyanyi. Akan kubuat Ia terkencing-kencing malu dihadapan tv nasional persis seperti Ashlee Simpson ketika Lip-sync di Saturday Night Live. Aku ingat kejadian itu, karir Ashlee langsung Anjlok pasca tragedy Lip-sync. Aku akan membuat hal yang sama pada Dikan.

New message received:
Tuesday March 20, 2009
From: Irene +628562129087
To: My Number

….Sayang kamu sedang kerja kan? Kerja yang bener yah, soalnya sekarang kan Dikan mau nyanyi, Aku lagi nonton Dirumah nih…Love You.

Sms dari Irene, menandakan akan dimulainya rencanaku. Tak lama kemudian presenter acara musik bicara mempersilahkan …band untuk tampil:

..”Ok sahabat Awesome dimanapun berada, ini band yang sudah ditunggu-tunggu penampilannya dari tadi, kita tampilkan …Band. Cekidot

Kupencet tombol play dan mulai mengalunlah lagu bertema selingkuh itu, sementara dipanggung Sang Dikan dan band nya mulai pura-pura bernyanyi dan bermain musik sepenuh hati. Aku men cemooh mereka dalam hati “huh segala penampilan palsu begitu…” setelah beberapa lama Aku mulai lancarkan seranganku, kupencet tombol play dan pause berulang-ulang hingga hasilnya lagu selingkuh yang tadinya terdengar berganti jadi bunyi tededeteteede teeeeeettt treeeettttt jkfhuifhiu*&^%%$#%hcv. Semua orang jadi terkaget-kaget, semua crew, host acara, penonton di studio, si Dikan itu apalagi, Ia jadi gelagapan dan salah tingkah. Hahahahaha mampus kau, sebentar lagi Kau akan dihujat habis-habisan oleh kritikus musik, seluruh penggemarmu akan memaki-makimu, dan karir bermusikmu akan runtuh. Aku sudah tersenyum tanda puas akan keberhasilan balas dendamku. Namun beberapa detik kemudian mendekatlah produser kesampingku “Apa yang Kamu lakukan goblok?” crew acara yang panik segera mengutus presenter untuk naik panggung, presenter itu kemudian berujar ada sedikit kesalahan teknis dan mengajak kita semua menonton komersial break berikut ini. Sementara manajer …band mulai marah-marah bertanya apa yang terjadi…

…Sayang, Aku tahu kita baru menikah beberapa minggu, Aku tahu Kamu sayang Aku, Aku juga Sayang Kamu. Tapi perbuatanmu merusak Show Dikan tak bisa kuampuni. Kamu harusnya bisa seperti Dikan Dong Sayang….??!!!! Ia bukan pendendam dan Ia pria yang pemaaf….

Kata-kata itu keluar dari mulut Irene ketika datang di Sidang perceraian kami. Entah kenapa semua jadi begini, Aku yang Cuma mau melakukan sesuatu untuk merebut kembali hati istriku dari seorang vokalis band selingkuh. Akhirnya malah kehilangan segalanya. Setelah tragedy Lip-sync yang kurencanakan buat Dikan, Aku langsung dipecat dari Stasiun tv tempatku bekerja, gilanya lagi ternyata scenario Dikan bakal dihujat kayak Ashlee Simpson itu tak terjadi, para penonton tetap bersorak dan mengelukan Dikan, bahkan RBT band itu makin laris setelah kejadian Lip-sync. Tak ada kritikus musik yang mencela dan menghujat Lip-sync mereka karena para kritikus itupun tengah sibuk berselingkuh dengan kehidupan mereka sendiri, namun yang paling parah adalah ketika Irene memutuskan mengajakku bercerai tepat beberapa minggu setelah kami menikah, Ia akhirnya memang memilih berselingkuh dengan Dikan….lalu salah siapa ini semua harus terjadi? Salahku yang begitu dendam kepada vokalis band papan atas yang tak kukenal itu karena namanya yang selalu disebut-sebut Irene? Atau salah Dikan yang menyanyikan lagu selingkuh ditengah masyarakat yang tengah krisis produktivitas? Oh mungkin salah Irene yang tergila-gila padanya, Salah penonton Show yang tetap bertepuk tangan dan bersorak riang meski artis yang sedang ditontonnya itu Lip-sync, salah siapa…???? Pastinya Irene tetap menyalahkanku atas semua yang terjadi. Ok Aku kehilangan pekerjaan, Aku kehilangan istri, namun setidaknya Aku tak kehilangan kehormatanku sebagai penyanyi dengan cara menyanyi benar-benar untuk bandku ketika kami sedang manggung.

New message received:
Tuesday April 7, 2009
From: Adhi Blekok +62810897666
To: My Number

Sob, Kta dpt kesempatan bgs nih bwt manggung di tv besok pagi, kta didaulat jd band pembuka utk …band, lumayan nib bwt nyari jln ke industri musik, tp kta cma Miking doang bro, Lip-sync gt. Ni soalna dah perintah produser, gpp kan? bls

New message received:
Friday April 8, 2009
From: Irene +628562129087
To: My Number

Hi, apa kabar? Lama enggak kasih kabar deh. Gimana kehidupan kamu sekarang? Baik saja kan? Oh ya Aku denger kabar band kamu bakal manggung ya nanti jam 9? Jadi pembuka utk …band. Selamat ya, sukses deh buat kamu. Oh ya Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong ya…Kamu harus tiru dan contoh Dia, Dia itu bisa bernyanyi sepenuh hati dan jiwa raganya serta amat mendalaminya…sukses deh shownya.

TAMAT

Aris Setyawan
Bekasi 07 April 2009

Lip-sync: kepanjangan dari “Lip Syncronize” adalah berpura-pura bernyanyi atau memainkan alat musik diatas panggung seraya diringi musik. Lip-sync sering dilakukan musisi dengan alasan kurang bagusnya suara asli penyanyi bila harus tampil live, atau alasan kondisi teknis dimana melakukan Lip-sync lebih mudah dan praktis ketimbang harus menata set alat musik bagi musisi itu yang terkadang rumit dan membutuhkan persiapan panjang.

Cerita Tentang Homicide “Tha Nekrophone Dayz”

Maret 5, 2009

Photobucket

WARNING: Cerita atau review ini sepenuhnya Subyektif sesuai dengan perasaan Saya yang saat menulis Cerita ini sedang tergila-gila mendengarkan Tha Nekrophone Dayz nya Homicide. Jadi buat yang enggak suka sama mereka, menganggap Homicide itu Komunis, Atheis, Agnostik, atau apalah. Lebih baik berhentilah membaca sampai disini. Karena cerita ini adalah sebuah tanda salut dan respect Saya untuk Group asal Bandung ini.

Yah, belakangan Saya tengah tergila-gila dengan group Hiphop asal Bandung ini. Sebuah Group Hiphop? Kenapa Saya bisa Suka dengan group hiphop ini, padahal dari Dulu Saya bersumpah Sangat enggak Suka dengan Aliran ini, Saya Anggap Hiphop itu hanya sebuah Aliran berengsek-berengsek yang kebanyakan duit lalu menghamburkannya dengan membeli bling-bling sebanyak mungkin, memodifikasi shockbreaker mobil hingga bisa melompat seraya hendak terbang, bernyanyi (atau hanya mengoceh…???) membacot cepat dengan lirik tentang gangster atau kehidupan Niggaz atau narkoba atau memble, atau So What Gitu Loh….??? Itulah Opini Saya tentang Hiphop Dulu. Saya Anggap hiphop Hanyalah musik untuk orang-orang yang kurang kerjaan atau kebanyakan duit dan hendak memvisualisasikan bahwa mereka berbeda dengan orang-orang lain yang miskin.

Tapi opini Saya tentang Hiphop berubah setelah tahu Homicide. Sebuah Anomali yang lebih Aneh dari musik yang mereka bawakan. Hiphop sejenis Public Enemy atau the Last Poet sebagai Influence mereka, Political Rap yang ngomongin politik secara Sadis. 8-Ball Cuma berani teriak-teriak Ngajak ngentot Kangen Band tapi lempar batu sembunyi tangan. The Law apalagi Cuma berani ngumpatin band-band se Indonesia tapi enggak berani Berkonfrontasi secara langsung. Tapi Homicide berbeda, mereka berani menuduh Sana sini tapi dengan kecerdasan, dan mereka berani menampakkan diri secara langsung. Lalu apa yang membuat Saya langsung Suka dengan group ini? Mereka bisa Saya bilang group Hiphop terbaik Negeri ini, mereka tidak bicara tentang memble, atau bling bling, atau So What Gitu loh, atau Ngentot, atau tipikal lirik-lirik band Hiphop Kacangan. Mereka lebih suka bicara neoliberalisme dan bahayanya untuk negeri ini, tentang kapitalisme busuk korporasi multinasional yang menjadikan Negara kita ini sebagai lubang senggama. Tentang bagaimana busuknya pemerintahan negeri, atau tentang para Fasis yang bertopeng Agama dan Konstitusi yang dengan seenaknya membacok leher orang. Mungkin tema yang mereka bawakan akan terlalu berat buat beberapa orang, tapi amat menyenangkan.

