Memetika dan Budaya

April 22, 2012

( Dimuat di Majalah Seni dan Budaya Cangkir edisi april 2012. )

Memetika dan Budaya

Gambar dari internationalobservation.blogspot.com

Dekadensi nilai budaya lokal akibat serbuan homogenisasi budaya yang digaungkan globalisasi. Demikianlah tema yang sering dilontarkan para penulis budaya yang melandaskan pemikirannya pada premis bahwa budaya lokal itu adiluhung dan sekarang tengah mengalami kemerosotan nilai akibat serbuan globalisasi yang tak terbendung.

Mempertahankan budaya lokal memang wajib dilakukan, namun menyalahkan globalisasi begitu saja juga merupakan kenaifan karena globalisasi memang sulit terbendung untuk saat ini. Hal yang dijelaskan Naomi Klein bahwa Globalisasi bersifat “force the world to speak your language and absorb your culture.” (Klein, 2000). Globalisasi yang tak terbendung juga ditegaskan Francis Fukuyama sebagai akhir sejarah manusia dan kemenangan Kapitalisme/globalisasi (Fukuyama, 1992).

Maka menyalahkan globalisasi atas kalah pamornya Ketoprak atau ludruk oleh ramainya fenomenaKorean pop dan banyaknya Girlband-boyband merajai porsi penayangan di televisi nasional tidak akan memberikan solusi apapun. Hal ini justru akan membuat kita berkutat dalam upaya naif membendung globalisasi. Ada baiknya kita menggunakan pendekatan berbeda untuk memahami permasalahan dekadensi budaya lokal, serta derasnya hegemoni budaya asing memasuki Negara kita yang menjurus ke arah homogenisasi budaya. Langkah awal memahami permasalahan ini yakni dengan mempelajari asal muasal budaya dari kacamata sebuah disiplin ilmu baru bernama memetika.

Memetika

 

      Dunia sudah mengenal Gene atau gen sebagai sebuah abstraksi yang bertanggung jawab pada kondisi biologis manusia. Gene adalah cetak biru kehidupan, Dia yang bertanggung jawab membuat organ dan apa yang Nampak dari tubuh kita. Ilmu biologi sudah mengakui eksisnya Gene ini sejak dahulu.

Kemudian muncul pemahaman baru dari para ilmuwan biologi seperti Richard Dawkins, Richard Brodie, Dennet, serta Susan Blackmore, yang meyakini bahwa disamping Gene yang mengatur kondisi biologis manusia, ada sebuah abstraksi lain yang bahkan amat penting menyetir kondisi manusia. Tak lain adalah meme (baca: mim) atau memMeme adalah apa yang ada didalam otak manusia, sesuatu yang mengatur lahirnya ide. Meme adalah pelengkap, gene mengatur biologis, meme mengatur pemikiran.Meme melahirkan ide dan pemikiran. Memetika adalah disiplin ilmu baru yang mempelajari mengenaimeme atau pembentukan ide manusia.

Susan Blackmore menjabarkan “Memes are ultimately responsible for us having our homes and possessions, our position in society, and our stocks, shares and money.” (Blackmore, 1999). Hal ini menjelaskan betapa penting meme bagi manusia, sebab sifat dasar meme adalah replikator, meme selalu berusaha menularkan ide dari pemikiran seseorang kepada orang lain. Karena sifat dasar meme inilah Susan Blackmore menyimpulkan lahirnya kebudayaan, serta bahasa adalah perintah meme yang menginginkan proses replikasi atau penggandaan ide. Inilah alasan kenapa kita berbicara, menciptakan bahasa, membuat alat tulis, alat komunikasi, menemukan telepon, internet, berkesenian. Semuanya adalah upaya mempermudah proses penyebaran ide meme tersebut.

Melalui pendekatan memetika inilah kita dapat memahami bahwa globalisasi sesungguhnya adalah bagian dari upaya penyebaran meme atau ide. Ini sesuai dengan sifat dasar meme untuk menyebarkan dirinya. Maka Korean Pop yang tengah digandrungi segenap kalangan masyarakat Indonesia (bahkan dunia) sebelumnya hanya berawal dari meme atau ide seorang penggagas. Lama-kelamaan meme tersebut mereplikasi diri dan menyebar ke seluruh dunia. Mencoba menggandakan diri, terus menerus. Hingga akhirnya meme tersebut menjadi tidak efektif dan tergantikan meme baru yang lebih segar dan bagus.

Hal yang dapat menjadi perenungan: bagaimana kalau ternyata kemerosotan nilai budaya lokal serta lebih dikenalnya budaya asing oleh masyarakat kita ini sesungguhnya dipicu oleh diri kita sendiri? Para pemikir budaya kita terlalu sibuk membanggakan keadiluhungan budaya sendiri serta menuduh globalisasi sebagai biang keladi, enggan melahirkan meme/ide yang baru dan segar yang dapat menjadi faedah bagi masyarakat. Padahal ini dapat menjadi boomerang yang berbalik menyerang kita tatkala stagnasi meme/ide budaya kita yang enggan menginovasikan sesuatu yang baru akhirnya kalah bersaing dengan budaya asing yang memiliki meme/ide lebih segar dan lebih mudah diterima masyarakat (Musik, fashion, sinema, Dan Lain-Lain.)

Dialektika

 

Berkutat dalam stagnasi keadiluhungan budaya sendiri serta enggan membuat perubahan lagi-lagi dapat dikatakan naïf. Sebab budaya memang dinamis dan terus berkembang, seperti sudah dijelaskan Susan Blackmore melalui memetika bahwa proses penyebaran meme/ide akan terus terjadi dalam rangka persaingan antar meme. Hal yang juga telah dijelaskan Hegel dalam teori dialektikanya yang termahsyur.

Sara Salih mengutip teori Hegel tersebut dan menjelaskan  bahwa “Dialectic is the mode of philosophical enquiry most commonly associated with Hegel (although he was not the first to formulate it), in which a thesis is proposed which is subsequently negated by its antithesis and resolved in a synthesis.” (Hegel, dalam Sara Salih, 2002). Melalui kacamata filsafat, dialektika Hegel menguatkan teori Blackmore dari kacamata memetika diatas. Bahwa sebuah budaya yang dominan di masa kini adalah sebuah tesis, yang akhirnya harus mengalami dekadensi dan memudar saat muncul antitesis yang menegasikan tesis atau budaya dominan tersebut. Pada akhirnya tesis dan antitesis akan mencapai konsensus yang melahirkan budaya baru atau sintesis. Sintesis ini akan menjadi benih baru untuk menghasilkan tesis berikutnya. Demikian seterusnya dan seterusnya. Seperti meme lama yang tergantikan meme baru.

Kesimpulannya adalah, berkutat dalam kebanggaan akan keadiluhungan budaya lokal (tesis), serta terus menerus menuduh globalisasi budaya asing (antitesis) sebagai penyebab kemerosotan justru akan membuat kita terjebak dalam stagnasi dan kemandegan. Maka marilah kita buang wajah cemberut kita yang nelangsa meratapi budaya lokal tergerus globalisasi. Terima kehadiran globalisasi itu dengan lapang dada, mari fokuskan tenaga untuk melahirkan meme/ide baru yang lebih segar. Timbulkan tesis baru agar menjadi antitesis yang menegasikan tesis yang dominan sekarang. Namun jangan berkecil hati bila tesis/meme/ide/budaya kita yang sekarang dominan ternyata kelak harus terganti atau memudar oleh proses berjalannya zaman. Berbesar hati dan ikhlas menerima memang sesuatu yang sulit dilakukan, namun tidak mustahil terlaksana. Terlebih dalam budaya kita orang timur yang konon adiluhung dan mengedepankan keikhlasan yang dalam istilah jawa disebut Nerima ing pangdum.

Yogyakarta, 17 Maret 2012

 

*Aris Setyawan. Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Membatalkan Keperempuanan: Proyek Lanjutan Feminisme?

Maret 15, 2012

Bila disuruh menyebutkan apa kesan pertama yang saya dapat setelah mengikuti 2 rangkaian acara dari Event Membatalkan Keperempuanan, maka kesan itu dapat direpresentasikan oleh kata: Feminisme. Meskipun panitia acara yang saya ajak ngobrol di Twitter menolak bila event yang digelar dalam rangka perayaan hari perempuan internasional ini disebut sebagai feminisme, dan lebih suka bila Membatalkan Keperempuanan (MK) disebut sebagai sebuah upaya menawarkan perspektif baru akan berbagai hal mengenai keperempuanan, terlepas dari skema besar feminisme atau konsep-konsep keperempuanan dari keilmuan yang sudah terkenal sebelumnya. Namun menilik dari pameran seni rupa dan diskusi yang saya hadiri, secara pribadi saya menyimpulkan bahwa MK masih mengesankan spirit feminisme dalam pokok utamanya.

 

Dominasi Para Perempuan

Spirit feminisme ini dapat dilihat dari beberapa karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa MK. Bertempat di Sangkring Art Space, pameran seni rupa MK diikuti oleh 11 perupa perempuan. Dengan karya yang (Dalam opini saya) masih berkutat dalam menggugat patriarki, menegaskan identitas keperempuanan, maternalitas tubuh perempuan, DLL.

 

Adalah lukisan surreal Lashita Situmorang bertajuk “Tubuh yang Bertumbuh” menceritakan maternalitas tubuh keperempuanan dan tumbuhnya sosok perempuan menjadi paying pelindung. Maternalitas tubuh perempuan ini juga dihadirkan Wahyu Adin Wiedyardini dalam “Don’t Worry I’m Here.” Sementara itu “Midnite Blues” dari Utin Rini dengan corak warna pop art dan penampakan Marilyn Monroe menegaskan penolakan pada represi seksual perempuan, bahwa orgasme seksual perempuan itu lumrah dihadirkan dan bukan hal tabu. Spirit Feminisme juga ditegaskan dalam karya Bonita Margaretha bertajuk “Perempuan Dominan.” Karya ini seolah makin menggaris-tebalkan poin dimana menggugat status dan identitas keperempuanan adalah seperti harga mati bagi feminisme, yang menolak tunduk pada konstruksi dan ingin perempuan menjadi dominan seperti halnya lelaki menjadi dominan di tatanan dunia selama ini. Kemudian ada “Butterfly Face” yang berwarna ceria dari Lia Mareza, menceritakan transformasi yang memang selalu menyenangkan. Analogi transformasi dari kupu-kupu digunakan Lia untuk menceritakan transformasi keperempuanan. Sedangkan “Inner Skill” Nurify menghantui observer dengan misteri dan ilusi abstraknya sehingga munculkan pertanyaan “kenapa kedua perempuan itu terus menerus memandang tangannya sendiri? Dalam tangan itukah “Inner Skill”yang dimaksud Nurify berada?”

 

Kemudian dalam event lanjutan diskusi MK yang saya hadiri, poin yang dibahas memang masih berkutat diseputaran kelamin, permasalahan gender dan identitas, konstruksi keperempuanan yang harus tunduk pada patriarki. DLL. Dan semua itu adalah perihal yang diurusi feminisme selama ini: berupaya menggugat konstruksi dan menunjukkan bahwa perempuan juga mampu mendominasi.

Menggugat Konstruksi

Lalu salahkah jika perempuan menggugat konstruksi dan menolak disubordinansi? Tentu tidak salah, pada dasarnya perempuan menggugat konstruksi dalam rangka mencapai kesetaraan, sesuatu yang dimentahkan habis-habisan oleh patriarki dan konstruksi yang dibangun mengenai perempuan selama ini. Namun seperti Judith Butler katakan, bahwa menurut feminis kontemporer yang merumuskan pemikirannya dari dialektika Hegel itu gerakan feminisme yang ada semenjak jaman Simone de Beauvoir hingga sekarang ini hanya kurang tepat dan salah sasaran. Penggugatan pada konstruksi dan menolak subordinansi sesungguhnya hanya menghabiskan daya dan waktu feminisme berkutat di dua hal tersebut. Sehingga membuat feminisme terjebak dalam lingkaran setan perdebatan panjang antara hal keperempuanan dan patriarki/konstruksi. Enggan melakukan sesuatu yang sesungguhnya lebih substansial dan tepat sasaran.

 

Konstruksi akan keperempuanan yang lemah adalah problema yang terus menerus digaungkan sepanjang diskusi MK. Yang akhirnya membuat diskusi sore itu berputar dalam perdebatan panjang mengenai konstruksi yang maha dahsyatlah yang selama ini menjadikan perempuan dinomor-duakan dan dilemahkan. Namun berkaca pada buah pemikiran Antonio Gramsci mengenai hegemoni, dapatlah kita simpulkan seandainya ada sebuah konstruksi luar biasa yang menjadikan identitas keperempuanan lemah, sesungguhnya konstruksi tersebut dapat ditolak dan tak harus diterima. Sebab menurut Gramsci hegemoni hanya dapat terjadi bila ada konsensus antara pihak yang melakukan hegemoni dan pihak yang terhegemonik. Jika konstruksi subordinansi perempuan adalah hegemoni itu, tentu feminisme seharusnya dapat menolak hegemoni dengan cara menolak konsensus, mengabaikan sama sekali konstruksi itu dan melakukan hal lain yang lebih berguna, niscaya hegemoni dari konstruksi subordinansi itu akan rontok dengan sendirinya.

