Cerpen: Cahaya Dan Ibunya

Februari 5, 2010 oleh arissetyawangrungies

Aku tengah sakit. Aku sadar akan hal itu. Ada sebentuk sel asing yang harusnya tidak berada dalam tubuhku namun entah kenapa bisa hinggap dibadanku. Tentu saja Aku tak pernah inginkannya, dan asumsiku tak ada seorang manusia pun didunia ini inginkannya. Karena sel asing itu adalah perusak, menginfiltrasi sel sehat dalam tubuh lalu menggerogoti kekuatan tubuh sedikit demi sedikit. Aku pun mulai merasakan bahwa sakit itu melemahkanku, pelan-pelan, perlahan. Aku yang dulu begitu bersemangat menjalani hidup tiba-tiba kehilangan tenaga, kemampuan menganalisa, bahkan sulit bicara. Hidupku yang pada awalnya menyenangkan kini berubah jadi kepedihan karena sakit yang kuderita. Aku manusia yang kuat, teramat kuat. Aku pantang menyerah pada situasi terburuk sekalipun, namun entah kenapa sakit yang kuderita ini yang disebabkan sebentuk sel asing menyusup dalam rongga kepalaku benar-benar melemahkan kekuatanku hingga tak berdaya melakukan kegiatan apapun. Pusing dan sakit kepala sering mendera tanpa ampun sampai rasanya ingin kubenturkan kepalaku kedinding beton agar sakitnya hilang. Dan semuanya disebabkan karena sebentuk sel asing yang tak kuinginkan menyusup kedalam rongga kepalaku. Orang lain mungkin akan benar-benar menyerah dan pasrah begitu mendengar vonis dokter bahwa Dia menderita sakit ini lalu memutuskan “lebih baik Aku mati saja.” tapi tidak bagiku, Aku sakit kadang nyaris menyerah. Namun hidupku terus kucoba pertahankan dan cintai karena aku masih punya semangat hidup. Dan semangat hidup itu adalah Putriku Cahaya.

***

Ibuku sedang sakit. Aku sadar akan hal itu. Ada sebentuk sel asing yang harusnya tidak berada dalam tubuhnya namun entah kenapa bisa hinggap dibadannya. Tentu saja Ibuku tak pernah inginkannya, begitu pula Aku tak inginkan ibuku sakit. Aku amat menyayanginya. Ibuku yang selalu bilang padaku “ingat ya Cahaya putriku yang cantik, kita hidup didunia ini hanya sementara. Jadi gunakan hidupmu itu untuk selalu berbuat kebaikan. Karena dengan berbuat kebaikan maka orang lain pun akan baik padamu. Dan Tuhan juga akan begitu” dulu Aku amat mempercayai kata-kata ibu itu. Ketika Aku masih di bangku SMP Dulu Ibuku belum sakit dan hidup kami baik-baik saja. Ketika Ibuku masih bisa mengayuh sepedanya kepasar lalu berjualan disana, ketika ia masih bisa memberiku contoh hal-hal baik seperti apa yang bisa kita perbuat untuk orang lain. Ibuku memberi pengajaran dengan mengerjakan segala perbuatan baik itu, bukan hanya teori belaka. Intinya Ibuku berusaha berbuat baik pada orang lain. Karena segala nasihat dan perbuatan baiknya itulah yang melecut keinginanku yang tercetus dulu bahwa Aku juga akan berbuat baik kepada orang lain. Aku akan menjadi orang yang besar agar bisa berbuat kebaikan persis seperti yang dicontohkan ibuku. Maka Aku pun mulai mengimplementasikannya dalam kehidupanku. Aku mulai berusaha keras mencapai cita-citaku untuk menjadi seorang yang hebat. Belajar dengan giat, tidak berbuat macam-macam, melakukan segala hal yang baik dalam hidup ini. Bertahun kujalani semua dengan penuh semangat karena Aku teringat petuah Ibuku yang selalu mengajarkan kebaikan. Itu, hingga tanpa terasa kini Aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Sekolah terbaik dikotaku, Aku meraih prestasi tertinggi, dan hadiah final yang akan kuraih adalah sebuah beasiswa dari University of Sorbonne. Benar-benar seperti mimpi, setelah lulus dari SMA terbaik dengan nilai tertinggi Aku akan kuliah disebuah universitas hebat di Perancis kini, Aku akan menjadi orang besar. Dan semua itu terjadi karena aku menuruti petuah Ibuku agar aku terus berbuat kebaikan. Petuah yang diberikannya ketika Aku di bangku SMP dulu dan terus kujalankan penuh semangat. namun kini sesuatu yang buruk terjadi. Bagaimana mungkin ibu yang selalu berbuat baik bisa terkena sakit itu? Bukankah Ia selalu bilang bahwa selama kita berbuat kebaikan maka Tuhan akan memberi kebaikan kepada kita? Lalu kenapa Tuhan malah memberikan sakit itu pada ibuku. Aku protes padamu Tuhan. Ketika Aku hendak berangkat ke Sorbonne untuk menjadi orang besar, Ibuku malah harus diruang operasi guna mengenyahkan sel asing laknat itu. Semangatku yang tadinya menggebu jadi hilang, Aku melemah persis seperti Ibuku yang tergolek lemah. Aku tak jadi berangkat ke Sorbonne, Aku harus menunggu Ibuku operasi. Karena Aku adalah Cahaya, semangat hidup bagi Ibuku yang tengah sakit.

***

Dulu Aku pernah sakit. Aku sadar akan hal itu. Dulu ada sebentuk sel asing yang harusnya tidak berada dalam tubuhku namun entah kenapa bisa hinggap dibadanku. Namun itu dulu, karena setelah Aku dioperasi sel asing dalam rongga kepala yang membuatku sakit akhirnya bisa dilenyapkan. Sekarang Aku merasa lebih sehat, walau sulit mengingat yang kata orang itu efek samping karena kepalaku harus diiris pisau bedah dokter agar mereka bisa memusnahkan penyakit yang menempel didalamnya. Karena Aku jadi agak sulit mengingat maka kejadian sepenuhnya dari awal Aku terdeteksi kanker hingga sembuh tak begitu jelas, semua agak samar. Tapi kira-kira beginilah kronologisnya:

Dulu Aku sehat. Keluargaku bahagia, Aku punya seorang putri cantik dan pintar bernama Cahaya à Cahaya putriku duduk di bangku SMP à tiba-tiba ada kanker terdeteksi dalam tubuhku, Aku mulai melemah à Cahaya di bangku SMA à Aku harus menjalani operasi untuk menghilangkan sel kanker, sebelum Aku operasi putriku yang ngotot ingin menunggui Aku di Rumah Sakit bilang bahwa sebenarnya Ia dapat kesempatan studi keluar negeri namun dibatalkannya karena ingin menunggui Aku. Kunasehati dia bahwa Aku akan baik-baik saja dan Dia harus terus meneruskan cita-citanya untuk menjadi orang besar seperti yang kubilang dulu à Cahaya lulus dari SMA unggulan dengan nilai terbaik dan mendapat beasiswa untuk meneruskan studi di University of Sorbonne à operasi berhasil dilakukan, dokter bisa menghilangkan kanker….

Kini kanker memang sudah dilenyapkan, namun entah kenapa rasa sakit kepala masih mendera. Kadang membuatku menangis, bersedih, merasa Tuhan tidak adil karena Aku sudah berbuat kebaikan sepanjang hidupku tapi Dia malah memberi sakit ini sebagai balasan. Namun semua rasa sakit itu lenyap ketika pada akhirnya kini Aku tahu bahwa segala petuah bijak dan nasihat yang dari dulu kuberikan pada Putriku memang membuahkan hasil. Segala rasa sakit dan kecemasan kalau-kalau kanker itu datang lagi tergantikan dengan kegembiraan ketika Aku membaca selarik paragraf pada artikel yang bercerita tentang generasi muda berprestasi di surat kabar nasional yang menempel pada sebuah buku kliping didepanku:

RUBRIK GENERASI MUDA BERPRESTASI HARIAN INDONESIA MERDEKA

…” Cahaya Phoenixia. Dara manis asal Solo ini lulus Sarjana dari University of Sorbonne Perancis dengan predikat cum laude, yang luar biasa lagi adalah Cahaya merupakan sarjana yang lulus dengan usia termuda di angkatannya. Cahaya juga adalah penulis dari beberapa buku best-seller. Diantaranya novel terbarunya yang berjudul CINTA GILA SELULAR bisa terjual sebanyak 3 juta copy hanya dalam waktu yang sangat singkat. Novel yang berkisah tentang percintaan abnormal para anak muda melalui media telepon selular itu memang tengah digilai di Indonesia karena isinya dianggap mewakili kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia yang tergila-gila pada telepon selular. Saat ini Cahaya Phoenixia tengah meneruskan studi nya untuk mendapatkan gelar doktoral nya dan juga tengah merampungkan buku nya yang bertitel DISKURSUS TENTANG HUKUM TIMBAL BALIK: BIBIT KEBAIKAN AKAN BERBUAH KEBAIKAN…”

TAMAT

( Untuk Cahaya: jangan bersedih, lakukan saja hal yang baik seperti yang diajarkan Bunda. Raih cita-citamu, make some big and great things. And it’ll make Your lovely Mama proud and happy for You. Rasa sakit seperti apapun yang tengah diderita Bunda akan sirna selama Ia bisa melihatmu bahagia dan berhasil mewujudkan cita-cita. Aku akan menyuruhmu berusaha dan terus berdoa, dan jangan Kamu bilang klise. Seorang filsuf Yunani bernama Descartes pernah berkata “Aku berpikir, maka Aku ada” so, if You think you’ll make it true. It will come to be true. Jadi berpikirlah Kamu akan berhasil dan semua akan berhasil. Apapun cita-cita mu.)