Homicide sebenarnya sudah lama berdiri, mereka adalah legenda hidup hiphop Indonesia, namun mereka sangat miskin rilisan. Dari awal Homicide berdiri sampai memutuskan bubar beberapa waktu lalu, Lagu-lagu mereka berserakan sebagai EP atau Single. Hingga Akhirnya seluruh serakan lagu-lagu itu dikumpulkan dalam sebuah Album (atau lebih tepatnya Kumpulan EP) ini yakni Tha Nekrophone Dayz. Dirilis tahun 2006 (dan Saya baru beli sekarang) sementara Album terakhir mereka sebelum Homicide memutuskan bubar “IllSurrekshun” baru dirilis kemarin. Saya menemukan Homicide dari MySpace mereka, setelah mendengarkan lagunya ternyata bagus banget, Akhirnya Saya putuskan memesan CD Tha NEkrophone Dayz mereka. Ketika CD itu Sampai Ia tiada henti Saya putar untuk mempelajari semua yang ada didalamnya. Tha NEkrophone Dayz berisi 18 Track termasuk Intro, dalam paket CDnya ada Booklet kecil dengan eksplanasi singkat sejarah berdirinya Homicide, gambar-gambar Kuburan. Lalu ada Lyrics Sheet yang super duper panjang (wajib baca Liriknya biar tahu apa sih yang mereka omongin di lagunya) beberapa Ekplanasi tentang lagu-lagu dalam Tha Nekrophone Dayz. “Boombox Monger” adalah memori Lama Ucok a.k.a Morgue Vanguard yang mengkisahkan ingatannya tentang Hiphop 70-an; “Puritan (Godblessed Fascists) lagu kontroversial yang berbicara tentang sekelompok fasis bertopengkan Agama dan Ideologi yang seenaknya menebas leher orang lain yang menganggap moral mereka paling baik lalu seenaknya menghilangkan Nyawa orang (kalian tahu maksudnya kan? Siapa kelompok ini); “Semiotika Rajatega” lagu sadis berupa tikaman untuk group Hiphop lain yang membenci Homicide; “Barisan Nisan” track sepanjang tujuh menit lebih yang berisi Sampling-an aneh serta Spoken Word dari Ucok, Ia tidak bernyanyi disini. Cuma berpidato lintas tema, berkarakter sangat kuat; “Senjakala Berhala” Track favorit Saya. Coba dengarkan ditengah malam kalau berani. Flow serta kecepatan nge-rap yang sangat luar biasa, membuat Saykoji tertinggal jauh dibelakang tak bisa mengikuti kecepatannya; “Belati Kalam Profan” Saya suka beatnya; “Rima Ababil” dengan cara nge-rap yang Radio Friendly sebenarnya track ini bisa diputar diradio, namun demi mendengar sampling Orasi pejuang Ham Almarhum Munir di awal lagu, sudah pasti Radio-Radio tak berani memutarnya; “Sajak Suara. Ucok membacakan Puisi Karya Widji Thukul, penyair era Orde Baru yang dihilangkan paksa pemerintah; “Nekropolis” lagu yang amat berisik, ditambah Teriakan Addy Gembel vokalis band Death Metal Forgotten.

Ah susah kalau hanya diterangkan dengan kata-kata, dengarkan Saja Tha Nekrophone Dayz. Pesan segera CD ini. Lihat cara pemesanannya dengan kirim imel ke Remains@nekrophone.com Saya juga sedang berpikir untuk membeli Album terakhir mereka IllSurrekshun.

Ada yang bilang Homicide adalah Atheis, Komunisme bentuk baru, Agnostik dan lain sebagainya. bagi Saya mereka yang bilang seperti itulah yang berpikiran picik, ber IQ rendah. Cuma bisa melihat permasalahan dari satu sudut kemungkinan saja tanpa tahu esensi sebenarnya. Ucok dan kawan kawan bukan Atheis, mereka hanya benci orang-orang yang mengaku Agamis tapi menerapkan Gaya hidup fasis dan suka membunuhi orang lain yang tak satu faham dengan mereka. Homicide bukan Komunis, mereka hanya benci dengan pemerintahan negeri ini yang semakin menumbalkan rakyatnya sendiri demi kelanggengan kedudukan. Homicide hanya memperingatkan kita tentang bagaimana sih keadaan sebenarnya negeri Kita tercinta ini, yang jadi bulan-bulanan Negara barat, jadi mangsa senjata utang dan kapitalisme. Kita diperingatkan apa sih Bahaya Neoliberalisme yang pelan-pelan tengah menjajah Kita. Jadi Homicide tak hanya omong besar tentang hal-hal hedonis enggak penting itu. Karenanya Saya putuskan bisa Suka dengan Hiphop jenis ini.

Last Word, Homicide memang sudah bubar. Sudah berganti jadi Karbala Bukan Fatamorgana. Lupakan kata orang tentang ideologi yang dianut Homicide. Coba dengarkan Saja lagu mereka untuk tahu apa sebenarnya Homicide itu.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 06 Maret 2009

“Musik Kita Kurang ‘Mengedukasi’, Dari Konser Gratis Rusuh Sampai Lipsinc”

Februari 10, 2009

Saya sering menonton teve bersama seorang teman, sebut saja namanya Johnny. Jadi acara teve yg kami tonton adalah acara-acara konser musik band-band papan atas Indonesia, yang sedang In belakangan ini. Ketika channel tevenya Saya ganti ke saluran teve yang sedang menayangkan videoklip Lintang dari Netral. Johnny dengan garangnya berkata: apaan ini? Band ga bermutu gitu disetel, mutunya dimana coba band ini? Bagusan ini bos…dan direbutlah remote teve dari tangan saya kemudian bergantilah gambar di teve dari Hingar Bingar Netral menuju Konser panggung besar band-band papan atas yang lagunya sedang In. heeeemmmm, cukup pelik dan klise, sebenarnya musik seperti apa sih yang bermutu itu? Dengan mengatasnamakan subyektivitas maka jawaban dari pertanyaan diatas tentu akan berbeda, bagi Saya kriteria bermutu adalah ketika sebuah musik yang diciptakan benar-benar mewakili isi hati kita, mengatakan dengan gamblang apa yang dimaksudkan dan hendak dijelaskan sang artis, tidak membohongi diri sendiri dengan membuat musik yang pasaran asal laku namun enggak sesuai nurani, komposisi yang boleh ribet boleh juga easy listening asal kena di feel dan pas. Dll, dst, dsb. Banyaklah kriteria dan standarisasi yang Saya terapkan untuk memfatwa bahwa sebuah musik bermutu, intinya Saya anggap sebuah musik bermutu ketika Musik itu enggak membohongi kita dengan kepalsuan yang penting laku lupakan mutu. dan kebetulan Netral adalah salah satu band yang bisa Saya masukkan dalam kategori bermutu ini. Sementara bagi Johnny dan mungkin juga bagi sebagian besar penikmat musik negeri ini, sebuah musik yang bermutu adalah ketika musik itu laris manis di teve atau Radio, yang bisa mewakili kisah hidup mereka. Maksudnya gini, Johnny bilang ke Saya kalo lagu-lagu dari band-band papan atas konser besar itu sebagian besar ceritanya sama dengan kisah hidupnya, mulai dari selingkuh, putus cinta, patah hati, bintang, hati, dan cinta-cinta lainnya. Dan filosofi ini pastinya dianut oleh banyak orang di negeri ini.

Penikmat musik di negeri ini memang sebagian besar belum teredukasi, jadi yang dicekoki musik model gimana juga asal ada hubungannya dengan kisah cinta mereka pasti diterima. Diluaran sana (kita bisa memaknai luaran sana itu sebagai Inggris atau Amerika) para penikmat musiknya lebih apresiatif. Ketika menonton sebuah konser dari artis yang mereka sukai, maka mereka akan rela membayar tiket, berapapun itu, dan mereka ngerti mana musik yang bagus, dan mana yang enggak. Karena diluaran sana itu tentu saja iklim bermusiknya lebih kondusif dan lebih maju. Jadi masyarakatnya pasti juga lebih terdidik dalam memilih musik yang bermutu. Sementara tengoklah di Indonesia, tiap berita di teve menayangkan konser satu band rusuh, band lain juga rusuh, apa yang salah dengan musik Indonesia? Bukankah Musik Indonesia juga memakai ‘Doremi fa sol la si do’ yang sama dengan yang dipakai Musik Amerika?