 

Poinnya adalah, feminisme seharusnya meninggalkan perdebatan dan penolakan pada konstruksi yang menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan pemikiran. Karena toh identitas (kredibilitas) akan muncul dengan sendirinya apabila ada hal besar nyata dilakukan. Untuk menggambarkan mana yang nyata tersebut barangkali feminisme harus berkaca pada kisah hidup penyanyi Waljinah.

Waljinah dan Dominasi Perempuan

Tentu ada banyak perempuan perkasa lain di luar sana yang sebenarnya layak dijadikan contoh, namun saat ini hanya satu nama perempuan ini yang muncul dalam benak saya untuk mewakilkan dominasi perempuan. Adalah Waljinah, seorang penyanyi keroncong legendaris asal Solo yang menegaskan dominasi perempuan tersebut dengan cara nyata, bukan sekadar memperdebatkan identitas dan menolak konstruksi. Waljinah adalah seorang feminis, berkaca dari tindakannya memperjuangkan hak perempuan. Namun agar dianggap sebagai perempuan perkasa, Waljinah tidak menghabiskan waktunya memprotes lelaki yang memiliki daging bertulang di selangkang selalu menjajah perempuan. Atau memperdebatkan konstruksi lemah selalu dilekatkan pada perempuan. Waljinah menghindari apa yang diperjuangkan feminisme lama tersebut, alih-alih Waljinah justru menyanyi, menulis lagu, dan lirik lagunya bercerita mengenai kekuatan perempuan.

 

Ambil contoh dalam lagu Walang Kekek dimana Waljinah menceritakan bagaimana kondisi sosial di Surakarta saat itu. Konstruksi sosial menyatakan perempuan Surakarta harus lebih rendah dari para lelaki, namun Walang Kekek dari Waljinah hadir mementahkan konstruksi tersebut, tanpa perdebatan panjang. Lagu Waljinah yang laris di pasaran secara tidak langsung merontokkan konstruksi itu, liriknya yang gamblang menceritakan bahwa perempuan Surakarta lebih dominan karena mengatur perekonomian melalui perdagangan kain batik saat para lelaki sibuk berjudi mencapai konsensus. Tenarnya Waljinah dengan lagunya merontokkan hegemoni konstruksi yang terbangun selama ini, bahkan dengan bantuan Presiden Soekarno yang dimasa itu adalah penguasa (hegemoni) terbesar, yang memberikan penghargaan pada Waljinah, akhirnya Waljinah menjadi hegemoni baru tersebut yang dielu-elukan masyarakat.

 

Seharusnya Feminisme berkaca pada Waljinah (dan banyak perempuan perkasa lainnya: Kartini, Madame Marie Curie, Lady Diana, Margaret Thatcher, DLL) yang enggan menghabiskan waktunya berkutat di perdebatan panjang menolak konstruksi sosial yang melemahkan perempuan. Mereka lebih memilih melakukan sesuatu, sesuai bidang yang mereka kuasai. Karena mereka yakin bahwa setelah melakukan sesuatu yang besar, konstruski sosial akhirnya akan mengakui status dan identitas keperempuanan mereka sebagai perkasa dan setara, tanpa perlu berdebat panjang.

 

Terkait dengan Membatalkan Keperempuanan (yang menolak disebut feminisme). Dengan seluruh perupa wanita yang dihadirkan di pamerannya adalah perempuan, juga diskusi yang ada banyak dihadiri perempuan. Seolah menegaskan bahwa MK menyimpulkan selama ini dunia seni membangun konstruksi bahwa perupa perempuan lemah dan tak boleh berkumpul satu galeri dengan perupa lelaki. Bila poin utama ini yang dikedepankan, memberi ruang pada perupa perempuan yang tersubordinansi, bukankah MK masih saja berkutat diperdebatan konstruksi dan identitas keperempuanan. Lalu kita (terpaksa) menyimpulkan Membatalkan Keperempuanan adalah proyek lanjutan feminisme, dan belum menawarkan perspektif baru dalam memahami perempuan sebagaimana yang mereka maksud.

 

Semoga dapat menjadi bahan pemikiran bersama bahwa untuk menjadi perempuan perkasa tak harus sibuk menggugat konstruksi sosial, lakukan saja hal besar sesuai bidang yang dikuasai. Maka lelaki ataupun konstruksi sosial akhirnya akan tunduk dengan sendirinya tanpa perlu didebat panjang. Pertanyaan terakhir adalah: maukah perempuan (feminisme pada khususnya) melakukan hal itu agar menjadi besar? Atau memilih berkutat di upaya memperdebatkan identitas dan konstruksi sosial?

 

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 15 Maret 2012.

 

LUKISAN

 

Lia Mareza – Butterfly Face

 

 

Lashita Situmorang – Tubuh yang Bertumbuh

 

 

Bonita Margaretha – Perempuan Dominan

 

 

Adin – Duma

 

 

Nurify – Inner Skill

 

 

Utin Rini – Midnite Blues

 

 

Wahyu Adin Wiedyardini – Don’t Worry I’m Here

Dekonstruksi Musik di Jogja Noise Bombing

Februari 15, 2012

Control Z. Foto oleh Meita Estiningsih.

 

( Dimuat di Jakartabeat pada hari Rabu 15 Februari 2012. http://jakartabeat.net/musik/kanal-musik/konser/item/1403-dekonstruksi-musik-di-jogja-noise-bombing.html )

 

Apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata noise? Biasanya pikiran anda lantas akan menjabarkan noise sebagai sesuatu yang berisik dan terasa mengganggu. Noise adalah frekuensi-frekuensi bunyi yang dianggap terlalu tinggi sehingga tidak nyaman untuk didengarkan telinga manusia biasa. Itulah kenapa seringnya noise dianggap duri dalam daging oleh mereka yang berkecimpung di dunia musik. Noise sedapatnya dihindari, direduksi, bahkan kalau memungkinkan dihilangkan dari musik yang mereka komposisikan karena noise yang berlebihan akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pendengar musik.

 

Dalam rangka menghilangkan noise inilah kemudian muncul standar metode rekaman musik seperti yang ada sekarang, dengan menggunakan teknologi noise reduction seperti studio rekaman yang terisolir dari sumber bunyi lain dari luar. Atau penggunaan piranti lunak penghilang noise ketika terjadi proses mixing sebuah musik. Tidak dapat dipungkiri lagi kita sepertinya sepakat bahwa musik yang bagus adalah musik yang bebas noise, dan oleh karenanya noise harus dihilangkan dari musik.

 

Namun agaknya ada sedikit orang yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa musik yang bagus adalah musik yang bebas noise. Mereka meyakini bahwa noise yang sebelumnya dianggap sebagai frekuensi mengganggu dan liar sebenarnya dapat juga dikatakan sebagai musik. Segelintir orang itu diantaranya adalah delapan orang musisi yang pada 10 Februari 2012 lalu menghadirkan keriuhan noise di lahan parkir sebuah distro di kawasan Demangan, Yogyakarta.

 

Dalam acara bertajuk Jogja Noise Bombing yang diadakan oleh areaxyz.com dan RKLB, delapan orang musisi ini berupaya menawarkan perspektif baru dalam memahami musik, sesuatu yang mereka percaya dan menjadi kredo mereka dalam aktivisme di ranah musik noise. Adalah Sodadosa, DJ MO)))DARA, Bangkai Angsa, Arpappel, To Die, Jurumeya, Mbak Mona, dan Control-Z yang pada malam itu menyajikan kebisingan komposisi noise, yang kemudian dimaknai sebagai bentuk musik oleh beberapa penikmat. Penonton malam itu memang tidak banyak, jumlah yang hadir dapat dihitung jari. Sementara itu di luar puluhan orang yang berkerumun mengelilingi panggung kecil, mereka yang berada di seberang jalan, atau berkendara di jalan depan distro dan memutuskan berhenti sejenak karena awalnya tertarik dengan keriuhan yang ada, praktis langsung menutup telinga dan segera beranjak pergi karena merasa terganggu oleh kebisingan desibel yang menyerang. Ekspresi mereka yang sekadar lewat atau berada di kawasan Demangan tapi tidak bermaksud menghadiri konser malam itu hampir sama, mengernyit jengah. Barangkali berpikir bagaimana mungkin kebisingan bunyi seperti itu dapat dikatakan sebagai sebuah musik? Hal yang memunculkan pertanyaan juga bagi kita semua, apakah noise dengan kebisingan bunyinya yang kadang tidak bernada itu dapat dikatakan sebagai musik?

 

Dekonstruksi Bunyi

 

Dekonstruksi adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh filsuf asal Perancis Jacques Derrida. Pada awalnya, Derrida yang juga merupakan ahli lingustik menggunakan dekonstruksi untuk membedah makna dalam bahasa. Derrida beranggapan bahasa harusnya dapat dibedah, direkonstruksi ulang sesuai dengan keinginan orang yang menggunakan bahasa tersebut. Maka Derrida merumuskan sebuah teori yang difungsikannya untuk membedah bahasa tersebut. Lahirlah dekonstruksi, teori perombak yang akhirnya menjadikan Derrida sebagai perumusnya dihormati banyak pemikir setelahnya.

 

Pada perkembangannya, Derrida sama dengan beberapa ilmuwan sosial seperti Jean Claude Levi Strauss yang dicap sebagai post-strukturalis menyadari bahwa sesungguhnya bahasa adalah bagian dari fenomena sosial secara luas, maka teori-teori yang mereka temukan dalam upaya memahami bahasa ternyata dapat juga digunakan untuk membedah fenomena sosial budaya. Jika Levi Strauss lantas menggunakan Strukturalisme rekaannya untuk membedah berbagai fenomena sosial seperti permasalahan kekeluargaan, incest, hingga berbagai mitologi yang berkembang di masyarakat dunia. Maka Derrida juga mengimplementasikan teori Dekonstruksinya untuk membedah berbagai fenomena sosial.

 

Secara sederhana, dekonstruksi dapatlah dipahami sebagai sebuah cara baca yang sangat intoleran terhadap pembekuan dan pembakuan teks. Oleh karena itu, pembacaan dekonstruktif selalu mengejutkan, bahkan sering kali menjadi subversif. Mengapa? Ia membongkar-menembus kedalam teks, untuk menampilkan watak arbitrer dan ambigu-nya yang (senantiasa) terkubur oleh “kepentingan” penulis-pengucap teks itu.

 

Noise oleh karenanya adalah dekonstruktor yang mencoba meruntuhkan kemandegan dalam musik konvensional. Para pelakon musik noise meyakini bahwa eksperimentasi mereka adalah semacam pembangkangan terhadap kemapanan musik yang sejak sekian lama kita yakini dan dengarkan. Dengan konsep dekonstruksi inilah barangkali kita dapat mentahbiskan noise sebagai bentuk musik, karena dekonstruksi menolak terikat pada makna dan pakem yang ada sebelumnya, Dekonstruksi membedah lantas menawarkan makna baru. Sebelumnya musik boleh saja dikatakan sebagai nada-nada merdu, namun noise tiba-tiba muncul sebagai dekonstruktor yang menolak konsep itu, lalu menawarkan makna baru bahwa noise atau suara-suara bising adalah musik, sama seperti musik pada umumnya.

 

Dekonstruksi bunyi ini bukannya tanpa resiko. Makna baru yang ditawarkan dekonstruksi memang rawan mendapat kecaman karena sering dianggap tidak lazim. Seperti banyak orang di kawasan Demangan malam itu yang mengernyitkan dahi mendengarkan kebisingan yang bagi mereka hanya bunyi mengganggu, bukan musik. Para pemusik noise pasti sudah siap menanggung resiko tersebut, bagi mereka musik bukan hanya perkara mencari nada yang merdu dan pas, atau menimbulkan harmoni. Bagi pemusik noise yang lebih penting adalah eksplorasi atau pencarian kebisingan yang paling bising, mencoba mencari bunyi yang paling membuat telinga berdenging. Itulah makna musik bagi mereka.

 

Mendobrak Tradisi

 

Secara umum, ada standar tertentu yang menyatakan sebuah bunyi boleh dikatakan sebagai musik. Bunyi tersebut harus memiliki unsur nada/melodi, ritme, harmoni, dinamika, tempo, warna nada/timbre, dan bentuk. Karena itulah bunyi kentut atau alarm jam weker tidak dapat dikatakan sebagai musik karena bunyi tersebut tidak memiliki salah satu atau keseluruhan tujuh unsur diatas. Itulah mengapa musik-musik konvensional yang selama ini kita dengarkan terstruktur dan bernada indah, sebab musik itu harus patuh pada pakem tujuh unsur musik.