ARIS SETYAWAN

Karanganyar, 01 Februari 2010

( For More shit please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

People Who Use Ink And Words As Their Weapon: Penulis Yang Saya Idolakan.

Januari 29, 2010 oleh arissetyawangrungies

Mungkin beberapa pihak lebih suka menggunakan konfrontasi dan kekerasan sebagai senjata mereka untuk melawan dunia. Namun orang-orang hebat ini alih-alih malah menggunakan tulisan/karangan Mereka. Buku-buku yang Mereka tulis Saya baca, pelajari. Dan membuat ekspektasi semoga Saya juga mampu berkarya seperti Mereka. There is People who use ink and Words as Their weapon i adore them:

1. George Orwell: penulis ini hidup dimasa ketika Perang adalah hal biasa bagi dunia. Karya orwell menohok keras penguasa-penguasa diktator. Simbolisasi tentang Adolf Hitler dan NAZI di Animal Farm. Ramalan tentang sebuah pemerintahan diktator Inggris di 1984. Karya-karya nya amat berani dimasa lampau hingga membuat Saya berpikir andai Orwell hidup dimasa kini akankah Ia menulis sebuah buku tentang pemimpin gila semacam George Bush atau Junta Militer Myanmar?

2. Dewi Lestari: satu-satu nya Dee yang Saya cintai kejeniusan penulisan buku, lagu, atau suara Alto nya yang megah. :) berawal dari chatting dgn seorang bernick SUPERNOVA di MIRC beberapa tahun yang lalu yg menceritakan pada Saya tentang Supernova. Lantas Saya penasaran dengan buku itu. Mengingat penulisnya yg lebih dulu dikenal sebagai penyanyi pop dlm group Rida Sita Dewi Saya sempat berpikir berarti buku bertema populis juga. Namun setelah baca Saya benar-benar tergila-gila pada karya Dee. Lantas apa Dee harus dimasukkan ke kelompok ‘Sastrawangi’ seperti yg disematkan ke Djenar Maesa Ayu atau Ayu Utami? Entahlah. Djenar atau Ayu Utami memang hebat, isu yg ditulisnya juga bagus. Namun entah kenapa Saya lebih jatuh Cinta kepada Dewi Lestari. Alih-alih menulis Cinta Biasa seperti lagu pop yg dinyanyikannya bersama RSD, ia malah menulis tentang begitu banyak pengetahuan empiris dalam karya-karyanya. Fisika Kuantum di Supernova 1, Biologi di Supernova 2, Listrik di Supernova 3, lalu Partikel di Supernova 4 (belum terbit, dan kenapa enggak selesai juga ditulis? Kita sudah menunggu terlalu lama) atau filsafat di Filosofi Kopi dan Rectoverso. Hingga cerita populis percintaan sinetron di Perahu Kertas (yaaikk…??) pada akhirnya Saya hanya bisa bilang “yaaa…Saya tergila-gila pada Dewi Lestari”

3. Dan Brown: Saya sempat rancu sebenarnya Dia ini Peneliti atau Penulis sih? Kenapa buku-buku nya bisa begitu detil mengupas satu isu? Kontroversi pernikahan Jesus dan Maria Magdalena Di The Da Vinci Code, perang tanpa henti antara Kaum ilmuan dan Gereja Vatikan di Angels and Demons, thriller teknologi dan mengupas agensi NSA di Digital Fortress, lalu tentang NASA dan tipu muslihat di Deception Point. Atau kerahasiaan persaudaraan Mason di The Last Symbol. Bagaimana mungkin seorang Dan Brown mampu meneliti semua isu yg hendak dituliskannya? Yg belakangan Saya ketahui bahwa Brown memang tdk meneliti sendiri, penulis sebesar itu tentu punya tim sukses untuk riset dan penelitian. Apa yang Saya suka dari Brown? Dia gemar mengangkat isu dan pengetahuan nonmainstream dibukunya. Walau yang tak Saya suka adalah Dan Brown telah menjadi penulis mainstream yg laris manis hingga banyak produk-produk beriklan di Bukunya.

4. Noam Chomsky: dunia kita yg sudah carut marut ini membutuhkan banyak peneliti dan penulis obyektif semacam Chomsky. Andai ada seribu lagi peneliti Amerika seperti Dia, maka paman Sam akan selalu mikir-mikir sebelum membombardir Negara Islam dengan dalih ‘memburu teroris serta menjaga stabilitas dunia’ Amerika tak akan mau berlagak jadi polisi dunia karena takut dikritisi seribu Chomsky. Jika penulis Amerika Subyektif akan menulis kejahatan Islam serta mengagungkan negaranya. Noam Chomsky lain, dengan lantang Ia menuliskan kebenaran. Bahkan menegaskan bahwa sebenarnya negaranya lah yg teroris dlm buku nya ‘Maling Teriak Maling: Amerika Yang Teroris’ membaca karya Chomsky harusnya bisa membuat berpikir: jadi Amerika yg teroris?

5. Pramoedya Ananta Toer: Beliau ini sastrawan besar Indonesia. Cukup itu saja untuk menggambarkan Pram. Terlepas dari tuduhan beberapa pihak yg menganggap Pram berhaluan kiri hingga menghalalkan pembakaran buku-buku nya serta memenjarakan beliau di Pulau Buru. Walau dipenjara justru Beliau menghasilkan Karya hebat roman tetralogi buru dalam empat jilid, ‘Bumi Manusia’ salah satunya. Atau investigasi kekejaman Daendels membangun jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yg menyebabkan genosida besar-besaran untuk orang jawa, atau sebuah teori tentang bagaimana korupsi bisa jadi sebuah keniscayaan di Indonesia dlm ‘Korupsi’, atau tentang semangat perjuangan bangsa kita melawan penjajah yg diceritakan oleh artis bernama ‘Larasati’ apapun cerita yg ditulis Pram Saya selalu terpukau dan terkagum dengan begitu banyak bukunya. Sayang beliau sudah kembali pada NYA. Hingga kita hanya bisa mengenang seorang penulis Hebat Bernama Pram.

Tentu saja itu hanya 5 penulis yang bukunya Saya baca dan pelajari. Berharap juga semoga Saya bisa mempunyai kualitas kepenulisan seperti Mereka. Masih banyak penulis lain yg Saya idolakan. Namun tak akan habis diceritakan dan kita mungkin akan bosan jika tulisan Saya ini terlalu panjang. Mereka-mereka ini yang menginspirasi Saya untuk menggunakan media kepenulisan maupun bermusik sebagai senjata melawan dunia. Dunia yang Saya anggap tidak adil atau perlu dirubah.

ARIS SETYAWAN

Karanganyar, 29 Januari 2010

( For more shit please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

The Man Behind The Drum: Drummer Yang Saya Idolakan.

Januari 29, 2010 oleh arissetyawangrungies

Beberapa Drummer ini adalah orang-orang Yang Saya Idolakan dan kagumi. Entah karena teknik permainannya, style, atau sound drum yg dihasilkan. Ya, Mereka ini menginfluence Saya, and all of them are the reason why i’d decided to play drum. And here the list of the man behind the drum i adore them:

1. John Bonham (Led Zeppelin): kombinasi permainan drum dan perkusi yg luar biasa, gebukan luar biasa kencang layaknya orang gebuk bedug. Membuat permainan drum Bonham sulit ditiru drummer manapun. Pantas jika Led Zeppelin langsung bubar ketika Bonham Meninggal, karena ga ada yg bisa menyamai permainannya. Saya selalu gagal tiap berusaha menyamai permainan drum Bonham. Terlaku berkarakter. Seperti solo drum yang dimainkannya di lagu Moby Dick misalnya, tak pernah berhasil Saya ikuti.

2. Dave Grohl (Nirvana, Scream): mantan drummer Nirvana yg belakangan jadi gitaris+vokalis Foo Fighters. Lalu kembali menabuh drum utk band super Them Crooked Vultures yg dibentuknya bersama Josh Homme (Queen Of The Stone Age) dan John Paul Jones (Led Zeppelin) Grohl adalah musisi multitalenta, drummer, penulis lagu, dan gitaris yg hebat. Pantaslah Saya bermimpi andai punya Talenta sepertinya.

3. Richard Mutter (Pas Band): mungkin seandainya Mutter enggak memutuskan bermain drum, maka Saya ini juga tak akan bermain drum seperti sekarang. Karena Richard Mutter lah Saya memutuskan untuk belajar drum dengan sungguh-sungguh. Bermula saat Saya terkagum-kagum dengan teknik Double Pedal Mutter di album In(No)Sensation Pas Band puluhan tahun lalu, akhirnya Saya otodidak dgn drum. Sayangnya belakangan Mutter hengkang dari Pas utk mnjadi film maker. Lalu sempat berkontribusi pada departemen drum untuk Godbless dan Getah. Saya berani mentasbihkan Richard Mutter sebagai drummer terbaik Indonesia.

4. Lars Ulrich (Metallica): manusia luar biasa otak kecermelangan musikalitas band thrash metal legendaris Metallica. Ulrich adalah manusia sombong dan Arogan, tapi Dia pantas begitu. Karena Dia memang hebat. Entah berapa juta drummer didunia ini yg mengagumi dan terinspirasi olehnya. Termasuk Saya didalamnya.

4. Larry Mullen Jr. (U2): Mullen tidak akan pernah bermain double Pedal atau kerumitan skill ala Mike Portnoy Dream Theater. Dia juga tak akan beringasan menggebuk drum tempo cepat macam Travis Barker Blink-182. Lalu apa kelebihannya? Sound yg Elegan dan anggun untuk melengkapi sound mengawang U2 yg diciptakan gitaris The Edge. Teknik simple Larry Mullen Jr. Benar-benar tak tertandingi dan justru semakin menegaskan bahwa terkadang untuk membuat sebuah keindahan kita tak perlu memahami kompleksitas, cukup simplisitas Saja.