Dengan adanya berbagai masalah Industri musik Indonesia rasanya untuk bisa mempunyai masyarakat penikmat musik yang lebih cerdas kita harus menunggu lebih lama, masalah terbesar Industri musik negeri? Dari dulu sampai sekarang tentu saja pembajakan, inilah negeri sarang pembajak. Produk-produk musik bajakan beredar secara luas dan terang-terangan dari pasar tradisional, emperan toko, lapak kaki lima, sampai mall-mall mewah. Dan semuanya laris manis. Dengan kondisi daya beli masyarakat yang rendah maka beli kaset original adalah sebuah kemewahan. Maka produk bajakan adalah alternative murah dan yang penting tetap bisa karaokean. Statistik sudah menunjukkan angka penjualan fisik produk musik menurun drastis dari tahun ke tahun. Sementara pihak produsen mencari jalan pintas penyelamat dengan menjual RBT yang belum bisa dibajak. Sebenarnya kita tahu kan kualitas bajakan itu seperti apa? Paling-paling VCD bajakan isinya yah video klip band papan atas yang direkam dari teve menggunakan Teve Recorder, pake Teve Tuner di PC. Lalu di burning pake Nero. Tapi pembelinya tetap menganggapnya bermutu, asal bisa disetel keras-keras aja. Jadi masyarakat tahunya ya asal bass dan treble nya muncul aja itu sudah bermutu, mereka jadi ga tahu bagaimana rasanya mendengarkan musik dari sebuah CD/Kaset original.

Itu dari segi penjualan album original, sementara dari konser-konser yang diadakan di Indonesia juga belum mendidik pendengarnya untuk menghargai musik. Masyarakat kita sudah terlalu dimanjakan konser-konser gratis promosi produk perusahaan raksasa atau konser mega buatan stasiun-stasiun teve. Akibatnya orang-orang kita ini jadi berpandangan ah kalau ada yang gratis buat apa nonton yang bayar? Padahal beberapa tahun yang lalu untuk menonton sebuah konser musik band ternama, kita harus merogoh kocek untuk bayar tiket, sesuatu hal yang menurut Saya malah enggak ada salahnya, bagi Saya untuk menikmati sebuah musik harus ada usaha dong, salah satu usaha itu dengan membayar. jadi kita benar-benar menghargai dan mendengarkan musik itu sepenuh hati (karena udah bayar gitu, Sayang dong kalo ga bener-bener menikmati) dan jangan gunakan pembelaan masyarakat kita kan daya belinya rendah, gimana bisa bayar nonton konser? Kalau kita omongin konser artis nagri yang diundang ke Jakarta dengan tiket festival 400 ribu sih iyalah masyarakat kalangan bawah ga bisa bayar. Karena yang menonton konser dengan nominal sebanyak itu orangnya pasti benar-benar mengerti resiko kenapa Ia harus bayar sebanyak itu, merelakan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit demi menonton artis itu, karena Ia tahu untuk bahwa yang akan dilihatnya memang bagus jadi wajar harus merogoh kocek dalam. Kalau yang kita omongin konser artis Lokal, apa pernah ada artis lokal bikin konser tiketnya 500 ribu? Terakhir Saya nonton konser bayar harga tiketnya 20 ribu, artis papan atas tuh. Dengan bayar uang 20ribu saya rasa masih cukup terjangkau masyarakat. Jadi mereka akan mikir-mikir kalau sudah bayar 20 ribu cuman buat mabok-mabokan, sayang ah, mending buat beli campuran Oli lagi. Akhirnya yang ada di konser itu ya orang-orang yang memang benar-benar niat nonton konser dan rela bayar biar bisa nonton. ingat pepatah “Ada Duit ada barang, Ada uang lebih, ada kualitas” We have to pay to watch good entertainment. We have to pay it. Dan ketika pihak perusahaan produk besar yang mensponsori konser itu berdalih “Kami ingin memberikan hiburan secara gratis untuk masyarakat Indonesia’ apakah kita akan percaya kata-kata itu? Mereka tentu saja tak berkepentingan untuk menghibur masyarakat, kepentingan mereka ya tentu saja promosi produk mereka menggunakan berbagai mediasi yang mereka anggap sekiranya tepat guna dan efisien digunakan, mensponsori konser besar salah satunya, mereka tahu dengan sebuah konser besar, mendatangkan artis-artis papan atas Indonesia yang sedang in akan menyedot banyak audience. Dan terbukti kan? Tiap konser-konser gratis macam ini pasti ramai hingga beribu orang datang. Apa mereka yang datang benar-benar karena suka atau fans berat artis yang manggung? Tidak, bagi kebanyakan mereka yang penting gratis, bisa buat goyang, bernyanyi bersama sembari mabok. Itulah bermutu. Kenapa konser-konser itu sering mendatangkan keributan dan kerusuhan? Karena banyak penonton didalamnya yang berada dalam pengaruh alkohol. Kesenggol sedikit aja marah, lalu berantem. Yang bener-bener niat nonton konser ga seberapa, yang kurang kerjaan, dapet tempat untuk mabok dan bersenang-senang bejibun. Jadinya yah Konser band rusuh selalu jadi headline berita teve atau Surat kabar. Tidak pernah Saya jumpai penonton membawa banner ST twelve, miss band atau Purple, atau King di kala mereka konser. Yang ada tetap aja banner Slank atau OI. Sepertinya bisnis pertunjukkan di Indonesia ga akan maju deh, kalau adanya gratisan melulu dan tidak adanya regulasi dari pemerintah yang mengatur bisnis pertunjukkan secara lebih baik.

Sementara di televisi sedang menjamur acara-acara tangga lagu dari 1 sampai 20 yang patut dipertanyakan darimana referensi mereka dalam menentukan atis ini ada diurutan berapa? Did they do the survey or polling to put that band into chart number twenty or eleven? Apa mereka mengecek jumlah permintaan akan lagu itu di radio-radio untuk tahu lagu itu memang patut berada diposisi satu? Atau jangan-jangan mereka dengan seenak udel-nya sendiri mengacak letak chart? Dan nampaknya keadaan semakin diperparah dengan penampilan artis-artis diacara itu yang kebanyakan lipsinc dan minus one. Lipsinc atau berpura-pura bernyanyi dan bermain musik mengikuti lagu yang sedang diputar didepan banyak audience. Damn, our people are cheated by fake performance, dan edannya meski penampilan mereka Cuma akting dan palsu para penontonnya juga tetap tepok tangan dan berteriak-teriak menyoraki mengelukan artis yang baru tampil. Padahal diluaran sana ( kita tetap bisa memaknai Luaran sana itu sebagai Inggris atau Amerika) kalau artis berani Lypsinc maka karier bermusiknya akan langsung anjlok. Itu karena masyarakatnya tahu apa bedanya nyanyi beneran dan nyanyi akting. Masih inget dong kasus yang menimpa Ashlee Simpson beberapa tahun lalu? Adik kandung Jessica Simpson itu kariernya sedang dipuncak ketika sebuah tragedi terjadi, Ashlee kepergok sedang Lipsinc ketika sedang tampil di Saturday Night Live, kontan setelah itu para fans Ashlee marah-marah dan publik musik Amrik meledak. Ashlee jadi menghilang beberapa lama. Kalau di Indonesia boro-boro kayak gitu, lipsinc aja tetap disoraki dan ditepuki tangan. Nah, Kalau yang belakangan lipsinc udah ga model (cuman dipakai diacara teve yang namanya hura hip-hop dan juga di Spot) kalau acara lawan katanya Outbox dan satu lagi yang hostnya ada The Hot And Sexy Luna Maya itu kini pakainya Minus One. Jadi kalau minus One ini beda sama Lipsinc. Bedanya yang akting pemain musiknya doang. Bass, drum, gitar, keyboard semuanya akting. Sementara vokalisnya tetap nyanyi. Terus yang musiknya nyang main sapa dong? komputer dong, sebelum berangkat ke stage tempat manggung tuh si artis tinggal otak atik aja master rekaman mereka pake software buatan luar negeri, bagian vokalnya diilangin terus hasilnya di mixdown ulang, di save. Jadilah musik yang akan diputar di panggung mengiringi sang vokalis bernyanyi. Ketika si Johnny saya ceritakan masalah ini Ia masih mungkir: “masak sih Ris itu cuman akting? Ga percaya ah, tuh bagus gitu suaranya. Tuh drummernya juga nabuh drumnya beneran” karena Saya sudah habis akal menerangkan secara gamblang kepadanya maka Saya jelaskan saja secara simple:” john….tuh perhatiin dong suara drumnya, bagus kan? Ada suara bass drum, cymbal dan set drum komplit yang bagus banget. Tapi kok di panggung itu drummernya Cuma punya set drum snare ama hi hat doang? Terus sisanya dimana? Apa dimainin dibelakang panggung ama asisten drummernya?” dan cengar-cengirlah si Johnny.