 

Sementara itu teruntuk musik noise, seperti yang dihadirkan malam itu di Jogja Noise Bombing, musik yang ditawarkan memang nyaris tidak bernada dan berstruktur. Beberapa malah mirip suara berisik distorsi saat radio statis tidak mendapatkan sinyal, kemresek, berisik. Kalaupun ada nada hadir bukanlah sebagai pokok utama musik, ia justru sebagai pelengkap untuk memunculkan atmosfer tertentu sesuai konsep sang musisi. Noise adalah bentuk pendobrakan tradisi, mendobrak tradisi musik konvensional. Mereka mengacuhkan sama sekali standarisasi a la tujuh unsur pembentuk musik. Noise menghilangkan dikotomi merdu-fals yang selama ini menimbulkan keyakinan musik yang bagus adalah merdu sedangkan fals adalah buruk. Karena noise memang tidak terikat dengan unsur melodis itu, noise lebih menekankan kepada eksplorasi berbagai bunyi bising, lalu menggabungkannya dalam sebuah kesatuan. Kadang noise yang timbul dari berbagai instrumen digiring menuju ritme tertentu yang membius. Kadang sang musisi menyelipkan sedikit nada sebagai pemuncul atmosfer.

 

Seperti Control Z yang malam itu membombardir pendengaran penonton dengan bunyi-bunyi bising, hasil pekerjaan Pandu Hidayat sang komposer yang mengotak-atik piranti-piranti musiknya dan sebuah Macbook. Namun dalam keriuhan noisenya Pandu menyelipkan nada melalui tiupan Saxophone dari seorang gadis manis bernama Annamira Sophia. Jangan diharap nada yang muncul dari saxophone tersebut akan merdu seperti dalam jazz atau musik klasik. Sebab output bunyi dari saxophone itu pun harus melalui proses pemberian efek terlebih dahulu sehingga bunyi yang muncul dari speaker bukanlah saxophone yang merdu, melainkan nada-nada menyeramkan seperti suara jeritan anak kecil. Kombinasi dari noise yang dibuat Pandu serta tiupan saxophone Sophia, ditambah visualisasi berbagai video dan gambar sadomasokis membuat penampilan Control Z malam itu sebagai presentasi estetis dari noise, musik yang mendekonstruksi bunyi dan mendobrak tradisi musik konvensional.

 

Pada akhirnya untuk mereka yang cukup “mengerti” Jogja Noise Bombing di Jum’at malam itu berhasil menimbulkan ekstase kebisingan. Dan terlalu naif memang jika kita berharap kelak akan hadir penonton yang lebih banyak dalam konser-konser musik noise, atau noise yang sebelumnya adalah musik tersegmentasi tiba-tiba mampu menjadi trend musik yang melaju menjajah ranah mainstream persis Grunge atau Punk yang awalnya juga adalah musik underdog. Karena kebisingan bunyi yang ditawarkan noise memang tak dapat ditolerir telinga kebanyakan awam hingga noise akan tersegmentasi pada pendengar tertentu. Tapi paling tidak Jogja Noise Bombing dan musik noise patut diapresiasi sebagai upaya dekonstruksi bunyi dan mendobrak tradisi musik. Agar kita paham bahwa selain musik konvensional yang kita dengar selama ini, di luar sana terdapat musik lain yang tidak kalah menarik dan menawarkan perspektif serta pemahaman baru.

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 11 Februari 2012.

 

Foto penampilan Control Z dipinjam dari Meita Estiningsih.

 

( Created and sent from my computer, log on to http://www.kompasiana.com/arissetyawan for more word and shit.)

Menolak Konversi ISI Menjadi ISBI

Januari 31, 2012

( Dimuat di harian Kedaulatan Rakyat pada hari Selasa, 31 Januari 2012. )

Belakangan tersiar kabar bahwa pada tahun 2012 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selaku otoritas tertinggi pendidikan negeri ini berwacana mengkonversi ISI (Institut Seni Indonesia) menjadi ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia). Hal tersebut tak lepas dari berubahnya struktur dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menjadi Kemendikbud. Maka institusi pendidikan tinggi seni harus ikut mengubah nama mereka, “Nantinya, ISI di Denpasar, Yogyakarta, Bandung dan Padang akan menjadi ISBI. Pendirian ISBI juga akan dilakukan di Kalimantan dan Makasar pada 2012.  Kemudian juga untuk di Aceh dan Papua. Termasuk IKJ juga nanti akan menjadi ISBI,” kata Mendikbud Mohammad Nuh dalam sebuah artikel di situs resmi Kemendikbud.

            Adanya wacana pemerintah mengkonversi ISI menjadi ISBI ini menjadi pergunjingan di kalangan akademisi seni. Ada yang pro konversi dengan alasan pengubahan nama ini itikad baik pemerintah yang berupaya melestarikan budaya sendiri, ada juga yang kontra dengan alasan “daripada mengubah nama, lebih baik ubah saja mutunya.” Lantas Apa sikap yang harus kita ambil terkait isu konversi ini? pro atau kontra?

Dengan menyematkan ‘budaya’ dalam nama ISI, pemerintah berupaya mentahbiskan perguruan tinggi seni sebagai pencetak kebudayaan. Padahal kesenian sendiri adalah bagian dari kebudayaan tersebut. Lagipula kebudayaan adalah kebiasaan masyarakat yang tumbuh sekian lama turun temurun hingga akhirnya menjadikannya sebuah budaya. Upaya menjadikan Perguruan tinggi Seni pembuat kebudayaan baru tentu sesuatu yang naif, seolah kebudayaan dapat dibuat dengan instan di perguruan tinggi Seni.

 Perguruan tinggi seni harusnya tetap berada dalam kawasan kesenian, tidak melebar mempelajari (bahkan membuat) kebudayaan seperti apa yang dikehendaki Kemendikbud. Sebab sifat kebudayaan dan kesenian berbeda, kebudayaan adalah mengenai nilai dan moral, sedangkan kesenian adalah mengenai estetika. Demi mengedepankan kebudayaan, dikhawatirkan sistem baru ISBI kelak akan mematikan nilai estetis kesenian itu. Yang menjadi persoalan adalah terciumnya bau komodifikasi disini,  lulusan ISBI diharapkan berketerampilan seni agar dapat mendukung pemerintah mempromosikan kebudayaan Indonesia, praktis ini akan mematikan nilai estetika kesenian.

            Yang perlu dicermati kemudian adanya gelagat Fungsionalisasi seni dalam proses konversi ini. Kemendikbud berupaya menjadikan kesenian sebuah eksakta, disiplin ilmu pasti yang dapat diajarkan dengan menyamaratakan metode. Tentu fungsionalisasi seni hanya mementingkan fungsi, tidak mementingkan isi. Padahal sesungguhnya kesenian adalah suatu yang adiluhung, dengan sistem baru ala fungsionalisasi seni ISBI, hasilnya adalah kelak lulusan perguruan tinggi seni yang dididik dengan sistem fungsional kesenian ini barangkali memang ber-skill tinggi dan lulus cum-laude, namun minus esensi dan isi, tidak mengedepankan nilai adiluhung kesenian.

            Apa alasan fungsionalisasi seni dengan proses konversi nama ini? Jangan sampai kebijakan konversi ini menjadi sesuatu yang tidak bijak dan menyebabkan kualitas pendidikan tinggi seni malah semakin menurun. Terkait wacana konversi, Kemendikbud menyatakan akan mengadakan dialog budaya di seluruh penjuru Indonesia, termasuk Yogyakarta. Kita tentu menantikan dialog tersebut agar kita dapat bertanya pada pihak Kemendikbud alasan sebenarnya wacana konversi. sampai saat dialog ini tiba, dengan adanya gelagat fungsionalisasi seni yang sudah tercium, maka secara tegas kita harus menolak konversi ISI menjadi ISBI yang mengedepankan proses fungsionalisasi seni. Biarkan ISI tetap menjadi ISI.

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Bergabunglah Menolak Konversi ISI menjadi ISBI dengan cara gabung di Grup Facebook “Menolak Konversi ISI menjadi ISBI” berikut ini: http://www.facebook.com/groups/305576866152044/

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 08 Januari 2012.

( Created and sent from my notebook. Go to http://www.kompasiana.com/arissetyawan for more word and shit. )

 

5 Buku Yang Baru Saya Baca, Dan Saya Rekomendasikan Untuk Anda Baca

Januari 29, 2012

Entah bagaimana dengan orang lain, tapi bagi saya membaca adalah semacam candu. Yang memaksa saya terus mengkonsumsinya agar tidak sakau dan tersiksa. Selepas menyelesaikan satu buku, saya seolah sakau, kemudian harus segera membaca buku lain sebagai candu untuk menghilangkan sakau tersebut. Belakangan saya sudah menyelesaikan membaca 5 buku, semuanya lintas tema, ada yang fiksi dan non-fiksi. Tidak semuanya terbitan baru, malah ada yang sudah diterbitkan puluhan tahun yang lalu, namun menurut saya informasi yang ditawarkan dalam buku itu menarik, jadi meskipun buku terbitan lama tetap saya baca juga.

 

Seperti biasa ilmu adalah sesuatu yang tak boleh disimpan sendiri, ilmu yang hanya disimpan sendiri akan membusuk dalam otak tanpa faedah. Ilmu harus dibagi kepada orang lain agar bermanfaat. Maka dari itu saya berikan sedikit ulasan dari 5 buku yang baru saya baca, dan saya rekomendasikan agar Anda berminat membaca kelima buku itu. Karena 5 buku ini memberikan tambahan informasi yang cukup bermanfaat bagi saya, semoga juga bermanfaat bagi anda.

 

 

1.      Executive Orders, oleh Tom Clancy

 

 

 

Apa jadinya jika presiden Amerika serikat, beserta seluruh anggota kongres meninggal dunia karena Gedung Putih habis terbakar ditabrak sebuah pesawat terbang komersial Jepang? Maka tampuk kekuasaan kepresidenan Negara paling berkuasa di dunia harus diteruskan oleh John Patrick Ryan, mantan analis CIA yang baru 5 menit sebelumnya menjabat wakil presiden. Karena presiden meninggal dunia, Ryan yang baru 5 menit  disumpah menjadi wakil presiden mau tidak mau harus menggantikan kedudukan sang presiden, menjadi orang paling berkuasa didunia.

 

Tom Clancy, penulis novel politik dan konspirasi dunia yang termahsyur, menggambarkan imajinasi liarnya mengenai sebuah skenario runtuhnya kuasa Amerika dalam novel politik Executive Orders, novel yang membutuhkan kesabaran dalam membaca karena ketegangan dan rumitnya konflik politik dan sosial Amerika dijabarkan Clancy dalam 1200 lebih halaman. Buku yang cukup tebal. Awal membaca buku ini memang terasa membosankan, alur dibuat lambat. Tidak seperti novel Dan Brown yang menyuguhkan konflik sejak awal, Clancy membawa pembacanya terbosan-bosan dengan narasi dan alur lambat sepanjang 700 halaman. Namun setelahnya barulah konflik dan ketegangan disajikan. Pembaca akan dibawa terkaget-kaget dengan imajinasi liar Tom Clancy mengenai kematian presiden Amerika dan seluruh anggota kongres, lalu Negara-negara pembenci Amerika yang lantas menyusun strategi untuk meruntuhkan Amerika yang terombang-ambing melalui berbagai cara, termasuk memproduksi senjata biologis berupa virus Ebola yang berbahaya lalu menyebarkannya ke negeri Paman Sam. Hingga berbagai persenjataan perang yang disiagakan untuk menyerbu Amerika

 

Nilai lebih dari novel ini adalah data yang akurat dan spesifik, Tom Clancy memang memiliki koneksi yang hebat di berbagai institusi pemerintahan Amerika, hingga penulis itu mampu sajikan data-data mencengangkan dalam novelnya. Seperti data mengenai berbagai instrumen perang rahasia Amerika, atau berbagai operasi rahasia CIA serta berbagai rahasia lain. Untuk penggemar novel politik dan konspirasi, atau untuk mereka yang ingin tahu lebih dalam mengenai politik dan fakta mengenai negeri adidaya Amerika, Executive Orders amat disarankan.

 

2.      Bobos in Paradise, oleh David Brooks.

 

 

 

Dulu untuk membedakan kaum Borjuis dan Bohemian tidaklah begitu sulit, karena keduanya memang berada di tataran yang berbeda. Borjuis hidup mewah dan nyaman dalam kemapanan, sedangkan bohemian memilih anti kemapanan dengan sikap, pandangan hidup, bahkan dandanan sesuka mereka yang merupakan bentuk protes pada hidup mapan dan terstruktur kaum borjuis.

 

Namun seiring perkembangan jaman, telah lahir satu generasi baru yang tidak berdiri dalam dua tataran itu. David Brooks menyebut generasi baru ini sebagai ‘Bobo’ atau ‘Borjuis-Bohemian.’ Dalam buku kajian sosial budaya namun dikemas dalam bentuk ringan dan menghibur ini, David Brooks menggambarkan masa kini adalah masa keemasan kaum bobo, kaum yang hidup dalam kenyamanan bangsawan ala borjuis, namun memiliki pandangan hidup dan sikap anti kemapanan ala Bohemian. Bobos in Paradise secara eksplisit menelanjangi fenomena sosial baru ini dimana generasi muda masa kini banyak yang hidup dalam gelimang harta dan kenyamanan, namun dengan beraninya juga membaptiskan dirinya sebagai bohemian yang anti kemapanan.