5. Butch Vig (Garbage): drummer satu inilah yg sekarang ini Saya benar-benar berharap andai Saya bisa punya kemampuan sepertinya. Karena Vig adalah musisi sukses baik dari segi idealisme maupun komersil. Idealis karena Ia adalah produser dan bertanggung jawab menangani sendiri sound drum seperti apa yg Ia inginkan untuk Garbage, Shirley Manson vokalis Garbage memang piawai menulis lirik, tapi karena kejeniusan Butch Vig dikombinasi kemampuan gitaris Duke Eriksson dlm meramu instrumen konvensional dan bebunyian elektronik lah yg membuat Garbage jadi band sedahsyat itu. Komersil karena Vig adalah produser yg hebat. Banyak artis yg diproduseri olehnya maka albumnya akan laris manis. Tidak percaya? Coba cek cover album Nevermindnya Nirvana yg terjual jutaan kopi itu dan bahkan mampu membuat pergeseran budaya serta trend musik di era 90-an, Butch Vig lah produsernya. Ia Juga memproduseri AFI dan Jessy Moss. Kalau Saya bisa seperti Vig, mungkin Saya bisa merubah trend musik Indonesia. :)

demikian beberapa drummer yang Saya kagumi dan Saya anggap drummer-drummer terbaik di dunia. Dan tentunya tulisan ini sepenuhnya subyektif hingga opini orang lain mungkin akan berbeda tentang siapa yg terbaik. Karena tiap orang memang mempunyai penilaian berbeda-beda akan sesuatu. Seperti kaum lelaki yg menilai Payudara Wanita adalah keindahan, sementara bagi anak-anak dan bayi Payudara adalah tempat keluarnya ASI yg bisa mereka minum. Sama-sama Payudara tapi berbeda penilaian karena beda paradigma dan konteks.

ARIS SETYAWAN

Karanganyar, 29 Januari 2010

( For more shit please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Ocehan Tentang Sebuah Botol Dan Microphone.

Januari 21, 2010 oleh arissetyawangrungies

Semua benda dapat menjadi senjata, jika Kau memegangnya dengan erat. Sebotol Coca-cola yg berisi minuman bersoda akan dicap sebagai simbol ketidakadilan pasar global dan biang kapitalis. Akan lain ceritanya bila botol itu berisi bensin dengan secarik kain dan Kau pegang dgn erat ditangan kanan, yg kiri korek api. Jadilah senjata bagi para kombatan utk melawan penguasa otoriter. Microphone mungkin berbentuk sama. Namun sering diimplementasikan pada Konteks yg berbeda tergantung niat orang yg memegangnya. Sebuah mic bisa dipegang seorang penyanyi yg tengah mengkoarkan lagu putus cinta, selingkuh, atau ketidakproduktifan lainnya yg lantas akan dicap sbg pembodohan pendengarnya. Sementara itu akan lain ceritanya bila Mic itu dipegang erat oleh seorang penyanyi yg liriknya sarat kritik sosial, masukan, hiperbola, semangat, ajakan meningkatkan produktivitas, atau sedikit sarkastik dan satire teruntuk Para penguasa yang menginjak kebebasan Kita dengan kekuatan mereka, maka microphone itu serupa belati yang ditusukkan ke jantung bagi para koruptor, atau mafia peradilan, atau para pembunuh, atau para oportunis sadis yg mengaku mewakili rakyat.

Sebuah botol atau belati mungkin sama. Tapi mempunyai esensi yg berbeda pada konteks yg berbeda. Jadi terserah Kau, mau menggunakan botol atau microphone, asal Kau pegang dgn erat. Semua bisa menjadi senjata utk memperjuangkan kebebasan atau sesuatu ekspektasi dan harapan yg lebih baik. Untuk dirimu sendiri, orang lain. Dan untuk Negeri ini.

Aris Setyawan

Karanganyar, 21 Januari 2010

( for more shits please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

I LOVE PAIN: Sebuah Klarifikasi Bahwa Saya Bukan Pecandu Drugs.

Januari 9, 2010 oleh arissetyawangrungies

Saya Sering mendapat Messages di Akun MySpace atau E-mail yang isinya bertanya kepada Saya apakah Saya seorang pengguna Drugs dan seorang junkies? Hal mana yang membuat Saya heran kenapa ada pertanyaan seperti itu ditujukan kepada Saya, seorang Aris Setyawan yang berani bersumpah belum pernah menyentuh barang haram itu. Setelah Saya Tanya balik pada mereka-mereka yang bertanya itu maka jelaslah segalanya. Mereka ini bertanya kepada Saya demikian setelah mereka mendengarkan salah satu lagu yang Saya tulis berjudul I Love Pain, lagu yang memang bertema tentang penggunaan drugs. Rupanya banyak dari para pendengar yang salah mengartikan lagu tersebut, mis-interpretasi hingga dikira Saya yang dikisahkan sebagai pecandu narkoba dalam lagu tersebut. Maka agar kesimpang siuran berita bahwa Saya adalah Drugs User tidak makin menjadi Saya perlu mengklarifikasi dan memberikan eksplanasi tentang lagu itu.

I Love Pain adalah sebuah lagu dari band Alternative Punk Grunge asal Karanganyar, Surakarta yang bernama DOn’t BE Robotic huMAN ( Doberman ). Lagu ini sempat dirilis dalam Demo band tersebut bertitel “ First Noise, First Pain” lalu belakangan juga masuk dalam kompilasi lintas genre dengan judul “Konfrontasi Maksimal 2” yang dirilis Manual Record tahun 2009. Lagu ini memang bercerita tentang pengunaan drugs dan implikasinya dengan rasa sakit. Dari judulnya sendiri terkesan begitu eksplisit dan seolah bersifat Sadomasokis, I Love Pain, Aku Suka Rasa Sakit. Dengan beberapa penggal lirik sebagai berikut:

“I love pain, I’m on high

I love pain, Coz I’m using drugs…

I Love Pain, I don’t care. I love pain when nobody care..”

Dengan gamblang lirik tersebut mengatakan “Saya menggunakan Drugs” tapi ‘Saya’ dalam lagu ini bukanlah Saya sendiri tapi orang lain. Liriknya Saya tulis setelah melihat kelakuan kawan yang tengah menyuntikkan drugs kedalam aliran darahnya. Bagaimana mereka mengikat lengan agar pembuluh darah lebih kelihatan. Lalu menyuntikkan drugs yang sebelumnya sudah diencerkan dengan air, direbus, lalu di-injeksikan kedalam darah. Kemudian bagaimana reaksi mereka ketika sedang menikmati tingginya kadar serotonin dalam otak akibat terstimulasi efek Drugs tersebut, yang lantas mengakibatkan mereka berfantasi, mengawang seolah tak menginjak bumi. Lalu tak berapa lama setelah melayang dan efek obat sudah hilang kembali menapak tanah. Agak miris Saya melihat perbuatan kawan Saya. Tangannya yang berlubang-lubang bekas jarum, badan kurus kering dan muka tirus pucat itu. Apalagi ketika Sakaw. Jeritannya benar-benar menyesakkan dada. Bagi Saya orang normal yang tak memakai Drugs tentu saja semua yang dilakukan kawan Saya itu terlihat menyakitkan. Tangan diikat kencang-kencang, disuntik, menginjeksikan putauw separuh lalu disedot lagi hingga putauw yang sudah masuk bercampur darah didalam suntikan, baru kemudian disuntikkan seluruhnya. Hingga akhirnya Saya beranggapan rupanya pecandu Narkoba itu ‘Cinta rasa sakit’ karena ketika memakai semua prosesnya menimbulkan kesakitan tapi tetap saja dilakukan. Apalagi namanya kalau bukan cinta rasa sakit? Lalu Saya tulislah lirik lagu tentang kebiasaan kawan Saya itu. Jadi sesungguhnya yang cinta Rasa sakit itu adalah kawan Saya yang pengguna drugs, karena Ia lebih cinta tubuhnya didera kesakitan dengan memakai drugs alih-alih tetap sehat saja. I love Pain hanya berdurasi pendek, satu menit lebih sedikit dengan tempo cepat, distorsi gahar dan vokal berteriak. Sebagai simbolisasi bahwa ketika kita memakai drugs hidup akan terasa begitu bersemangat, hingar bingar, gembira, berteriak. Namun Cuma sesaat ketika efek obat masih terasa. Cuma serasa satu menit lebih sedikit. Namun setelah hingar-bingar itu tiba-tiba sunyi sepi, kelam, hitam, mati tak berarti tidak menjadi apa-apa dan terlupakan.

Jadi Moral of the story nya adalah: kalau masih Sayang hidup dan ingin hidup lebih berarti bagi diri sendiri dan orang lain, jangan coba-coba memakai drugs. Masih banyak stimulan lain yang bisa dipakai untuk meningkatkan kadar serotonin dalam otak selain zat-zat psikotropika. Dan percayalah kita akan lebih suka berteriak “Aku cinta sehat dan normal” ketimbang kawan Saya seorang drugs addict yang berteriak “ I love pain, Aku cinta rasa sakit.” Lagu I Love Pain bukan sebuah ajakan untuk memakai drugs, tapi sebuah kisah tentang pengguna drugs yang semoga bisa jadi bahan kontemplasi dan pembelajaran bagi kita agar tak pernah sekalipun berminat menjadi pengguna drugs. jadi cukup kiranya klarifikasi Saya. Dan Saya tegaskan lagi bahwa Saya tidak pernah memakai Drugs, dan tidak pernah berniat menggunakannya sampai kapanpun.