Selama para pelaku Industrinya masih seperti yang diatas, maka jangan mimpi deh kita punya masyarakat penikmat musik yang lebih apresiatif dan terdidik. Masyarakat kita ya masih akan tetap mengganggap musik yang bermutu yang seperti itu, bukan yang berdasar komposisi bagus, materi yang bagus dan lain sebagainya. Tujuan para pelaku Industri memang Uang, semua memang bertujuan demi uang. Kita butuh uang, tapi tak adil rasanya uang itu didapat dari memperbodoh masyarakat? Money is everything coz without money we are nothing. Tapi ga selamanya uang bisa mendatangkan kebahagiaan. ( dan kenapa ini adalah sebuah kalimat penutup yang ga nyambung dengan bahasan diatasnya?)

-Aris Setyawan-

09 Feb 2009

(For More Sh*t Please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Cerpen: “MENGHITUNG HARI, MENGHITUNG BULAN”

Januari 7, 2009

Asap dimana-mana, kegelapan, kelam, hitam, ini bukan akhir dunia. tapi selimut asap memeluk daerah ini. Aku dan kekasih hati megap-megap mengejar oksigen yang semakin langka. Asap dimana-mana, dimana tukang balon gas? Biar aku bisa pinjam tabung oksigennya untuk pertahankan jiwaku dan kekasih hatiku…

Akhir tahun ini agak sedikit berbeda dari tahun-tahun silam. Dulu aku selalu bahagia diakhir tahun. Selalu banyak hal yang bisa membuatku tersenyum di bulan-bulan menjelang pergantian masehi. Agustus yang penuh kegembiraan dan tawa ketika nonton panjat pinang di perayaan tujuh belasan dikampungku. Antara september sampai oktober yang penuh kekhusyukan karena datangnya bulan suci Ramadhan, dan disambung datangnya kemenangan di hari raya idul fitri. Sampai riuhnya terompet mengiringi pergantian tahun di bulan desember. Pokoknya di akhir tahun selalu ada momen yang bisa membahagiakan dan mampu menyihirku agar terus mengenangnya. Dan memang benar, efek magisnya nyaris mustahil dimusnahkan. Aku selalu mengenang masa-masa itu. Yang kadang menghilangkan rasa malu karena aku tahu-tahu menangis walau sedang di keramaian pasar. Yang membuat orang lain menyangka aku depresi berat plus gila sinting karena aku tertawa-tertiwi sendiri tanpa sebab. Masa dimana aku masih bersamanya. Tiara, perempuan nyaris tanpa cela. Seperti yang kutegaskan tadi, akhir tahun ini memang berbeda. Penghujung masehi yang kujumpa sekarang penuh luka dan kepedihan. Barah dalam jiwa yang sulit tersembuhkan. Kronologisnya juga masih segar dalam ingatan. Meski aku berusaha mengenyahkannya namun malah makin kokoh menancap dalam otak. Akhir tahun ini berbeda, tak sama.

Januari.

Aku tinggal di sebuah kota. Tak etis rasanya kalau aku menyebut nama kota itu. Yang jelas kota ini terletak di pulau yang terbelah garis kasat mata, yang pada akhirnya menyebabkan negeri ini dapat julukan zamrud khatulistiwa. Kehidupanku biasa saja, aku seorang pria normal; kerja di perusahaan swasta; umur kepala dua; fans berat Juventus walau mereka turun tahta ke serie B; amat benci penindasan; dan tidak suka sayur terong. Aku tinggal di sebuah daerah yang indah, itu menurutku. Karena orang selalu menilai keindahan dengan sudut pandang masing-masing. Ada yang menganggap keindahan itu adalah sesuatu yang sedap dipandang. Lantas apa yang dimaksud dengan yang sedap dipandang itu? Seorang pelukis akan mengatakan Monalisa itu indah karena ia memang mencintai seni lukis. Seorang Ibu menyatakan keindahan yang tak bisa tertandingi adalah saat buah hatinya melangkahkan kaki untuk pertama kalinya. Sementara seluruh kaum Adam menganggap betis itu indah. Dan kenapa pula aku jadi membicarakan betis. Daerahku dikelilingi alam yang mempesona tiap-tiap mata. Julukan yang paling membanggakan: daerah kami~sebenarnya pulau kami~adalah paru-paru dunia. karena luas hutan yang kami miliki. Keindahan-keindahan lain masih banyak, tapi takkan kuceritakan karena inti dari kisah ini bukannya tentang hutan yang penuh monyet. Melainkan tentang monyet yang tengah jatuh cinta.

Februari.

Masih biasa saja. Bulan ini adalah waktu-waktu MOS atau masa orientasi. Masa perkenalan kita dengan tahun baru yang tak terduga apa yang bakal terjadi. Bulan ini bulan kemenangan para pecinta, karena di bulan ini ada satu hari yang dikatakan sebagai hari kasih sayang. Para pecinta baik yang ABG, remaja, muda, tua , kakek, nenek, bapak, ibu semua yang ada disini akan mencurahkan segenap rasa kasih sayangnya pada orang terdekat. Para produsen coklat juga kebanjiran order di bulan ini.

Maret.

Aku masih pria biasa saja dan belum pindah-pindah dari bagian produksi ditempatku bekerja meskipun sudah tiga tahun mengabdi. Dan beruntungnya lagi, aku masih karyawan kontrak dan entah kapan jadi pegawai tetap. Tapi betapa beruntungnya aku. Aku jadi bisa pakai sandal jepit ditempat kerja sementara para pegawai tetap harus pakai sepatu. Aku enggak perlu diperiksa dokter tiap tanggal 20 karena aku enggak dapat tunjangan kesehatan. Aku bisa bebas naik angkot yang nyetel My lecon kenceng-kenceng karena enggak harus ikut bus karyawan yang Cuma berapa biji dan Cuma berani nyetel Dinda bestari. pokoknya di bulan maret ini aku puas walaupun masih jadi pegawai kontrak.

April.

Aku bisa beli sebuah skuter tua dari hasil mengumpulkan gajiku sejak masuk kerja dulu. Biarpun tua tapi masih mentereng, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. wah, tiap sore aku bisa slalom dan nyore bareng temen-temen. Aku punya tunggangan, jadi sekarang aku udah berani godain cewek-cewek bertanktop yang sering berseliweran di kotaku. Eh iya, di bulan ini Udin anak mang ma’ruf tetangga sebelah udah berani sunat.

Mei.

Aku jalan dengan skuter tua di sore hari. Ufuk barat mulai memerah. Saat itulah yang terus kuingat. Aku kenal dia. Aku jalankan skuter pelan-pelan menyusuri jalan seraya menghindari lubang-lubang. Eh tiba-tiba dari arah kanan muncul sosoknya. Mataku jadi terus meleng ke kanan. Wah, cantik loh. Enggak tinggi-tinggi amat sih. Rambut ikal sebahu, pake hot pant dan atasan kaos surfing. Sendal jepit merah dikaki. Dia lagi berdiri didepan rumahnya. Mungkin sedang menunggu tukang bakso lewat. Ah kecantikan seperti itu. Aku terus terpukau menatapnya dan memutuskan untuk kenalan dengan…….Guuuuubbbrrraaakkkk….dengan tong sampah.

Sungguh sial nasibku bulan ini. Gara-gara keterusan ngeliat cewek, aku jalanin skuter enggak ngeliat kedepan. Akhirnya tong sampah jadi hadiah. Tapi seperti pepatah tiada gading yang tak retak. Maka keberuntungan berpihak. Cewek itu mungkin merasa iba melihat nasib naasku. Ia lari-lari kecil menghampiriku. Menawarkan bantuan berdiri, mengelap keringat, nempelin plester di jidat. Tambah kenalan. Namanya singkat namun padat: Tiara. Itulah waktu aku kenal dia. Gadis yang kuanggap tanpa cela. Hah, siapa sangka kalau sengsara membawa nikmat.

Juni-juli.