 

Buku ini semacam tamparan keras bagi kaum baru ini, bahkan sang penulis sendiri mengakui dirinya adalah kaum bobo yang juga tertampar buku yang ditulisnya sendiri. Implementasi dari teori yang dijabarkan Brooks ini tentu dapat digunakan dengan mudah untuk membedah fenomena budaya yang ada di Indonesia. Secara jelas dapat disimak bagaimana generasi Bobo ini tumbuh subur di Indonesia. Ambil contoh dalam pergerakan musik indie, musik yang dikatakan anti-mainstream dan anti kemapanan. Tak dapat dipungkiri justru produk musik indie yang biasanya berharga diatas rata-rata hanya mampu dikonsumsi mereka, generasi muda bobo yang hidup dalam kenyamanan konsumerisme serta hedonisme ala borjuisme. Karena memang merekalah generasi yang mampu mengakses dan membeli produk tersebut.

 

Atau ambil contoh lain dalam industri clothing dan distro yang menjamur di seantero nusantara. Betapa industri pakaian yang berkiblat pada konsep anti-mainstream akhirnya memang hanya mampu dibeli generasi bobo, generasi yang mampu membeli karena memiliki kenyamanan hidup borjuis, serta memiliki pandangan hidup bohemian sehingga ogah membeli pakaian yang dikatakan mainstream dan lebih memilih pakaian ala distro yang dicap sebagai ekslusif dan anti kemapanan. Agaknya masih banyak fenomena Bobo lain di Indonesia yang bila dijabarkan amat panjang. Namun seandainya Bobos in Paradise tidak berhasil menampar kita, generasi Bobo. Paling tidak buku best seller versi New York Times ini harusnya mampu membuat kita merenungkan tentang gaya hidup kita dan pandangan hidup yang selama ini kita percaya. Jangan-jangan selama ini kita mengaku anti kemapanan namun sebenarnya hidup dalam kemapanan itu sendiri tanpa sadar?

 

3.      Modern Noise. Fluid Genres: Popular Music in Indonesia. 1997-2001, oleh Jeremy Wallach

 

 

 

Buku yang sempat membuat kritikus dan pakar musik Indonesia tertunduk malu, karena proyek kajian mendalam musik Indonesia ini mendahului apa yang tidak pernah dituliskan pakar musik Indonesia sebelumnya. Modern Noise, Fluid Genres awalnya adalah disertasi Jeremy Wallach yang akhirnya dijadikan buku. Berisi data lengkap mengenai musik Indonesia sejak tahun 1997 sampai dengan tahun 2001. Data dan fakta yang ada didalamnya amat lengkap, menandakan observasi dan pengumpulan data yang dilakukan Wallach patut diacungi jempol. Wallach memang sengaja tinggal beberapa lama di Indonesia untuk proses pengumpulan data.

 

Secara gamblang Wallach menelanjangi segala mengenai musik populer di Indonesia, mulai dari borok kurapnya, sampai perihal positifnya. Dalam buku setebal 346 halaman ini dijabarkan mengenai berbagai genre yang populer di masyarakat Indonesia, seperti pop, dangdut, bahkan musik underground. Yang menarik adalah Jeremy Wallach tak hanya mengkaji musik Indonesia dari segi teknis atau musikalnya, tapi Wallach juga menyisipkan pengkajian etnografis dan sosiologis dari musik Indonesia. Dijelaskan tentang bagaimana musik pop menjadi pengesahan gaya hidup konsumerisme dan standar trend masa kini, atau dangdut yang sering dianggap musik kalangan bawah serta sering digunakan sebagai alat propaganda politik pada masa orde baru. Atau Underground sebagai musik dan ideologi yang digunakan kaum muda Indonesia untuk menantang tirani dan kemapanan.

 

Buku ini layak dibaca bagi mereka yang ingin tahu lebih mengenai musik di negeri sendiri. Pakar musik di Indonesia bagaimanapun memang harus tertunduk malu, ketika fenomena musik dan budaya sendiri tak tersentuh secara akademis. Proyek pengkajian ini malah dilakukan orang luar Indonesia. Barangkali ini seperti apa yang disimpulkan Wallach di bab akhir Modern Noise, bahwa ada kaitan antara musik, generasi muda, dan globalisasi. Generasi kita memang kesulitan membuat produk kajian budaya yang bagus, karena seperti halnya dalam hal mengkonsumsi musik, dalam hal pendidikan sekalipun generasi kita hanya menganggap semua sebatas konsumsi, dalam rangka mengejar kesamaan standar hidup dalam globalisasi. Tak ada pembelajaran sesungguhnya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Dapatkah kita benarkan pernyataan Wallach ini?

 

4.      The Bourne Ultimatum, oleh Robert Ludlum.

 

 

 

Anda mungkin sudah menonton ketiga filmnya, seperti saya yang sudah merampungkan menyimak Identity, Supremacy, serta Ultimatum di layar kaca. Namun untuk novelnya saya memang baru berkesempatan membaca bagian ketiga dari trilogy Bourne karya Robert Ludlum ini. Seperti biasa kekecewaan selalu muncul dalam diri saya apabila novel sukses di filmkan, atau film sukses dibukukan. Karena interpretasi kita tentu akan berbeda dengan adaptasi tersebut. Demikian pula dengan The Bourne Ultimatum versi buku ini yang ternyata amat berbeda dengan versi film yang saya tonton lebih dulu. Meski sama-sama menceritakan mengenai Jason Bourne, agen CIA yang mengalami hilang ingatan karena proses cuci otak. Namun alur dan jalan ceritanya berbeda.

 

Walau saya kecewa karena novel dan filmnya berbeda, bagaimanapun novel setebal 800 halaman lebih ini tetap layak direkomendasikan, paling tidak ketegangan-ketegangan ala spionase CIA tetap dapat dinikmati. Pembaca juga tetap diajak jalan-jalan mengimajinasikan berbagai kota di seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika hingga Rusia. Dalam novel ini pula saya jadi tahu bahwa Rusia, untuk mendidik calon spionase mereka menjadi agen yang tak terdeteksi. Membuat sebuah fasilitas kota miniatur tiruan Amerika, tempat dimana spionase mereka dididik hidup ala orang Amerika. Sehingga saat mereka dikirim ke Amerika tak terdeteksi dan terlihat sebagai orang Amerika sebenarnya.

 

5.      The Meme Machine, oleh Susan Blackmore.

 

 

 

 

Ini buku lama, saya sudah mengetahui buku ini sejak lama pula saat Dewi Lestari alias Dee mengulas mengenai Memetika dalam novel Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Namun saya baru kesampaian membaca buku ini beberapa waktu yang lalu. Dan saya mendapat pemahaman baru yang menarik darinya. Susan Blackmore adalah ahli Memetika terkemuka, dalam The Meme Machine Susan menjabarkan mengenai sebuah disiplin ilmu baru yang berfungsi mengkaji Meme (baca; mim) atau Mem, disiplin ilmu baru ini lantas disebut Memetika. Susan Blackmore murid dari Richard Dawkins, mentornya yang juga menggeluti kajian memetika ini.

 

Untuk memahami apa itu memetika dan meme, buku Susan Blackmore ini paling mudah dipahami. Sebab Susan agaknya menyadari bahwa memetika adalah disiplin ilmu baru, maka Susan menggunakan bahasa yang paling mudah untuk menjelaskan mengenai memetika dan meme agar para pembaca yang awam sekalipun lebih mudah memahaminya.

 

Dunia sudah mengenal Gene atau gen sebagai sebuah abstraksi yang bertanggung jawab pada kondisi biologis manusia. Gene adalah cetak biru kehidupan, Dia yang bertanggung jawab membuat organ dan apa yang Nampak dari tubuh kita. Ilmu biologi sudah mengakui eksisnya Gene ini sejak dahulu. Kemudian muncul pemahaman baru dari para ilmuan seperti Richard Dawkins, Richard Brodie, Dennet, serta Susan Blackmore sendiri, yang meyakini bahwa disamping Gene yang mengatur kondisi biologis manusia, ada sebuah abstraksi lain yang bahkan amat penting menyetir kondisi manusia. Tak lain adalah meme atau mem. Meme adalah apa yang ada didalam otak manusia, sesuatu yang mengatur lahirnya ide. Meme adalah pelengkap, gene mengatur biologis, meme mengatur pemikiran. Meme melahirkan ide dan pemikiran.

 

Bahkan dalam The Meme Machine ini Susan Blackmore menjabarkan betapa penting meme bagi manusia, sebab sifat dasar meme adalah replikator, meme selalu berusaha menularkan ide dari pemikiran seseorang kepada orang lain. Karena sifat dasar meme inilah Susan Blackmore menyimpulkan lahirnya kebudayaan, serta bahasa adalah perintah meme yang menginginkan proses replikasi atau penggandaan ide. Inilah alasan kenapa kita berbicara, menciptakan bahasa, membuat alat tulis, alat komunikasi, menemukan telepon, internet. Semuanya adalah upaya mempermudah proses penyebaran ide meme tersebut. Lebih lanjut memetika juga menyimpulkan bahwa meme akhirnya juga mengendalikan gene dan proses biologis, dimana proses percintaan dan mencari pasangan manusia sesungguhnya adalah proses memilih calon penyebaran meme. Itulah kenapa manusia menerapkan standar dan kriteria dalam memilih pasangan, karena manusia inginkan calon pasangan terbaik untuk menjadi inang bagi meme mereka. Agar melahirkan manusia baru yang sempurna untuk menyebarkan ide meme di masa datang.

 

Meme ibarat virus dan kanker yang sukar dihentikan, ide adalah virus paling berbahaya dimana sekali menyebar sulit dihentikan, itulah kenapa gadis manis bernama Afika yang jadi bintang iklan biskuit itu menjadi meme yang luar biasa cepat menyebar karena meme atau ide manusia mengenai keluguan dan keimutan biasanya cepat menyebar. Ide ibarat kanker ganas yang sekali menempel sukar dicabut, itulah kenapa sekali kita melihat iklan televisi selama beberapa detik, pikiran kita akan terus menginggatnya sepanjang hari. Sama seperti saat ketika saya mengatakan kepada Anda “jangan memikirkan tentang gajah!” lalu apa yang anda pikirkan? Justru anda sedang memikirkan mengenai gajah itu sendiri, dan pemikiran mengenai gajah ini ibarat kanker yang terus ada di pemikiran anda, sulit dihilangkan. Fenomena Boyband-Girlband sekarang ini sekalipun adalah meme itu sendiri, dimana Korean Pop yang diusungnya adalah virus yang mengalami proses penggandaan keseluruh dunia, lalu menjadi kanker yang menempel ganas pada manusia, namun terkadang kanker sekalipun dapat dijinakkan. Maka penjinakkan kanker seperti Korean Pop ini adalah saat kejenuhan terjadi, maka meme atau ide mengenai Korean Pop sekalipun, sama seperti meme mengenai Afika, Bank Century, Kebusukan anggota DPR, Band Melayu, dan fenomena lainnya suatu saat akan mati, tergantikan virus meme atau ide baru yang lebih segar. Selalu terjadi replikasi dan penggantian seperti itu. Bahkan tulisan saya ini adalah sebuah meme, upaya menularkan ide yang dilahirkan pemikiran saya menuju pemikiran Anda.

 

The Meme Machine membedah semua informasi menarik ini dalam 376 halamannya. Memetika memang menarik, namun disiplin ilmu memang menganut paham yang sama, bahwa suatu teori yang kita yakini sekarang bisa saja menghilang dan tidak relevan saat teori baru yang menyanggahnya muncul di masa depan. Bisa jadi kelak teori mengenai meme ini akan runtuh oleh teori baru, namun untuk saat ini barangkali kita harus mengamini teori Susan Blackmore dan para mentornya ilmuan memetika, bahwa budaya, bahkan agama yang ada di dunia ini adalah produk dari meme atau ide yang berupaya menggandakan diri.

 

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 29 Januari 2012

 

( Created and sent from my notebook, go to http://www.kompasiana.com/arissetyawan for more word and shit. )

Pasar Malam Indie Pop Bertajuk Interconnection #1

Januari 23, 2012

Poster Interconnection #1 dipinjam dari http://deathrockstar.info/images/2012/01/interconnection1.jpg

 

Bayangkan sebuah pasar malam, yang penuh dengan berbagai keriuhan dan kegembiraan. Lengkap dengan berbagai prasarana pendukung yang berupaya membuat senang para pengunjung. Ada komidi putar, kerlip lampu-lampu kecil menawarkan keriangan, mesin bundar pembuat permen kapas arummanis yang berputar menghasilkan kabut tipis yang lama-lama mengumpul menjadi segumpal kapas manis yang bisa membuat anda bahagia. Serta berbagai keriangan lainnya. Pasar malam memang istimewa, sebuah kerumunan hiburan yang digemari banyak orang.