Ket:

Serotonin:      Zat dalam otak yang dipercaya mengatur ‘rasa tenang’ dalam tubuh manusia. Orang yang suka meditasi misalnya, memproduksi serotonin dalam tubuhnya secara alamiah hingga menciptakan rasa tenang yang alami. Sedangkan penggunaan Drugs atau zat stimulan lainnya semacam Psikotropika memproduksi serotonin tersebut secara artifisial dan dipaksa. Hingga rasa tenang yang dihasilkan pun menimbulkan efek samping serta tidak baik untuk tubuh.

Aris Setyawan

Karanganyar, 01 Januari 2010

( For more shit please visit Http://www.arisgrungies.multiply.com )

Kosong

November 16, 2009 oleh arissetyawangrungies
Perkenalkan Kothong. Seorang anak yang berusia kurang lebih 9 tahun yang sedikit mengalami keterbelakangan mental, tetangga Desa Saya di Candi Sukuh, Karanganyar. Entah siapa nama Aslinya karena dia tak pernah menjawab ketika ditanya nama. Jadi warga desa memanggilnya dengan sebutan ‘Kothong’ yang dari bahasa jawa, jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti ‘Kosong’. Ya kosong, karena hidup Kothong kebanyakan hanya dipenuhi kekosongan, apa yang dilihat didengar dirasanya menurut kami hanyalah kekosongan. Karena apapun yang terjadi didunia sekitar kothong seolah tak peduli, ketika dia diledek anak-anak sebayanya karena dianggap abnormal, ia hanya tersenyum. Kadang menangis setelah dipukuli sedikit-sedikit, lalu tersenyum lagi. Apapun yang terjadi ia hanya tersenyum, kosong. Ironisnya saudara-saudara Kothong yang banyak itu pun kebanyakan mengalami keterbelakangan mental atau IQ nya agak rendah. Sementara Bapaknya sering kena damprat warga karena kepergok mencuri pisang setandan, atau barang lainnya. Namun Kothong seolah tak peduli dengan semua realita yang terjadi itu. Yang penting baginya mungkin hanyalah tetap eksis dengan keistimewaannya, memandang kosong, tersenyum, cukup.

Mungkin dengan paradigma kosong seperti itu terhadap kehidupannya sendiri, seperti itulah juga Kothong tak peduli dengan Kondisi carut marut negeri ini. Ia tak sempat peduli dengan konfrontasi antara KPK dengan Institusi Kepolisian yang tak kunjung usai itu. Ia mungkin tak tahu bahwa Ksatria Pemburu Korupsi negeri sedang bentrok dengan Para penegak hukum. Dan Ia bahkan tak lebih peduli lagi dengan realita bahwa Perusahaan Listrik Negara sedang sekarat meminta revitalisasi Infrastruktur yang sudah berumur banyak, dengan infrastruktur yang usianya sudah lebih tua dari Kita-kita ini tentu tak mampu menghasilkan energi listrik secara optimal, pasokan energy listrik selalu defisit. Lalu PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir yang mengakibatkan gelap gulita berkala di seluruh negeri. Kothong tak tahu apa bedanya ada listrik atau tidak karena rumahnya memang belum menikmati Listrik sejak lama. Oh, Kothong tak tahu konsep Global Village. Ia tak paham bahwa sekarang ternyata Dunia ini sudah menjadi sebuah Desa Global yang dihubungkan jejaring-jejaring pertemanan macam Facebook atau Twitter hingga kejadian diujung belahan dunia Sana bisa dengan cepat diketahui penduduk dunia sini, secepat sebuah berita menyebar disebuah desa kecil, Global Village. Ia tak seperti para pemuda-pemudi negeri yang ternyata adalah ‘trend follower’, mengikuti trend Social Networking mana yang paling terbaru dan ketika bosan segera meninggalkannya secepat mereka mengikutinya. Andai Kothong bisa tahu bahwa anak-anak gaul ini menambah teman sebanyak mungkin sampai lupa siapa-siapa saja yang dijadikan teman itu, Facebook mereka tanpa esensi karena mereka tak memanfaatkan media menjadi sesuatu yang bermanfaat, tetapi media yang memanfaatkan mereka sebagai pion. Pion dalam papan catur ketidakadilan global yang mengatasnamakan dirinya sebagai Neoliberalisme. Facebook, MySpace dan banyak Korporasi Multinasional lain adalah entitas bisnis milik beberapa pihak yang memeluk dunia dengan korporasi dan institusi-institusi pengagung Neoliberalisme. Yang menjadikan Negara hanya sebagai Simbol yang tak mampu berbuat apa-apa melindungi rakyatnya. Neoliberalisme itulah Negara baru itu. Tapi bagaimana mungkin Kothong mau tahu tentang konsep Global Village atau Neoliberalisme ketika Pikirannya kosong dan hanya bisa tersenyum sendiri sembari perutnya lapar karena keluarganya memang agak jarang punya makanan, sementara ketika tetangga memberi makan walau Cuma sepiring nasi maka Ayahnya akan membuang makanan itu dan mengamuk menghajar anaknya? Sang Ayah lebih menghalalkan Mencuri Pisang daripada menerima belas Kasihan tetangga.

Hal yang mana membuat Saya berkontemplasi singkat berpikir tentang Kothong, KPK, Polri, PLN, Global Village, Facebook, Mark Zuckenberg, Twitter, Negara, Neoliberalisme, Kabinet Indonesia Bersatu 2. Loh memang apa korelasi antara anak 9 tahun terbelakang mental dengan semua institusi dan entitas bisnis serta hal ekonomi itu? Yang Saya pikirkan tadinya adalah “apa mungkin anak terbelakang mental berumur 9 tahun yang sering memandang kosong itu suatu saat akan punya kesempatan mencoba Konsep Global Village dengan cara membuat sebuah Akun Facebook atau Twitter. Lalu tahu perkembangan kasus KPK vs Polri, lalu paham bahwa Negeri ini punya Kabinet Indonesia Bersatu 2 dalam pemerintahan, serta tahukah Ia bahwa Indonesia agaknya tercengkeram Neoliberalisme Korporasi Multinasional dan tak bisa lepas?” setelah Saya pikir panjang lebar Saya simpulkan Kothong mungkin lebih bahagia jika tak tahu Semua itu, Ia lebih bahagia tetap menjadi Kothong yang sekarang: Autis terhadap keadaan sekitar, yang penting baginya adalah tetap berlari, bermain, berkeliling desa dengan pikiran kosong namun tetap tersenyum. Yang lebih pantas Saya pikirkan mungkin adalah “adakah konsep Global Village bisa memberi tahu orang-orang dijauh belahan dunia Sana bahwa disebuah negeri bernama Indonesia tinggal seorang anak berusia 9 tahun bernama Kothong yang terbelakang mentalnya dan kurang beruntung hingga tak mampu sekolah dan hanya bermain-main. Adakah Ditengah kesibukan mempertahankan siapa paling benar KPK atau Polri tahu seorang anak bernama Kothong yang terbelakang mentalnya sedang berlari-lari didesa kecil lereng gunung lawu? Apa mungkin Korporasi-Korporasi Multinasional yang berslogan ‘Dari Rakyat, Untuk Rakyat’ itu sudi menyumbangkan sedikit saja dari dividen tahunan jutaan Dollar yang mereka bagikan pada para pemegang saham pada Kothong agar Ia punya kesempatan lebih baik mengenyam pendidikan. Mungkinkah Kothong menjadi Trending Topics di Twitter ?” ah pertanyaan Saya yang tak ada habisnya. Dan Kothong masih memandang kosong, tersenyum dengan pikiran kosong walau habis dikerjain anak tetangga yang menendanginya, tak peduli pada hal seperti itu, Saya tahu bahwa Kothong lebih tidak peduli lagi pada isu-isu yang lebih runyam di negeri Ini, sama seperti tidak pedulinya Negara pada Kothong: Anak Berpikiran Kosong dari lereng Gunung Lawu.

Aris Setyawan
Karanganyar, 16 November 2009

( For more Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Jilbab Formalitas

September 21, 2009 oleh arissetyawangrungies

Wanita memakai jilbab diangggap sudah bermoral paling benar, jauh dari cela, sopan, dan cantik. Itulah stigma yang sudah terlanjur melekat di Masyarakat. Jilbab dianggap mewakili semua semua yang bagus dan rapi, maka dari itu kalau ada Wanita berjilbab akan dicap sebagai ‘Wanita terhormat’ sementara kalau ada Wanita bertanktop langsung dibilang ‘Wanita Binal’ tapi apa benar dengan berjilbab seorang Wanita sudah bisa dikategorikan sebagai Wanita Terhormat? Sebenarnya tergantung apa niat dari Wanita itu sendiri dalam memakai jilbab, asumsi Saya sendiri Tak semua yang berjilbab itu terhormat. Jilbab tak terhormat ditasbihkan kepada mereka-mereka yang memakai jilbab hanya sebagai formalitas atau karena paksaan orang lain, atau Cuma memakai Jilbab sebagai kedok karena kenyataannya Ia berjilbab namun rajin senggama 3 hari sekali. Kelihatan sekali jilbab formalitas dengan ciri-ciri diantaranya jilbab namun rambut berponi, jilbab mini, berjilbab namun rabut ekor kuda nongol dibelakang, jilbab bermotif Lingerie, memakai jilbab ketika di kantor atau Sekolah namun begitu pulang ganti hot pant dan tank top. dan lain sebagainya.

Jilbab memang sudah menjadi tradisi di Negeri ini, Saya bilang tradisi karena dari sekian banyak Perempuan berjilbab di Negeri ini, Saya berani memberi pernyataan bahwa sebagian besar sebenarnya memakai jilbab karena terpaksa, ya terpaksa karena Jilbab sudah jadi tradisi di Keluarganya, tuntutan Institusi tempatnya Bekerja atau Sekolah, atau tuntutan Estrogen biar bisa dibilang Wanita terhormat oleh Pujaan hati. Padahal bukankah harusnya berjilbab itu dari hati? Berjilbab harusnya benar-benar diniati untuk menunjukkan eksistensinya sebagai seorang Perempuan Muslim. Dia yang berjilbab harusnya sudah menyadari bahwa berjilbab itu adalah prestasi tertinggi bagi Seorang perempuan Muslim dalam menjaga Kehormatannya, jadi enggak berjilbab karena terpaksa.