Aku dan Tiara makin dekat. Kemana-mana kita berdua. Segala cerita hidup masing-masing kami ceritakan. Dia butuh aku sebagai pendengar, aku butuh dia sebagai pencerita. Dia cewek yang terbuka, semua borok atau kurap dalam hidupnya diceritakan tak ada yang ditutupi. Dan ternyata kami punya banyak kesamaan. Kita berdua punya hobi yang sama: membaca. Dia suka baca Teenlit aku suka baca koran. Dan masih banyak kesamaan antara kami berdua. Tidak suka makanan pedas; benci dengan penindasan; sering lupa tiap bikin janji; sering menyatakan benci orang yang merokok. Dan lain sebagainya. Tapi satu hal yang paling mengejutkan diantara semua kesamaan yang kami miliki: kami sama-sama menderita sakit pernapasan. Walau beda dikit. Tiara sakit asma sejak lahir sementara aku menderita bronchitis sejak kelas 3 SMP. Memang suatu kebetulan yang mengejutkan. Namun yang terakhir ini meyakinkan kami bahwa kami banyak kecocokan dan akhirnya memutuskan untuk jadi sepasang kekasih.

Agustus.

Satu bulan sudah aku dan Tiara mengikrarkan janji. Segala kekurangan atau kelebihan kami mulai muncul ke permukaan. Dan tak salah bila kusebut dia gadis nyaris tanpa cela. Kepribadiannya yang menyenangkan. Tak pernah marah walau aku telat jemput ia dari tempat kuliah. Sebaik-baiknya cewek adalah Tiara, camkan itu. Bulan ini kami masih bisa nonton lomba balap karung di lapangan. Kami masih bercengkerama dan bercanda bersenda gurau. Kami masih bisa bermalam mingguan naik skuter tua. Dan kami masih bertahan dengan ikrar No sex until married. Bulan ini aku masih bisa terus mengantar Tiara check up kesehatan dua kali sebulan. Sebuah rutinitas yang mau tidak mau harus dan kudu dijalaninya untuk memantau kondisi kesehatannya. Sementara aku sendiri, agak sedikit tenang. Aku patut bersyukur karena sudah bertahun-tahun bronchitisku tak pernah kambuh lagi. Jadi aku tunjukkan perhatianku padanya. Sebisa mungkin kubahagiakan Tiara.

September-November.

Sinetron-sinetron televisi selalu mempunyai alur yang sama. Di awal kisah kebahagiaan ditonjolkan dan membuat para penonton ikut berbahagia atas sesuatu yang kurang jelas maknanya. Di pertengahan episode tragedi dan intrik mulai berperan. Kebahagiaan mulai direnggut dari kehidupan tokoh utama. Berganti jadi kesedihan, penderitaan, makian, cacian, cucian, dan lain sebagainya. Dan hebatnya di akhir cerita nanti pasti kebahagiaan akan datang menghampiri pemeran utama. Skenario ala sinetron ini juga terjadi pada diriku dan Tiara. Dan nampaknya kami telah sampai di pertengahan episode. Entah siapa yang harus disalahkan atas tragedi ini. Bukan Cuma kami berdua yang merasakan. Tapi semua. Semua yang tinggal di daerah ini, yang tinggal di kota kecil ini, juga yang tinggal di propinsi, pulau ini, bahkan negara tetangga pun ikut kebagian sampai-sampai kepala negara harus menelponi satu persatu para pemimpin negara tetangga untuk meminta maaf. Entah makhluk jahat macam apa yang tega membakar berjuta-juta hektar hutan hijau yang dulu jadi andalan kita untuk memproduksi oksigen dan air. Masalah yang tiap tahun ada. Pembakaran hutan demi membuka lahan baru seperti sudah jadi satu hal yang biasa saja. Demi mengirit biaya produksi mungkin. Dan celakanya yang melakukan bukanlah orang-orang dusun yang tak pernah merasakan empuknya kasur. Tapi orang-orang berdasi yang punya perusahaan-perusahaan perkebunan yang merekrut orang-orang dusun untuk membakar. Dan tengoklah kini. Kota kami berselimut kabut asap. Putih, dan juga mematikan. Anak-anak sekolah bisa bebas main PS2 karena sekolah diliburkan sampai asap menghilang. Banyak kegiatan terganggu, jarak pandang Cuma beberapa meter. Banyak turis batal kedaerah kami karena maskapai-maskapai penerbangan membatalkan seluruh penerbangan ke bandara yang tertutup putih tebal. Aku kurang peduli dengan semua masalah itu. Di bulan ini tragedi pertengahan episode mulai tiba. Orang-orang yang sehat walafiat saja takkan bisa bertahan apabila menghirup asap setebal ini selama berhari-hari. Apalagi yang telah mengidap penyakit pernafasan sebelumnya. Dan kami berdua mulai merasakan dampak dari tebalnya asap yang berkeliaran. Aku mulai terasa berat untuk bernafas, dan kali pertama aku sesak nafas lagi setelah bronchitisku tak pernah kambuh selama bertahun-tahun. Tapi aku masih bisa bertahan. Hanya satu yang kukhawatirkan, Tiara. Kekhawatiranku beralasan. Tiara masih sering kambuh sesak nafasnya jika kelelahan. Sungguh, kini rasanya aku ingin menyumpal saluran pernapasan para pembakar hutan itu dengan tisu toilet. Biar mereka rasakan derita yang Tiara rasakan. Sudah seminggu Tiara terbaring di rumah sakit. Selang oksigen untuk membantu pernapasannya belum juga bisa dilepaskan. Berawal seminggu yang lalu. Meskipun asap diluar amat tebal. Tiara memaksaku minta diantarkan ke perpustakaan umum untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Takut kena denda katanya. Tapi keputusanku mengantarkannya berakibat fatal. Tiara megap-megap dan nafasnya tersengal-sengal. Ia pun pingsan, tak sadarkan diri. Oh Tuhan, demi cintaku padanya. Biarlah semua beban ini aku saja yang menanggungnya. Aku larikan ia ke rumah sakit. Ruang I.C.U penuh dengan balita yang terserang ISPA. Dan kini seminggu sudah. Tiara masih tergolek tak berdaya di ruang perawatan intensif. Aku dan kedua orang tuanya bergantian menjaga. Ah, kalau sampai terjadi sesuatu dengannya. Aku takkan memaafkan diriku sendiri. Harusnya waktu itu kutolak permintaannya untuk mengantarnya keluar. Tiara, gadis yang kupikir tanpa cela. Yang tak pernah marah walaupun Cuma kuajak makan di warung siomay pinggir jalan, yang terus mengatakan kalau Buffon itu kiper yang hebat meskipun ia tak suka bola. pujaanku yang amat kukasihi, kembalilah padaku. Jika kau terbangun dari mati surimu. Aku akan memberikan kasih sayang yang lebih buatmu. Kembalilah, lawanlah asap yang mencekik ini. Oh ya, tentu saja. Aku mulai merasakan adanya harapan. Kami berdua baru saja melewati pertengahan episode. Setelah ini berarti kami akan tiba di ending yang membahagiakan. Jika hal itu terjadi, jika akhir bahagia menutup kisah hidup ala sinetron ini, Maka seharusnya sekarang Tiara sudah sadarkan diri, kemudian membuka mata, menatap sekeliling dengan muka ragu-ragu dan bingung kemudian berkata “ada dimana aku?” kemudian aku menjawab “kamu di rumah sakit sayang, selama seminggu kamu terbaring disini dengan alat bantu pernapasan yang terus menempel dirongga hidungmu. Dan selama itu pula aku terus disampingmu. Kini engkau telah kembali sayang.” Kemudian Tiara bakalan meneteskan air mata seraya sesenggukan dan memelukku sembari berkata “Aku sayang kamu.” Lanjut lagi…”Maukah kamu menikah denganku sayang?” dan gayung bersambut “Iya aku mau.” Akhirnya kami berdua hidup bahagia selama-lamanya di istana terindah dengan anak cucu kami. Tapi kenapa skenario ala sinetron itu tak kunjung terjadi? Apa demikian mahalnya bayaran si penulis Script ? kumohon wahai penulis naskah, tuliskan cerita dimana Tiara terbangun, kumohon, kumohon, kumohon…

Desember.