 

Analogi pasar malam penuh keriangan ini agaknya pantas digunakan untuk gambarkan suasana sebuah pagelaran bertajuk Interconnection #1, gigs indiepop yang diadakan di Purnabudaya UGM Yogyakarta pada hari Sabtu 21 Januari 2012. Sebab Interconnection pada malam itu menawarkan keriangan dengan line-up band-band indie pop yang sudah tidak diragukan lagi reputasinya seperti Bangkutaman, Leonardo, L’Alphaalpha, Brilliant At Breakfast, dan Answer Sheet. Tawaran keriangan pasar malam indie pop ini agaknya berhasil, sebab meski malam itu kota Jogja diguyur hujan yang membuat galau semenjak sore, toh tidak menghalangi niat para penggemar indie pop untuk hadir di gedung Purnabudaya, keriangan pasar malam indie pop ini lebih menggoda daripada terdiam dalam galau karena hujan. Dan sepertinya semua yang hadir di Interconnection #1 malam itu tersenyum riang, menikmati keriuhan pasar malam.

 

Pasar malam dibuka dengan pengunjung yang baru datang mencicipi manisnya permen kapas arum-manis, manisnya permen kapas itu adalah opening konser malam itu berupa penampilan band Tweepopbernama Brilliant At Breakfast yang menggempur pendengaran penonton dengan 6 lagu manis, serta vokalis yang membumi, membaur bersama penonton dengan berbagai aksi teatrikal seperti menghadiahkan permen cokelat dan segelas kopi pada para penonton. Maka Being Verbose Ain’t Easyatau Ferris Wheel cukup memberi rasa manis ala permen kapas itu dan memancing penonton yang tadinya duduk memutuskan berdiri dengan riang.

 

Setelah puas dengan permen kapas manisnya, pengunjung pasar malam biasanya memutuskan memacu adrenalin, mereka ingin mencoba permainan komidi putar yang berputar kencang dan meliuk-liuk naik turun itu. Line-up kedua dari acara sabtu malam itu adalah analogi komidi putar cepat pemacu adrenalin ini. Adalah Leonardo Ringgo alias Mugeni Spacekid dari band Zeke And The Popo yang mengguncang panggung dengan musik yang menantang dan memacu adrenalin. Adrenalin yang ditawarkan Leonardo berupa ekletisme musiknya, campuran dari berbagai genre seperti rock n roll, swing, ska, dan lain-lain. Dengan lengkapnya musisi pendukung Leonardo malam itu seperti adanya instrumen Contrabass, 3 alat musik tiup, drum, gitar, Hammond, serta vokalis pendukung seorang perempuan bersuara dahsyat bernama Mian Mutia. Ditingkahi aksi panggung Leonardo yang atraktif, wajarlah bila penampilan kedua ini di ibaratkan adrenalin komidi putar cepat.

 

Adrenalin pengunjung yang tadinya memuncak tiba-tiba diajak menurun sejenak dengan menaiki komidi berikutnya berupa kuda-kudaan yang berputar pelan, santai, menghanyutkan, namun membuat tersenyum. Bagian ini adalah saat penonton pasar malam indie pop disuguhi penampilan Answer Sheet yang menyajikan keriuhan duo Ukulele yang dilengkapi bass elektrik dan sedikit atmosfer yang dilahirkan keyboard. Answer Sheet, band asal Jogja yang juga cukup diperhitungkan ini menghadirkan suasana riang dengan adanya ornamen-ornamen perahu dibelakang panggung. Mereka jelas sangat percaya diri tampil malam itu, terlihat dengan betapa santainya cara mereka bermain musik, pertanda bahwa musik Answer Sheet memang sudah diterima kalangan pendengar indie pop.

 

Akhirnya puncak dari pasar malam indie pop ini tercapai tatkala pengunjung memutuskan naik komidi putar tertinggi, yang berputar seperti kipas raksasa menjulang tinggi. Analogi komidi putar tertinggi ini pantas disematkan pada band yang bisa dibilang merupakan headliner acara malam itu, tak lain adalah Bangkutaman. Band dengan reputasi yang tidak diragukan lagi, serta fans militan yang tersebar dimana-mana. Serta prestasi yang menjulang tinggi bagaikan komidi putar tertinggi tersebut. Bangkutaman menghadirkan keriangan yang sama dengan apa yang mereka hadirkan 2 tahun lalu saat mereka tampil digedung yang sama, sepanggung dengan Efek Rumah Kaca dalam tour Jangan Marah Record.

 

Foto Bangkutaman oleh Wafiq Giotama ( http://www.facebook.com/ogiklo ) dipinjam dari http://gigsplay.com/bdg/interconnection-1-2.wans

 

Tampak betapa cukup banyak fans militan mereka hadir malam itu bersama-sama naik komidi putar tertinggi, dengan riang berkoor saat pasukan indie pop Jogja ini membawakan lagu She Burn The DiscoHilangkanJalan PulangMenjadi ManusiaCatch Me When I Fall, dan track paling terkenal mereka Ode Buat Kota yang memaksa hadirin berteriak-teriak “na na na nanananana na na na na na nananananananana.” Dapat disimpulkan betapa kebahagiaan dan keriangan memang memuncak tatkala Bangkutaman menguasai panggung, para penonton bahagia sebab band kesayangannya dapat tampil di kota kelahiran band itu sendiri. Sementara Bangkutaman tentu juga bahagia sebab penampilan malam itu mau tidak mau akan membawa semacam napak tilas pada mereka, menhadirkan kembali rekam jejak akan eksistensi Bangkutaman yang dimulai dari nol di kota pelajar ini. Pasar malam ini berhasil sampai puncak, berkat Bangkutaman.

 

Namun pasar malam belum usai meski pengunjung sudah puas dengan komidi putar tertinggi. Mereka masih mempunyai satu wahana lagi, yakni meresapi kegalauan saat hujan turun. Bayangkan pasar malam yang sebelumnya ramai riang, tiba-tiba hujan turun deras. Kegalauan pasti datang pada semua yang hadir disana, maka penampilan band terakhir yakni dari band asal Jakarta L’Alphaalpha adalah hujan pemberi galau tersebut. Hadir dengan format fullband, menghadirkan atmosfer ambient yang tentu saja berhasil memunculkan nuansa galau malam itu. Maka lengkaplah sudah pasar malam indie pop dinikmati para pengunjung, digempur keriangan sejak awal, lalu ditutup kegalauan hujan ala L’Alphaalpha. Pasti para pengunjung pulang dengan senyum mengembang dan hari riang, walau basah setelah diguyur hujan.

 

Bagaimanapun Interconnection #1 memang membuka tahun 2012 ini dengan keriangan, walau dengan berbagai kendala yang ada tentunya seperti start acara yang molor dari jadwal, dan trouble pada sound system seperti seringnya terdengar feedback. Namun paling tidak pasar malam indie pop bertajuk Interconnection #1 ini cukup mengobati kerinduan para penggila gigs akan adanya acara musik yang berkualitas dan menawarkan keriangan. Dan seperti lazimnya pasar malam yang berpindah dari satu tanah lapang ke tanah lapang di daerah lain untuk menghadirkan keriangan pada kerumunan orang yang berbeda. Maka pasar malam indie pop Interconnection ini pun berpindah, dimana malam berikutnya panggung berpindah ke kota yang tak jauh dari Jogja, yakni menuju Surakarta dengan tajuk Interconnection #2. Sepertinya para pengunjung Purnabudaya UGM sabtu malam itu akan sama-sama berharap, semoga secepatnya pasar malam ini mampir lagi ke kota Jogja untuk membawa keriangan dan kegembiraan.

 

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 23 Januari 2012.

 

(Created and sent from my notebook. For more word and shit go to http://www.kompasiana.com/arissetyawan)

 

 

*Poster Interconnection #1 dipinjam dari http://deathrockstar.info/images/2012/01/interconnection1.jpg

 

**Foto Bangkutaman oleh Wafiq Giotama ( http://www.facebook.com/ogiklo ) dipinjam dari http://gigsplay.com/bdg/interconnection-1-2.wans

Review: Sigur Ros – Inni

Januari 19, 2012

Inni

 

Jujur sebelumnya saya kurang mengikuti diskografi band asal Islandia ini. Untuk menikmati kegalauan Post-rock saya terlanjur terbiasa memilih Godspeed You! Black Emperor, Snowman, atau Explosions in the Sky. Namun ramainya pergunjingan mengenai album baru bertitel Inni di kancah musik dunia, juga ulasan-ulasan positif tentang Inni di berbagai media musik seperti Pitchfork, akhirnya membuat saya penasaran dan memaksa saya mendengarkan band asal Islandia bernama Sigur Ros. Sebuah band yang sudah melanglang buana sekian lama, selalu mendapat sorotan positif dari kritikus musik, dan menghasilkan fanbase luar biasa hingga penggemar band ini bertebaran di seluruh penjuru dunia. Praktis ulasan saya ini akan menghasilkan tomat busuk yang dilemparkan fans berat Sigur-Ros pada saya.

 

Lemparan tomat busuk akan saya dapat, karena pendapat saya mengenai Sigur Ros, barangkali akan terkesan sangat subyektif. Menurut saya Sigur Ros adalah “versi lebih ramah dari Post-Rock.” Jika kebanyakan band-band post-rock mempermainkan perasaan Anda dengan lagu-lagu berdurasi panjang serta dengan ramuan pakem Quiet-hard-silent-noise-hard-quiet. Maka Sigur-Ros lebih ramah dengan durasi lagu yang masih bisa ditolerir antara 5-10 menit, paling panjang 15 menit. Tidak seperti Godspeed You! Black Emperor yang betah mempermainkan perasaan dengan lagu berdursi 20-30 menitnya. Dalam hal komposisi musikal pun Sigur Ros memiliki ciri khas tersendiri dari band lain. Explosions in the Sky bermain di komposisi yang mengawang, didominasi permainan petikan gitar ber-delay. Lalu Godspeed mengembangkan atmosfer post-rock yang mencekam dengan berbagai instrument konvensional ditambah orkestrasi Cello, Biola, Glockenspiel, dan berbagai loop. Kemudian Snowman membuat musiknya berkesan horror dan mencekam dengan pemilihan nada-nada dan ritmis primodial dan purba. Sementara itu Sigur Ros lebih berkutat dalam ambience untuk komposisi musikalnya, hingga didapat kesan megah dalam musik yang mereka bawakan. Baiklah seperti saya bilang di atas, pendapat saya ini terkesan subyektif. Namun keramahan Sigur Ros ini terbukti dengan diterimanya mereka oleh kalangan mainstream, serta begitu banyaknya penggemar mereka.

 

Inni yang dirilis pada akhir tahun 2011 lalu adalah sebuah double album berisi 2 CD, album ini adalah album live pertama yang dibuat Sigur Ros dan dirilis setelah band itu vakum untuk beberapa lama. Dari segi sound Inni memang memukau, ketika mendengar tiap lagu yang ada seolah kita tengah hadir dalam konser saat lagu dalam rekaman ini dibawakan. Pertanda mixing yang berhasil. Tepuk tangan riuh saat intro atau outro lagu membuat saya menebak-nebak berapa jumlah orang yang hadir dalam konser tersebut. Pendengar akan dibawa mengawang dalam ambience dengan trek-trek seperti Svefn-g-EnglarHoppipola, Inní mér syngur vitleysingur, atau All Alright. Judul lagu terdengar aneh? Memang Sigur Ros menggunakan bahasa Islandia untuk lagu-lagunya, bahasa yang tidak terlalu populer didunia.

 

Untuk mengamini perihal post-rock, para penggiatnya biasa menggunakan teori Marshall McLuhan tentang “The Medium is the message.” Bahwa pesan tidak melulu harus berupa bahasa atau kata. Itulah yang menyebabkan post-rock menjadi musik tanpa lirik lagu, sebab musik atau medium itu sendiri sudah berupa sebuah pesan yang hendak disampaikan sang composer musik, tidak perlu ditambah interpretasi lirik. Ini pula yang menyebabkan saya berpendapat Sigur Ros adalah versi lebih ramah dari post-rock, sebab mereka memasukkan lirik lagu dalam musik mereka, untuk mempermudah interpretasi barangkali. Walau kenyataannya lirik lagu mereka juga sulit dipahami karena menggunakan bahasa Islandia, tetap saja penggunaan lirik adalah upaya menyampaikan pesan dalam musiknya. Akhirnya memunculkan kesimpulan bagi saya bahwa Sigur Ros, terlepas dari sorotan luas pada band itu yang akhirnya membawanya ke dalam kancah komodifikasi post-rock mainstream, bagaimanapun memang cukup menarik dan layak didengarkan. Demikian juga dengan album live terbaru mereka Inni yang mengajak para pendengarnya merasakan tamasya imajinasi mengawang, persis seperti di konser-konser yang mereka adakan yang kemudian coba dihadirkan kembali dalam rekaman live ini.

 

ARIS SETYAWAN

 

Yogyakarta, 19 Januari 2012.

 

( Created and sent from my notebook. For more word and shit go to http://www.kompasiana.com/arissetyawan )

Pelarangan Punk di Aceh

Desember 28, 2011

Penangkapan 65 orang Punker (sebutan untuk mereka penggiat Punk) pada tanggal 10 Desember 2011 di Banda Aceh oleh pihak yang berwajib akhirnya menimbulkan polemik. Ada yang pro dengan penangkapan itu karena menganggap Punk semacam penyakit masyarakat yang harus dibersihkan, banyak juga yang kontra karena menganggap penangkapan punk ini diskriminatif dan mengekang kebebasan berekspresi.