Di Negeri Indonesia ini kewajiban Wanita dalam berjilbab memang selalu menjadi kontroversi dan pertentangan. Mungkin inilah yang membuat Para Perempuan Indonesia juga bingung. Jadi sebenarnya Berjilbab itu wajib atau enggak sih? Ada yang bilang bahwa Jilbab Wajib dikenakan (maaf Saya lupa di Al-Qur’an surat mana. Ada yg ingat?) namun ada ulama yang bilang Jilbab Saja masih tidak cukup dan harus ditambah memakai Cadar menutupi Muka, sementara Alwi Shihab mengatakan bahwa lebih baik tidak berjilbab kalau tidak dari hati dan kenakan Saja “pakaian yang terhormat” sebagai ganti. Kita tidak usah berdebat pakaian seperti apa Saja yang masuk kriteria terhormat itu, pakaian yang menjaga diri pemakainya dari hal-hal negatif itulah kira-kira maksud dari pakaian terhormat.

Jilbab mulai ramai dikenakan Perempuan Indonesia sekitar 20 tahunan ini. Dulu Jilbab tidak begitu eksis dikenakan, bahkan Istri Buya Hamka saja dulu enggak berjilbab, namun mengenakan Pakaian Terhormat dalam kesehariannya. 20 tahun belakangan ini para Perempuannya berjilbab untuk meneruskan tradisi dan biar dianggap Wanita terhormat, bukan karena ingin menjaga kehormatannya. Lalu apakah ini pantas dibenarkan kalau berjilbab hanya untuk meneruskan tradisi dan dianggap sebagai Wanita terhormat? Dan bukan karena untuk menjaga kehormatannya? Kalau hanya untuk agar terlihat terhormat maka itu salah, karena diluarnya terlihat terhormat namun didalamnya sering dipegang-pegang. Kalau untuk menjaga kehormatan diluar dalam terjaga. Jadi wahai Para perempuan Indonesia yang berjilbab silakan Tanya pada diri anda sendiri: Anda berjilbab untuk apa, benar-benar Ikhlas dan untuk menjaga kehormatan? Atau terpaksa atas tuntutan norma-norma yang ada di Masyarakat dan biar terlihat terhormat? Daripada berjilbab namun bete terus karena kepanasanlah, risihlah namun terpaksa memakai karena berbagai hal. Lebih baik sekalian enggak usah mengenakan jilbab namun memakai Pakaian terhormat. Karena janggal rasanya kalau perempuan mengenakan Jilbab formalitas.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 21 September 2009

( For more Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com )

Akar.

Agustus 27, 2009 oleh arissetyawangrungies

Saya tiba-tiba teringat perkataan dari seorang kawan bernama Musallamah Hasan. Dulu Saya seing ngobrol sama Dia tentang berbagai Hal. Dan Satu ketika Dia ngomong begini: “Gw sering liat orang-orang pada nempel stiker ‘Sex Pistols’ di Motor atau Helm Mereka. Yang membuat Gw bertanya-tanya gitu, mereka nempel stiker itu emang ngefans Sex Pistols beneran atau Cuma asal nempel aja? Menurut Gw ketika kita udah berani nempel stiker tuh kita harus sudah tahu dong alasan kenapa kita nempelnya. Kayak temen-teen Gw yang nempel stiker ‘Revolution Fighter’ itu karena mereka ikut dalam perjuangan revolusi ketika menggulingkan kekuasaan orde baru dulu, mereka ikut turun kejalan dan membuat perubahan. Sebenarnya Cuma obrolan ringan tentang stiker tapi kalau ditelusuri lebih dalam jadi penting juga. Apa sebuah Kultus atau Aliran yang kita ikuti itu memang sudah Kita pelajari dari akarnya? Satu hari Saya bertemu dengan Mamat, mamat ini bersama kawan-kawannya mengaku sebagai ‘Anak Punk’ Saya bertemu dengannya di Lampu Merah dekat Tol Bekasi Barat. Lalu Saya iseng bertanya padanya: “Punk itu Apa? Yang dijawabnya dengan simple “Punk itu ya kayak Gw ini, hidup dijalan dengan dandanan keren, ngamen, mabuk bareng kawan-kawan, malakin anak sekolah ama Sopir Koasi, ngejar-ngejar Bencong di Gor bekasi buat dapet Seks gratis, dll, dst, dsb. Itulah Punk dimata Mamat. Lain lagi dengan Radji, Dia Saya jumpai beberapa tahun yang lalu, dan entah dimana dia sekarang karena semenjak pertemuan pertama saya dengannya Dia sudah pergi begitu Saja tanpa bisa Saya hubungi lagi. Radji ini Saya anggap sebagai ‘Punk yang sebenarnya’ karena Dia mau mempelajari Akar dan ujung pangkal kenapa Dia memilih untuk jadi Punk, Dia mau membaca darimana asal muasal Punk dibentuk, kenapa Punk harus ada, apa saja yang harus diberi resistensi oleh Punk. Jadi Dia tahu alasan kenapa memilih jadi Anak Punk, enggak Cuma ikut-ikutan Kawan biar bisa mabuk bareng-bareng dan ikutan saja. Sementara itu Dewi”dee”Lestari dalam bukunya Supernova: Akar menceritakan seorang tokoh bernama ‘Bong’ yang menurut Saya juga seandainya Bong ini benar-benar ada, maka Dialah Punk yang sebenarnya. Yang Tahu alasan kenapa Ideologi Punk dipilihnya, Sayangnya di negeri yang suka ikut-ikutan ini mungkin lebih banyak Anak Punk yang seperti Mamat ketimbang Bong atau Radji.

Lalu entah kenapa tiba tiba memori Saya tercelat ke perkataan Bobby Setenk. Vokalis dan gitaris berkharisma dari The Patient, sebuah band Grunge asal bekasi. “Ris, Gw sih lebih respect ke anak Grunge kayak Elo. Kalo orang-orang yang ngaku-ngaku anak grunge di Internet itu Gw ga percaya, soalnya kebanyakan mereka Cuma ngomong doang, ngakunya anak Grunge tapi hidup teratur, makan, bera, tidur dirumah Ortu. Kalo elo Ris, Lo jalanin kehidupan yang keras bener-bener. Elo kerja sendiri, hidup nyari makan. Sampai kerja apa juga dari jadi Buruh bangunan sampai Buruh Pabrik Elo pernah kerjain. Itu Grunge yang sebenarnya” hal mana yang kemudian juga membuat Saya teringat tulisan seorang yang aduh maaf Saya lupa namanya, yang jelas tulisan ini ada di Draft Buku ‘Grunge Indonesia, Subkultur para Pecundang’ karangan MasYoyon gitaris Ballerina’s Killer. Tulisannya kira-kira begini intinya “ketika dalam grunge itu sudah tidak ada ‘Pain’ didalamnya, apa Ia pantas lagi disebut Grunge? Bukankah genre grunge terbentuk dari Pain? Ketika orang-orang pelakunya mempunyai masalah dengan hidupnya yang berantakan dan kacau balau. Dalam hidup mereka selalu ada Pain, maka Mereka lari ke Grunge. Sementara tipikal anak Grunge Indonesia, oke ortu kalian tajir, kuliah di perguruan tinggi terbaik atau Sma unggulan, makan kenyang, tagihan internet bulanan tinggi, pacar cakep, dugem sering, alat musik kualitas terbaik. Dengan gaya hidup

yang teratur seperti itu mana ada Pain didalamnya? Pantaskah mereka ini masih disebut grunge?” ada lagi contoh lain. Satu ketika Saya menonton Festival band Band di Bekasi. Semua band yang main ya kebanyakan membawakan lagu-lagu pop gitu lah. Lalu dipertengahan acara ada satu band yang penampilannya nge Grunge banget dengan flannel, celana bolong dan attitude slenge’an. Dengan sesumbar Vokalisnya berteriak-teriak “Woiii band lain yang main disini goblok semua, kayak Band Gw dong keren. Grunge not dead…” dan tahu apa yang dimainkannya? About A Girl dan Smells Like Teen Spirit dengan vocal fals, Drum out of tempo, chord yang salah, serta bass yang bahkan kayak enggak dimainkan. Ketika Dia turun panggung Saya sempatkan bertanya padanya ‘Apa itu Grunge bro?” dan dijawabnya dengan Simple “Grunge itu yah kayak Gw, mabuk, Nirvana, Flanel, jeans Bolong, keren kan?’

Lalu Saya juga membaca sebuah Review tentang Event grunge disini:

http://www.jurnallica.com/report-2009_05_grunge-gods2.htm

Yang cukup menarik dari review itu adalah kata-kata ini:

Ya, memang acara ini hanya untuk mengenang musik-musik grunge mainstream yang ada di TV & radio era 90-an. Audiens di malam itu mengenal & memainkan grunge hanya dari band-band mainstream-nya. Mereka hanya mendengarkan album-album grunge major label saja, tidak notice dengan grunge lainnya (ket: band indie-rock/post-punk/hard-rock/heavy-metal dengan sound khas Northwest, USA akhir 80-an) seperti rilisan SST Records, Touch n’ Go Records, Neutral Records & K Records. Jadi kalian tidak akan mendengarkan lagu-lagu dari Bikini Kill ataupun Blood Circus dimainkan di sini. Oh well, mungkin sayanya aja yang terlalu underground puritan.