Akhir dari tahun ini tiba. Aku hendak bernyanyi sesuka hati. Tapi kenapa harus dengan lagu Desember kelabu. Entah apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang mengatur semua ini. Sepertinya sang penulis skenario memilih tuk bungkam dan diam seribu-basa. Atau mungkin ia tengah mogok kerja sehingga enggan menuliskan terusan dari episode ini. Aku sendiri terus-menerus memikirkannya. Tapi tak juga menemu jawaban. Andai aku bisa jadi sang penulis skenario maka akan kutulis Tiara benar-benar terbebas dari rasa sakit, terbangun dari ketidakberdayaan, kemudian kami mulai meniti jalan setapak kami demi meraih masa depan. Sebuah Ending yang bahagia. Tapi jika kutulis demikian, berarti aku hanya akan mengikuti gaya penulisan sinetron-sinetron murahan yang sering kukecam itu. Bisa juga aku tuliskan akhir yang mencekam, diluar dugaan, dan mengaburkan ego. Tiara selamanya terpejam dalam lelap dan terus menerus tercekik mengejar udara murni. Sementara diafragmanya berhenti naik-turun. Atau istilah mudahnya ia berpulang ke Rahmatullah. Tapi bukankah itu akan menyalahi aturan. Aku akan dikritisi oleh ribuan penggemar sinema yang menginginkan akhir yang bahagia dan bukan akhir yang terlalu didramatisir. Semula aku terus menerus ragu. Tapi sekarang aku percaya, diriku yakin kalau aku tak usah terlalu memikirkannya. Biarlah sang penulis yang menentukan apa yang harus dijalani sang kekasih hatiku itu. Apa ia harus meregang nyawa, atau bertabur bahagia bersamaku. Bila kalian penasaran dengan akhir cerita ini, jika kalian ingin tahu apa yang terjadi di penghujung tahun ini. Maka mulailah melenyapkan rasa penasaran itu, karena aku sendiri juga penasaran tapi tak jua mendapatkan penjelasan dan kepastian apa sebenarnya kepedihan di akhir tahun yang kuceritakan di awal tadi. Karena sebuah kebahagiaan terkadang tersamar rasa kepedihan sementara kepedihan terselubung tipis kebahagiaan. Sudahlah, buang rasa ingin tahu kalian. Jika kalian masih ngotot ingin tahu apa yang terjadi di bulan desember ini, maka bersama-sama coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang[1]

Baradatu, Way kanan 04 november 2006




[1] Lagu : Ebiet G ade – Berita kepada kawan.

Aris setyawan, kelahiran 14 april 1987. Berasal dari Solo dengan alamat Pabongan Rt: 03/05 Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah. Ia menulis puisi, sajak, cerpen, plus beberapa lirik lagu yang kurang puitis semenjak di-bangku SLTA hingga sekarang. Kini berdomisili di Baradatu Way Kanan.

Cerpen: “Seandainya”

Januari 7, 2009

Aku bisa berkata seandainya. Banyak andai yang bisa kukhayalkan. Andai Aku punya pacar supermodel; andai aku punya kekayaan yang melimpah ruah; andai Aku dianugerahi kemampuan berpikir yang luar biasa, sehingga Aku bisa jadi The next -Einstein dan memenangkan nobel fisika. Takkan ada batasnya bila kujelajah seluruh semesta andai ini.

Tentu saja andai yang kukhayalkan nyaris sama. Segala hal yang kuandai-andaikan adalah hal-hal termuluk yang selalu di impikan tiap-tiap manusia. Walau pada kenyataannya Aku juga menyadari bahwasannya Aku tak ada sedikitpun kemampuan untuk mewujudkan segala perandaianku. Tapi Aku tetap saja terbuai dan terus saja menambahkan genre-genre baru dalam alam andaiku. Dan semuanya dari segi enaknya saja yang kuandaikan. Jarang Aku membayangkan bagaimana jadinya kalau Aku benar-benar punya pacar supermodel top. Apakah ia benar-benar cinta Aku, yang Cuma seorang ABG yang bahkan tak punya reputasi dan dipandang sebelah mata. Jarang Aku membayangkan bahwa untuk bertemu sebentar saja bakalan susah karena ia sibuk fashion show ke Paris. Atau akankah Aku cemburu bila orang-orang memelototi kaki pacarku yang jenjang ketika ia sedang melenggang di atas catwalk. Tak pernah sekalipun Aku berandai-andai sampai pada segi terdetail seperti itu. Selalu saja sama, ketika andai sudah sampai pada titik termuluk, Aku berhenti.

Seperti manusia kebanyakan, Aku juga mempunyai tujuan hidup yang sama dan spesifik : kekayaan. Kalau Aku sudah mengkhayalkan genre ini, waktu seperti terhenti saja. Karena cukup berawal dari satu kalimat pendek : andai Aku jadi orang kaya. Dan waktupun mulai terhenti, efek beruntun dimulai. Andai Aku jadi orang kaya, Aku bisa beli apa saja yang kumau. Bisa jalan-jalan keliling dunia, bisa bangun siang soalnya enggak perlu kerja. Bisa punya banyak cewek, bisa bla..bla..bla. dan marilah bersama-sama kita lihat dari perspektif yang berlawanan. Dengan kekayaan yang melimpah ruah, bisakah Aku tertidur nyenyak. Baru hendak telelap sejenak, paranoid menyergap. Waduh jangan-jangan ada maling lompat pagar. Waduh gimana dengan Rumahku yang di desa itu ya? Kalau didobrak orang gimana. Waduh uangku di bank, kalau di bobol Hacker gimana. Jarang Aku memikirkan kegalauan jiwaku nanti kalau memang Aku jadi orang kaya. Yang terus memikirkan rupiah dan rupiah.

Tulisan inipun jangan-jangan hanya andai-andaiku saja? Semua jajaran kata-kata yang ditulis ini, jangan-jangan hanyalah sebuah andai-andai dari seorang yang sedang tenggelam dalam dunia khayalnya? Setelah kedua andai-andai tadi kita kupas bersama-sama, Aku jadi berpikir. Apa yang ketiga perlu dibahas? Tapi nanggung, kita bahas saja sekalian. Kalau yang ini benar-benar luar biasa muluk. Berandai-andai menjadi generasi berikutnya dari manusia super jenius Albert Einstein. Padahal IQ-ku jongkok dan meskipun sudah puluhan malah mungkin ratusan kali Aku membaca teori relativitas, tetap saja Aku tak mengerti. Kalau Aku mau jadi kayak Einstein, apa Aku kuat tidur 4 jam sehari ; apa Aku rela meninggalkan televisi dan mulai pindah rumah ke perpustakaan. Dan setelah kita bahas perandai-andaian yang terakhir, Aku jadi tersadarkan.

Satu andai bercabang jadi seribu. Jadi kesimpulan dari semua adalah sebagai berikut : andai saja Aku jadi seorang analis dan bisa membuat sebuah kesimpulan dan juga sebuah solusi yang tepat bagi berbagai macam masalah perandaian diatas. Seandainya tak ada yang namanya status social.

Semua memang perlu diandaikan. Kita perlu sebuah kata andai sebagai pembakar semangat kita dalam berjuang. Agar kita punya tujuan hidup. Bahkan seorang manusia yang sekarang telah benar benar jadi manusia yang sukses pun dulunya hanya berandai-andai. Tetapi manusia itu terus memacu jiwa dan raganya agar bisa segera mewujudkan perandaiannya tersebut. Dan kita memang harus punya mimpi dan khayalan, tapi jangan terlalu tinggi dan terlalu muluk. Karena seandainya kita tak punya parasut, kita akan terjatuh dan terjun bebas dari langit tertinggi kemulukan itu.

Dan akhirnya tulisan ini diakhiri dengan satu perandaian lagi : andai saja tulisan ini bisa menjadi sebuah inspirasi bagi yang membaca untuk segera mewujudkan perandaian yang dikhayalkannya….

***

SELESAI

Baradatu, Way kanan, 20 mei 2006

Cerpen: “JURU SIAR MERINDUKAN CINTA”

Januari 7, 2009

Ia kembali berceloteh. Karena memang demikianlah rutinitas harian-nya. Diberitakannya pada dunia apa yang terjadi, apa yang menyebabkan sang malam terlambat datang. Atau apa yang membuat mentari enggan bersinar. Dibeberkannya segala kebobrokan alam, atau rakusnya spesies kita mengeruk bumi. Bumi yang semakin rapuh dan merenta termakan usia. Ialah temanku, sang juru siar. Yang berwajah manis kemalu-maluan tapi menyenangkan. Yang sering berbusa-busa mulutnya saat mendongeng di depan perangkat siar. Marilah kuceritakan padamu tentangnya.

Ia masih duduk disana, bahkan sang surya makin garang membakar bumi. Awan-awan cummulus nimbus entah kapan bisa bergerombol macam kawanan domba. Terdengar suara ceklik-ceklik Mouse nan merdu, dengungan kipas tua yang mencegahnya kepanasan. Desahan nafasnya menandakan lelah, tapi ia masih bertahan. Ketika aku berkunjung ke ruang dimana ia bertahan, ia masih terdiam disana. “apa abang tak lelah dengan kehidupan ini?” tanyaku padanya. Masih sempat tangannya menggenggam mouse seraya berkata “This is my job.” Oh ya, tentu saja demikian. Aku seperti terserang amnesia saja, atau aku memang benar-benar lupa. Bahwasannya aku harus terbiasa ngomong inggris dihadapnya. Sang juru siar yang tergila-gila dengan istilah asing, juru siar yang merasa cute and also handsome. Juru siar yang merindukan cinta. Bisa saja ia membual sampai berbusa mulutnya mendefinisikan cinta kepada para pendengarnya. Bisa saja ia berkhotbah pada para jemaatnya mengenai keindahan cinta terakhir, dan apapun yang ia bilang, para jemaat akan tetap percaya. Tapi satu hal yang tetap tak bisa dipungkiri. Sang juru siar merindukan cinta.