Berbagai protes dan penggalangan petisi mendukung pembebasan para Punker di Banda Aceh bermunculan di internet, tak sedikit komunitas Punk tanah air dari berbagai daerah menyatakan keberatan akan ditangkapnya teman-teman Mereka. Bahkan polemik ditangkapnya Punker di Banda Aceh ini sampai juga ke luar negeri dimana banyak Komunitas Punk menyatakan simpati pada saudara Punker Mereka di Aceh, beberapa lantas melakukan tindakan provokatif seperti beberapa Punker yang mencoret-coret tembok KBRI di Moscow dengan tulisan “Punk is not a crime” sebagai bentuk protes pada Pemerintah Indonesia.

Penangkapan Punker di Aceh mengingatkan Kita kembali betapa di Negara ini pemberangusan dan pelarangan akan suatu bentuk kesenian masih sering terjadi. Di masa lampau pemberangusan pernah dilakukan oleh Presiden pertama Soekarno yang melarang Musik barat yang katanya “ngak-ngik-ngok,” imperialis, serta tidak menumbuhkan semangat nasionalisme. Bahkan sang presiden memerintahkan agar memenjarakan Koes Plus, sebuah grup musik yang kala itu dianggap mewakilkan semangat ngak-ngik-ngok yang dilarang dalam musik Mereka. Masih segar pula di ingatan Kita saat pemerintah orde baru melarang peredaran musik-musik melankolis ala Betharia Sonata dan Ratih Purwasih karena dianggap ‘cengeng’ dan melemahkan semangat pembangunan.

Tak dapat dipungkiri sejak dulu Punk adalah salah satu musik yang banyak mendapat stigma negatif dari masyarakat luas karena penampilan para penggiatnya yang terkesan urakan dan berandalan. Inilah yang menjadi alasan penangkapan Punker di Aceh dimana penampilan bebas serta attitude Mereka bertentangan dengan hukum syariah yang diterapkan di bumi serambi mekah itu. Punk dicap sebagai bentuk kerusakan moral yang harus dienyahkan dari Aceh dengan cara yang dianggap paling mudah: yakni melarang dan memberangus Mereka.

Musik dan Ideologi


Tindakan pelarangan ini sebenarnya sebuah upaya yang sulit dilakukan sebab Punk bagaimanapun bukanlah sekedar musik yang didengarkan, ia juga adalah sebuah paham yang diyakini para penggiatnya. Sebuah pandangan hidup, maka mengutip pernyataan seseorang pendukung Punk dalam status twitternya yang menyatakan “Polisi dapat menangkap Kami, tapi tak dapat menghentikan pemikiran Kami.” Menyiratkan Punk lebih dari sekedar musik, tapi merupakan pandangan hidup yang coba dipertahankan dan diyakini para penggiat Punk. Sesuatu yang dijelaskan Jeremy Wallach bahwa Musik adalah juga adalah sebuah ideologi bagi para pendengarnya (Wallach, 2008). Di era kebebasan berpendapat sekarang ini mungkinkah Kita melarang seseorang berpikir dan memiliki keyakinan?

Sejak awal pergerakan Punk di Inggris beberapa dekade lampau sampai sekarang, keyakinan yang digaungkan Punk adalah Anarkisme, paham yang meyakini kehidupan lebih baik dapat dicapai saat setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Sementara itu pemelintiran akan makna sebenarnya anarki ini terus terjadi dimana anarki disamaratakan dengan kata “kekerasan.” Barangkali inilah sebab Punk selalu mendapat stigma negatif, sebab ideologi yang Mereka anut disamaratakan sebagai kekerasan. Maka attitude Mereka yang bebas dan anti-kemapanan sebagai counter-culture akan homogenisasi budaya yang terjadi di dunia yang Kita tinggali, dianggap sebagai kerusakan moral yang harus diberantas.

Penangkapan para Punker di Aceh seperti sebuah gejala penolakan ideologi atau pandangan hidup yang tidak sesuai dengan apa yang Kita jalani secara umum setiap hari, Punk berbeda dengan keseharian (yang Kita anggap normal) di hidup Kita, maka Punk harus dilarang. Tapi bukankah itu bertentangan dengan cita-cita demokrasi Indonesia yang membebaskan warga negaranya berpendapat dan hidup sesuai keyakinannya? Selama itu tidak mengganggu kehidupan berkebangsaan secara luas.

Yang perlu disoroti lagi adalah sikap Pemkot Banda Aceh terkait penangkapan para punker ini, Pemkot menyatakan Punk tidak boleh ada di Aceh. Sesuatu yang sebenarnya lagi-lagi sulit dilakukan ketika Kita kaitkan dengan program Visit Banda Aceh yang dijalankan Pemkot untuk mengundang para wisatawan datang dan meramaikan sektor pariwisata. Seolah-olah Pemkot tidak siap dengan akibat dari dibukanya Kran masuk ke Aceh melalui Visit Banda Aceh ini yang mau tak mau akan membawa masuk pula berbagai pengaruh budaya, termasuk punk. Ketika kemudian Punk dilarang atas nama hukum syariah, bukankah ini pertanda beberapa kebijakan pemerintah Kota (seperti program Visit Banda Aceh) bertentangan dengan Hukum Syariah yang diterapkan disana?

Terkait Hukum syariah, ini memperlihatkan bahwa negara belum mampu berdiri dengan hukum yang bersikap netral atas menyikapi keyakinan dan perbedaan yang ada. Seolah keberadaan pemerintah pusat amat lemah, respon Mereka tidak kuat terhadap perda-perda yang lahir dan itu mendiskriminasi kelompok tertentu (yang terpinggirkan, termasuk Punk). Masyarakat pun juga perlu diberi penjelasan, mengenai posisi Indonesia saat ini, laalu penjelasan untuk dikatakan sebagai yang Islami, tidak perlu dengan ada perda-perda agama, apalagi perda yang berisikan atas suara mayoritas, sebab ini sangat bertentangan dengan Pancasila, serta UUD 1945, dan cita-cita demokrasi Indonesia.

Agaknya Pemerintah pusat harus turun tangan dalam permasalahan ini, bahwa penangkapan Punker di Aceh bagaimanapun menciderai cita-cita demokrasi yang membebaskan tiap warga Negara berpendapat dan bertentangan dengan janji demokrasi dari konstitusional Negara Kita. Jika penangkapan para Punker dilandaskan tuduhan Kriminal dan kekerasan (seperti yang selama ini dilekatkan pada Mereka). Tentu ini harus dapat dibuktikan secara hukum, jangan menangkap Punk atas dasar penampilan beda dan stigma negatif yang terlanjur melekat pada kaum kumal itu.

ARIS SETYAWAN


Yogyakarta, 15 Desember 2011

( Created and sent from my notebook. Go to http://www.kompasiana.com/arissetyawan for more word and shit. )

Rasa Aman Dalam Organisasi Kemahasiswaan

Desember 18, 2011

Piramida Kebutuhan Maslow

 

Dalam sebuah seminar yang Saya ikuti tentang pengembangan keterampilan mahasiswa yang diadakan pada hari sabtu 17 Desember 2011. Salah satu pembicara adalah pejabat tinggi rektorat salah satu perguruan tinggi seni. Pembicara yang dimaksud menjadikan tema organisasi kemahasiswaan sebagai pokok pembahasan yang dibedahnya.

Pembicaraan mengenai organisasi mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa sore itu menjadi berkepanjangan dan melebar ke sentimen antar organisasi ketika sang pembicara seolah secara tidak langsung mengadu argumen antara satu pihak organisasi dengan organisasi lain, hal itu terjadi sebab sang pembicara menjabarkan pembahasan mengenai organisasi mahasiswanya melalui sebuah esai (fiktif) tentang sebuah perguruan tinggi seni (fiktif) yang didalamnya terjadi pertentangan pendapat antara Badan Eksekutif Mahasiswa (fiktif) dengan sebuah Unit Kegiatan mahasiswa (fiktif).

Meski esai yang dijabarkan pembicara itu fiktif namun sesungguhnya itu adalah representasi kondisi sebenarnya dari perguruan tinggi seni yang nyata. Hal yang mana menimbulkan gejolak perdebatan di seminar sore itu. Dengan perdebatan yang makin melebar, Saya memutuskan meninggalkan seminar, bukan karena Saya adalah simpatisan Badan Eksekutif Mahasiswa atau Unit Kegiatan Mahasiswa yang diperdebatkan sore itu. Namun lebih karena sejak awal sang pembicara menyatakan tema Organisasi Mahasiswa, Saya sudah menjadi seorang yang apatis dalam tema itu.

Dalam menjabarkan tema organisasi kemahasiswaan sore itu, sang Pembicara menggunakan pendekatan “Aktualisasi Diri” yang pernah dijabarkan Abraham Maslow. Dikatakan bahwa aktualisasi diri adalah sebuah proses dimana manusia ingin diakui, dan konsep ke-aku-an inilah yang menyebabkan organisasi mahasiswa eksis, sebab mahasiswa ingin diakui sebagai calon intelek. Maka organisasi kemahasiswaan adalah legalisasi aktualisasi diri tersebut di kampus dimana mahasiswa dapat menjabarkan proses ke-aku-an nya secara legal.

Hal inilah yang membuat Saya jengah, konsep organisasi mahasiswa sebagai ajang aktualisasi diri mahasiswa mungkin dapat dibenarkan, namun bila Sang pembicara melandaskan pembahasan organisasi kemahasiswaannya pada teori “Aktualisasi Diri” Maslow, seharusnya dapat dilihat bahwa Aktualisasi diri tersebut adalah bagian dari Hirarki Kebutuhan sebagaimana yang digambarkan Maslow dalam “Piramida Kebutuhan Maslow.”

Pada dasarnya dalam hirarki kebutuhan Maslow tersebut terdapat 5 poin yang semuanya berkaitan, dan bertingkat. Poin paling atas tidak akan dapat dicapai andai poin paling bawah belum tercapai. Aktualisasi diri berada di puncak teratas piramida, sedang urutan dasar adalah kebutuhan pokok seperti makan dll. Urutan kedua adalah Rasa aman diri. Jadi kesimpulan dari piramida itu, manusia tidak akan mampu mengaktualisasi diri (berpikir kreatif) seperti puncak kelima jika Dia belum mampu memenuhi kebutuhan dibawahnya. Orang kelaparan tidak akan berpikir berkarya dan unjuk gigi.

Dengan konsep keterkaitan kebutuhan dalam hirarki Maslow tadilah Saya menyimpulkan pembahasan sang pembicara tentang organisasi kemahasiswan sebagai ajang Aktualisasi diri mahasiswa sepertinya hanya membuang waktu. Sebab sesungguhnya Organisasi kemahasiswaan (Aktualisasi diri) baru dapat dicapai jika kebutuhan dibawahnya sudah tercapai, di Indonesia (juga di salah satu perguruan tinggi seni Indonesia) ini, Barangkali semua mahasiswanya sudah bisa makan, artinya kebutuhan nomor satu sudah tercapai. Namun ketika naik ke tingkat 2, apakah rasa aman sudah dirasakan mahasiswa? Jika jawabannya ya, maka bolehlah mahasiswa naik ke tingkat kebutuhan berikutnya hingga akhirnya mampu mengaktualisasi diri dalam organisasi mahasiswa di tingkat tertinggi. Namun faktanya rasa aman belum dirasakan mahasiswa dalam hal berorganisasi, berbagai ketakutan masih membayangi mahasiswa yang hendak kritis sampaikan pendapat. Diantaranya takut peraturan kampus, takut pidana, takut di Drop-out (DO) kampus, dll.

Padahal jelas dalam organisasi kemahasiswaan harus ada pendapat-pendapat murni dari mahasiswa, pendapat dan ide yang tidak terpengaruh pihak lain, pendapat yang menjadi Student learning yang kelak berguna menjadikan mahasiswa pribadi yang mandiri dan mampu berpikir tanpa campur tangan pihak lain. Dengan berbagai ancaman kepada mahasiswa terhadap mahasiswa, tidak tercapai yang namanya rasa aman. Tanpa rasa aman pada diri mahasiswa, tentu mustahil dapat mengaktualisasi diri dalam organisasi kemahasiswaan.

Tidak ada rasa aman itu terbukti dengan diberangusnya berbagai kegiatan kemahasiswaan di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta ketika mahasiswa protes dan menyampaikan pendapatnya akan beberapa kebijakan kampus yang tidak memihak rakyat, tercatat pula beberapa aktivis mahasiswa dipidanakan karena aktivitasnya memprotes kebijakan kampus yang dianggap kurang adil. Bahkan ancaman mahasiswa yang protes pada kampus langsung di DO juga ada di beberapa perguruan tinggi. Kemudian salah satu bukti belum adanya rasa aman bagi mahasiswa dalam menyampaikan pendapat itu adalah dengan tulisan ini, dimana Saya sebagai penulis belum berani secara frontal menyebut pihak atau nama tertentu dan harus disamarkan.