Karena bagi saya pribadi, “grunge gods” bukanlah Pearl Jam, Alice In Chains atau Nirvana sekalipun. Yang benar-benar “gods” adalah mereka para pelopor yang underatted dan hanya dikenal dalam skala kecil saja, seperti: The Melvins, (late) Black Flag, Flipper, Skin Yard, Screaming Trees, Soundgarden, Mudhoney, dll. Mungkin hal inilah mengapa scene grunge di Indonesia tidak bisa standout dan benar-benar maju. Tidak seperti scene indie-rock lainnya di Indonesia (shoegazing, indiepop, noise, garage-rock, nu-wave) yang bisa maju dan berkembang. Karena mereka mendekatkan diri ke root underground dari mana musik mereka berasal. Berbeda dengan scene grunge yang hanya mendengarkan grunge-grunge mainstream saja. Jadinya, scene grunge di Indonesia hanya menjadi scene yang penuh dengan imitator artis-artis grunge mainstream. Menyedihkan!

Lalu sebuah pujian untuk Navicula, Grunge Heroes from Bali:

Oke, mari lewatkan tulisan omong-kosong saya di atas. Saatnya band terakhir yang ditunggu-tunggu yaitu grunge legendaris asal Bali, Navicula! Saya memang tidak mengikuti diskografi mereka. Tapi berdasarkan research saya, refrensi musik mereka luas juga taste musiknya yang bagus. Unsur itu merupakan salah satu modal untuk membentuk sebuah band yang bagus! Ternyata benar ekspektasi saya, Navicula benar-benar band yang bagus!

Mereka membuka set dengan lagu barunya “Menghitung Mundur”, komposisi psychedelia yang menghanyutkan dan penonton langsung dikejutkan dengan riff-riff heavy ala Gruntruck di lagu-lagu berikutnya! Moshing, headbanging & stage-diving tidak bisa dibendung lagi. Seisi venue terbakar oleh adrenalin. Nampaknya di materi-materi terbaru Navicula semakin heavy-rock/alternative-metal, bergeser dari style grungy hard-rock di rilisan-rilisan awal mereka.

Yang membuat saya salut dari Navicula adalah, mereka bisa menelusuri root dari musik grunge yang mereka mainkan (70’s psychedelic, 70’s hard-rock/blues/ heavy metal). Jadinya musik mereka betul-betul terasa root-nya! Tidak seperti kloning-kloning Nirvana, Pearl Jam, Silverchair & Creed yang sudah sering saya dengar di scene grunge lokal. Karena mereka (band-band kloningan) mendengarkan musik tanpa mempelajari sejarah dari musik itu sendiri.

Ya, klimaks acara malam itu memang dipegang oleh Navicula. Mereka bisa menjadi “god” tanpa harus memainkan lagu-lagu dari artis-artis grunge luar. Saya juga berani bilang kalau Navicula adalah penyelamat scene grunge di Indonesia!

Kasus-kasus yang Saya ceritakan diatas Cuma sebuah contoh dari banyak kasus lain, betapa orang-orang kita ini sering fanatis terhadap hal namun enggak berusaha mempelajari dasar kenapa ia bisa fanatis dengan hal itu. Kebanyakan ikut-ikutan atau biar terlihat keren, kenapa mamat harus ikut-ikutan jadi anak Punk tanpa mau mempelajari pergerakan Sex Pistols, Ramones, atau The Clash pada awal genre ini terbentuk? Kenapa Anak Grunge Indonesia harus berfilosofi bahwa Grunge itu Nirvana, mabuk, fals, banting gitar, dan enggak mau mempelajari akar terbentuknya grunge itu darimana? Kenapa mereka enggak mau terima Bahwa mereka setengah mati fanatis hanya memuja Cobain, padahal Cobain sendiri begitu tergila-gila pada begitu banyak artis dengan beragam Aliran macam The Beatles, Led Zeppelin, The Vaselines, Pixies, Melvins, dan buanyaaaaaakkk lagi. Saya sendiri enggak pernah menganggap diri sebagai ‘Anak grunge’  sekalipun Bobby Setenk menyebut Saya “Grunge”

Saya suka genre itu, Saya mendengarkan band-band yang termasuk dalamnya. Namun dengan mentasbihkan diri sebagai ‘anak grunge’ maka Saya hanya akan mengkotak-kotak kan musik dan alangkah bosannya menjadi Anak Grunge. Saya lebih suka disebut ‘Rocker’ karena dengan kata “Rock’ maka artinya menjadi luas sekali termasuk dalamnya subgenre-sugbenre yang ada dalam rock itu. Ini bukan sangggahan atau resistensi kalau Saya disebut ‘anak Grunge’ Cuma sebuah Advice atau ajakan kepada semua: Jadi saya memang mengamini ucapan Musallamah Hasan, Bobby Setenk, atau Radji. “Ketika kita mengaku sebuah ideology, Kultus, atau apapun sebuah aliran musik itu. Mbok ya ayo dipelajari dasarnya dulu kenapa Kita suka dan memilihnya. Jangan Cuma ikut-ikutan, biar terlihat keren, atau Cuma karena kurang kerjaan aja begitu. Jadinya nanti kayak Mamat lagi, ikut-ikutan jadi Punk tapi malah tersesat jadi tukang palak Sopir Koasi di jalan. Atau Kayak band apa namanya itu yang ngaku grunge, Nyaris ngebanting gitar panitia Festival tapi taunya Cuma lagu About A Girl Mari belajar dari root nya. Biar enggak tersesat.

-Aris Setyawan-

Bekasi, 27 Agustus 2009

(For More Sh*t please visit http://www.arisgrungies.multiply.com)

Cerpen: Lebah.

Agustus 6, 2009 oleh arissetyawangrungies

“,…Kenapa Kau terus menunggunya? Bukankah Ia belum tentu menunggumu juga”?

“…Aku tahu Ia sedang memikirkanku seperti ketika Sekarang Aku memikirkannya, karena Ia adalah pangeran lebah yang selalu ingat jalan pulang ke sarang, dan Aku lah Sarangnya….”

Sebuah percakapan Biasa antara Aku dan Dewi, percakapan yang tak pernah mengalami eskalasi seperti yang kuharapkan. Percakapan yang semenjak setahun kita berteman hanya berkutat di seputaran bagaimana Ia sangat menantikan kepulangan Pangeran Lebahnya, bagaimana Ia sangat merindukan sengatan Cintanya, dan lain sebagainya. Padahal Aku tentu Saja sangat ingin percakapan ini beranjak saja kesesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dari percakapan biasa dua teman disore hari di taman kota kala matahari mulai memerah, Aku ingin percakapan ini jadi obrolan dua insan yang,,….Ah Kau tahulah maksudnya. Aku dan Dewi memang pribadi yang benar-benar berbeda, Aku cenderung menggebu-gebu akan beberapa hal, sementara Ia sering menganggap sesuatu biasa Saja. Ia bisa saja habis tersengat lebah (secara harfiah alias kesengat lebah beneran) namun ia hanya Akan menganggapnya biasa saja, hal yang bila terjadi pada orang lain sudah membuat mereka menangis. Tapi mungkin karena perbedaan itulah kami bersatu, sejak pertemuan kita setahun yang lalu hingga sekarang, kami jadi tak terpisahkan. Sebagai Sahabat. Dan bercakap-cakap disore hari dibangku taman adalah kebiasaan kami berdua yang sering kami lakukan. Setelah bosan bercakap-cakap hingga mulut berbusa maka biasanya kami akan berjalan bersama untuk pulang kerumah, Aku pastikan melihatnya masuk rumah dulu, baru Aku pulang kerumahku sendiri. Esok harinya terulang lagi seperti itu, dan begitu, dan begitu.

“,….Setahun yang lalu ketika kita baru berteman Kau bilang padaku Ia pergi setahun yang lalu, berarti sudah 2 tahun Ia pergi, 2 tahun Dewi. Waktu yang cukup lama untuk membuat seorang pria sudah melupakanmu. Apalagi yang Kau harapkan darinya,,…:”?

“,……Probabilitas sahabatku, Segala yang tidak mungkin didunia ini bisa jadi mungkin. Maka Aku mungkinkan Pangeran lebahku akan kembali…”

lagi dan lagi, stagnasi terulang lagi. Percakapan soreku dengan Dewi yang tak kunjung meningkat jadi percakapan sepasang kekasih, Dewi menunggu seorang Pria yang dijulukinya ‘Pangeran Lebah’ Ia sudah menunggunya bertahun-tahun, Ia bilang Pangeran lebahnya sedang menuju negeri yang jauh, yang saking jauhnya sampai tak ada di peta dunia atau di Google Earth. Ilmu yang dicarinya katanya akan bisa bisa membuat perubahan besar pada Dunia. Ilmu yang katanya Akan membuat lebah Amat bermanfaat bagi Dunia. Cinta Dewi kepada Pria itu tentu saja cinta biasa seperti cinta manusia lainnya, biasa bagi mereka, tidak biasa bagiku. Sumpah. Aku mencintaimu lebih baik darinya wi, Aku yang mendengar keluh kesahmu ketika Kau sedang sedih. Aku pula yang mengelap Air matamu dengan tisu basah saat Kau meneteskan Air mata kerinduan mendalam pada Sang Pangeran, Aku Antar Kau kemana Kau suka, Aku pula yang selalu bercakap denganmu dibangku taman Kota yang banyak nyamuknya kalau sudah malam. Dan kenapa Kau harus kompulsif dengan segala yang berbau Lebah? Demi Kau Aku rela jadi lebahmu, apa Kau mau Aku jadi Tawon Ndas yang akan melindungimu dengan ganasnya ketika Kau sebagai sarang dalam bahaya? Oh, mungkin jadi Tawon Madu Saja biar Kau bisa minum madu tiap hari, apa saja demi Meningkatnya hubungan kita….kumohon lupakan saja pangeran lebahmu dan berpalinglah padaku, Aaarrggghhhh Aku dikerubungi imajinasi tentang ribuan lebah mengeroyokku. Aku jadi Apiphobia. Aku benci lebah bukan bermaksud mendiskriminasikan makhluk Tuhan, cuma karena Kau sangat mencinta Pangeran Lebah, sementara Aku mencintaimu, dan Pangeran lebah hilang entah kemana.