Dan kisah cinta diawali beberapa bulan yang silam. Masih terngiang jelas di otak-ku saat ia dengan muka sembab seperti habis pingsan berkata : “ternyata pacaran amat memuakkan, aku ditipu. She’s never love me. She just want to hurt me. Aku hanya dijadikan cermin untuk merefleksikan hidupnya yang membosankan. I don’t wanna fall in love again.” Ya, masih segar di ingatanku saat ia curhat mengenai cinta pertamanya. Yang ia katakan amat indah sampai-sampai ia rela mengiris urat nadinya demi mempersembahkan darahnya buat sang kekasih yang sedang dahaga. Yang ia ucapkan 3 bulan yang lalu itu Cuma bertahan 1 bulan. Kesudahannya, ia bertandang kembali kehadapku, dan berkata : “Percuma kupotong urat nadiku buatnya, bahkan sekalipun kukeluarkan jantungku dari rongga dada kemudian kuperas biar bisa dapat darah dua liter. Ia takkan mau meminumnya. Dahaga yang dia rasa Cuma bisa dihalau dengan air mata. Sedang aku adalah insan yang jarang meneteskannya. You know guys? Love just make me sick.” Ia terus berkata menyesal telah menyerahkan cinta pertamanya buat sang gadis pujaan yang ternyata hanyalah reinkarnasi marie anttoinette. Ia kembali ucapkan janji bahwa ia kapok jatuh cinta. Ia bersumpah takkan pernah jatuh cinta lagi.

Dan seperti yang kubilang barusan. Itu beberapa bulan yang lalu. Dua pekan kemarin. Ia berkunjung kembali. Saat matahari beranjak dari peredaran, jangkrik bersiap dengan koornya. Angin makin ganas berhembus, rembulan seperti hendak memunculkan segenap kecongakannya dengan bersinar bulat penuh. Dan ia tiba, mukanya amat berseri, lagaknya sedikit salah tingkah. Sorot matanya amat tajam dan menandakan vitalitasnya tengah di titik tertinggi. Dengan amat ringan ia berujar pelan : “wow kau pasti takkan percaya, wajah itu memancarkan sejuta pesona. Bahkan ia serasa melayang ketika berjalan. Sungguh sebuah mahakarya, kecantikan tiada tara. And you know? I’m fallin in love. Aku jatuh cinta pada gadis itu.” Kalian percaya yang dibilangnya barusan? Temanku sang juru siar baru saja berujar, ia jatuh cinta lagi. Terdengar sekawanan kodok bangkong bernyanyi. Entah gembira mendengar berita ini atau hendak memperolok.

5 menit yang lalu aku baru sampai di kediaman. Setelah bertarung dengan keganasan jalan raya, bergelut dengan tebalnya debu jalanan, dan berebut dengan sang waktu di sela-sela kemacetan. Aku selamat sampai rumah. Seraya melepas rasa pegal di pundak, aku nyalakan radio. Dan coba kalian ikut mendengarkannya. Temanku itu, sang juru siar kembali memulai khotbahnya tentang cinta. “cinta adalah anugerah yang maha kuasa, cinta adalah sebuah pembuktian diri. Kita harus mencurahkan segenap cinta kita pada semua orang. Tapi yang terpenting, adalah kepada sang kekasih hati. Dan kita harus menjatuhkan pilihan kita kepada pribadi yang tepat, pastikan bahwa makhluk yang kita cintai adalah sosok yang akan selamanya menjadi curahan rasa cinta. Kalau yang seperti demikian belum kita temukan, lebih baik kita jangan berani jatuh cinta dulu. Karena suatu saat nanti pasti kita akan terjatuh. Atau istilah mudahnya, Karena salah memilih pasangan. Kita akan mudah putus. Ok para pendengar. Nanti saya masih akan menyambung kembali bahasan mengenai cinta. Setelah pesan-pesan berikut ini.” Nah, itu dia yang kumaksud. Temanku itu, sang juru siar. Sepertinya ia sudah bertransformasi menjadi seorang filosof cinta. Dan aku hampir muntah dibuatnya. Apa yang ia khotbahkan sungguh berbeda jauh dengan yang ia jalani.

Jam 7 malam aku bertandang ketempat kerjanya. Ia masih bertugas, hal yang mana membuatku terheran-heran. “ kenapa siaran terus seharian? Apa enggak ada penyiar lain?” tanyaku padanya. Dan kalian tahu apa jawabnya. Ia malah terdiam selama setengah menit. Bibirnya manyun 2 centi kedepan. Wajahnya pucat meringis seperti menahan sakit. Mukanya kacau balau macam orak-arik telur. Pokoknya ia seperti tengah menahan beban 10 kilo dipundak. Setengah menit kemudian baru ia berkata : “shit, why always me. Kenapa mesti aku yang jadi korban, kau tahu? Ternyata gadis itu sudah berpasangan dengan dedi, Anak lurah yang mobilnya velg racing itu. Padahal aku sudah cinta mati sama dia. Tapi cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Ah, tapi ya sudahlah tak perlu sedih. Toh aku seorang lelaki. Pasti besok akan ada gadis yang jatuh hati padaku.” Gatal sekali rasanya lidah ini hendak mengkoreksi : pasti besok akan ada lagi gadis yang membuatku jatuh hati. Aku mulai bosan dengarkan segala perihal cintanya yang memuakkan ini. Aku putuskan angkat kaki dari tempat kerjanya malam ini juga. Aku sudah tak tahan lagi. Lalu sampai mana persoalan ini akan selesai. Dimana kiranya perahu yang penuh pertanyaan ini berlabuh. Cuma problem yang sepele, temanku itu, sang juru siar yang tiap harinya berkhotbah tentang cinta sejati. Namun kenyataannya ia demikian mudah jatuh cinta. Persoalan ini nyaris jadi sebuah paradoks. Paradoks yang tak ada solusi buat mengatasinya. Dan aku lama-kelamaan jadi berpikir, kapan juru siar itu bakal menemukan cinta sejati yang selalu di bualkannya itu. Dimanakah perasaannya bakal berlabuh. Atau bisa jadi perahu cintanya tak akan menemukan pelabuhan buat tambatan hati. Perahunya bakalan kekal abadi berlayar mengarungi samudera asmara. bukan asmara yang menyejukkan, Asmara dengan bahasa yang mudah dipahami nalar pikir manusia biasa. Tapi asmara yang menciptakan kebingungan. Sebuah kebingungan massal. Untung saja aku tak bakal tergiur cinta semudah sang juru siar. Aku bakalan menjatuhkan jangkar asmara ke tempat yang tepat. Aku akan mengembara bersama tiupan tornado demi mendapatkan tambatan itu. Aku tak akan mengobral atau melakukan cuci gudang cinta demi mendapatkan kepuasan sejenak. Aku bukan seorang juru siar yang pandai merangkai kata-kata demi menarik pendengar. Aku bukan seorang juru siar yang berkemampuan dua macam bahasa asing. Dan aku Cuma temannya, teman dari seorang juru siar yamg merindukan cinta.