Itulah kenapa menurut Saya pembahasan mengenai organisasi kemahasiswaan sebagai ajang aktualisasi diri mahasiswa, dari sang pembicara di seminar sore itu hanya membuang waktu saja. Sebab sebelum sampai pada tataran aktualisasi diri, ada baiknya Kita membahas terlebih dahulu rasa aman harus ditimbulkan dalam proses organisasi mahasiswa. Agar mahasiswa berani ungkapkan pendapatnya tanpa takut di-DO atau dipidanakan. Agar organisasi kemahasiswaan benar-benar menjadi sebuah ajang Student learning, bukan sekedar organisasi yang harus ada sebagai syarat. Menuju aktualisasi diri di tingkat 5 hirarki kebutuhan Maslow dapat dilakukan jika kebutuhan rasa aman dibawahnya dapat tercapai, pertanyaannya adalah. maukah pihak perguruan tinggi memberikan rasa aman itu pada mahasiswa? Sebab terkadang birokrasi enggan memberi rasa aman tersebut, dan selalu menutup diri agar sistem Mereka tak terjamah mahasiswa.

 

ARIS SETYAWAN

Yogyakarta, 18 Desember 2011.

( Created and sent from my notebook. Visit http://www.kompasiana.com/arissetyawan for more word and shit. )

Lupakan Spongebob, Lupakan Justin Bieber, Cintai Cublak-Cublak Suweng, Mungkinkah?

Desember 10, 2011

( Makalah dengan judul asli “Menangkal Homogenisasi Budaya Melalui Pendidikan Formal Seni (Pertunjukan)” yang disampaikan dalam seminar bertajuk “Peranan Seni Pertunjukan Nusantara Dalam Penguatan Karakter dan Kepribadian Bangsa.” pada hari Sabtu, 10 Desember 2011. kerjasama HMJ Etnomusikologi dan HIMA Musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI YK. Judul diubah sebagai pencitraan agar kelihatan lebuh unyu dan gaul, tidak membosankan. )

 

 

Menangkal Homogenisasi Budaya, Melalui Pendidikan Formal Seni (Pertunjukan)

 

Oleh: Aris Setyawan*

 

 

Seni pertunjukan dapat diartikan sebagai karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. performance biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan seniman dengan penonton (http://id.wikipedia.org).

 

Kasim dalam Magdalia Alfian (2006:1) menerangkan bahwa seni pertunjukan dapat dipilah menjadi tiga kategori yakni: 1) musik (vokal, instrumental, gabungan), 2) tari (representasional dan non-representasional), 3) teater (dengan orang atau boneka/wayang sebagai dramatis personae.)

 

Indonesia memiliki khasanah seni pertunjukan yang luar biasa ragamnya. Tidak akan ada habisnya apabila dijabarkan satu per satu mengenai masing-masing kategori dari seni pertunjukan tersebut.[1] Maka, saya hanya akan menjelaskan inti pembahasan dari makalah ini yakni tentang kaitan antara seni pertunjukan, globalisasi, dan hegemoni budaya. Selain itu  diperlukan pula “politisasi seni” demi menangkal efek hegemoni budaya tersebut. Hal ini berkaitan pula pada keberlangsungan hidup budaya Indonesia pada khususnya dan demi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara Indonesia pada umumnya.

 

Pembahasan saya akan berkonsentrasi pada realita bahwa seni pertunjukan di Indonesia tumbuh dan berkembang karena kecintaan masyarakat terhadap hasil kebudayaan yang telah turun temurun ada. Namun, kecintaan pada kesenian ini seringkali tidak didukung oleh pemerintah, yang minim dana maupun pengetahuan.

 

Seni pertunjukan Indonesia menyatu dengan moral dan kepribadian bangsa yang adiluhung. Namun, sangat disayangkan semua itu kini diambang kehancuran. Kenyataannya, pendidikan formal tidak menyentuh pendidikan seni (pertunjukan) sebagai media penanaman apresiasi seni budaya dan nilai-nilai kemasyarakatan kita.

 

Sehingga perlu dikembangkan pendidikan seni di sekolah-sekolah umum, mulai dari tingkat dasar sampai menengah atas. Pemerintah pun perlu “mempolitisasi seni” dalam artian memberikan fasilitas yang mendukung peningkatan kesadaran kultural dan moral kemasyarakatan bagi seluruh bangsa ini.

 

Globalisasi Dan Hegemoni Budaya

 

Tidak mudah mendefinisikan globalisasi, banyak ahli melahirkan definisi berbeda tentang globalisasi. Yang semuanya disesuaikan dengan bidang kajian masing-masing. Namun, definisi yang paling sederhana dan singkat mengenai globalisasi pernah dikemukakan oleh Etienne Perrot. Perrot dalam Kushendrawati (2006,hlm.50) memahami globalisasi sebagai hasil penggabungan atau akumulasi antara internasionalisasi dan homogenisasi.

 

Internasionalisasi dan homogenisasi yang dimaksud cakupannya melingkupi sosial, politik, ekonomi, termasuk dalam kebudayaan dan kesenian. Terkait kebudayaan dan kesenian ini, globalisasi bersifat memaksa dunia untuk mengalami proses homogenisasi dan menyamakan diri dalam satu kesamaan budaya.

 

Mengenai homogenisasi kebudayaan ini Naomi Klein, penulis anti kapitalisme Kanada mengatakan bahwa globalisasi bersikap “force the world to speak your language and absorb your culture.” (2000, hal.132).

 

Pemaksaan penyeragaman budaya ini bukannya tidak terindikasi. Dunia pada dasarnya telah sadar bahwa ada skenario besar terkait homogenisasi budaya. Namun entah kenapa seolah dunia dijaga terdiam. Padahal skenario ini sudah didedahkan oleh teoritik-politik asal Italia, Antonio Gramsci, sejak berpuluh tahun yang lalu. Gramsci menyebutnya sebagai “hegemoni budaya.” Sebuah teori politik-budaya terpenting abad ini yang selalu dikutip begitu banyak teoritisi lain dalam makalah-makalah mereka.

 

Menurut Gramsci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa. Lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka.

 

Inilah yang dimaksud Gramsci dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan moral dan intelektual” secara konsensual. Dalam konteks ini, Gramsci secara berlawanan mendudukan hegemoni sebagai satu bentuk supremasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas yang lainnya. Dengan bentuk supremasi lain yang ia namakan “dominasi” yaitu kekuasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik (Sugiono dalam Saptono, 2010).

 

Proses homogenisasi dan hegemoni budaya ini dijalankan aktor globalisasi (negara adidaya) pada dunia. Terutama negara berkembang seperti Indonesia, dalam rangka mempermudah dominasi mereka dalam bidang lain seperti perekonomian dan pengumpulan kesejahteraan.

 

Tak dapat dipungkiri kebudayaan dan bidang lain saling berkaitan. Michel Foucault membedah fenomena ini dengan teorinya mengenai knowledge/power. Dalam teorinya dijelaskan bahwa kekuasaan selalu muncul karena ada pengetahuan, begitu pula sebaliknya. Maka ketidaktahuan dalam kebudayaan pada akhirnya membuat ketidaktahuan dalam bidang lain, perekonomian, dll. (Foucault, 2002).

 

Seperti dijelaskan di atas bahwa seluruh dunia merasa baik-baik saja dan nyaman dengan homogenisasi budaya. Mengutip pemikiran Gramsci bahwa hegemoni satu kelompok atas kelompok-kelompok lainnya dalam pengertian Gramscian bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Hegemoni itu harus diraih melalui upaya-upaya politis, kultural dan intelektual guna menciptakan pandangan dunia bersama bagi seluruh masyarakat.

 

Teori politik Gramsci menjelaskan bahwa ide-ide atau ideologi masih menjadi sebuah instrumen dominasi yang memberikan pada kelompok penguasa legitimasi untuk berkuasa (Sugiono dalam Saptono, 2010).

 

Hegemoni budaya ini berhasil membuat kita berupaya mencapai konsensus sesuai ideologi yang dihegemonikan kepada kita. Konsensus tersebut berupa kehidupan yang kita jalani harus berkembang sesuai dengan kultural negara adikuasa, pemegang tampuk dominasi. Jadilah warga negara kita lebih menghayati gaya hidup dan budaya ala negara adikuasa tersebut daripada budaya negeri sendiri.

 

Homogenisasi budaya ini dianggap wajar karena instrumen atau agen penyebar homogenisasi ini luar biasa besar. Ia amat hegemonik menyerbu kita dengan serangan-serangan ide yang sulit tertangkis, sebab kuasa kapitalnya tak tertandingi.

 

Media adalah salah satu agen luar biasa tersebut. Setiap hari media Kita menyuguhkan sajian kultural yang didominasi produk kultural asing. Mau tak mau akhirnya sajian media yang hegemonik tersebut mengkonstruksikan pada diri kita bahwa kebudayaan asing itu hebat, patut diapresiasi, dan adiluhung melebihi budaya sendiri.

 

Tentu menjadi pertanyaan mengapa media di Indonesia lebih memilih budaya asing tersebut sebagai konten yang mereka sajikan? Tentu ini berkaitan lagi-lagi dengan hegemoni budaya dan homogenisasi yang disetir kapitalisme/globalisasi seperti dijabarkan Gramsci di atas. Media di Indonesia mau tak mau harus tunduk juga pada kapital. Pers yang kemudian lebih dikenal sebagai media harus kita perhatikan sebagai institusi bisnis, sekaligus informasi. Dua sistem yang saling bersinergi. Dualitas inilah, yang kemudian menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pemberitaan.

 

Sebagai institusi, media tak luput dari lima filtrasi seperti yang dikatakan oleh Chomsky (1988). Lima filtrasi tersebut antara lain adalah: kepemilikan, periklanan, narasumber media, flak, dan antikomunisme (Latiefah, 2010, hlm. l4). Media mau tak mau tunduk pada lima filtrasi tersebut, termasuk harus menuruti agenda kapital yang antikomunis, itu yang menyebabkan porsi pemberitaan dan konten hiburan yang disajikan media di Indonesia timpang, lebih bertendensi ke budaya asing.

 

Seni (Pertunjukan) Sebagai Cerminan Kepribadian Bangsa?

 

Terkait dengan seni pertunjukan, segala sesuatu yang kita lihat dan dengar di media tak lain adalah budaya asing yang atas naluriah kapital media dianggap lebih menjual dan laris.

 

Lebih spesifiknya seni pertunjukan yang dianggap lebih menjual tersebut menjurus pada genre-genre tertentu, pop misalnya. Tentu ini sesungguhnya berbahaya dan tidak dapat didiamkan. Sebab, 24 jam sehari, 7 hari seminggu apa yang kita dan anak-anak kita lihat dengar dan rasakan di media mau tak mau akan mengkonstruksikan ideologi tertentu dalam diri kita.

 

Dalam musik misalnya, Jeremy Wallach menjabarkan “Musical expression, a panhuman universal, has taken on a special importance in modern societies. Its ability to channel affect, open possibilities for self-expression, and foster communal solidarity (in both imagined and realized-in-the-moment communities) stimulates various attempts to control music and/or harness its power to promote ideology.” (Wallach, 2008, hlm. 263).

 

Mengutip pernyataan Wallach, dapat disimpulkan bahwa musik (seni pertunjukan) yang ditayangkan media kita berefek ideologis pada para penikmatnya. Tayangan ini mengkonstruksikan standar kelayakan hidup adalah harus homogen dengan apa yang disajikan media.

 

Dari sini, kita dapatkan hipotesa mengenai seni pertunjukan yang ditayangkan media dan kepribadian bangsa. Jika seni (pertunjukan) dianggap sebagai cerminan kepribadian bangsa. Pertanyaan selanjutnya yang diajukan adalah kenapa budaya dan kesenian (seni pertunjukan khususnya) tidak dicintai di negeri sendiri?

 

Media lebih menayangkan seni pertunjukan produk budaya asing daripada seni pertunjukan budaya sendiri. Adakah tayangan wayang, ketoprak, karawitan, seni tari Indonesia di televisi swasta kita dewasa ini?

Bisa jadi generasi muda tidak mencintai budaya sendiri, yang ada hanya generasi tua yang berupaya melestarikan,nguri-uri budaya sendiri (sebagai contoh seni pertunjukan, wayang, tari, karawitan, dll) untuk melawan homogenisasi budaya yang dikoarkan globalisasi (melalui media).

 

Sebuah pertarungan yang tidak seimbang, saat local wisdom yang sedang kembang-kempis. Dalam upaya untuk tetap bernafas mempertahankan riwayat, melawan globalisasi yang sudah bercokol sedemikian lama. Bila permasalahan ini tak terbendung, maka ucapkan selamat datang homogenisasi budaya, dan selamat tinggal pada kebudayaan budaya bangsa.

 

Politisasi Seni, Upaya Membendung Hegemoni Kultural Dan Menyelamatkan Budaya Indonesia

 

Ada pepatah jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran soko kulino” yang kurang lebih berarti “suka karena terbiasa.” Pepatah jawa tersebut dapat kita jadikan hipotesa kenapa generasi muda Indonesia yang lebih mencintai budaya asing. Sebab, keseharian mereka terbiasa menonton dan mendengar budaya asing di media yang nonstop 24 jam sajikan konten budaya asing.