“,,…Dewi, Kenapa dari siang tadi wajahmu murung terus begitu…”?

“…Kau tahu tidak kemarin ada seseorang yang menulis sesuatu di Wall Facebook ku. Dan Kau tahu siapa Dia? Pangeran Lebahku, Aku senang setengah mati sampai melompat-lompat. Kau Tahu apa yang dituliskannya: HI APA KABAR. Dengan huruf kapital, HI APA KABAR..”

“Lalu kenapa Kau malah murung? Bukankah harusnya Kau senang mendapat kabar darinya?”

“Karena ketika Kubaca Info Facebook nya ternyata ada tulisan ‘Bee Prince is in relationship with Nadia Natalie Sovia’.

Pak Djamil tukang sapu taman sudah tentu heran melihat Kami sore ini, kami yang biasanya cuma bercakap-cakap di bangku itu kali ini terlihat lain. Aku duduk biasa menatap kejauhan, sementara Dewi menyandarkan Kepalanya dibahuku, menangis sesenggukan. Lalu apa mau dikata? Ia mengharapkan kebetulan berpihak padanya dan mengembalikan seorang Pria yang amat dicintainya yang sudah pergi bertahun yang lalu. Ia berfilosofi lebah selalu bisa pulang kesarangnya meski sudah terbang berkilo-kilo meter mencari sari bunga, maka Pangerannya juga akan kembali. Namun pada akhirnya Dewi mendapat pelajaran bahwa dalam hidup ini terkadang kita tak harus mendapatkan apa yang kita inginkan, kadang kita harus dibuat kecewa karena menunggu sebuah ketidakpastian. Ia mengamini ucapan Albert Einstein “Sesuatu yang tidak pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri” ketidakpastian hubungannya dengan pangeran lebah yang selama bertahun-tahun dipertanyakannya ternyata terjawab lewat sebuah tulisan di sebuah Situs jejaring pertemanan buatan Mark Zuckenberg, yang sedang digandrungi didunia dan membuat segala kalangan kecanduan. Bukannya bermaksud memanfaatkan momen ketika Dewi sedang sedih, tapi ya seperti kuceritakan tadi Kawan. Aku ingin percakapan soreku dengannya meningkat dari cuma percakapan antar Dua sahabat yang sama-sama suka baca, menjadi percakapan Dua kekasih yang juga suka Baca. Optimismeku memuncak dan bla bla bla…

“…Dewi, Pangeran Lebahmu sudah benar-benar tak akan kembali karena Ia telah menemukan sarang lain untuk pulang. Jadi apakah kini Kau mengijinkan Aku menjadi Pangeran Lebahmu…?”

“…Hey, Kau mempertanyakan sesuatu yang sudah pasti jawabannya. Kau tahu, lebah itu binatang yang setia. Konon pejantannya akan terus menjadi pasangan Ratu lebah hingga ajal datang menjemput. Nah kenapa ilmu percintaan lebah itu tak kuterapkan saja dikehidupanku. Aku akan terus menunggu kedatangan Pangeran lebah”

“Sekalipun Ia sudah pasti pergi dengan Wanita lain dan takkan kembali?”

“Tentu saja, kenapa tidak…”

Facebook Mobile Home.

Home * Profile * Friends * Inbox (69)

You Have 2 New Notifications

You Have 69 New Messages

You Have 79 Event Invitations

Status Updates

Dewi Bee Lover Tahu ga, gw kayaknya bakal terima cinta sahabat dkt gw deh. Setelah gw pikir2 Kayaknya Dia pas bgt gitu buat jd pangeran lebah gw. Nanti sore pas qta ngbrol di taman kyk biasana gw bakal terima cintanya. (2 hours Ago) – 50 Comments – Like

Dewi Bee Lover

Update Status

Clear

Azkiya putri BT bgt kul ngebosenin (2 hours Ago) – 8 Comments – Like

Arid Prasaja mendengarkan Tak gendong….. (5 hours Ago) – Comments – Like

Taufik Hidayat Like This

A Man That Love His Best Friend Wanna take a suicide, cinta ditolak, bunuh diri bertindak. Bye cruel world.

(2 hours Ago) – 235 Comments – Like

SELESAI

Bekasi 6 Agustus 2009

Tambahan: Cerpen ini bukan bermaksud mengajarkan agar membenci lebah, atau salah satu bentuk diskriminasi akan lebah. Justru cerpen ini ditulis ketika Sekarang ini Saya sedang tertarik dengan makhluk itu, tidak ada satu lebahpun terluka selama pembuatan cerpen ini, cerpen ini juga tidak mengajarkan tentang kita harus bunuh diri ketika Cinta ditolak. Sama sekali tidak. Saya hanya berusaha mengatakan bahwa segala probabilitas bisa saja terjadi didunia ini. Tokoh Dewi yang menunggu seseorang dan ternyata Ia sudah punya kekasih lain, Dewi yang pada Akhirnya memang cinta tokoh pria dan siangnya hendak menerima cintanya, namun sang pria sudah memutuskan bunuh diri diketahui dari status Facebook. Moral dari cerita ini tentu saja bahwa segala kebetulan itu bisa saja terjadi dlm hidup, jadi jangan terlalu fanatis menanti sesuatu, atau terburu-buru melakukan hal konyol. Karena kedepannya sebuah kebetulan akan bisa merubah segalanya, dan ketika kita terlanjur bertindak konyol maka hanya ada penyesalan semata.

REGARDS

-Aris Setyawan-

Cerpen: “Kamu Harusnya Bisa Seperti Dikan Dong Sayang. (Lip-sync)”

April 8, 2009 oleh arissetyawangrungies

Photobucket
….Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…??!!!!!! Dia itu cowok yang penyabar, dan pasti selalu Sayang sama kekasihnya,,,,….

Itu yang selalu diucapkan Irene pacarku, kalimat favoritnya yang keluar ketika Ia sedang kesal padaku atau ketika kita sedang berantem. Maka Ia akan segera membandingkan Aku dengan Vokalis salah satu band (katanya) papan atas itu. Dikan, Dikan, Dikan. Ah mungkin sebenarnya memang Dikan itulah yang pantas disebut sebagai pacar Irene dan bukan Aku. Karena menurutku pemujaan Irene kepadanya sudah tergolong kompulsif, sangat berlebihan serta terobsesi. Ketika Kami berdua nonton di Bioskop, maka Irene akan berujar: “Ah kira-kira si Dikan itu suka nonton film apa ya Say…” pas sedang makan es krim berdua: “heeemmm….enak banget sich es krimnya, manis, semanis suara Dikan…. Dan bahkan yang paling parah dan bisa kucap sebagai benar-benar gila ketika Irene dengan bangganya menyejajarkan Dikan itu sebagai Vokalis band terbaik berbarengan dengan Paul Mccartney atau Iwan Fals, walau sebenarnya Irene tahu bahwa sangat tidak mungkin Dikan itu bisa dibandingkan dengan Sir Paul atau Bang Iwan, tapi tetap saja Ia ngotot padaku kalau mereka bertiga berkemampuan sama. oh Tuhanku setan apakah gerangan yang menyesatkan pacarku ini….???

…Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…??!!!!! Suaranya tuh bagus banget kalau lagi nyanyi di Tv. Nah sementara kamu kalau nyanyi enggak jelas gitu….

Opini Irene ketika mendengar Aku menyanyi. Padahal Aku sudah menyanyi sepenuh hati namun Irene tetap membanding-bandingkan Aku dengan Dikan-nya itu Cuma karena Aku nyanyi lagu sosial (yang katanya ga jelas) sementara Dikan nyanyi lagu selingkuh. Aku memang menjadi vokalis sebuah band alternative yang kurang dikenal namanya dan bukan juga band papan atas yang lagunya bercerita tentang keadaan sosial politik negeri ini yang secara otomatis dicap sebagai band ‘enggak jelas’ oleh orang-orang pecinta ‘lagu selingkuh’ seperti pacarku itu. Aku dan Irene pacaran sejak Aku dan Dia masih kuliah semester 3 hingga Akhirnya Aku sekarang bekerja di salah satu stasiun tv swasta. Gaya pacaran kami biasa saja seperti kebanyakan orang, kami jalan-jalan ke mall di malam minggu, menyempatkan menonton film terbaru berdua, dll. Entah apa yang membuatku terpesona dengan Irene dulu. Yang jelas selama itulah Aku yakin bahwa Aku memang Sayang Dia, terlepas dari masalah Ia tergila-gila dengan vokalis band papan atas itu tentunya. Dulu awal-awal pacaran kami Ia sudah mulai menampakkan tanda-tanda obsesinya akan Dikan. Cuma satu kata itu yang diucapkannya bahkan mungkin melebihi ucapan namaku dari mulutnya. Seolah 24 jam hidupnya harus dipakai untuk mengucapkan nama Dikan, Dikan, Dikan. Dan semakin kesini kegilaan itu mulai terasa menganggu, sebab Irene mulai berani menyuruh Aku untuk mengganti nama Saja menjadi Dikan agar ketika Ia kangen setengah mati Ia bisa melampiaskannya padaku. Beberapa tahun setelah Aku bekerja di stasiun tv itu Akhirnya aku menikahi Irene. Kami menikah seperti pasangan biasa juga, Cuma satu yang tak biasa: inilah pertama kalinya pernikahan adat jawa dilangsungkan bukan dengan musik gamelan sebagai pengiring. Tapi seperangkat gamelan harus mengalah tersingkir tergantikan oleh lagu selingkuh yang diputar di VCD bajakan.