Tanpa kuperintahkan, tiba-tiba langkahku terhenti di sudut jalan perumahan ini. Mataku tertuju pada satu titik. Dari kejauhan aku menatapnya. Wow, wajah itu sungguh menyejukkan. Seandainya aku bisa merasakan kehalusan dari wajahnya. Andai aku bisa bersandar di bahunya. Andai aku bisa beradu pandang dengan sorot matanya yang menyejukkan. Langkah kakinya yang ringan, keindahannya bagai atmosfer kesegaran yang memayungi bumi dari bahaya meteorit. Sungguh aku terpukau, aku terpesona. Aku terpesona dengan baju tanktop yang dia kenakan. Aku jatuh hati dengan rok mini yang bergantung di badannya. Aku kagum dengan kesintalan bodinya. Oh, Tuhan, apakah ini yang namanya cinta? Ya, aku telah jatuh cinta. Aku menemukan pelabuhan yang tepat buat menambatkan jangkar cintaku. Aku jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta. Kalian percaya ini? Aku jatuh cinta…

***

Petang ini aku duduk santai didepan rumah, seraya mendengarkan radio. Dan kalian tahu siapa penyiarnya. Temanku itu, sang juru siar yang merindukan cinta. Dan kalian percaya apa yang ia ucapkan? Begini yang ia katakan : “baiklah para pendengar,satu kesimpulan yang bisa saya ambil dari bahasan hari ini adalah sebagai berikut. Kita harus memperjuangkan cinta. Kita harus hidup didunia ini dilandasi rasa cinta pada sesama. Tapi yang terpenting, kita harus menjatuhkan cinta kita pada pilihan yang tepat. Janganlah anda mudah jatuh cinta pada seseorang. Pastikan bahwa seseorang itu adalah pilihan yang tepat. Sekali lagi saya tekankan, jangan mudah jatuh cinta pada……”

untung saja aku masih bisa menahan laju isi perutku agar tidak meloncat keluar dari dalam. Mana ada orang yang mau lagi percaya dengan bualannya itu. Ia terus berucap agar jangan mudah jatuh cinta. Tapi lagaknya sungguh seperti seorang pengobral cinta. Dan untung saja aku bukan sepertinya. Temanku itu, sang juru siar yang merindukan cinta. Untung saja aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Eh, siapa yang lagi ngangkat jemuran di rumah depan itu, kayaknya tetangga baru. Wow, cantik nian gadis itu. Sepertinya…aku telah jatuh cinta padanya…

SELESAI

Baradatu, Way Kanan, 04 sep 2006

Review: Kedua Kalinya Saya Menonton Konser Koil Di Alun-Alun Sragen 11-12-2008.

Desember 13, 2008

rock-in-koil-concert

Waw, menyenangkan rasanya dapat kesempatan kedua untuk bisa menghadiri konser Band Industrial Rock ini. Setelah beberapa waktu yang lalu sempat melihat penampilan gahar mereka di Parkir Stadiun Manahan Solo. Sebenarnya jarak antara Sragen dan Karanganyar cukup jauh, tapi demi Koil ya Saya dan kawan Saya Hary Goodboy bela-belain berangkat. Kapan lagi bisa nonton Koil? Kalau nunggu ada EO yang manggil mereka Main ke Karanganyar kayaknya enggak deh. Enggak ada maksudnya. Koil main di Sragen dalam rangka tour yang digelar oleh salah satu produsen Rokok yang asalnya dari Amrik. Sebelum kawan-kawan Koil menghajar Massa dengan Distorsi maksimum. Show didahului penampilan band-band lokal. Saya agak lupa list band yang main, karena ketika Saya datang sudah agak terlambat, tepat Saya tiba di Stage, Down For Life sedang memainkan hits-hits mereka. Saya sempat berpikir setelah Down For Life pasti Koil langsung main. Tapi ternyata dan tidak dinyana. Eng ing eng, ada satu band lagi yang main. Huffh, I’m so excited, I can’t wait anymore. Tapi ya mau gimana lagi. Band yang main ini bernama The Shine, dan tau musik yang mereka bawakan? Campur-campur alias Top40. yang cukup membuat interest tentu saja dua penyanyi ceweknya yang cara berpakaiannya bener-bener beuuuhhh. Bikin melek. Super ketat semua, satunya pake hotpants superpendek, satunya rok mini yang kayak bukan rok. (eh mau review Koil apah Rok mini cewek sih?) ok, disudahi Saja rok mininya, kembali ke Koil. Setelah The Shine main yang ditunggu datang juga. Leon naik pertama kali, lalu Ibrahim Nasution a.k.a Imo a.k.a Bobby, dilanjut Adam Vladvamp, Donny. Sang pengkhotbah Otong Verdijantoro naik panggung paling belakang. Koil membawakan lagu-lagu mereka dari album Blacklight Shines On, juga dari album lama Megaloblast. Hiburan Ringan menyerbu pertama Kali. Dan dilanjut dengan lagu-lagu lainnya. Nyanyikan Lagu Perang, Sistem Kepemilikan, Aku Lupa Aku Luka, Dosa, Ajaran Moral Sesaat (Sori lupa Songlistnya) ditutup dengan Kenyataan Dalam Dunia Fantasi. Entah kenapa di Konser kedua yang Saya tonton ini rasanya kurang klimaks. Tak seperti konser pertama di Gor Manahan yang Saya tonton dulu. Mungkin karena Songlist sekarang terasa agak kurang, Semoga Kau Sembuh, Lagu Hujan, Matahari, Mendekati Surga tak masuk Songlist. Juga yang membuat tidak klimaks menurut Saya adalah Soundsystemnya yang kurang menggigit. Dulu di Gor Manahan Soundnya dapet banget. Sementara di Sragen ini agak kurang memadai Soundnya. Ada beberapa kejadian menarik di Konser ini yang Saya alami:

1.Photografer official Koil (Saya kurang tahu namanya) sedang mengambil gambar didepan Stage, kebetulan Saya dan teman Saya Hary Goodboy berada dibarisan paling depan. Saya tunjukkan CD Blacklight Shines On yang tadinya niat Saya mau mintakan tanda tangan Koil diatasnya. Terus Saya bilang “Mas Foto Dong” dan difotolah Saya dan teman Saya Hary. Saya bilang kepadanya “tolong diupload ke Multiply Koil ya Mas! Nanti Saya Donlot disana. Dia hanya mengangguk Saja, yah semoga saja diupload bener.

2.Setelah Imo sang pencabik gitar selesai CheckSound. Saya panggil namanya Imoooooo….sembari menunjukkan CD Blacklight Saya. (Hahaha sebuah ID sebagai penanda bahwa Saya dan Teman Saya Hary Satu-satunya penyuka Koil Disana. Dibarisan belakang berkibar banner-banner Slank, Rasta, Oi, Dll. Karena ga ada banner Koil maka Jadilah CD Blacklight Saya angkat tinggi-tinggi) eh Akhirnya dia ngelihatin Saya. Senyum deh. Dan belakangan Imo tahu aja kalo Saya kehausan, maka Dilemparkannya sebotol Air mineral ke Saya. Minum Blaaahhhh…..

3.seperti dikonser Gor Manahan Kemarin Dulu, untuk kesekian kalinya Otong Mengucapkan: Yah nasib jadi Band ga terkenal seperti Koil. Jadi kalian mungkin ga tau lagu-lagu kami.

4.Beberapa kali Otong menyindir Artis-Artis selebritis (kalo dulu ga deh, sekarang Sindir-Sindir ya) mulai dari Miss Band, Band Sing Wis Mesti Aku Wong Jowo, Ipan GunWanWan, RubBand On Shou, Afghanistan dan beberapa lagi kena Sindir Otong.

5.entah tulus dari lubuk hati yang paling dalam ataukah Cuma Sindiran Satire belaka. Otong Bilang ” buat Soundsystem Ken dedes, Sukses mas buat Bisnisnya…” apa kecewa karena Soundnya yang jelek ya?

6.yang ini paten Saya baru ngelihat sekali. Nampaknya Otong sedang suka dengan hobi baru ini. Seolah Beliau ini kerasukan Arwah Kurt Cobain kemudian membanting gitar merah yang sedang dimainkannya. Dahsyaaaattt….

7.banyak sekali CD dan DVD yang dilemparkan ke penonton. Dan Saya ga bisa dapat Satupun, Lucky Me…

8.ini yang paling hebat dan menarik dari semua kejadian diatas. Ketika barisan belakang mulai rame-rame, Saya menengok kebelakang. Dan apa yang terjadi, orang-orang tolol dan arogan yang sedang mabok Ciu itu sedang berantem, saling hajar, tonjok-tonjokan. Aparat kepolisian yang berjaga didepan Stage langsung melompat mengejar para perusuh itu. Hary yang belum sadar situasi langsung Saya tarik ketempat aman sebelum dia keinjak para Polisi yang melompat mengejar perusuh itu. Hey, katanya hebat dan menarik. Mana? Ini dia yang hebat, ketika pak polisi melompat mengejar perusuh itu. Kaki Saya terinjak Kaki salah satu dari mereka. Padahal pak Polisi pakai sepatu Boot yang tebel itu. Aduuuuhhhh Sakiiittttt. Hebat kan?

9.Otong Verdijantoro sepertinya sangat berterimakasih kepada Ahmad Dhani terkait beredarnya Lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi Feat The Rock dibawah naungan Republik Cinta Management. Hal ini dituturkannya didepan keramaian.

Sebuah hiburan yang lumayan. Menonton penampilan band Industrial Rock itu di alun-alun kota Sragen. Next time datang lagi ya, Sukur-sukur kalo di Karanganyar aja, jadi Saya ga harus pulang malam-malam naik Sepeda motor dijalan lintas Sragen Karanganyar yang Sepi dan gelap.

Viva Koil….

ARIS SETYAWAN

Karanganyar 111208 (For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)