 

Pun hal ini tidak diimbangi dengan pengajaran dan pengetahuan mengenai kebudayaan sendiri. Dukungan pemerintah pun dirasa kurang dalam upaya mengangkat budaya sendiri sebagai sebuah kekayaan yang harus dipertahankan. Pemerintah dalam hal ini sebagai pihak yang diberi kepercayaan warga negara, sebagai pihak yang harus mengurus negara ini sejatinya punya kemampuan luar biasa dalam membendung hegemoni budaya serta mengangkat kembali budaya bangsa.

 

Pemerintah punya kewenangan itu dan sejatinya wajib melakukannya. Seperti dijabarkan Komisi Dunia untuk Kebudayaan dan Pembangunan Dunia UNESCO (1995): “A multi-cultural country can reap great benefits from its pluralism, but also runs the risk of cultural conflicts. It is here that government policy is important. Governments cannot determine a people’s culture; indeed, they are partly determined by it. But they can influence it for better or worse and in so doing affect the path of development.” (Pasal 2).

 

Langkah yang dapat diambil adalah dengan adanya politisasi seni. Itulah kenapa pemerintah harus punya andil. Sebab, Negara Indonesia jelas adalah sebuah negara multikultural dengan beragam budaya yang amat banyak dan pantas dilestarikan. 


Sebelum membahas lebih lanjut mengenai politisasi seni ini, yang terpenting ialah membuka selubung dari mitos bahwa seni adalah netral dan lepas dari politik dan/atau suasana sosial yang melingkupinya. Dengan membuka selubung akan diketahui siapa saja yang membela kenetralan seni. Mungkin pula akan membuat kita bisa menemukan jawaban tentang kenapa, ranah seni—musik pop terutama—menjadi mandeg (Taufiqurrahman, 2011).

 

Seni pertunjukan seolah juga jalan di tempat, lebih lanjut Taufiqurrahman mengatakan pandangan bahwa seni adalah entitas yang netral, warisan pandangan dunia usang yang pernah menggejala pada abad ke 19 di Eropa Barat. Ketaklidan kepada pandangan ini juga lah yang kemudian menceburkan Eropa ke dalam salah satu penggalan paling kelam dalam sejarah mereka, holocaust.

 

Di salah satu pusat peradaban Eropa, di Jerman tepatnya pada awal abad, musik dianggap sebagai sesuatu yang suci yang bergaung sunyi di luar dan di atas peradaban. Salah seorang filsuf terbesar mereka, Arthur Schopenhauer mengatakan bahwa “art and life had nothing to do with each other” keduanya sama sekali tidak berhubungan. Schopenhauer juga mengatakan bahwa “beside the history of the world the history of philosophy, science and art is guiltless and unstained by blood,” hanya senilah yang tidak pernah bersalah dan mendapat cipratan darah.

 

Pandangan akan kenetralan seni tersebut menjadi sangat berbahaya ketika digunakan sebagai dalih bagi fasisme dan anti-semitisme. Lalu muncul kesimpulan bahwa para komposer yang berpegang teguh kepada kenetralan seni, kemudian dengan mudah mensabotase seni—dengan dalih bahwa seni adalah netral dan adi luhung—demi mendukung ideologi fasisme. Yang kemudian digunakan untuk mendukung agenda tertentu seorang diktator yang menawarkan tatanan baru.

Komposer Hans Pfizner —yang memasang kutipan Schopenhauer di atas di epigrafnya untuk komposisi yang ditulis di tahun 1917 Palestrina— menulis kantata tersebut tersebut untuk Mussolini (Taufiqurrahman, 2011).

 

Politisasi seni yang dimaksud dalam makalah ini yakni membawa kesenian ke ranah politik, atau menggunakan kekuatan politis tertentu untuk membawa seni (pertunjukan) pada level yang lebih tinggi. Bukannya memberikan esensi politis dalam sebuah kesenian.

 

Seni harus bersifat politis, atau dapat dijadikan sebuah ideologi, bukan bermuatan politis atau berkepentingan. Barangkali rumus pepatah jawa witing tresno jalaran soko kulino tadi dapat digunakan sebagai solusi mengatasi serbuan hegemoni kesenian asing dan kemandegan kesenian (pertunjukan) Indonesia.

 

Pemerintah harus segera mempolitisasi kesenian demi keberlangsungan hidup budaya bangsa dan bahkan keberlangsungan hidup bangsa itu sendiri secara harfiah. Bukan dengan cara membatasi dan melarang budaya asing masuk ke Indonesia tentu, sebab itu akan menyalahi cita-cita demokrasi Indonesia.

 

Membreidel media yang sajikan konten budaya asing atas nama nasionalisme anti imperialisme ala Soekarno juga sudah bukan zamannya lagi. Maka opsi yang dapat dilakukan pemerintah ialah seolah menciptakan sebuah counter-culture atau budaya tanding. Budaya sendiri harus dapat menandingi budaya asing, tidak dengan cara memaksakan sekarang semua orang harus suka budaya sendiri. Namun, alangkah baiknya bila langkah pengajaran budaya sendiri ini dimulai dari dasar. Pemerintah harus gunakan politik untuk membawa kesenian ke pendidikan formal, mulai dari sekolah dasar bahkan pra-sekolah agar anak-anak terbiasa dengan budaya dan kesenian sendiri, lantas akhirnya menyukainya.

 

Pendidikan Formal Bidang Kesenian: Sebuah Kesimpulan

 

Tentu banyak orang yang sangsi dan pesimis dengan politisasi seni. Perlu disimpulkan lagi, jika seni (pertunjukan) tidak dipolitisasi, niscaya ia hanya jadi komoditas industri yang tidak dapat dijadikan kebanggaan bangsa. Seni (pertunjukan) harus dipolitisasi (baca: diajarkan, atau dipaksakan) pada warga negara lewat pendidikan dasar di sekolah-sekolah.

Sudah jadi rahasia umum bahwa pendidikan bangsa selama ini disasarkan hanya pada yang teknis dan membangun. Sebab tak dapat dipungkiri lagi rupanya hegemoni budaya ala Gramsci tadi juga sudah mempengaruhi metode dalam sistem pendidikan Indonesia.

 

Sistem pendidikan teknis dan membangun tadi adalah teori pembangunan yang berbasis pengembangan sumber daya manusia yang sering disebut human capital theory yang intinya berkaitan dengan investment human resources. Teori-teori tersebut berasal dari para ahli teori dunia maju (barat) sehingga lebih berorientasi pada pengalaman orang barat, ketimbang dunianya sendiri. Dengan kata lain, mereka umumnya sampai pada keyakinan bahwa sistem pendidikan menjadi instrumen penting (berparadigma Instrumentalis) bagi proses modernisasi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia (Ketut Suda, 2009, hlm. 106).

 

Sementara itu budaya (seni) yang dapat menjadi motivator dan indikator moral justru diacuhkan. Maka dari itu, bangsa Indonesia semrawut dalam berbagai bidang. Bisa jadi karena aspek rasa dan moral yang harusnya dapat ditanamkan sejak dini (melalui seni) tidak dilakukan.

 

Sejak pendidikan dasar, masyarakat diajarkan untuk terus membangun maupun mengejar modernisasi (persis barat yang sekular, sebab teori pendidikan kita diadopsi dari barat) hingga kadang segala cara dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Kemajuan membangun yang tidak dibarengi kesiapan moral dan nurani berakibat fatal. Kanibalisme antarwarga negara bisa jadi terjadi demi mencapai tujuan membangun. Juga dalam aspek politik dimana korupsi, kolusi, nepotisme, dan peperangan kepentingan politik.

 

Hal-hal terburuk dari keadaan diatas, sebenarnya dapat dihindarkan jika mulai dari sekarang generasi muda penerus bangsa tak hanya diajarkan pendidikan teknis dan membangun, tapi juga dibarengi pendidikan moral dan nilai-nilai kearifan lokal. Salah satunya melalui pengajaran kesenian secara formal disekolah-sekolah. Mulai dari dini, kita sebaiknya mulai menanamkan nilai-nilai moral melalui seni di pendidikan dasar.

 

Seni pertunjukan pada khususnya adalah cara mengajarkan moral itu tanpa terkesan menggurui dan indoktrinasi. Penanaman nilai moral melalui pendidikan kesenian formal ini cukup efektif. Sebab, pendidikan formal kemudian ikut memberikan andil dalam proses pembentukan kultur itu sendiri melalui proses internalisasi.

 

Dengan kata lain, pendidikan formal adalah bagian dari proses pembentukan budaya dan kesenian. Masalahnya adalah apa pelaku pendidikan (shareholders) menyadari tentang masalah ini? Dan secara sengaja dan sistematik membangun suasana sehingga terjadi proses pendidikan budaya dan kesenian bangsa itu dapat berlangsung. Lembaga pendidikan tidak hanya bermuatan (kurikulum) tetapi merupakan ajang pendidikan budaya dan kesenian yang aplikatif dan substansial.

 

Inilah fungsi politisasi seni oleh pemerintah dengan kekuatan politiknya. Membuat undang-undang yang berfungsi sebagai kebijakan yang mengikat, mengajarkan (baca: memaksa) warga negara untuk belajar dan memahami kebudayaan dan kesenian (pertunjukan) sendiri sejak usia sekolah dasar.

 

Jika klausul ini dapat dijalankan, tidak mustahil jika wayang, gamelan, tari, atau teater Indonesia dapat diajarkan sebagai pendidikan formal sekolah dengan aplikatif dan substansial. Bukan sekedar mata pelajaran pelengkap yang diajarkan demi memenuhi kurikulum.

 

Hal ini memunculkan pertanyaan “Maukah pemerintah melakukan hal tersebut?” Jika pemerintah enggan melakukannya. Kita sebagai warga negara punya hak memaksa pemerintah (sebagai pengurus negara) agar segera lakukan politisasi seni.

 

Lagi-lagi akan muncul pertanyaan “Maukah kita sebagai warga negara memaksa pemerintah mengangkat budaya bangsa sendiri? Atau kita terlampau nyaman dengan homogenisasi budaya asing dalam hidup kita. Hingga membuat kita enggan hidup dengan mencintai budaya sendiri?”

 

Solusi yang ditawarkan dalam menangkal hegemoni seni ini yakni dengan intervensi pemerintah, Melalui departemen-departemen pendukungnya. Pengaturan konten yang ditayangkan di media dapat dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). bukannya melarang sama sekali budaya atau kesenian asing disajikan di media-media Indonesia, namun memilah dan memilih mana konten media yang bermanfaat untuk warga Negara, dan mana yang lebih banyak negatifnya. Warga Negara pun punya kewenangan personal memilah dan memilih ini melalui proses literasi media. Pilah lantas ambil yang baik dan hilangkan yang negatif.

 

Pemerintah harus mulai mencanangkan seni Indonesia sebagai pendidikan formal sekolah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai otoritas tertinggi bidang pendidikan di negeri ini. Mengubah pengajaran Seni budaya yang tadinya hanya sebagai kurikulum pelengkap menjadi pelajaran seni yang aplikatif dan substansial.

Lalu apa yang dapat dilakukan penggiat seni dan akademisi kesenian? Paling tidak kalangan penggiat seni harus mampu lakukan semacam advokasi pada masyarakat luas, menimbulkan kesadaran bahwa Kita harus menangkal hegemoni budaya asing melalui pendidikan seni Indonesia yang lebih baik.

 

 

Daftar Pustaka

 

Buku dan Makalah

Alfian, Magdalina. 2006. Seni Pertunjukan Dalam Perspektif SejarahSebuah Makalah. Yogyakarta

Foucault, Michel. 2002. Karya-Karya Penting (Terj. Arief). Yogyakarta: Jalasutra

Klein, Naomi. 2000. No Logo. Inggris: Flamingo 2000.

Komisi Dunia untuk Kebudayaan dan Pembangunan UNESCO (Pasal 2). 1995

Kushendrawati, Selu Margaretha. 2006. Masyarakat Konsumen Sebagai Ciptaan Kapitalisme Global: Fenomena Budaya Dalam Realitas Sosial. Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol-10, No-2. Desember 2006.

Latiefah, Shefti. 2011. Pendidikan Media dan Pilar ke-5 Demokrasi ; Sebuah Makalah. Jakarta

Suda, I Ketut. 2009. Komodifikasi Pendidikan dan Kanibalisme Intelektual Dalam Pembelajaran di Sekolah. Sebuah Makalah dalam “Jelajah Kajian Budaya.” Denpasar, Bali: Pustaka Larasan/Program Studi Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana

Wallach, Jeremy. 2008. Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia. 1997-2001. Wisconsin, Amerika: The University of Wisconsin Publisher

 

Internet

http://id.wikipedia.org

http://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/artikel/article/view/387/0

Saptono. 2010. Teori Hegemoni Sebuah Teori Kebudayaan Kontemporer. Sebuah Artikel Dalam Kumpulan Artikel ISI Denpasar

http://www.jakartabeat.net

Taufiqurrahman, M. 2011. “SBY Bermusik dan Kematian Kritik.” Sebuah Artikel Dalam Situs jakartabeat.net.

 

 

*Mahasiswa Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta

1 Untuk lebih memahami masing-masing kategori seni pertunjukan dan perkembangannya di Indonesia, baca “Melacak Jejak Perkembangan Seni Di Indonesia” oleh Claire Holt, Diterbitkan MSPI pada Februari 2000.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.