Sejak dulu kala Aku sering mendengar istilah ini, istilah yang selalu dikatakan kepada para calon-calon pengantin baru untuk memberikan greget, atau diucapkan kepada yang belum nikah-nikah biar pengen buru-buru nikah. Orang-orang sering bilang: “Beuh, malam pertama tuh bener-bener nikmat, serasa jadi raja dan ratu dalam semalam deh….hahaha mungkin karena terdoktrinasi istilah itu akupun sangat menantikan malam pertama ini. Dan ketika saatnya tiba, Irene masuk kamar pengantin, Aku sudah membayangkan Akhirnya bisa bercinta denganmu Sayang secara resmi dan enggak berzina. Kami mulai foreplay, berciuman dengan panas, mulai melepas…(maaf demi keamanan agar tak terdamprat UU Pornografi & Pornoaksi tulisan adegan bercinta terpaksa disensor) oh Ireneeeeeee……..Aku memanggil-manggil namanya dengan mesra….oooooohhhhh Dikaaaannnnnn… nama itu yang didesahkan Irene, bahkan dimalam pertama kami. Mood bercintaku turun drastis demi mendengarnya. “Sayang cukup sudah semua kegilaan ini, Kamu terus menerus menyebut nama itu dari semenjak Kita pacaran dulu bahkan hingga kini dimalam pertama kita. Dikan, Dikan, Dikan. Kamu aja ga kenal Sama Dia Ren, Kamu Cuma menonton Ia menyanyi untuk bandnya di televisi, kamu belum pernah ketemu Dikan itu. Bagaimana bisa Kamu bilang Ia begitu baik, sabar, suaranya bagus. Kamu tahu enggak sih kalau suara bagusnya ketika sedang bernyanyi di teve itu palsu, namanya
lip-sync
, Ia hanya pura-pura nyanyi diiringi suara musik. Lagian apa sih bagusnya lagu Dikan ini? Lagunya Cuma bercerita tentang selingkuh dan selingkuh, apa jangan-jangan kamu memang suka dengan lagu-lagu selingkuh itu karena kamu pengen selingkuh dengan si Dikan ini?

…Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong Sayang…???!!!!! Ia membela hak-hak para manusia yang sudah memantapkan dirinya untuk selingkuh dari pasangan, Ia adalah pemimpin kelompok minoritas yang memutuskan untuk menjadikan selingkuh hal yang wajar dan memasyarakat, Dikan itu Leader band yang hebat, Ia hendak ‘memasyarakatkan Selingkuh dan Menselingkuhkan Masyarakat’. Kamu tadi Tanya apa? Aku hendak Selingkuh Sama Si Dikan? Yah kalau emang Dikan nya mau Sama Aku kenapa tidak? Kamu enggak keberatan kan Sayang kalau Aku selingkuh sama Dikan…????

Cukup sudah, kegilaan ini harus diakhiri sampai disini, hati istriku sudah direbut oleh Dikan itu, seseorang yang bahkan tak kukenal, Irene juga tak mengenalnya secara langsung. Diam diam Aku merencanakan sebuah balas dendam. Akan kuruntuhkan karier bermusik Dikan. Hari ini Ia akan tampil di acara musik stasiun tv tempatku bekerja. Band nya didaulat untuk Lip-sync ketika tampil live secara nasional dan itulah saatnya, Aku di perusahaan ini bertugas mengatur bebunyian-bebunyian yang muncul di speaker tv yang kalian setel itu. Intinya Akulah yang bertanggung jawab mengatur suara. Aku akan merusak musik yang diputar ketika Dikan tampil sehingga rencana Lip-sync nya berantakan. Hahahahaha, Aku menyeringai puas, sebentar lagi wahai istriku, Dikan itu akan kuhancurkan, dan kau akan tahu kepalsuannya dalam bernyanyi. Akan kubuat Ia terkencing-kencing malu dihadapan tv nasional persis seperti Ashlee Simpson ketika Lip-sync di Saturday Night Live. Aku ingat kejadian itu, karir Ashlee langsung Anjlok pasca tragedy Lip-sync. Aku akan membuat hal yang sama pada Dikan.

New message received:
Tuesday March 20, 2009
From: Irene +628562129087
To: My Number

….Sayang kamu sedang kerja kan? Kerja yang bener yah, soalnya sekarang kan Dikan mau nyanyi, Aku lagi nonton Dirumah nih…Love You.

Sms dari Irene, menandakan akan dimulainya rencanaku. Tak lama kemudian presenter acara musik bicara mempersilahkan …band untuk tampil:

..”Ok sahabat Awesome dimanapun berada, ini band yang sudah ditunggu-tunggu penampilannya dari tadi, kita tampilkan …Band. Cekidot

Kupencet tombol play dan mulai mengalunlah lagu bertema selingkuh itu, sementara dipanggung Sang Dikan dan band nya mulai pura-pura bernyanyi dan bermain musik sepenuh hati. Aku men cemooh mereka dalam hati “huh segala penampilan palsu begitu…” setelah beberapa lama Aku mulai lancarkan seranganku, kupencet tombol play dan pause berulang-ulang hingga hasilnya lagu selingkuh yang tadinya terdengar berganti jadi bunyi tededeteteede teeeeeettt treeeettttt jkfhuifhiu*&^%%$#%hcv. Semua orang jadi terkaget-kaget, semua crew, host acara, penonton di studio, si Dikan itu apalagi, Ia jadi gelagapan dan salah tingkah. Hahahahaha mampus kau, sebentar lagi Kau akan dihujat habis-habisan oleh kritikus musik, seluruh penggemarmu akan memaki-makimu, dan karir bermusikmu akan runtuh. Aku sudah tersenyum tanda puas akan keberhasilan balas dendamku. Namun beberapa detik kemudian mendekatlah produser kesampingku “Apa yang Kamu lakukan goblok?” crew acara yang panik segera mengutus presenter untuk naik panggung, presenter itu kemudian berujar ada sedikit kesalahan teknis dan mengajak kita semua menonton komersial break berikut ini. Sementara manajer …band mulai marah-marah bertanya apa yang terjadi…

…Sayang, Aku tahu kita baru menikah beberapa minggu, Aku tahu Kamu sayang Aku, Aku juga Sayang Kamu. Tapi perbuatanmu merusak Show Dikan tak bisa kuampuni. Kamu harusnya bisa seperti Dikan Dong Sayang….??!!!! Ia bukan pendendam dan Ia pria yang pemaaf….

Kata-kata itu keluar dari mulut Irene ketika datang di Sidang perceraian kami. Entah kenapa semua jadi begini, Aku yang Cuma mau melakukan sesuatu untuk merebut kembali hati istriku dari seorang vokalis band selingkuh. Akhirnya malah kehilangan segalanya. Setelah tragedy Lip-sync yang kurencanakan buat Dikan, Aku langsung dipecat dari Stasiun tv tempatku bekerja, gilanya lagi ternyata scenario Dikan bakal dihujat kayak Ashlee Simpson itu tak terjadi, para penonton tetap bersorak dan mengelukan Dikan, bahkan RBT band itu makin laris setelah kejadian Lip-sync. Tak ada kritikus musik yang mencela dan menghujat Lip-sync mereka karena para kritikus itupun tengah sibuk berselingkuh dengan kehidupan mereka sendiri, namun yang paling parah adalah ketika Irene memutuskan mengajakku bercerai tepat beberapa minggu setelah kami menikah, Ia akhirnya memang memilih berselingkuh dengan Dikan….lalu salah siapa ini semua harus terjadi? Salahku yang begitu dendam kepada vokalis band papan atas yang tak kukenal itu karena namanya yang selalu disebut-sebut Irene? Atau salah Dikan yang menyanyikan lagu selingkuh ditengah masyarakat yang tengah krisis produktivitas? Oh mungkin salah Irene yang tergila-gila padanya, Salah penonton Show yang tetap bertepuk tangan dan bersorak riang meski artis yang sedang ditontonnya itu Lip-sync, salah siapa…???? Pastinya Irene tetap menyalahkanku atas semua yang terjadi. Ok Aku kehilangan pekerjaan, Aku kehilangan istri, namun setidaknya Aku tak kehilangan kehormatanku sebagai penyanyi dengan cara menyanyi benar-benar untuk bandku ketika kami sedang manggung.

New message received:
Tuesday April 7, 2009
From: Adhi Blekok +62810897666
To: My Number

Sob, Kta dpt kesempatan bgs nih bwt manggung di tv besok pagi, kta didaulat jd band pembuka utk …band, lumayan nib bwt nyari jln ke industri musik, tp kta cma Miking doang bro, Lip-sync gt. Ni soalna dah perintah produser, gpp kan? bls

New message received:
Friday April 8, 2009
From: Irene +628562129087
To: My Number

Hi, apa kabar? Lama enggak kasih kabar deh. Gimana kehidupan kamu sekarang? Baik saja kan? Oh ya Aku denger kabar band kamu bakal manggung ya nanti jam 9? Jadi pembuka utk …band. Selamat ya, sukses deh buat kamu. Oh ya Kamu harusnya bisa seperti Dikan dong ya…Kamu harus tiru dan contoh Dia, Dia itu bisa bernyanyi sepenuh hati dan jiwa raganya serta amat mendalaminya…sukses deh shownya.

TAMAT

Aris Setyawan
Bekasi 07 April 2009

Lip-sync: kepanjangan dari “Lip Syncronize” adalah berpura-pura bernyanyi atau memainkan alat musik diatas panggung seraya diringi musik. Lip-sync sering dilakukan musisi dengan alasan kurang bagusnya suara asli penyanyi bila harus tampil live, atau alasan kondisi teknis dimana melakukan Lip-sync lebih mudah dan praktis ketimbang harus menata set alat musik bagi musisi itu yang terkadang rumit dan membutuhkan persiapan panjang.